Suasana menjadi begitu tegang saat pedang laki-laki bercaping itu sudah berada di dekat leher Sukma Ayu.
"Pengecut, kalian berani mengancam ku!!" sergap Pramesti.
"Berikan penawarnya jika kau ingin gadis ini selamat," ucap laki-laki bercaping hitam itu.
"Sejujurnya aku tidak memiliki penawar dari racun itu," balas Pramesti.
Perkataan Pramesti membuat pemimpin kawanan bercaping hitam itu terdiam. Mereka saat ini menganggap jika Pramesti sudah benar-benar gila berani menggunakan racun tanpa sebuah penawar.
"Kau berdusta!!" ucap salah satu dari mereka.
Slahshh
Sebuah anak panah mendarat tepat di bahu laki-laki yang sedang mengancam Pramesti. Pedang di tangan laki-laki itu terjatuh, akibat rasa sakit dari tusukan panah di bagian bahunya.
Sukma Ayu dengan manfaatkan kelengahan itu, ia langsung bergegas lari ke belakang Pramesti.
"Hahah kau benar, aku memang memiliki penawarnya, tapi saat ini aku sedang tidak membawannya..." seru Pramesti saat melihat Sukma Ayu sudah berada di belakangnya.
"Kadal bunting, kau menipu kami semua," ucap salah satu dari mereka dengan raut wajah yang tampak begitu kesal dan marah, serta takut.
"Tidak ada yang menipu, kalian sendiri yang mencari masalah di area keluarga Lentera," seorang laki-laki berjalan mendekati Pramesti dan Sukma Ayu sambil menenteng busur panah di tangan kanannya.
"Widura!!" ucap Pramesti.
"Bibi," balas Widura, "Sekarang bibi mundurlah, biar aku yang membereskan mereka semua,"
"Kadal bunting, kau pikir kau mampu mengalahkan kami," seru salah satu dari mereka.
Widura langsung melesat menyerang dua orang itu. Widura yang sudah mengetahui jika kemampuan kedua lawannya hanya setingkat pendekar madya tidaklah mengalami kesulitan, apalagi salah satu dari mereka mengalami luka di bagian bahu.
Widura langsung menggunakan jurus Harimau Tunggal menerkam mangsa. Ia tidak ingin terlalu lama berurusan dengan mereka semua, mengingat hari sudah gelap.
Beberapa menit kemudian Widura sudah berhasil memukul mundur lawannya. Sedetik kemudian dua anak panah menancap di dada keduanya. Dan saat itu juga keduanya sudah tewas dengan bersimbah darah.
"Ayo kita harus bergegas segera pulang, mayar mereka biar nanti aku meminta ayah untuk menyuruh orang untuk mengurusnya," ucap Widura yang langsung di ikuti anggukan oleh Pramesti dan Sukma Ayu.
Mereka bertiga berjalan cukup cepat melawati jalan setapak itu. Keduanya tidak dapat untuk berlari mengingat jalan setapak itu sudah penuh lubang di mana-mana..
Mereka baru tiba di desa Pas mah saat hari sudah hampir benar-benar gelap. Kedatangan mereka di sambut langsung oleh Anas yang sudah mengumpulkan beberapa orang untuk bergegas mencari mereka.
"Kalian semua dari mana saja!!" sergap Abbas.
"Ah Abbas, aku hanya mengajak Ayu berkeliling Kota Ampera saja, kalian semua tidak usah terlalu cemas," sahut Pramesti.
"Kau ingin berbohong kepadaku Pramesti!!" ucap Abbas.
Pramesti menggelengkan kepalanya dengan pelan, "Aku tidak membohongimu Abbas, memang di tengah jalan aku di hadang kawanan bandit, tapi semua dapat ku bereskan dengan sangat mudah..." Pramesti melipat tangannya di depan dada sambil memandang Abbas dengan penuh amarah, "Kalian bisa melihat mayat mereka semua di jalan setapak," lanjut Pramesti.
Abbas yang mendengar hal itu langsung memberi perintah kepada orang-orangnya untuk segera pergi menyusuri jalan setapak. Hari memang sudah gelap, tapi mereka tetap berjalan, mereka mengandalkan obor sebagai penerangan.
***
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka semua sudah kembali dengan badan yang sudah penuh dengan kotoran.
"Mereka semua sudah mati tetua Abbas, kami juga sudah mengkebumikan mereka semua di dalam hutan," ucap salah satu dari mereka.
"Kau benar-benar kejam Pramesti," guman Abbas, "Baiklah sekarang kalian bisa kembali," lanjut Abbas.
Abbas berjalan menuju kediaman pribadinya yang letaknya tidak terlalu jauh dari kediaman milik Anas dan keluarganya.
Abbas cukup terkejut saat mendapati seorang wanita berdiri di depan rumahnya sambil memainkan kipas.
"Kau lama sekali Abbas, aku benar-benar bosan menunggumu disini, apalagi menunggumu meminang diriku...," ucap Pramesti panjang lebar tanpa jeda.
"Bukankah aku tidak memintamu untuk menunggu diriku Pramesti," seru Abbas sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Kau benar-benar bodoh Abbas, biar ku penggal saja kepalamu itu," Pramesti menarik pedangnya dan bergerak cepat menuju Abbas.
"Kau benar-benar tidak pernah berubah Pramesti," Abbas langsung menarik pedangnya dan menyambut serangan dari Pramesti.
Keduanya terlibat pertarungan pedang, namun gerakan keduanya cukup lambat dan tidak begitu berbahaya. Sejatinya Abbas ataupun Pramesti bukan pendekar ahli dalam berpedang. Abbas lebih suka bertarung tangan kosong, Abbas menguasai Ajian Banteng Ketaton hang membuat tubuh begitu keras, nyaris sekeras baja karena itulah Abbas lebih menyukai bertarung dengan tangan kosong. Pramesti sendiri adalah seorang pengguna kibas dalam pertarungan, bahkan dk balik jubahnya itu tersimpan sebuah kipas berukuran raksasa.
"Permainan pedangmu tidak ada kemajuan Pramesti, kau harus banyak belajar dengan Widura," Abbas tertawa mengejek Pramesti.
"Haha wajar jika seni pedangku tidak berkembang, tapi ku lihat permainan pedangmu juga tidak berkembang Abbas, apa kau tidak malu? Secara ayahmu sangat terkenal dengan kemahiranny bermain pedang!!," Pramesti balik mengejek Abbas.
Abbas menggeram kecil mendengar ejekan dari Pramesti. Hal itu sepenuhnya benar, Abbas terlahir dari seorang ahli pedang ternama, tapi dia tidak bisa bermain pedang dengan cukup baik, namun semua itu sudah tertutupi dengan kemahirannya bertarung tangan kosong.
Abbas dab Pramesti terlibat pertarungan cukup lama. Setelah itu keduanya kembali menyarungkan pedangnya dan melompat sedikit mundur.
"Ada keperluan apa kau datang menemuiku?" tanya Abbas kepada Widura..
"Aku ingin kejelasan atas perasaanku ini kepadamu," jawab Pramesti dengan lantang.
"Kau benar-benar lelaki bodoh Abbas," Pramesti menghentakan kakinya dan berlari meninggalkan Abbas sambil berurai air mata.
"Pramesti menangis...?!" ucap Abbas sambil memegangi dadanya yang terasa sesak melihat Pramesti menangis.
Abbas memasuki rumahnya. Besok barulah ia akan mencari Pramesti dan bertanya mengapa ia menangis.
****
Di sebuah pulau besar yang terpisah cukup jauh dari pulau Andalas yang berjarak sekitar 10 kilo meter. Di pulau itu berdiri beberapa bangunan besar dan kecil.
Semua orang yang berada di pulau itu kompak menggunakan baju berwarna hitam dan memakai ikat kepala yang bertulisan Taring Maut.
Pulau ini adalah markas utama dari kelompok bersenjata atau kelompok pembunuh kelas kakap.
Pulau Tengkorak Setan adalah markas yang di pilih oleh mereka menjadi tempat persembunyian mereka sekaligus markas.
Pimpinan tertinggi Taring Maut adalah Lanta Pati, pendekar langit gerbang delavan. Di pulau ini total ada tiga orang pendekar langit. Mereka semua sama-sama sudah mencapai pendekar langit gerbang ketiga. Anggota kelompok ini hampir mencapai satu ribu anggota. Pendekar paling lemah dari kelompok ini adalah pendekar madya gerbang kelima.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 419 Episodes
Comments
NOTE
10 kilo meter deket thor ga jauh, jalan aja gak nyampe sejam nyampe
2022-08-30
1
FBI
"Seribu" bukan "satu ribu"
2022-02-25
2
LEXYURI🥰
bagus ceritanya Kak Thor 👍🏻👍🏻👍🏻
2022-01-22
0