Pagi ini matahari bersinar cukup terang. Suasana desa Pasmah nampak begitu meriah dari sebelumnya. Suara alunan musik dan berbagai macam sorakan sambutan nampak terdengar nyaring dan keras.
Gedung aula utama keluarga Lentera saat ini sudah terisi penuh. Sebagian besar tetua keluarga Lentera ada di dalam aula utama, sementara sisanya di tugaskan untuk berjaga dan mengamankan wilayah keluarga Lentera jika ada serangan mendadak.
Selain itu keluarga Suci juga sudah berada di ruangan itu. Seorang gadis cantik duduk manis di tengah-tengah laki-laki berjubah putih yang mamancarkan kekuatan pendekar bumi. Gadis cantik itu adalah Sukma Ayu gadis yang memiliki kulit seputih susu dan selicin giok dan yang paling penting dia adalah putri dari Jaka Kelana.
"Selamat datang di kediaman keluarga Lentera, aku sangat senang kalian semua sampai dalam keadaan selamat dan aku juga berharap perjalanan pulang kalian nanti akan sama seperti perjalanan pergi kalian..." Anas membuka pertemuan mereka kali ini.
"Baiklah, aku sangat senang kalian datang untuk memenuhi perjanjian pertunangan yang sudah aku dan ya mulia Jaka Kelana rencanakan beberapa tahun sebelumnya, sebuah kehormatan bagi keluarga Lentera..."
"Benar, kami datang atas perintah ya mulia dan ya mulia meminta maaf karena tidak dapat hadir secara langsung, hal itu karena ya mulia masih memiliki kesibukan yang tidak dapat beliau tinggalkan..." ucap Pria Mitra yang menjabat sebagai Panglima di kerajaan Jenggala.
"Dan aku Raden Surya Fatih Putra Mahkota Kerjaan Jenggala akan mewakili ayahanda..."
Widura yang mendengar nama Raden Surya Fatih tersentak kaget. Widura jelas ingat jika orang yang tidak jauh darinya ini akan menjadi raja dalam beberapa tahun ke depan.
Raden Surya Fatih akan naik tahta menjadi Raja dan akan di kenal dengan nama Prabu Surya Agung. Namanya sering di lambangkan dengan keadilan dan kesejahteraan.
Namun masa jabatannya tidak berlangsung lama,dia di lengserkan oleh adik kandungnya sendiri, yaitu Raden Pangga Lewa yang akhirnya naik tahta menggantikannya.
Raden Pangga Lewa jelas berbeda dengan Raden Surya Fatih. Raden Pangga Lewa lebih suka berfoya-foya dan menghamburkan harta sehingga membuat Kerajaan Jenggala menjadi terpuruk dan hancur.
Sejak saat itulah era kegelapan di mulai. Pulau Java Dwipa sudah tidak lagi sama, penderitaan dan kekacauan terjadi di mana-mana. Tidak ada hari tanpa pertarungan, pertumbuhan darah sudah mulai menjadi hal lumrah. Semua orang harus menjadi kuat agar dapat bertahan hidup. Di era kegelapan juga berhasil memunculkan pendekar hebat yang menggerkaan akan perubahan.
"Ini akan menjadi salah satu tugasku untuk menghentikan dan memastikan jika kudeta yang di lakukan pangeran Raden Pangga Lewa gagal," batin Widura.
Widura benar-benar mengagumi Raden Surya Fatih di kehidupan pertamanya dan tidak ia duga jika ia akan berlatih tanding dengan dia.
"Jika di perkenankan bisakah aku melihat siapa gerangan yang akan di jodohkan dengan dinda Sukma Arum?" ucap Raden Surya Fatih.
"Tentu saja Pengeran, dia putra sulungku Widura," jawab Anas sambil menunjuk ke arah Widura.
Widura yang menyadari hal itu, langsung berdiri memberi hormat kepada Raden Surya Fatih, "Hamba pangeran,"
Raden Surya Fatih membalas senyum ucapan dari Widura. Ia benar-benar tidak menyukai seseorang yang bersikap terlalu formal dengan dirinya.
"Kau terlihat begitu gagah saudaraku, Aku senang jika kau berjodoh dengan dinda Sukma Arum..."
Semua yang ada di dalam ruangan itu tertegun dengan ucapan dari Raden Surya Fatih. Mereka jelas mengetahui jika Widura tidaklah memiliki kemampuan bela diri yang memadai, tapi memang penampilannya kali ini mampu membohongi semua mata yang melihatnya.
"Terima kasih atas pujiannya Pangeran, tapi hamba tidaklah segagah yang seperti yang terlihat Pangeran," sahut Widura.
Raden Surya Fatih hanya menanggapi Widura dengan senyuman kecil. Ia dapat menyimpul Widura memiliki kekuatan yang besar terlihat dari badannya yang sudah begitu kekar terlepas dari usianya yang masih 11 tahun.
"Baiklah mengenai perjodohan ini, aku rasa tidak ada perlu di bicarakan lagi. Aku pribadi sudah setuju dengan calon tunangan dinda Sukma Arum, Ayahanda juga sudah setuju..." ucap Raden Surya Fatih.
"Baiklah untuk pertarungan persahabatan aku rasa besok pagi adalah waktu yang pas. Apakah ada yang keberatan??" lanjut Raden Surya Fatih.
"Tentu saja tidak akan ada yang keberatan Pangeran, kami akan menyiapkan semuanya dengan baik esok pagi, dan Widura kau harus berlatih dengan baik agar dapat memberikan perlawanan yang memadai kepada Pangeran Raden Surya Fatih,"
"Tentu ayah, aku akan berlatih dengan baik,"
Setelah itu semuanya membubarkan diri dan kembali ke tempat mereka masing-masing. Rombongan keluarga Suci kembali ke penginapan yang sudah di sediakan khusus untuk mereka.
Widura memilih untuk berkeliling desa Pasmah. Ia belum ingin kembali ke rumah. Saat ini Widura sedang duduk bersantai di bawah sebuah pohon besar dan di hadapannya mengalir sungai yang cukup deras.
Widura jelas begitu akrab dengan tempat ini, karena di kehidupan pertamanya dulu disinilah ia selalu menghabiskan waktunya seorang diri.
Widura tentu juga ingat tempat inilah yang membuat dirinya selamat dari serangan keluarga Komet yang bertujuan menghapus seluruh keturunan keluarga Lentera, lebih tepatnya keturunan Argadana karena memiliki Serunting Sakti.
Widura jelas memilih menghabiskan hari ini dengan bersantai dan bersandar di pohon itu. Berlahan-lahan Widura mulai menutup matanya dan kesadarannya mulai berpindah ke alam mimpi.
Beberapa saat kemudian, Widura dengan cepat membuka matanya dan meloncat menjauhi pohon itu, karena di sebelahnya saat ini sudah ada seorang laki-laki berjubah kerajaan tidur di sebelahnya.
"P..Pa...Pangeran!!" ucap Widura dengan sedikit terbata-bata karena masih terlalu terkejut.
"Kau sudah bangun rupanya, aku tidak sengaja menemukan tempat ini dan ku lihat kau tertidur pulas di sini, jadi aku memilih ikut bersandar dan tidur di pohon ini, aku tidak ingin menganggu tidurmu yang begitu nyenyak..." seru Raden Surya Fatih.
"Ku lihat kau juga memiliki insting dan kepekaan yang besar terhadap lingkungan di sekitarmu," lanjut Raden Surya Fatih.
Widura kembali berjalan mendekat dan kembali duduk di sebelah Raden Surya Fatih.
"Maafkan atas sikapku barusan Pangeran," ucap Widura lirih.
"Kau tidak usah terlalu memikirkannya, aku senang kau memiliki reflek dan kepekaan yang kuat... Kau benar-benar pantas untuk dinda Sukma Ayu..."
"Pangeran terlalu memuji, hamba tidaklah begitu hebat," ujar Widura yang sudah bersandar kembali di pohon.
Raden Surya Fatih hanya tersenyum lembut menanggapi ucapan dari Widura. Menurutnya Widura terlalu merendah, padahal kemampuannya cukup tinggi jika dilihat dari fisiknya saja.
"Kau benar-benar tahu tentang tempat yang indah dan asri," ucap Raden Surya Fatih.
"Kau harus berjanji kepadaku untuk menjaga dinda Sukma Ayu, karena aku akan..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 419 Episodes
Comments
Yorfinn
mantap
2023-09-19
0
Nur Tini
lanjutkan thor....beberapa jabatan terdapat kekeliruan. gak apapa yg penting ceritanya bagus....
2022-10-26
0
Mawan Iwan
campur Bahaso palembang dikit jok,, supaya menyatu dengan alur ceritanya,,biar tambah mantap...wong Kito galo
2022-04-20
0