Purnomo pemilik toko Andalas akan menjadi orang yang paling di cari dalam beberapa tahun ke depan.
Purnomo akan menjadi salah satu pembisnis handal dan kaya di kota Ampera. Beberapa tahun setelah penjualan 5 kitab kuno, namun sebelumnya Widura tidak pernah mendengar tentang lontar kuno.
"Lontar ini adalah peninggalan dari pendekar sakti ratusan tahun yang lalu, aku merasa kau berjodoh dengan lontar kuno ini," ucap Purnomo yang melihat wajah Widura yang sedikit terkejut melihat lontar kuno itu.
"Pendekar Sakti? Aku tidak pernah mendengar namanya di kehidupanku sebelumnya," guman Widura.
Widura memilih mengambil seluruh kitab dan lontar itu. Dirinya bergetar dan berkeringat dingin saat pertama kali memegang lontar kuno itu. Widura dapat merasakan jika lontar ini menarik aura kehidupannya. Beruntung Widura dapat menghentikan hal itu, jika tidak maka Widura sudah pasti mati seketika.
"Ini lontar yang aneh," Widura memilihbl langsung menyimpan lontar itu di balik jubahnya. Serta di ikuti dengan lima kitab kuno tersebut.
"Berapa harga yang harus ku bayar?" tanya Widura kepada laki-laki berjenggot putih bernama Purnomo itu.
"Itu perkara mudah, kau hanya perlu membayar 300 keping emas untuk lima kitab kuno itu, sementara lontar itu anggap saja hadiah dariku," jawab Purnomo sambil menjulurkan tangan meminta bayaran dari lima kitab kuno itu.
Widura tentu cukup terkejut mendengar harga dari lima kitab kuno itu. Widura merasa harganya terlalu murah. Di kehidupan pertamanya dua kitab saja di hargai 500 keping emas, bagaimana kelimanya hanya di hargai 300 keping emas?
'Mungkin aku pelanggan pertama toko ini' pikir Widura sambil melangkah pergi meninggalkan toko Andalas tersebut.
Widura kembali melanjutkan berkeliling Kota Ampera. Widura tidak begitu hapal seluk beluk Kota Ampera, karena di kehidupan pertamanya ia hanya dua kali pernah ke Kota Ampera.
Langkah Widura terhenti ketika melihat beberapa anak buah Tuan Kota yang sedang menggoda seorang perempuan.
'Wajar saja di kehidupan pertamaku Kota Ampera hancur akibat serangan kelompok bersenjata misterius, karena seluruh penjaga kota selalu bermain-main saat bertugas,'
Widura kembali berjalan melanjutkan langkah kakinya menuju kedai makanan cepat saji yang paling besar di Kota Ampera.
Kedai itu nampak begitu ramai dengan begitu banyak pelanggan yang keluar masuk kedai makanan cepat saji itu.
Kedai ini adalah yang paling besar yang ada di kota Ampera. Kedai itu milik dari keluarga Langit, mereka adalah keluarga paling kaya setelah keluarga tuan kota, keluarga Bumi.
"Silahkan tuan, tuan mau memesan apa?" tanya gadis muda itu sambil tersenyum lembut.
"Berikan aku ayam bakar dan beberapa buah-buahan saja," jawab Widura sambil mengambil posisi duduk di sudut ruangan.
Gadis muda itu langsung berjalan meninggalkan Widura. Beberapa saat kemudian gadis muda itu sudah kembali dengan membawa nampan yang berisi pesanan dari Widura.
Widura baru hendak menyantap makanan, namun terhenti saat tiga orang laki-laki seusia dengannya berdiri di hadapannya saat ini.
"Ternyata sampah keluarga Lentera masih berani datang kemari," ucap Panca dari keluarga Komet dengan nada suara yang terdengar begitu merendahkan Widura.
"Hmm, keluarga Komet, mantan Tuan Kota yang di lengserkan secara tidak hormat, masih berani juga sombong di hadapanku," Widura membalas ejekan dari Panca dengan nada yang tidak kalah merendahkan.
Di kehidupan pertamanya, Widura mengetahui mengapa keluarga Komet lengser dari posisi Tuan Kota, hal itu di karenakan keluarga Komet ketahuan menimbun barang dan korupsi dana berkepanjangan.
Sehingga membuat empat keluarga besar bergerak mengambil alih kepemimpinan. Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya terpilihlah keluarga Bumi sebagai Tuan Kota yang baru.
"Apa maksudmu!!!" sergap Panca sambil menggeprak meja Widura.
"Apa kurang jelas ku katakan jika kalian di lengserkan dari posisi Tuan Kota dengan cara tidak terhormat," Widura jelas meninggikan intonasi suaranya agar terdengar ke seluruh penjuru kedai.
Semua yang ada di dalam kedai itu sekarang jelas mendengar seluruh ucapan dari Widura. Mereka semua saat ini jelas bertanya-tanya apa benar keluarga Komet lengser dari posisi Tuan Kota secara tidak terhormat.
"Akan ku tutup mulut kurang ajar mu itu,"
Widura hanya berdiam diri saja, ia tidak ingin menunjukan kebolehannya di khlayak ramai. Sedetik kemudian saat gempalan tangan Panca hampir mengenai tubuhnya, Widura memutar badannya dan melepaskan sebuah pukulan yang begitu cepat dan tentu hampir tidak terlihat, Panca jatuh tersungkur. Semua yang melihat hal itu justru berasumsi jika Panca tersungkur akibat kehilangan keseimbangan tubuhnya saat melepaskan pukulan terhadap Widura.
"Aku tidak memiliki masalah dengan keluarga Komet, lalu mengapa kalian mengganggu ketenanganku!!" teriak Widura dengan lantang.
Widura sangat membenci keluarga Komet, karena keluarga Kometlah yang sudah membumi hanguskan keluarga Lentera saat mengetahui keluarga Lentera memiliki darah keturunan darah dari Serunting Sakti.
Widura memilih berlari meninggalkan kedai makanan cepat saji itu dan memilih kembali ke desa Pasmah tempat berdiamnya keluarga Lentera.
Widura tidak ingin terlalu lama berurusan dengan mereka keluarga Komet, karena jika terus berurusan dengan mereka, Widura mungkin akan kelepasan dan menghajar mereka semua. Widura tentu tidak ingin berita tentang dia menghajar keluarga Komet tersebar. Tentu Widura akan menghadapi masalah yang lebih besar lagi.
***
Desa Pasmah, Kediaman Keluarga Lentera.
Argadana sedang duduk santai di bangku belakang kediamannya. Ia sedang memperhatikan cucu kesayangan, Lintang yang sedang berlatih.
Lintang adalah adik dari Widura. Bakat Lintang sungguh berbeda jauh dari Widura, Lintang lahir dengan kristal Biru Langit. Sehingga membuat dirinya layak di sebut seorang jenius di generasinya saat ini.
Hal itu jugalah yang membuat Argadana semakin membenci Widura yang di lahirkan dengan kristal Merah Darah yang di yakini tidak memiliki masa depan cerah seorang pendekar.
Bagi Argadana, Widura adalah aib bagi keluarga Lentera. Argadana yang menyandang gelar pahlawan kota Ampera benar-benar merasa malu dan muak saat melihat Widura. Andai anaknya, Anas tidak begitu menyayangi Widura sudah sejak lama dia mengusir Widura dari kediaman keluarga Lentera.
"Kau yang akan menggantikan posisi ayahmu untuk menjadi ketua keluarga Lentera,"
Argadana dulu pernah mencaci maki Anas karena memiliki keturunan seorang sampah, namun setelah kelahiran Lintang, Argadana baru nisa memenangkan dirinya.
Argadana berasumsi jika Widura adalah ampas dari kehebatan bakat dari Lintang. Argadana tentu berpikir jik Widura lahir dengan kristal Jingga, maka tidak mungkin Lintang akan lahir dengan kristal Biru Langi.
'Semuanya perlu tumbal, tidak ada yang gratis' begitulah pemikiran dari Argadana saat memandang Widura dan Lintang yang memiliki bakat yang bertolak belakang.
Argadana sudah berjanji tidak akan pernah mencelakai Widura kepada Lintang. Karena jika Argadana tidak mau berjanji, maka Lintang tidak akan pernah ingin berlatih bela diri dan ilmu kanuragan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 419 Episodes
Comments
Iron Mustapa
lanjut😜
2023-12-05
0
Lady Dimitri
nyokap dari sinar pasmah.. thor latar nya sumatra apakah org sumatra?
2023-09-19
0
Nur Tini
gak mau unjuk gigi. bersembunyi dulu setelah kuat baru keluar bagaikan singa
2022-10-26
0