Widura mengambil napas panjang. Ia mulai mengumpulkan tenaga dalamnya dan mulai memfokuskan dirinya untuk membuka meridian-meridian di dalam tubuhnya, agar dapat menyerap dan menyimpan tenaga dalam.
Seseorang yang terlahir dengan kristal Merah Darah akan mengalami rasa sakit yang teramatkan saat membuka meridian yang ada di dalam tubuh, namun juga memiliki keuntungan tersendiri, yaitu mereka yang lahir dengan kristal Merah Darah akan mempunyai kesempatan besar untuk membuka 360 meridian kecil di dalam tubuh.
Proses yang harus di lalui oleh seseorang yang terlahir dengan kristal Merah Darah untuk membuka meridian di dalam tubuhnya harus melewati rasa sakit yang begitu dalam dan sakit yang teramat sakit.
Resiko yang harus di terima seseorang yang gagal untuk membuka meridian di dalam tubuhnya adalah kematian, karena tubuh akan meledak seketika jika gagal.
Widura tentu sangat ingat dirinya pernah hampir meledak saat berusaha membuka seluruh meridian di dalam tubuhnya. Saat itu dirinya sudah tidak memiliki sesuatu yang harus ia pertahanan. Widura mengambil sebuah perjudian besar saat itu.
"Jika di kehidupan pertama saja aku dapat melewati dan berhasil membuka seluruh meridian di dalam tubuhku hanya dengan bermodalkan nekad.
Tapi di kehidupan keduaku ini, aku sudah mempersiapkan segalanya dengan baik. Aku tidak mungkin akan gagal,"
Widura mengambil posisi duduk bersila. Widura mulai menutup matanya secara berlahan, ia mulai memfokuskan pikirannya dan mulai mengalirkan seluruh energi kehidupan yang dimiliki olehnya.
Beberapa saat kemudian Widura mulai merasakan tubuhnya terasa begitu sakit. Urat nadinya seperti ingin putus, tulang-tulang di dalam tubuh Widura seakan-akan patah.
Widura yang sudah mengetahui epek dari membuka meridian di dalam tubuhnya secara paksa tetap berkonsentrasi penuh, ia tidak ingin gagal.
Widura sudah tidak mulai merasakan sakit lagi. Widura merasa sedikit aneh, ia ingat betul, jika penderitaan untuk membuka seluruh meridian di dalam membutuhkan waktu yang lama. Di kehidupan sebelumnya, Widura membutuhkan waktu dua purnama untuk membuka semua meridian di dalam tubuhnya.
Widura memberanikan diri membuka matanya. Meskipun resiko besar harus ia hadapi jika belum berhasil.
Widura mendapati dirinya saat ini sudah berada di tempat yang sangat berbeda dengan tempat dirinya semua.
Widura tentu masih ingat betul jika sebelumnya, ia berada di atas batu besar yang berada di bukit belakang desa.
"Bagaimana aku dapat berteleport ke sini?"
Widura memilih berdiri dan menacari tahu sendiri tentang pertanyaannya itu. Ia berjalan menaiki sebuah anak tangga kecil yang sepertinya terbuat dari batu giok hitam.
Semakin tinggi Widura menaiki tangga itu, maka semakin aneh penglihatannya.
Di tangga nomor 30, Widura menghentikan langkahnya saat sebuah anak panah melesat cepat ke arahnya. Beruntung Widura dapat menghindar di detik terakhir, jika tidak sudah pasti dia akan mati.
Widura menarik napas panjang, karena baru saja selamat dari kematian. "Sebenarnya aku ada di mana? Tempat ini semakin aneh saja..."
Widura tetap berjalan menaiki tangga itu dengan berlahan dan berhati-hati. Di tangga kelima puluh langkah Widura terhenti, ia mulai menemui seekor harimau yang nampak sedang menunggu dirinya.
Widura mengepulkan keberaniannya dan berjalan mendekati harimau itu. Ketika langkah Widura sudah tinggal beberapa langkah lagi dari tempat harimau itu.
Secara tiba-tiba harimau itu berubah wujud menjadi seorang laki-laki paruh baya yang sedang duduk bersila sambil membaca sebuah gulungan yang terbuat dari lontar.
"Maaf paman, bolehkah aku bertanya? Aku sekarang ada di mana?" Widura memberanikan diri bertanya dengan laki-laki paruh baya itu.
"Duduklah, ada hal yang ingin ku tanyakan padamu!!"ucap laki-laki itu tanpa menjawab pertanyaan dari Widura.
Suara laki-laki paruh baya itu mampu membuat Widura langsung duduk di hadapan laki-laki itu. Suaranya yang berwibawa, serta mengandung tenaga dalam yang besar mampu menghipnotis lawannya.
"Kau Widura Peto Alam?" tanya laki-laki paruh baya itu.
Widura cukup terkejut mengetahui laki-laki paruh baya itu mengetahui namanya. Widura juga dengan cepat langsung menganggukkan kepalanya, takut menyinggung laki-laki di hadapannya saat ini.
"Haha, kau datang sedikit terlambat, tapi kau begitu di berkati langit sehingga di berikan kesempatan kedua,"
Widura kembali di buat terkejut mendengar ucapan laki-laki paruh baya itu. Widura benar-benar tidak menduga jika laki-laki paruh baya itu mengetahui jika dirinya menjalani kehidupan keduanya.
"Sebenarnya siapa dirimu!!" sergap Widura yang langsung berdiri dan meloncat jauh menjauhi laki-laki paruh baya itu.
"Kau tidak usah takut!!!" ucap laki-laki paruh baya itu, "Duduklah, akan ku beritahukan siapa diriku," sambung laki-laki paruh baya itu.
Widura yang sudah menenangkan pikirannya dari keterkejutannya kembali duduk bersila di hadapan laki-laki paruh baya itu.
"Aku Limbubu, harimau keenam atau lebih di kenal inyek ke enam," Limbubu memperkenalkan dirinya.
"Harimau keenam atau inyek keenam? Apa maksudnya? Aku masih belum mengerti," tanya Widura yang masih bingung dengan ucapan Limbubu dan menuntut sebuah penjelasan yang memuaskan.
Limbubu menarik napas panjang dan mulai menceritakan semuanya tentang dirinya dari awal. Di mulai sejak dirinya menjadi bagian dari 7 manusia harimau atau biasanya di kenal dengan nama Inyek.
"Aku di kenal dengan kecepatanku berpindah tempat atau lebih di kenal dengan nama ilmu peringan tubuh," jelas Limbubu.
Widura yang mendengar hal itu cukup terkejut. Sebelumnya Widura memang sudah mengetahui jika dirinya keturunan dari 7 manusia harimau melalui ayahnya.
"Dan ini, ambilah dan pelajari... Aku menamai jurusku ingin langkah kilatan angin," Limbubu melemparkan lontar yang sejak tadi berada di tangannya.
"Kau harus ingat, pelajari itu dengan baik, sekarang tutup matamu dengan berlahan-lahan maka kau akan kembali lagi ke duniamu. Dan selamat kau sudah berhasil membuka seluruh meridian di dalam tubuhmu," ucap Limbubu sebelum beberapa detik kemudian dirinya sudah menghilang dalam sekejap mata saja.
Widura benar-benar di buat kaget dan terkejut saat mendapati Limbubu sudah menghilang hanya dalam beberapa detik saja.
"Limbubu, Inyek? Siapa dia sebenarnya? Apa mungkin dia salah satu leluhurku dari 7 manusia harimau yang di maksud petapa tua di bukit kerinci waktu itu," pikir Widura sambil duduk termenung cukup lama, sebelum tersadar jika ia harus kembali ke dunianya lagi.
Widura yang sudah dalam posisi duduk bersila langsung menutup mata dan mulai memfokuskan dirinya agar dapat kembali di dunianya. Dunia alam nyata.
Widura menutup matanya cukup lama, sebelum memberanikan dri membuka matanya dengan berlahan-lahan. Widura benar-benar mendapati dirinya sudah kembali pulang ke dunianya.
Awalnya Widura beranggapan jika dirinya hanya sedang bermimpi saja, namun sebuah gulungan lontar yang ada di tangan kanannya membuat jika mimpi itu benar-benar nyata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 419 Episodes
Comments
Deki Marsoni
mklum wong kito🤭 ingatnyo mpek mpek, gak lazim ngomong huruf f🙏
2024-02-01
0
Imet Armis
Hajar tu comet Dura
2023-03-02
0
Nur Tini
keren ada keturunan manusia harimau. versi siapa ya..abdullah harahap atau motiggo busye
2022-10-26
0