Matahari mulai menyingsing, kegiatan di desa Pasmah sudah berjalan seperti biasanya. Widura sendiri sudah mulai berlatih di belakang kediamannya.
Sementara Lintang sudah kembali berlatih di bawah bimbingan Argadana. Anas sendiri sudah kembali ke rutinitasnya sebagai ketua keluarga Lentera.
"Widura, paman lihat kau sudah berkembang dengan pesat," ucap Abbas.
"Paman," Widura menundukkan kepala memberi hormat, "Sejak kapan paman berada di sini," tanya Widura.
"Sejak pertama kali kau mulai berlatih, aku sungguh terkejut melihat semua jurus-jurus yang kau peragakan, jika aku tidak salah semuanya adalah jurus tingkat tinggi," jawab Abbas sambil berjalan mendekati Widura.
"Itu bukan apa-apa paman,"
Abbas tidak berkomentar lebih jauh, ia langsung menyampaikan niat kedatangannya hari ini. Ia ingin mengajarkan Widura ilmu kanuragan.
"Aku rasa itu sudah tidak perlu, setelah melihat semua jurusmu itu. Kau benar-benar anak ajaib Widura," puji Abbas, "Ah sepertinya aku memiliki sesuatu yang biasa ku ajarkan kepadamu," lanjut Abbas.
"Aku akan mengajarkan Ajian Banteng Ketaton kepadamu,"
Widura terlonjak kaget mendengar hal itu. Widura memang sangat tertarik mempelajari Ajian Banteng Ketaton, tapi ia tidak menduga jika Abbas sendiri yang menawarkan untuk dirinya mempelajarinya.
"Apa kau tidak tertarik?" tanya Abbas yang melihat Widura hanya diam tidak bereaksi setelah mendengar ucapannya.
"Tentu saja aku tertarik paman," jawab Widura dengan cepat dan tergesa-gesa, takut jika Abbas mengurangkan niatnya.
"Baiklah jika begitu kita akan mulai latihan setelah matahari berada di atas kepala, sekarang kau latihlah jurus-jurusmu itu, aku akan menunggumu di sini," Abbas berjalan menuju sebuah batu yang berada di bawah pohon dan ia mulai tidur dengan nyenyak.
Widura memilih kembali melanjutkan latihannya. Saat ini Widura memilih mempelajari salah satu jurus dari kitab kuning, yaitu jurus tendangan cambuk buaya darat. Jurus ini mengutamakan kecepatan dan reflek saat melepaskan jurus itu. Jurus ini juga menekankan pengumpulan kekuatan di bagian kaki.
Widura yang sudah menguasai jurus ini di kehidupan sebelumnya tidak mengalami kesulitan untuk menguasai jurus tendangan cambuk buaya darat dengan cepat.
"Jurus yang unik, jika saja kemampuanku saat ini sudah mencapai pendekar raja, jurus ini akan dapat merusak wajah seorang pendekar yang menerimanya tepat di wajahnya," ucap Widura pelan.
Widura terus melatih jurus itu. Jikalau saja ada orang yang melihat Widura yang saat ini sedang berlatih, sudah barang tentu orang itu akan mengatakan Widura sudah gila karena sejak awal ia hanya berlari dan memutar badan ke arah belakang, lantas bersamaan dengan itu melepaskan tendangan.
Ketika matahari hampir berada di atas kepala, Widura bergegas membangunkan Abbas.
"Rupanya sudah saatnya," ucap Abbas sambil sesekali menguap karena masih merasa mengantuk.
Abbas merentangkan tangannya dan menghirup udara lamat-lamat. Lalu ia mulai berjalan ke tengah lapangan latihan.
"Kau sudah memiliki bekal untuk menguasai Ajian Banteng Ketaton. Seseorang baru bisa mempelajari jurus ini saat dia sudah memiliki tubuh kekar dan berotot dan ku lihat kau sudah memilikinya," ucap Abbas.
Abbas lalu menjelaskan cara-cara yang harus di lakukan oleh seseorang yang ingin menguasai Ajian Banteng Ketaton. Bagian pertama Abbas jelaskan yaitu tubuh yang kekar, Widura sudah memiliki hal itu. Bagian kedua adalah tenaga dalam, Widura juga sudah memiliki hal itu, meskipun masih sangat sedikit. Bagian ketiga yaitu fokus dan konsentrasi. Bagian ke empat atau bagian terakhir adalah merapalkan mantra.
"Sebenarnya aku ingin kau melakukan latihan fisik, tapi aku rasa tidak perlu karena ku lihat kau sudah basah akan keringat..." ucap Abbas, "Ajian Banteng Ketaton tidak mudah untuk dapat di kuasai, kau harus memiliki konsentrasi tingkat tinggi. Ajian Banteng Ketaton sangat sulit untuk di kuasai, karena selain konsentrasi, ada satu hal lagi yang harus kau lakukan, yaitu berpuasa muti selama satu purnama," lanjut Abbas.
"Aku rasa aku dapat melakukan semuanya paman, aku akan menguasai Ajian Benteng Ketaton ini..." seru Widura.
"Kau harus berlatih dengan giat, karena aku saja membutuhkan tiga tahun untuk dapat memfokuskan diri dan berkonsentrasi penuh untuk dapat menguasai Ajian Benteng Ketaton.
"Aku akan rajin berlatih paman, kau tidak usah khawatir. Aku akan lebih cepat menguasainya darimu,"
"Aku mempercayai dirimu ponakanku," Abbas menepuk pundak Widura dan berjalan meninggalkan Widura.
Widura dapat menyimpulkan mengapa Ajian Banteng Ketaton menghilang semenajak kematian Abbas, itu semua terjadi karena tidak ada yang dapat berkonsentrasi penuh untuk melafalkan mantra dan gagal untuk memfokuskan diri.
Dalam tenggang waktu sebulan itu juga, orang yang akan menguasai Ajian Banteng Ketaton akan mengalami ujian tertentu yang tidak kalah rumit, namun sepertinya Abbas tidak ingin memberitahukannya kepada Widura.
"Aku yakin untuk menguasainya aku akan menghadapi rintangan yang tidak ringan," ucap Widura.
***
Ketika senja hampir tiba, Widura berjalan menuju kediaman Pramesti. Widura ingin melihat kondisi Sukma Ayu yang sekarang berstatus tunangannya.
"Widura," ucap Sukma Ayu pelan bahkan hampir tidak terdengar oleh Widura.
"Sukma Ayu, di mana bibi Pramesti? Apakah dia sedang pergi?" tanya Widura kepada Sukma Ayu.
"Tidak, bibi Pramesti ada di belakang, ia sepertinya sedang berlatih ilmu kanuragan," jawab Sukma Ayu.
"Owh, ikut aku sebentar," Widura menarik pergelangan tangan Sukma Ayu. Sukma Ayu hanya bisa mengikuti langka kaki Widura. Sukma Ayu mulai merasa jika keluarga Lentera memiliki kebiasaan mengajak seseorang secara paksa dengan memegangi pergelangan tangannya.
Widura mengajak Sukma Ayu ke bukit yang tidak jauh dan tidak juga terlalu tinggi. Bukit kecil itu tepat berada di belakang kediaman pribadi Anas dan keluarganya.
"Dari sini kita bisa menikmati betapa indahnya melihat matahari mulai terbenam secara berlahan," Widura menunjuk matahari yang sudah berada di bagian barat.
Sukma Ayu tersenyum kecil ke arah Widura, lalu mengalihkan pandangannya ke arah matahari yang hampir terbenam itu.
Pemandangan yang ada di harapan mereka saat ini benar-benar indah dan begitu romantis. Sinar cahaya terakhir matahari mengubah awan yang putih berubah menjadi berwarna orange, sehingga menghasilkan pemandangan alam yang cukup sulit untuk di temui.
Sukma Ayu benar-benar di buat bahagia dan gembira melihat Sunset sore hari ini, "Ini benar-benar sangat indah, luar biasa. Aku baru pertama kali melihatnya," puji Sukma Ayu kepada laki-laki di sebelahnya yang tampak begitu menikmati Sunset sore sore ini.
Setelah matahari benar-benar sudah tenggalam dan sebentar lagi akan berganti dengan sinar dari sang rembulan. Widura langsung mengajak Sukma Ayu untuk segera kembali ke kediaman Pramesti.
Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di sana, hanya membutuhkan waktu lima menit sana.
"Widura, kau dari man saja dan apa yang telah kau lakukan kepada Sukma Ayu?" tanya Pramesti sambil menghunuskan pedangnya ke arah Widura.
"Aku tidak melakukan apapun!! Bibi bisa tanyakan sendiri kepada Sukma Ayu," seru Widura.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 419 Episodes
Comments
Nur Tini
ajian banteng ketaton....itukan ajian punya senopati pamungkas...ah..sejarah lagi...inikan novel...hehehe
2022-10-27
0
Nur Tini
weleh weleh kok tidur pagi hari si paman gak malu dgn ponakan yg rajin latihan
2022-10-27
0
bambang wahyu jati
emang MC anjink ni kurang peka juga
2022-01-05
0