"Tariklah pedangmu Lintang, keluarkan seluruh tenaga dalammu, jika tidak ingin kalah," ucap Widura dengan lantang.
"Baiklah kak, akan ku tunjukan seluruh hasil latihanku kepadamu kak," Lintang menarik pedang dari selongsongnya dan bergerak cepat ke arah Widura.
Widura tersenyum tipis, ia langsung menghindari setiap serangan yang di lesatkan oleh Lintang. Widura tidak menggunakan tenaga dalamnya, ia hanya mengandalkan kekuatan fisiknya saja.
Tenaga fisik dari Widura saja sudah lebih dari cukup untuk mengimbangi kekuatan dari Lintang. Keduanya bertukar serangan cukup sengit. Widura lebih banyak dalam kondisi bertahan, sementara Lintang terus berusaha menekan Widura, namun tidak pernah membuahkan hasil. Setiap serangan yang di lesatkannya, jika tidak tertahan oleh pergelangan tangan Widura yang sudah hampir sekeras baja, berkat mempelajari kitab merah. Sehingga menghasilkan dentingan besi beradu yang keras, jika tidak terhalang pergelangan tangan Widura, maka ujung mata pedang Lintang hanya akan mengenai ruang hampa.
"Kau sungguh di latih dengan baik oleh kakek, sehingga kakek tanpa segan mengajarkan jurus pedang pemusnah jiwa kepadamu," guman Widura di dalam hatinya.
Widura memang sengaja terus dalam posisi bertahan. Ia ingin mempelajari setiap gerakan serangan dari Lintang dengan menggunakan jurus pedang pemusnah jiwa. Kekuatan Widura saat ini sudah mampu membuat Lintang terdesak dan kalah hanya dalam beberapa menit pertukaran serangan saja.
"Lintang kau harus memfokuskan tenaga dalammu, jika ingin membuat seranganmu jauh lebih efektif, serta tidak banyak menguras tenaga dalamu," ucap Widura sambil terus menangkis dan menghindari serangan dari Lintang.
Lintang yang mendapat saran dari Widura langsung memfokuskan tenaga dalamnya kepada pedangnya dan mulai kembali menyerang Widura.
Kali ini Lintang meraskan jika serangannya ternyata lebih efektif di bandingkan sebelumnya. Widura yang merasakan hal itu hanya tersenyum tipis, ia saat ini belum serius bertarung. Ia hanya ingin menguji sudah sebatas mana kemampuan adiknya ini.
"Apakah kau tidak ingin mencoba jurus pedang pemusnah jiwamu, aku rasa aku sanggup untuk menghadapinya!!" tantang Widura kepada adiknya itu, Lintang.
"Baiklah, aku menggunakannya," Lintang mulai merapal mantra dansl sedetik kemudian ia sudah mengayunkan pedangnya menyerang Widura.
"Pedang pemusnah jiwa level I: Angin peremuk jiwa"
Pedang milik Lintang melesat cepat dengan pusaran angin di sekeliling pedangnya, namun seranga itu tidak membuat Widura gentar dan terkejut. Widura memilih maju dan menyambut serangan itu dengan kedua pergelangan tangannya. Sebelumnya Widura sudah memusatkan semua tenaga fisiknya pada pergelangan tangannya, sehingga membuat pergelangan tangan Widura begitu keras, bak sebuah baja.
"Kau sungguh cerdas Lintang," puji Widura di sela pertarungan itu.
Lintang hanya membalas senyum kepada Widura sambil terus mengayunkan pedangnya menyerang Widura dengan ritme serangan yang efektif, namun belum cukup untuk mengalahkan Widura. Setidaknya perlu kombinasi serangan yang dahsyat untuk dapat memukul mundur Widura.
"Kak Widura sungguh hebat, aku benar-benar kalah terlalu jauh darimu kak," ucap Lintang dengan senyum merekah menghiasi wajahnya.
"Hmm, kau harus terus berlatih maka kau akan mampu mengalahkanku," seru Widura kepada Lintang.
Kali ini Widura tidak hanya bertahan, tapi secara berlahan Widura maju memperpendek jarak dengan Lintang.
Beberpaa detik kemudian Widura sudah berada tepat di hadapan Lintang, sedetik kemudian sebuah tapak mendarat di dada bagian kiri Lintang yang membuatnya terpundur beberapa langkah. Widura jelas tidak menggunakan seluruh kemampuan fisiknya, ia hanya menggunakan 20% kekuatan fisiknya.
Beberapa menit kemudian pedang di tangan Lintang terlepas dari cengkraman tangannya akibat pukulan Widura di bagian pergelangan tangannya.
Lintang yang mendapati pedangnya terlempar jauh memilih mengakhiri latih tanding mereka. Widura jelas begitu terkejut dengan kemampuan Widura yang saat ini sudah berada di atasnya.
"Lintang, kau hanya perlu berlatih lebih giat lagi, aku dapat merasakan sebuah energi besar bersemayam di dalam tubuhmu," ucap Widura sambil mulai mengatur napasnya. Widura berjalan menuju kediaman mereka dan langsung membaringkan tubuhnya, dan sedetik kemudian Widura sudah terlelap dalam tidurnya.
"Kakak, kau sungguh hebat, aku mengetahui kau belum menggunakan seluruh kekuatanmu kak," balas Lintang yang sudah berbaring di samping Widura. Keduanya tertidur dengan nyenyak setelah pertarungan itu.
***
Di pojok bangunan Anas yang sudah menyaksikan semua pertarungan latih tanding antar Widura dan Lintang hanya bisa berdecak kagum melihat bakat dan keahlian keduanya.
Perkembangan Widura benar-benar mengejutkan, bahkan di luar nalar manusia. Widura berkembang dengan begitu cepat. Berhasil mengalahkan Lintang dalam latih tanding buka perkara mudah, apalagi Lintang sudah hampir mencapai pendekar madya.
"Kau sungguh berkembang dengan pesat nak,"
Anas melesat cepat meninggalkan kediamannya dan menuju ruangan pribadi ketua keluarga Lentera.
Ketika tiba di sana, Anas cukup terkejut mendapati Argadana sudah ada di ruangan itu, nampaknya Argadana menunggu kedatangan dirinya.
"Ayah, apakah kau mencari diriku?" tanya Anas lembut kepada orang tuanya itu.
"Hmm, aku memang mencarimu," jawab Argadana, "Apakah kau masih kukuh dengan pendirian mu itu, aku tidak ingin jika sampah itu mempermalukan keluarga Lentera di hadapan keluarga Suci," lanjut Argadana sambil mengelus jenggotnya.
"Aku sudah katakan ayah, aku tidak akan mengubah keputusanku, bukankah ayah mengerti hal itu bukan!!!" jawab Anas dengan nada sedikit tinggi.
"Haha Anas, coba kau pikirkan masa depan keluarga Lentera, apakah kau ingin mempermalukan keluarga kita dengan menjodohkan sampah itu dan akan ada latih tanding, aku yakin anak itu akan di hajar habis-habisan,"
"Ayah cukup!!!" seorang laki-laki berusia 25 tahun memasuki ruangan itu.
"Abas, kau sudah kembali dari misi,"
Abas hanya tersenyum kecil. Abas adalah anak kedua dari Argadana, Abas lahir dengan bakat kristal Jingga dan saat ini dia sudah mencapai pendekar bumi gerbang 5.
"Ayah jangan menentang keputusan dari kak Anas, bukankah kau sendiri yang menunjuk dia sebagai penerus dirimu dan mengisi kedudukan sebagai ketua keluarga Lentera karena kau yakin kak Anas bijak dalam mengambil semua keputusan..."
Ucapan Abas berhasil menyudutkan Argadana. Memang Argadana yang menunjuk Anas sebagai ketua sekte kala itu. Padahal saat itu seluruh tetua keluarga Lentera lebih setuju jika Argadanalah yang akan menjadi ketua keluarga Lentera.
"Hmm kalian berdua sama saja seperti ibumu," Argadana beranjak pergi meninggalkan Anas dan Abas.
Anas maupun Abas tidak mencegah langkah Argadana. Abas sepertinya memiliki tujuan lain atas kedatangannya ke ruang pribadi Anas, ketua keluarga Lentera.
"Kak, aku ingin turun tangan langsung melatih Widura agar menjadi pendekar hebat di masa depan," ucap Abas yang barang tentu mengejutkan Anas. Abas yang tidak pernah betah di desa, tiba-tiba mengajukan diri untuk melatih Widura benar-benar sesuatu yang mengejutkan.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu itu?" tanya Anas memastikan ulang keputusan dari Abas.
"Benar kak, aku sudah mulai bosan terus berkelana mengerjakan berbagai misi, aku ingin beristirahat cukup lama dan selama itu aku akan mendidik Widura agar menjadi pendekar hebat,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 419 Episodes
Comments
bang falah
widura begitu terkejut dengan kemampuan widura??
2024-05-28
1
Deki Marsoni
selongsong peluru🙄🙄🙄
2024-02-01
0
Nur Tini
hebat widura, dari sampah keluarga bisa jadi pendekar. tidak ada sesuatu yg tdk mungkin asal kita berusaha dgn keras ...bravo thor
2022-10-26
0