"Apa Pangeran sedang tidak bercanda? Sukma Ayu akan tinggal di kediaman keluarga Lentera sementara waktu?" tanya Widura meyakinkan jika dia tidak salah dengar.
"Benar, saat ini di Kerajaan Jenggala sedang terjadi perebutan kekuasaan, rencana pengunduran diri ayahanda membuat gejolak besar di istana, saudaraku Pangeran Antarupa ingin naik tahta menggantikan posisiku. Satu hal yang ku takutkan, dia akan nekad menghabisi dinda Sukma Ayu jika gagal naik tahta...,"
Widura hanya terdiam beberapa saat, ia mencoba mencerna semuanya. Sedetik kemudian Widura baru memahami jika kematian Sukma Ayu kemungkinan akibat perebutan tahta saat ini.
"Aku tidak memiliki keberanian menolaknya Pangeran,"
"Aku akan menjemputnya saat keadaan sudah stabil, kau harus berjanji untuk menjaganya dengan baik. Aku mempercayakan dia kepadamu, kemanapun kau pergi, aku mohon bawa dia bersamamu karena hanya kau seorang yang dapat ku percaya," ucap Raden Surya Fatih yang berhasil membuat Widura terkejut dan hampir terlonjak dari tempat duduknya.
"Hemm Aku ingin kau berjanji kepadaku," Raden Surya Fatih menatap Widura dengan pandangan penuh makna yang dalam. Widura yang sudah mengalami dua kehidupan bahkan sulit untuk memahaminya.
"Emm Aku berjanji pangeran..." ucap Widura yang sudah yakin dengan keputusannya.
"Haha memang sebaiknya begitu, mengingat kau sendiri adalah calon suaminya kelak... Mulai dari sekarang kau bisa panggilan Raka..."
"Raka??" tanya Widura dengan kening berkerut.
"Iya Raka Surya Fatih,"
Raka adalah panggilan untuk saudara yang lebih tua untuk keluarga Kerajaan. Sementara panggilan untuk yang lebih mudah yaitu Rai dan dinda untuk perempuan.
"Aku akan memanggilmu Rai Widura," lanjut Raden Surya Fatih.
Tanpa mendengarkan jawaban dari Widura, Raden Surya Fatih mulai menutup mata dan berlahan mulai tidur dengan nyenyak.
"Sudahlah, lebih baik aku tidur saja," Widura memilih tidur dengan bersandar di pohon yang bersampingan langsung dengan Raden Surya Fatih.
***
Sinar matahari menyinsing dengan indah menyinari seluruh area dan perumahan yang ada di desa Pasmah, kediaman keluarga Lentera.
Semua orang berkumpul mengelilingi sebuah lapangan yang menghampar luas berwarna hijau.
"Hari ini aku tetua keluarga Lentera akan menjadi wasit dalam latih tanding antara Widura putra sulung ketua keluarga Lentera dan Raden Surya Fatih Putra Mahkota Kerajaan Jenggala," ucap Abbas.
Dua orang laki-laki memasuki lapangan itu. Salah satu sudah cukup akrab di mata mereka, dialah Widura putra ketua keluarga Lentera yang di anggap sampah. Satunya lagi adalah Pangeran dari seberang pulau, dia adalah Raden Surya Fatih.
"Sekali lagi saya ingatkan, ini hanya latih tanding, jadi tidak unsur untuk saling membunuh," Abbas memberi peringatan terakhir kepada Widura maupun Raden Surya Fatih.
Keduanya mengangguk mengerti. Keduanya lalu mengambil jarak cukup jauh dan mulai memasang kuda-kuda tarung.
Semua pasang mata menatap Widura dengan tajam. Mereka cukup aneh melihat kuda-kuda Widura yang cukup berbeda dengan kuda-kuda tarung pada umumnya.
Widura kali ini menggunakan kuda-kuda tarung harimau tunggal yang ia pelajari secara tidak sengaja di kehidupan pertamanya.
"Lihatlah, sampah itu bahkan tidak dapat menggunakan kuda-kuda dengan benar, dia benar-benar cari mati..."
"Haha, kau lihat sampah itu, dia menggunakan kuda-kuda yang aneh, aku berani bertaruh dia tidak akan bertahan dalam tiga serangan saja..."
"Pangeran tampan itu akan menang dengan mudah menghadapi laki-laki malang itu,"
"Mental anak ketua memang sungguh besar, tapi sayang tidak dengan kemampuannya,"
Berbagai macam tanggapan keluar dari mulut para penonton. Ada yang merasa jika Widura sudah gila dan menghantarkan nyawa saja. Ada juga yang merasa kasihan dengan Wisuda, dan ada yang memuji keberanian yang di tunjukan oleh Widura.
***
Ketika Abbas sudah menyatakan pertarungan di mulai. Baik Widura atau Raden Surya Fatih langsung bergerak cepat kedepan.
Widura langsung memusatkan seluruh kekuatannya di bagian pergelangan tangan. Ia tidak ingin menganggap remeh lawannya karena lawannya saat ini berada di tingkat pendekar raja tahap awal.
Raden Surya Fatih sendiri langsung menarik pedang dari selongsongnya. Ia benar-benar akan serius sejak awal. Ia tidak ingin menganggap lawannya remeh. Raden Surya Fatih jelas mengetahui jika Widura baru mencapai pendekar taruna gerbang ketiga, tapi fisik dari Widura lah yang membuatnya begitu waspada.
Raden Surya Fatih langsung menghujani Widura dengan serangan pedang. Widura jelas tidak mengalami kesulitan menghindari serangan dari Raden Surya Fatih.
Ketika Widura memilih menangis serangan pedang Raden Surya Fatih yang mengarah ke dadanya menggunakan pergelangan tangannya, seningga menghasilkan dentingan seperti suara besi beradu.
Semua yang melihat dan mendengar jelas sulit percaya. Pria Mitra sendiri begitu terkejut menyaksikan hal itu. Argadana yang selalu menganggap Widura sebagai aib keluarga Lentera, bahkan langsung meloncat dari kursinya karena begitu kaget melihat situasi di hadapannya saat ini.
"Bagaimana bocah itu dapat sekuat ini, dia mampu mengimbangi pendekar raja, itu sudah pencapaian yang luar biasa di usianya yang masih muda," batin Argadana.
Kembali ke pertarungan Widura dan Raden Surya Fatih. Keduanya nampak menikmati pertarungan mereka. Meskipun sebelumnya Raden Surya Fatih menatap Widura seakan tidak percaya jika lengan Widura begitu keras, bak sebuah baja yang tebal dan keras.
Widura memang terus di desak oleh Raden Surya Fatih. Widura terus di paksa dalam kondisi bertahan total, namun belum satu goresan lukapun yang berhasil melukai dirinya.
Raden Surya Fatih berdecak kagum melihat Widura begitu tenang menangkis dan menghindari setiap serangannya. Namun Raden Surya Fatih tidak akan membuat celah agae Widura dapat melesatkan serangan balik.
"Pangeran Raden Surya Fatih benar-benar hebat seperti di kehidupan pertamaku, aku yakin Pangeran Raden Surya Fatih akan terus berkembang..." guman Widura sambil terus menangkis setiap serangan yang terarahkan kepadanya.
Widura sendiri bukan tidak mampu menyerang balik, tapi dia menunggu momen menyerang balik tanpa membuat lawannya terluka. Widura memilih mengamati setiap situasi dan mencari celah yang sedang dia hadapi.
Satu jam berlalu, namun pertarungan keduanya belum juga selesai. Keduanya jelas sudah bertukar puluhan serangan namun masih tetap berimbang. Meskipun hanya menangkis dan menhindar, namun Widura sudah berhasil membuat lawannya terpojok.
"Tarian Pedang Buaya Darat" teriak Raden Surya Fatih.
Widura mengambil langka sedikit mundur dan mulai memfokuskan seluruh energi yang di balut dengan tenaga dalam di kedua tangannya. Di mulai dari pergelangan tangan sampai ke gempalan tangan akan menjadi begitu keras. Sehingga kembali menghasilkan benturan dentingan saat pedang Raden Surya Fatih kembali menghantam pergelangan tangan Widura, sehingga mendapati lawannya hanya terpental mundur beberapa langkah ke belakang.
"Pergelangan tangannya mampu membuatku terpental," guman Raden Surya Fatih. "Aku yakin dia belum menggunakan kekuatan penuhnya," lanjut Raden Surya Fatih.
Kali in Widura yang berinisiatif menyerang terlebih dahulu. Ketika dia sudah mengetahui batas dan kekuatan yang di miliki oleh Raden Surya Fatih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 419 Episodes
Comments
Deki Marsoni
buaya darat jomblo
2024-02-01
0
Imet Armis
mantaab
2023-03-02
0
Nur Tini
amboi ...keras nian lengan engkau, widura
2022-10-26
0