Di depan gerbang utama keluarga Lentera.
Beberapa orang pendekar madya nampak berjaga di depan gerbang utama. Mereka semua kompak menggunakan jubah dan baju yang seragam yang berwarna merah hati. Di tambah dengan sebilah pedang di pinggang kiri mereka seakan melengkapi tampilan mereka kali ini. Setiap pedang memiliki warna sarung yang seragam pula, yaitu berwarna putih mencolok.
Dua warna yang di pilih oleh Anas sebagai ketua keluarga Lentera memiliki arti tersendiri. Warna merah di artikan berani, hal itu melambangkan jika semua keluarga Lentera haruslah memiliki keberanian yang besar dan tidak takut mati saat membela sesuatu yang benar. Warna putih berarti suci, hal itu melambangkan jika seluruh anggota keluarga Lentera harus memiliki jiwa yang suci. Secara keseluruhan kedua warna itu bertujuan untuk memperingatkan jika keberanian yang tanpa di sertai dengan kesucian jiwa hanya akan membawa malapetaka dan bencana.
Sepanjang jalan menuju ruangan aula utama sudah di hiasi dengan bunga-bunga berwarna-warni yang terlihat begitu cantik. Nampaknya keluarga Lentera sudah menyiapkan semuanya dengan sedemkian baik untuk menyambut kedatangan dari keluarga Suci dari seberang pulau.
Tetua Bodas nampak beridiri di antara pendekar madya dengan gagah dengan sebuah kapak di tangan kanannya. Bodas yang sudah mencapai pendekar bumi gerbang 5 cukup di perhitungkan di dalam keluarga Lentera.
Anas memang sengaja meletakan Bodas di gerbang utama untuk berjaga-jaga. Anas khawatir jika ada serangan dadakan saat keluarga Suci memasuki kediaman dari keluarga Lentera dan berakibat dengan tewasnya putri dari Jaka Lelana.
Ancaman utama kota Ampera adalah kelompok bersenjata yang menamai kelompok mereka Taring Maut.
Semua orang jelas mengetahui jika pemimpin Taring Maut adalah mantan pahlawan Kota Ampera. Dia adalah Landa Pati.
***
Keluarga Suci tiba di desa Pasmah. Berbagai macam sambutan mengiringi kedatangan mereka. Dari taring persembahan yang di lakukan di depan gerbang utama dan beberapa pertunjukan seni pedang di sajikan menyambut kedatangan keluarga Suci.
"Mereka benar-benar menyambut kedatangan kita dengan baik," ucap salah satu prajurit keluarga Suci.
"Keluarga Lentera benar-benar menyiapkan semuanya dengan begitu baik, mereka sangat tahu betul tentang tentang penyambutan!!"
"Aku menyukai cara mereka menyambut tamu istimewa,"
"Hahah aku mulai menyukai keluarga Lentera ini..."
Beberapa tanggapan dan pujian di utarakan oleh prajurit dari keluarga Suci dan Kerajaan Jenggala. Sebagian besar dari mereka jelas memberikan pujian kepada penyambutan dari keluarga Lentera.
Rombongan keluarga Suci berjalan terus memasuki desa Pasmah. Mereka di arahkan menuju sebuah bangunan yang cukup besar. Bangunan itu akan di gunakan sebagai penginapan oleh keluarga Suci saat berada di desa Pasmah.
Mereka baru akan melangsungkan pertemuan untuk membahas masalah perjodohan esok hari. Saat ini mereka harus mengistirahatkan tubuh mereka terlebih dahulu, karena sudah menempuh perjalanan jauh untuk tiba di Kota Ampera.
Beberapa orang prajurit yang di bawa keluarga Suci di perintahkan untuk tetap berjaga. Mereka akan beristirahat secara bergantian.
Tidak jauh dari bangunan itu, Bodas sudah memimpin pasukannya untuk berjaga. Mereka jelas tidak ingin terjadi yang tidak-tidak kepada keluarga Suci atau keluarga Lentera mereka akan musnah.
Senopati Pria Mitra sendiri masih berdiri di antara prajurit. Pria Mitra benar-benar ingin memastikan jika keadaan di sekitar penginapan mereka benar-benar aman. Karena tugas menjaga putri Sukma Ayu sama dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Jika terjadi yang tidak-tidak terhadap Sukma Ayu barang tentu nyawanya akan menjadi penebus kesalahannya. Meskipun ia memiliki Ajian Rawarontek tetap saja ia akan mati di tiang gantungan, karena jasadnya tidak akan mungkin di biarkan menyentuh tanah.
***
Di dalam kediaman pribadi keluarga Anas. Widura dan Lintang nampak sedang bersanda gurau. Widura ataupun Lintang nampak begitu bahagia. Sudah sangat lama sekali keduanya tidak bersanda gurau seperti saat ini. Apalagi untuk Widura, ia sudah begitu merindukan moment seperti ini dalam hampir puluhan tahun.
Widura benar-benar ingin menghabiskan waktunya bersama dengan adik bungsunya itu. Widura jelas sangat ingat, jika di kehidupan sebelumnya Lintang tewas saat penyerangan yang di lakukan oleh keluarga Komet.
"Di kehidupan keduaku ini, aku akan memperbaiki semuanya, Lintang akan tumbuh menjadi seorang pendekar pilih tanding dan mencapai tingkatan pendekar langit,"
Widura dapat merasakan jika saat ini Lintang sudah mencapai pendekar taruna gerbang 9. Sebuah pencapain luar biasa untuk seseorang yang baru menginjak usia 9 tahun.
"Kau benar-benar di anugerahi bakat yang luar biasa Lintang," guman Widura di dalam hatinya.
Widura saat ini baru mencapai pendekar taruna gerbang 3, namun dengan kekuatan fisiknya saja ia mampu untuk mengimbangi seorang pendekar raja.
Keduanya baru berhenti bermain saat menyadari kedatangan Anas.
"Ayah," ucap Widura dan Lintang secara serempak menyambut kedatangan dari Anas.
Anas tersenyum melihat kedua putranya yang sedang menikmati hari-hari mereka bersama dengan baik. Keduanya memang tidak memiliki waktu yang banyak untuk di habiskan berdua, karena Lintang harus fokus berlatih di bawah bimbingan Argadana.
"Kalian sudah tumbuh semakin besar, ayah tidak sabar melihat kalian berdiri dan mencapai puncak dari jagad persilatan,"
"Kami akan mencapai ayah, bukan begitu kakak," ucap Lintang sambil meleparkan pertanyaan kepada Widura.
"Tentu saja, kita akan menjadi pilar utama dunia persilatan dalam sepuluh tahun ke depan. Kita akan membuat nama keluarga Lentera menjadi begitu di kenal di seluruh daratan Nusantara sebagai keluarga pendekar," seru Widura dengan semangat yang sudah membumbung tinggi.
Anas hanya tersenyum lembut melihat semangat kedua putranya itu. Hal itu mengingatkan dirinya saat dirinya berusia muda. Lebih tepatnya saat ia mulai jatuh hati pada Wina yang menjadi ibu dari kedua anaknya, Widura dan Lintang.
"Wani, lihatlah dua orang putra kita sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa dan gagah perkasa," batin Anas.
"Ayah apa gadis bergaun putih itu yang akan di jodohkan dengan kak Widura, dia benar-benar cantik dan begitu cocok dengan kak Widura," ucap Lintang dengan senyum sumbringahnya.
"Kau sudah melihatnya, apakah Widura juga melihatnya," tanya Anas yang menanggapi pertanyaan dari putra bungsunya itu.
"Ya, kak Widura melihatnya, aku melihat kak Widura tersenyum melihat gadis bergaun putih itu," jawab Lintang.
Anas hanya bisa tersenyum lembut menatap kedua putranya itu. Anas merasa setelah kembali dari pelarian saat itu, Widura menjadi lebih dewasa dan memiliki wawasan yang tinggi.
"Kalian lanjutkan mainnya, ayah ada urusan sedikit yang harus segera di selesaikan," ucap Anas berlalu meninggalkan Widura dan Lintang.
Widura dan Lintang memilih berjalan menuju halaman belakang rumah mereka. Halaman itu cukup luas dan berwarna hijau merata.
"Lintang, apakah kau mau berlatih tanding denganku, aku ingin melihat kemajuanmu," ucap Widura. Widura benar-benar penasaran dengan gaya bertarung milik adik bungsunya itu. Widura sudah berencana menurunkan salah satu jurus hebat kepada adik bungsunya itu.
"Jika kak Widura menginginkan hal itu, aku sebagai adik tidak memiliki keberanian untuk menolaknya,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 419 Episodes
Comments
Deki Marsoni
namanya Wina wani binti wana wini 🤭😅
2024-02-01
0
Imet Armis
ayoo sparing dulu bro
2023-03-02
0
Nur Tini
masih ada typo.... gak papa, itu kesalahan editor yg kurang cermat memperhatikan naskah ini...ya kan thor....lanjut....
2022-10-26
0