Widura langsung mengambil langkah mundur. Ia tidak ingin mengambil tindakan dan menyerang terlebih dahulu karena ia belum mengetahui setinggi apa kekuatan yang di miliki lawannya kali ini.
Tiga orang yang di bawa oleh Adnan langsung bergerak menyerang Widura. Widura dengan sigap menghindar dan menangkis. Beruntunglah ia sudah memustakan kekuatannya di bagian pergelangan tangannya. Sehingga dapat menangkis setiap serangan lawannya.
Widura dapat mengukur jika lawannya kali ini berada di tingkatan pendekar madya belum berhasil membuka satu gerbangpun.
'Mereka jauh lebih lemah dari perkiraanku,"
Dua dari tiga orang yang menyerang dirinya adalah pendekar yang baru mencapai pendekar madya, sementara satu orang lagi hanya pendekar madya gerbang pertama.
Widura yang sedari tadi hanya menghindar dan menangkis serangan dari tiga orang anak buah Adnan. Sekarang sudah berbalik menyerang tiga anak buah Adnan, serangan kejutan dari Widura berhasil membuat tiga orang lawannya terdesak. Kecepatan dan kegesitan dari Widura berhasil semakin berhasil membuat ketiga orang itu terdesak dan sekarang dalam posisi terdesak.
"Bagaimana dia bisa sekuat ini?" ucap Adnan yang menyaksikan pertarungan dari jarak dekat.
"Dia bukan sampah seperti beberapa bulan yang lalu," Anub menyeruakan pendapatnya.
"Aku setuju dengan pendapatmu Anub," sahut Ibung yang berdiri di samping Anub dan Adnan.
Kembali ke pertarungan Widura dengan ketiga anak buah Adnan. Hanya dalam beberapa kali serangan saja Widura berhasil membuat tiga lawannya terpundur.
Widura sendiri bukan tanpa terluka. Widura mengalami beberapa luka di sekujur tubuhnya. Bahkan jika bertarung lebih lama lagi, Widura mungkin sudah terpundur jauh dan kehilangan kesadarannya.
"Apakah masih ada di antara kalian yang berani maju? Akan ku patahkan tulang-belulang kalian!!" ancam Widura, Widura berharap dengan nada ancaman itu tidak ada lagi yang berani maju menyerang.
Ancaman dari Widura nampaknya berhasil. Adnan dan anak buahnya berjalan, sedetik kemudian mereka langsung lari terbirit-birit.
Widura bernapas lega saat melihat rombongan Adnan berlari meninggalkannya seorang diri. Beberapa saat kemudian dirinya jatuh berlutut karena sudah kehabisan tenaga.
Widura benar-benar sudah kehabisan tenaga. Seandainya rombongan Adnan nekad menyerang dirinya, sudah barang tentu dirinya akan babak belur untuk pertama kalinya di kehidupan keduanya ini.
Widura pingsan beberapa saat, sebelum dirinya kembali terjaga. Widura langsung berjalan cepat menuju bukit belakang desa.
Setelah sampai di bukit, Widura langsung membuat perapian untuk menghangatkan tubuh. Suasana sudah mulai gelap, langit sudah mulai menjadi suram dan suara hewan-hewan kecil saling bersahutan satu sama lainnya.
Widura juga langsung meminum air dari kantong kulit yang ia bawa. Widura melihat di dalam gubuk sederhana yang ia buat beberapa waktu yang lalu masih ada empat kendi air yang terisi penuh.
"Nampaknya tidak pernah ada orang yang singgah selama aku meninggalkan gubukku ini," guman Widura.
Widura memilih untuk mengistirahtakn tubuhnya terlebih dahulu. Widura benar-benar merasakan jika tubuhnya begitu lelah, akibat dari pertarungan dengan tiga orang anak buah Adnan.
"Aku masih terlalu lemah, aku harus secepatnya menguasai kitab merah ini. Maka aku tidak akan merasa ketakutan lagi berhadapan dengan mereka yang sudah mencapai pendekar tingkatan yang lebih tinggi dariku.
Barulah setelah itu aku mulai mempelajari jurus-jurus pemutaran tenaga dalam untuk membuat diriku dengan cepat mencapai pendekar raja,"
***
Keesokan harinya di pagi yang cerah. Suara burung yang saling bersahutan membuat pagi ini terasa begitu indah.
"Bagian dua, menempah fisik dengan berlari sambil memikul beban di punggung," Widura membaca bagian kedua dari kitab merah itu.
Setelah itu Widura mulai berjalan dengan memikul batu yang besar yang berada di punggungnya.
Widura memulai menaiki bukit dengan berlahan. Langka kakinya terasa begitu berat setiap kali melangkah. Ketika menuruni bukit Widura memilih berlari dan sesekali loncat.
Sudah tidak terhitung berapa banyak keringat yang keluar. Pakaian yang di gunakan Widura saat ini sudah sepenuhnya basah akan keringat.
Widura baru berhenti ketika hari mulai gelap. Latihan seperti itu rutin ia lakukan selama satu minggu penuh. Barulah setelah itu melangkah ke bagian selanjutnya.
Widura menghabiskan waktu selama dua bulan untuk sampai ke bagian delapan, kitab merah terdiri dari 20 bagian.
Saat ini Widura sudah percaya diri untuk menghadapi pendekar madya gerbang ketiga, hanya dengan mengandalkan kekuatan fisiknya, tanpa perlu memfokuskan seluruh energi di satu tempat untuk membuat daya tahannya semakin besar.
Setelah dua minggu, Widura memilih kembali ke desa Pasmah. Ia tidak ingin membuat ayahnya menjadi khawatir dengan menghilangnya dirinya dari desa.
Widura juga ingin beberapa bulan ke depan tepat saat ia berusia 11 tahun. Ayahnya, Anas akan menjodohkan dirinya dengan anak dari kenalannya dari seberang pulau.
Widura ingin segera menjadi kuat. Kekuatan fisik Widura saat ini, serta di memfokuskan kekuatannya di satu di titik. Mengalahkan pendekar raja bukan hal sulit untuk Widura lakukan.
Ia tentu ingat sosok perempuan cantik dari negeri seberang yang akan di jodohkan dengan dirinya.
***
Beberapa bulan berlalu dan esok adalah hari di mana dirinya akan bertemu dengan calon tunagannya. Widura saat ini sudah memiliki fisik yang kekar dan berotot. Meskipun belum memiliki tenaga dalam, tapi saat ini kemampuan Widura sudah barang tentu dapat mengimbangi seorang pendekar raja tahap awal (Belum membuka satu gerbangpun) hanya mengandalkan kekuatan fisiknya.
Widura sendiri sudah tidak dapat melanjutkan mempelajari kitab merah, karena bagian 11 menuntut tenaga dalam yang besar untuk dapat mempelajarinya. Sementara Widura belum memiliki tenaga dalam sedikitpun, tapi Widura sudah cukup puas karena sudah dapat mengimbangi pendekar raja.
Selanjutnya Widura akan mempelajari kitab bersampul kuning. Salah satu kitab yang berisi jurus bertarung tingkat tinggi. Di kehidupan sebelumnya, Widura hanya mempelajari beberapa jurus saja dari kitab ini, namun di kehidupan keduanya ini, ia bertekad untuk menguasai kitab kuning sepenuhnya.
"Di kehidupan keduaku ini, aku harus berhasil menguasai lima kitab ini," tekad Widura.
"Aku harus menjadi kuat untuk melakukan uji tanding dengan calon tunanganku dari seberang pulau," lanjut Widura.
Widura yang sudah di bekali dengan pemikiran dan mental yang berumur ratusan tahun membuatnya dirinya cukup percaya diri dapat menguasai lima kitab itu dalam rentang waktu 10 tahun saja.
Dalam rentang waktu 10 tahun itu sudah banyak peristiwa besar yang akan melanda keluarga Lentera dan Kota Ampera.
"Aku harus memulai semuanya di awali dengan keluarga komet, mereka harus ku buat sangat lemah, jika tidak mereka akan kembali memporak-porandakan kelurga Lenteraku,"
Ketua dari keluarga Komet saat ini adalah Astafati yang sudah mencapai pendekar langit gerbang kedua. Astafati adalah salah satu dari penjaga Kota Ampera.
Di dalam Kota Ampera hanya ada empat orang yang sudah mencapai pendekar langit. Mereka adalah Argadana dari keluarga Lentera sudah membuka gerbang ketujuh, Astafati dari keluarga Komet sudah membuka gerbang kedua, Rai Kusuma dari keluarga Langit sudah membuka gerbang keempat, dan Joko dari keluarga Bumi sudah membuka gerbang kelima.
Di antara keempat orang itu, Argadanalah yang paling kuat karena sudah membuka gerbang ketujuh. Bahkan Argadana sudah tidak terlalu jauh lagi dari gerbang kedelapan.
Sementara itu pendekar Bumi ada cukup banyak di Kota Ampera. Setidaknya delapan keluarga pasti memiliki pendekar Bumi di dalamnya.
Keluarga Bumi lah yang memiliki pendekar bumi paling banyak, yaitu 25 orang pendekar bumi. Sementara keluarga Lentera hanya memiliki lima orang pendekar bumi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 419 Episodes
Comments
Nur Tini
lanjutkan thor
2022-10-26
0
LEXYURI🥰
semangat Kak, karyanya bagus 👍🏻👍🏻
2021-12-23
0
Cilla Arsyla
terpundur... asli wong kito.. hehehe..
2021-11-16
0