Raden Surya Fatih yang tidak siap menerima serangan balik dari Widura hanya bisa terus bergerak mundur beberapa langkah sambil terus menghindari pukulan dan tendangan yang di lepaskan oleh Widura.
Widura saat ini menggunakan pola serangan Harimau Tunggal menerkam mangsa, salah satu jurus favorit Widura saat bertarung jarak dekat.
Jurus Harimau Tunggal menerkam mangsa sangat efektif dan memiliki daya hancur yang besar jika sudah di sertai tenaga dalam yang besar pula.
Widura nampak begitu menikmati setiap pukulan dan tendangan yang di lesatkannya. Meskipun begitu Widura tidak menyertakan tenaga dalamnya saat menyerang. Widura murni mengandalkan kekuatan fisiknya.
Beberapa menit kemudian Raden Surya Fatih terpundur cukup jauh karena tendangan cobra dari Widura tidak sempat untuk dia hindari.
"Dia benar-benar hanya mengandalkan kekuatan fisiknya saja, tanpa menggunakan tenaga dalam sedikitpun..." Raden Surya Fatih kembali berdiri tegap sambil menggenggam erat pedang di tangan kanannya.
Raden Surya Fatih kembali mengambil sikap kuda-kuda tarung dan bergerak maju dan kembali menghujani Widura dengan serangan pedang.
"Tarian Pedang Batara Kalla" Raden Surya Fatih menriaki jurusnya dan melesat menyerang Widura. Jurus ini mampu membuat Raden Surya Fatih mendominasi pertarungan. Sementara Widura hanya terus mengindari setiap serangan pedang. Widura nampak berkelok-kelok ke kiri dan ke kanan menghindari serangan hujan pedang, tidak jarang Widura menundukan kepala untuk menghindari serangan dari Raden Surya Fatih.
Widura memang tidak lagi menangkis serangan pedang dengan pergelangan tangannya, karena akan berisiko tangannya akan terluka.
Beberapa menit berlalu dan keduanya sudah bertukar serangan lebih dari seratus jurus. Namun nampaknya kali ini Widura kembali berhasil menekan Raden Surya Fatih untuk berada dalam posisi bertahan total.
Widura kembali menggunakan jurus serangan Harimau Tunggal menerkam mangsa. Jurus itu kali ini masih berhasil mendesak Raden Surya Fatih, bahkan jika di gunakan berkali-kalipun tetap jua akan berhasil mendesak Raden Surya Fatih.
Semenit kemudian Raden Surya Fatih kembali terpental cukup jauh akibat tendangan cobra yang kembali mendarat telak di bagian dadanya.
Raden Surya Fatih kembali berdiri dengan susah payah. Ia menyeka darah yang keluar dari cepat bibirnya.
"Kekuatannya hanya seorang pendekar taruna, tapi mengapa setiap serangannya begitu kuat?!"
Semua orang yang melihat pertarungan itu benar-benar di buat begitu terkejut. Mereka benar-benar tidak menduga jika Widura memiliki kekuatan sebesar itu.
"Apa aku tidak salah lihat? Bagaimana sampah itu dapat menjadi begitu kuat...?"
"Aku benar-benar masih sulit percaya melihat sampah itu menjadi begitu kuat seperti saat ini..."
"Sekarang kenapa si sampah itu terlihat begitu tampan dan menggoda..."
Begitu banyak orang-orang yang menuju kebolehan Widura. Tidak jarang juga ada yang masih mencela Widura dengan sebutan sampah.
Di waktu yang sama, Argadana nampak begitu terkejut saat mendapati Widura memiliki kekuatan untuk mengalahkan Raden Surya Fatih yang memiliki kekuatan pendekar raja.
"Bagaimana bocah itu memiliki kekuatan dan jurus bertarung yang begitu hebat, seingatku tidak ada yang pernah mendidiknya, apa mungkin Anas diam-diam mengajarinya," guman Argadana di dalam hatinya. Dia masih sulit percaya dengan kekuatan yang di miliki Widura saat ini. Bagaimana bisa di memiliki kekuatan setara dengan pendekar raja, sementara dia lahir dengan kristal Merah Darah.
Memikirkan hal itu membuat kepala Argadana menjadi sakit. Bagi Argadana kekuatan dari Widura benar-benar di luar akal sehatnya. Dengan kekuatannya saat ini, Widura pantas di sebut jenius dari keluarga Lentera.
***
Pria Mitra yang melihat Raden Surya Fatih mengalami kekalahan telak dari lawannya benar-benar di buat begitu terkejut dan terkagum-kagum dengan lawannya.
Saat mendapati Raden Surya Fatih kembali terpental kedua kalinya, Pria Mitra memilih meloncat memasuki lapangan pertarungan.
"Maaf mengganggu!!," ucap Pria Mitra yang sudah berdiri di hadapan Raden Surya Fatih, "Aku ingin menguji kekuatanmu, izinkan aku menjadi lawanmu selanjutnya," lanjut Pria Mitra.
"Kau tenang saja, aku hanya akan menggunakan 20% tenaga dalamku," seru Pria Mitra yang melihat wajah keraguan dari Widura.
"Baiklah, aku tidak memiliki keberanian menolaknya paman Panglima," Widura mulai kembali memasang kuda-kuda harimau tunggal.
Pria Mitra yang begitu penasaran dengan kekuatan dari Widura langsung mengambil inisiatif menyerang terlebih dahulu.
Widura yang mendapati lawannya sangat tangguh langsung ikut maju dan menyerang dengan jurus Harimau Tunggal menerkam mangsa.
Pria Mitra cukup terkesima dengan jurus yang di gunakan oleh Widura. Ia sedikit sulit percaya, Widura dapat mengimbangi dirinya, meskipun ia jamua menggunakan 20% kekuatannya.
Lima menit kemudian keduanya sudah bertukar puluhan serangan. Nampaknya kekuatan mereka cukup berimbang. Belum ada satu pukulanpun yang berhasil Widura lesatkan ke tubuh Pria Mitra dan begitu pula dengan Pria Mitra.
"Pemuda yang menarik," ucap Pria Mitra.
Pria Mitra lantas melemparkan sebilah pedang kepada Widura, "Bertarunglah dengan pedang itu, aku ingin melihat sebatasana kemampuan mu anak muda,"
"Baik la paman," Widura langsung menangkap pedang itu dan bergerak cepat menyerang Pria Mitra.
Pria Mitra dengan cukup sigap menarik pedangnya dan menyambut serangan Widura. Pria Mitra kembali di buat terkesima dengan permainan pedang Widura yang begitu lincah man gesit. Widura menggunakan jurus pedang milik keluarga Lentera, yaitu Tarian Pedang Angsa Mabuk.
Tidak ada yang menduga jika Pria Mitra terdesak oleh serangan Widura, meskipun hanya beberapa menit saja, sebelum Pria Mitra bakik menekan Widura.
"Pedang Besi Penghancur" teriak Pria Mitra sambil mengayunkan pedangnya.
"Pedang pemusnah jiwa level I: Angin peremuk jiwa" Widura langsung mengambil langkah mundur dan ikut mengayunkan
Pertemuan dua jurus itu menghasilkan suara benturan yang dahsyat nan besar. Widura terpundur jauh, sementara Pria Mitra masih berdiri dengan tegap di posisinya semula.
Semua mata yang menyaksikan hal itu benar-benar di buat terkejut. Mereka semua jelas masih sulit percaya jika Widura sudah menjadi sedemikian kuat. Mulai saat ini tidak akan ada lagi orang yang berani menyebut dirinya sampah.
"Kau benar-benar berbakat anak muda," puji Pria Mitra yang berjalan menuju Widura, di belakangnya ada Raden Surya Fatih.
"Rai, kau benar-benar berbakat untuk menjadi pendekar hebat di masa depan, aku merasa dinda Sukma Ayu mendapatkan tunangan yang hebat..." puji Raden Surya Fatih.
"Raka terlalu berlebihan memuji diriku," seru Widura.
"Haha kau benar-benar rendah diri... Aku berharap setelah ini kita akan bertemu lagi, akan ku bawa kau bertemu dengan guruku," ucap Pria Mitra.
Mereka bertiga lalu berjalan meninggalkan lapangan pertarungan, sebelumnya Widura dan Raden Surya Fatih memberi hormat kepada Abbas.
Sementara itu semua orang yang sedang yanh menyaksikan hal itu masih tidak bergerak dari posisi mereka. Mereka masih di buat terpukau dengan pertarungan yang baru saja mereka saksikan.
Mereka masih sulit menggambarkan situasi yang baru saja mereka saksikan barusan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 419 Episodes
Comments
Yorfinn
jejak
2023-09-27
0
Bang Roy
sikap rendah membuat dihormati orang lain.
2023-03-08
0
Nur Tini
hebat...aku suka cerita ini.... semuanya masuk logika.....
2022-10-26
0