Setelah berhasil membuka seluruh meridian di dalam tubuhnya. Sekarang Widura sudah mencapai pendekar taruna gerbang pertama.
Widura tersenyum kecil. Ini satu langkah lebih baik, jika di bandingkan dengan kehidupan pertamanya yang baru mencapai pendekar taruna saat berusia 18 tahun.
Widur mulai membuka gulungan lontar yang di berikan oleh Limbubu. Ia dapa melihat jika lontar itu sudah berusia ribuan tahun, terlihat dari tulisannya yang sudah mulai luntur termakan usia.
"Langkah Kilatan Angin," ucap Widura membaca gulungan lontar itu.
Widura tersenyum lembut penuh arti. Di kehidupan pertamanya, ia pernah mendengar tentang jurus peringan tubuh yang sangat cepat, yaitu jurus Langkah Kilatan Angin.
Jurus Langkah Kilatan Angin dapat membuat penggunanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat dan gesit.
Widura jelas masih sulit percaya jika saat ini panduan untuk menguasai jurus Langkah Kilatan Angin ada di hadapannya.
"Ini akan sangat berguna, aku tentu masih ingat, jika saat ini jurus peringan tubuh yang ku miliki masih terlalu lemah meskipun saat itu aku sudah mencapai pendekar langit gerbang 10." guman Widura kepada dirinya sendiri.
Widura menyimpan lontar itu di balik jubahnya dengan sangat berhati-hati. Ia akan mempelajarinya saat dirinya sudah mencapai pendekar taruna gerbang 5.
Saat ini Widura ingin mempelajari kitab kuning terlebih dahulu. Kitab kuning yang berisi jurus-jurus bertarung jarak dekat akan sangat berguna untuk seorang pendekar.
Kitab kuning berisi 30 jurus bertarung jarak dekat. Di kehidupan sebelumnya, Widura hanya menguasai 23 jurus saja karena keterbatasan waktu yang ia miliki, tapi di kehidupan keduanya ini, Widura sudah membulatkan tekadnya untuk menguasai seluruh jurus yang ada di dalam kitab kuning itu.
Berkat kitab kuning jugalah Widura di akui sebagai pendekar pilih tanding di pulau Andalas, bahkan Nusantara.
Widura bahkan mendapat gelar pendekar tanpa tanding kala itu. Widura bahkan membesarkan namanya di pulau Java Dwipa dengan mengalahkan salah satu pendekar pilih tanding dari aliran hitam.
"Di kehidupanku kali ini, aku akan memperbaiki segalanya dan menjadi lebih kuat untuk menghentikan dan menghancurkan utusan iblis sebelum tiba di tanah mercapada,"
***
Anas ketua dari keluarga Lentera saat ini benar-benar di buat pusing tujuh keliling, karena keluarga suci dari seberang pulau akan datang untuk menuntut janji pertunangan antara Widura dan putri mereka.
Satu hal yang membuat Anas pusing tujuh keliling, yaitu pertarungan anaknya melawan saudara tertua dari keluarga suci. Menurut telik sandi yang ada di seberang pulau, saudara tertua itu sudah mencapai pendekar raja tahap awal (Belum membuka satu gerbangpun).
Sementara Widura yang akan berhadapan dengannya belum mencapai pendekar taruna. Jelas ini akan sangat memalukan Widura, terutama nama besar dari keluarga Lentera di tanah Jawa Dwipa.
"Aku harus berpikir jernih, tidak boleh ada kesalahan dalam mengambil tindakan, tapi sebaiknya aku menemui putraku terlebih dahulu,"
Anas berjalan meninggalkan ruangan pribadi ketua keluarga Lentera. Ia berjalan menuju kediaman pribadinya bersama dengan keluarganya.
Anas mendapati Widura sedang berlatih ilmu kanuragan. Samar-samar, Anas dapat merasakan jika Widura sudah memiliki tenaga dalam di dalam tubuhnya.
Anas tersenyum lebar. Anas seakan memiliki harapan saat ini, jika dulu semua orang mengatakan jika Widura tidak akan pernah menjadi seorang pendekar karena terlahir dengan kristal Merah Darah, namun saat ini putra sulungnya itu berhasil menjadi seorang pendekar dan membungkam semua mulut orang-orang yang menganggap dirinya seorang sampah.
"Widura!!!" panggil Anas kepada putra sulungnya itu.
"Ayah," Widura langsung menghentikan latihannya dan berjalan mendekati Anas.
"Kau berhasil menjadi seorang pendekar," ucap Anas bangga dan penuh pujian kepada Widura.
"Ini semua berkat dukungan ayah, selama ayah sehat, aku dan Lintang akan terus berkembang sampai mencapai pendekar langit dan pilih tanding di pulau Andalas, bahkan Nusantara," balas Widura yang sudah berada di hadapan Anas. Anas segera memeluk putra sulungnya itu, kali ini dirinya memiliki keyakinan jika kedua putranya akan memiliki kekuatan yang memadai untuk melindungi diri mereka sendiri.
"Ayah akan tetap sehat untuk melihat kalian menjadi pendekar pilih tanding," ucap Anas sambil melepaskan pelukannya kepada putranya itu.
"Widura, ada hal penting yang ingin ayah sampaikan kepadamu!!" sambung Anas yang kali ini sudah memasang wajah yang serius.
Widura yang sudah mengetahui jika ayahnya ingin membicarakan tentang sebuah perjodohannya dengan putra kenalannya dari keluarga suci yang berada di seberang lautan.
"Hal penting apa yang ingin ayah bicarakan kepadaku?" tanya Widura seakan tidak tahu.
Anas langsung menceritakan semuanya kepada Widura tanpa menutupi sedikitpun. Mulai dari soal perjodohan sampai soal pertarungan dengan saudara tertua dari keluarga suci.
"Jika menurut ayah itu yang terbaik, aku tidak akan menentangnya, lakukanlah, soal pertarungan itu ayah tidak usah khawatir, aku akan berlatih dengan giat agar setidaknya memberikan perlawanan yang berarti,"
"Kau benar-benar putraku, lanjutkan latihan mu, ayah akan kembali ke ruangan ketua," Anas berjalan meninggalkan Widura.
Widura hanya tersenyum tipis menatap punggung Anas yang semakin mengecil karena terus melangkah menjauh darinya.
"Aku harus menjadi lebih kuat, agar dapat meringankan beban ayah,"
Widura kembali melatih reflek dan kecepatannya. Widura kali ini memilih mempelajari bagian pertama yaitu tentang kecepatan dan reflek saat memberi serangan dan menangkis sebuah serangan.
Jurus ini jelas begitu menguras tenaga dalam, namun karena Widura sudah pernah menguasainya dan mengetahui celah dalam jurus ini. Sehingga membuatnya tidak harus menghabiskan tenaga dalamnya dalam jumlah besar, Widura hanya perlu memfokuskan tenaga alaminya untuk membentuk pertahanan sehingga dapat menghemat tenaga dalamnya.
"Aku harus cepat menguasai jurus ini dengan matang, jika tidak maka aku akan kesulitan menghadapi saudara tertua dari tunangangaku itu," ucap Widura kepada dirinya sendiri.
***
Anas yang sudah berada di ruangannya terus tersenyum bangga. Ia benar-benar merasa bahagia dan bersemangat.
Tidak ada yang lebih menggembirakan untuk seorang ayah saat melihat kedua putranya mulai berkembang dan memiliki kemungkinan untuk menjadi pendekar tangguh.
Anas jelas tidak terlalu memperdulikan tentang kristal Merah Darah yang di miliki oleh Widura. Menurutnya jika seseorang terus berlatih dengan baik, maka ia akan memiliki kemungkinan untuk menjadi seorang pendekar besar dan bukan tidak mungkin untuk mencapai pendekar langit.
Anas sendiri lahir dengan bakat kristal Jingga yang membuat dirinya menjadi mutiara keluarga. Anas saat ini sudah mencapai pendekar bumi gerbang 7, sudah tidak terlalu jauh lagi dari pendekar langit. Akan tetapi untuk mencapai pendekar langit tidaklah mudah. Pertama seseorang pendekar harus memiliki tenaga dalam besar dan memiliki berbagai macam variasi jurus.
Tentu saja yang paling utama adalah tenaga dalam yang di miliki oleh seorang pendekar untuk dapat mencapai pendekar langit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 419 Episodes
Comments
Panglimo Desrianto
masukan nama panglima Kampar dari muara Takus Thor legenda mengatakan seperguruan dgn tujuh harimau kerinci,sebagai masukan
2023-08-03
0
Nur Tini
wah wah jaman dulu emang suka dijodohin ortu....pilihan ortu yg terbaik
2022-10-26
0
Abang Lon
baru 23 jurus udah jadi pendekar pilih tanding,,, apalagi kalo selesai 30jurus,,,, jgn nanti pas baca kedepannya widura malah babak belur thor,,,
2022-05-02
0