Bab 20 Merasakan Hal Yang Sama

Aku dan Reno, kami berdua mengelilingi toko, setelah mendapatkan barang yang kami inginkan. Seharusnya kami akan pulang. Akan tetapi aku mengajak Reno untuk bermain sebentar lagi saja, sebab tadi permainan ku terhenti, karena urusan Kak Reza. Reno menyetujuinya dengan syarat kami harus pulang sebelum jam sembilan malam! Itu artinya hanya ada satu jam lagi.

Aku dan Reno, hampir memainkan semua permainan yang ada di toko. Bahkan di lantai teratas toko ada permainan Dart Board atau yang dikenal dengan permainan melempar anak panah. Dan tinggal permainan ini yang belum kami mainkan.

Peraturan permainan Dart Board di toko ini cukup mudah dipahami. Yaitu, setiap pemain akan diberikan sejumlah anak panah. Dimana, jika anak panah dapat mengenai balon yang di dalam sudah terisi kertas hadiah. Kita bisa menukar kertas hadiah tersebut di tempat penukaran hadiah.

Aku segera saja membeli beberapa anak panah. Aku ingin mencoba permainan ini! Aku mendapatkan tujuh buah anak panah, sekarang tinggal dua kali kesempatan lagi. Lima buah anak panah sebelumnya aku tidak mengenai balon apa pun. Ah! Aku memang sangat payah jika di haruskan fokus ke satu titik!

Tujuh buah anak panah akhirnya terbuang sia-sia!

Aku membalikkan badan, dan melihat Reno yang sejak tadi berdiri di belakang ku, dengan wajah yang sedih juga sedikit kecewa.

Tiba-tiba saja Reno mengelus-elus kepala dan berkata.

"Tidak apa-apa, kamu sudah sangat baik. Aku akan coba untuk bermain juga. Jadi, jangan terlalu sedih." Ucap Reno.

Aku terdiam mematung melihat tindakan Reno yang menenangkan aku. Aku seharusnya sadar pria di hadapanku saat ini adalah Reno dan bukannya Arzil! Tapi... Entah mengapa, aku selalu saja melihat bayangan Arzil pada Reno. Aku tahu bahwa tidak baik jika menjadikan seseorang sebagai pengganti. Hanya saja... Sudahlah, tidak perlu berpikir banyak hal. Sekarang aku harus fokus dengan saat ini. Aku harus membebaskan diri dari bayang-bayang masa lalu!

Aku menunggu Reno di depan permainan Dart Board. Dia sedang menukar beberapa buah anak panah. Tidak lama kemudian, Reno sudah ada di dekatku. Dia siap untuk bermain.

Yang mengejutkan aku adalah Reno sangat mahir dalam permainan ini! Sudah tiga buah anak panah yang dia lemparkan dan semuanya itu mengenai target! Begitu juga dengan empat anak panah berikutnya. Reno berhasil mengumpulkan tujuh hadiah sekaligus, dari permainan ini!

Melihat itu aku merasa senang, seakan-akan aku lah yang memenangkan hadiah tersebut. Orang-orang yang tadinya menonton permainan Reno itu juga segera bertepuk tangan ketika Reno selesai bermain. Dan memberikan selamat pada kami, telah memenangkan tujuh hadiah sekaligus. Dimana hal itu jarang terjadi. Mereka juga berkata bahwa kami adalah pasangan yang serasi!

Aku hanya tersenyum mendengar perkataan mereka. Aku bingung bagaimana baiknya membalas perkataan mereka. Harusnya, tinggal ku jawab saja.

"Maaf, kami bukan kekasih!"

Mengapa aku tidak berbicara seperti itu pada mereka? Aku juga tidak tahu mengapa.

...~~~...

Setelah menukarkan hadiah, Reno mengatakan bahwa aku bisa mengambil semuanya. Dia bilang hitung saja sebagai hadiah perkenalan darinya!

"Ha! Tidak perlu hadiah seperti itu. Jika mau di katakan, hadiah perkenalan darimu, itu harusnya tiket konser saat itu, kan? Dan lagi kamu sudah banyak memberi ku sesuatu. Aku tidak bisa lagi menerimanya. Lebih baik berikan pada Adik mu saja." Ucapku menolak permintaan Reno.

"Tidak-tidak, tiket konser saat itu juga akan sia-sia jika tidak digunakan. Dan lagi aku memberi ini karena ingin meminta sesuatu darimu. Soal hadiah Adik ku, aku sudah membelinya." Ucap Reno sambil menggelengkan kepalanya.

"Mau minta apa?"

"Itu... kalau kamu ada waktu, mau tidak berkunjung ke rumahku, akhir pekan ini. Keluargaku mengadakan acara syukuran atas kesembuhan aku. Aku sudah mengajak Kak Reza sebelumnya. Kak Reza juga tahu rumahku."

Aku terdiam sejenak mencerna ucapan Reno.

"Pergi ke rumahnya? Dan lagi Kak Reza, ternyata sudah tahu rumah Reno?"

"Raina!? Kenapa? Kamu tidak mau datang, ya?" Ucap Reno dengan raut wajah sedih.

"Eh! Bukan, kalau begitu aku akan mengambil hadiah-hadiah ini. Kata saja ini sebagai undangan aku agar ke rumahmu akhir pekan ini."

Sesudah pembicaraan itu, aku dan Reno pergi makan terlebih dahulu. Sembari menunggu supir keluarga Reno, menjemput kami.

...~~~...

Sepulang dari toko tadi, Reno sempat bertemu dengan Kak Rama yang menunggu aku di depan pintu rumah. Mereka juga sempat berbincang-bincang berdua. Tapi, aku tidak mendengarkan pembicaraan mereka. Aku sudah cukup lelah hari ini, setelah mengucapkan terimakasih pada Reno yang sudah menemani dan mengantarkan aku pulang dengan selamat.

Aku masuk ke dalam rumah meninggalkan Kak Rama dan Reno. Tujuan utama aku setelah masuk ke rumah adalah kamar mandi! Aku harus membersihkan diri terlebih dahulu! Sesudah itu aku berbaring di tempat tidurku berusaha untuk tidur!

Akan tetapi bayang-bayang Reno tadi yang mengingatkan aku pada Arzil itu, terus saja terlintas di hadapanku! Ingin sekali aku menanyakan langsung pada Reno, tapi aku tidak tahu bagaimana harus menjawab Reno jika di bertanya siapa Arzil?

Aku juga belum mendapatkan kejelasan dari Kak Reza yang di telpon oleh seorang yang dia simpan dengan nama Arzil itu!

Aku juga merasa semakin aku mengenal Reno, semakin aku melihat sosok Arzil pada dirinya. Rasa yang sama saat aku bersama dengan Arzil, juga aku rasakan saat aku bersama dengan Reno.

...~~~...

Terpopuler

Comments

™βτ$💜𝐀⃝®M¥🌹Anisyah⑽⑶

™βτ$💜𝐀⃝®M¥🌹Anisyah⑽⑶

Pengen liat keromantisan mereka, Thor.

2023-12-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!