Bab 12 Rasa Yang Tertinggal

Pov Reno.

12 April 2017, Aku pulang ke tanah airku, Indonesia. Meski aku belum memiliki ingatan tentang tempat kelahiranku ini, saat aku turun di bandara.

Tapi, aku tahu. Aku memiliki seseorang yang sangat penting bagiku. Yang mungkin saat ini, sedang menungguku. Aku akan berusaha keras untuk bisa mengingat sosok itu! Aku akan mencarinya dalam ingatan terdalamku! Meski aku tahu itu sulit, tetap akan aku paksakan.

Aku hanya tidak ingin membuatnya menunggu lama, meski itu untukku!

...~~~...

Ayah dan Ibuku. Sudah memenuhi permintaanku yaitu, membuat identitas baru untukku. Sekarang aku bukan lagi Arzil Askara Nero.

Nama yang diberikan oleh Ayah dan Ibuku, sekarang adalah Reno Askara. Mereka menghilangkan nama Arzil. Mereka menganggap, Arzil putra mereka telah tertidur untuk selamanya.

Sebab, aku yang sekarang belum memulihkan ingatanku. Juga, alasan terbesarnya adalah wajah ini. Wajahku yang sekarang bukan Arzil putra mereka. Itu sebabnya mereka memberikan aku nama Reno. Nama itu adalah nama Ayahku yang dibalik.

Mereka berharap aku bisa sehat dan berumur panjang seperti Ayahku yang saat ini sudah berusia sekitar empat puluhan tahun.

Sebab, di usianya sekarang Ayahku masih kelihatan segar, dan sehat. Dengan harapan aku yang telah bangun dari tidur panjangku bisa sepertinya.

...~~~...

Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah. Aku masuk kelas 2 IPA 2, SMA Negeri Kota A.

Tidak jauh dari rumahku, saat ini. Aku masuk pada saat awal semester 2. Aku pernah meminta pada Ayahku untuk memasukkan aku kembali ke sekolah ku yang dulu. Tapi ayah bilang, sekolahku yang dulu, jauh dari rumah kami yang sekarang. Ayah bilang sekolahku yang dulu ada di Kota S.

...~~~...

    Hari berganti hari, dan minggu berganti minggu. Tak terasa sudah satu tahun lamanya. Aku bersekolah di sini.

Yang artinya, aku sudah hampir dua tahun, mencari sosok yang sangat penting bagiku. Yang hingga saat ini, selalu hadir dalam tidur malamku.

Aku belum bisa melihat seperti apa rupanya. Hanya, berbagai kepingan kenangan yang aku jalani bersama dengannya saja yang kulihat dalam mimpiku. Aku juga mulai mengingat nama sosok itu 'Nana'. Didalam mimpi aku memanggilnya seperti itu.

Tapi... Aku ragu, apa benar itu namanya? Atau hanya karena nama 'Nana' saja yang pernah disebutkan oleh ibuku. Yang membuat aku terus memikirkan nama itu?

Dan dalam satu tahun bersekolah disini, banyak siswa perempuan, yang menyatakan perasaannya padaku. Aku bukan laki-laki yang suka menebar pesona pada lawan jenis. Tapi, mungkin karena wajah dan statusku yang saat ini sedang menjabat sebagai Ketua Tim Basket sekolah, yang membuatku terkenal di kalangan para siswa.

Mengapa aku bisa menjadi Ketua Tim Basket? Awalnya, pelatih tim basket sekolah, memuji dan mengatakan padaku bahwa permainan aku dalam bermain bola keranjang itu sangat baik, menurutnya.

Dan setelah mengadakan Rapat pemilihan ketua, dengan anggota tim lainnya. Aku yang memiliki hampir semua suara dalam pemilihan tersebut berakhir menjadi ketua tim saat ini.

Lalu, bagaimana kesehatanku Pasca Operasi? Untuk hal itu saat ini, kata dokter aku pulih lebih cepat dari perkiraan mereka. Aku hanya diperingati oleh dokter, bahwa aku tidak boleh terlalu memaksakan diri untuk mengingat. Karena, itu akan berdampak pada kesehatanku.

Awal-awalnya aku tetap memaksakan diri untuk mengingat hal yang aku lupakan. Dan itu mempengaruhi kesehatan itu. Dan pada akhirnya, aku mendengar peringatan dokter. Dan sudah tidak terlalu memikirkan masa laluku.

...~~~...

Hari demi hari, aku lalui dengan melepaskan masa laluku. Aku hanya berpikir, jika dia memang sangat penting bagiku di masa lalu. Aku tidak mungkin tidak bisa mengingatnya, aku hanya butuh pemicu untuk mengetahui siapa dia! 

Setiap selesai sholat, aku selalu meminta pada Allah swt. Pencipta semua mahluk di dunia. Agar membiarkan aku mengingat sosok yang selama ini kucari.

Setelah perjuangan setiap hari, doa yang ku lantunkan pada-Nya. Akhirnya, terbalas.

Semester awal di kelas 3, aku di panggil oleh Pak Andri, selaku guru olahragaku, ke ruang guru. Aku belum tahu mengapa Pak Andri memanggilku.

Dia hanya mengatakan bahwa semua anggota tim basket sekolah berkumpul di depan ruang guru segera setelah upacara bendera selesai. Itu, dia umumkan melalui ruang siaran sekolah.

Setelah upacara bendera selesai. Aku selaku ketua tim basket, mengumpulkan semua anggota tim dan segera berbaris di depan ruang guru sesuai perintah Pak Andri.

"Apa semua Anggota Tim Basket, ada disini?" Tanya Pak Andri begitu dia melihat segerombolan murid di depan ruang guru.

"Iya, Pak." Kami semua serempak mengatakannya.

"Baik, kalau begitu. Siapa Ketua Tim Basket, saat ini?" Tanya Pak Andri.

Aku segera mengangkat tangan, dan di dukung juga oleh semua anggota dengan menunjuk ke arahku.

"Baik, kamu ikut bapak kedalam. Yang lainnya, tetap menunggu disini, jangan ada yang pergi! Jika bapak mendapati ada yang beranjak, bapak akan memberikan sanksi pada kalian semua! Mengerti!" Ucap Pak Andri sembari memperingati siswa lainnya.

"Siap, Pak!" Ucap serentak Anggota Tim Basket.

Ternyata Pak Andri memanggilku dan semua Anggota Tim. Hanya untuk memberikan peringatan pertama pada kami.

Karena, selepas mengunakan ruang olahraga, kami tidak merapikan kembali tempat tersebut, dan aku di panggil ke dalam, hanya untuk meminta pertanggung jawabanku sebagai Ketua saja.

Saat Aku berdiri dan masih mendengarkan peringatan dari Pak Andri. Pintu Ruang guru terbuka dan menampakkan sosok seorang gadis yang menurutku sangat cantik dan dia berhasil menarik perhatianku, yang selama para siswa perempuan di sekolah ini tidak berhasil melakukannya.

Entah mengapa aku begitu tertarik padanya, seakan-akan dia adalah orang yang aku cari selama ini. Aku mulai tidak fokus dengan apa yang dikatakan oleh Pak Andri.

Fokus mulai tertuju pada sosok gadis itu, yang berada tepat di belakangku, dia sedang berbicara pada guru lain. Lama aku mendengar percakapannya dengan guru tersebut dan akhirnya, aku mendengar dia menyebutkan namanya "Saya, Raina Puteri Permatasari, Bu. Siswa baru yang di suruh melapor hari ini." Katanya.

Namanya"Raina Puteri Permatasari." Mendengar nama itu, hati dan pikiranku mulai mencari dan mengingat-ingat, siapa Raina? Mengapa dengan mendengar namanya saja, bisa membuatku seperti ini.

Aku mulai menyimpulkan, bahwa mungkin dia adalah orang yang selama ini kucari. Mungkin, dia adalah yang membuat hati ini kembali hidup. Dialah sosok yang selama ini hadir dalam mimpiku setiap malam. Dialah, sosok yang menjadi jawaban atas do'a ku selama ini.

...~~~...

Setelah pertemuan pertamaku dengan Raina, di ruang guru. Aku melihatnya lagi! Kali ini kulihat, dia sedang duduk di kursi penonton dengan temannya yang sedang mendukung kekasihnya. Aku mengenali temannya. Dia adalah Ella, kekasih Angga.

Angga adalah salah satu Anggota Timku, yang sangat handal dalam bermain Bola Basket. Bisa aku katakan dia Adalah Wakilku.

Sejak hari itu, aku terus melihatnya disekolah. Bahkan sering kali, aku mendapatinya di gerbang sekolah, yang sedang menunggu jemputannya. Ingin sekali aku mendekat padanya dan menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Tapi, aku urungkan niatku. Karena, takut dia akan menganggap ku aneh. Dan semakin menjauh dariku. Aku tidak ingin itu terjadi!

...~~~...

Hampir sebulan lamanya, aku mencoba untuk mencari kesempatan agar bisa berbicara dengannya. Akhirnya, aku memiliki kesempatan itu.

Pertandingan Basket antara sekolah akan di laksanakan. Dan sekolah kami akan melakukan pemilihan anggota yang akan mewakili sekolah, besok.

Awalnya, aku mencari Angga terlebih dahulu.

Dan aku mendapatinya di kantin sekolah sedang membelikan makanan untuk Ella kekasihnya.

"Angga!" Teriakku memanggilnya.

"Yo! Ada apa, Ren?" Ucap Angga berbalik padaku.

"Hm... Ella, dia bakalan nonton kamu main basket, kan?" Ucapku yang hampir saja di salah pahami oleh Angga.

"Eh! Itu, jangan salah paham dulu. Aku cuma mau tahu, kalau Ella nonton. Bisa, tidak dia mengajak temannya yang sering dia ajak, saat mendukungmu bermain." Lanjut ku sebelum Angga salah paham terhadapku.

"Oh, maksud kamu, Raina?"

Aku menganggukkan kepalaku.

"Boleh, nanti aku minta Ella buat ajak dia. Tapi kenapa harus mengajak, Nana?" Tanya Angga.

"Siapa? Nana?" Tanyaku balik.

"Iya, Nana! Panggillan Raina itu Nana. Ella selalu memanggilnya seperti itu. Jadi, aku juga kadang-kadang memanggilnya seperti itu " Jawab Angga.

Ternyata nama panggilan Raina adalah Nana. Aku tidak tahu apa itu hanya kebetulan belaka atau memang dia adalah orang yang sama yang di bicarakan Ibuku?

"Ren! Reno! Aku tanya kenapa harus meminta Raina nonton?" Panggil Angga yang menyadarkanku.

"Eh! Itu, a-ku...aku ingi-" Ucapku terpotong oleh Angga

"Ah! Aku tahu, kamu naksir sama Raina, kan? Tapi, aku belum pernah melihat Raina berbicara begitu banyak pada lawan jenis. Jangankan berbicara pada lawan jenis, bicara sama siswa perempuan lain juga aku jarang melihatnya. Kecuali, Ella. Dia sering berbicara dengan Ratuku." Jelas Angga yang

menegaskan bahwa Ella adalah miliknya.

Aku tahu bahwa Dia, jarang bersosialisasi dengan orang lain. Bahkan aku juga tahu julukan yang diberikan oleh para siswa. "Ratu Es." Itu adalah panggilannya disekolah.

Tapi, lagi-lagi. Aku seperti sudah mengenal Raina cukup lama. Seakan aku tahu bahwa dia orangnya tidak seperti yang di katakan para siswa di sekolah kami. Aku hanya tidak bisa menjelaskan bagaimana aku bisa tahu hal itu.

"Aku akan meminta Ella untuk mengajak Raina, buat nonton pertandingan besok. Sekarang aku bisa pergi, kan?" Ucapan Angga itu hanya ku jawab dengan menganggukkan kepalaku.

...~~~...

Terpopuler

Comments

Kas sie mien

Kas sie mien

wah, kayak kisah nyata sja ya shry kalau mmg org itu penting ya u ingat lagi siapa itu

2023-12-16

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!