Bab 15 Akhirnya Kembali

Pov Reno.

      Saat ini, aku masih menunggu pelatih dan para anggota tim basket. Aku menunggu mereka di lapangan sekolah. Latihan kali ini bukan untuk anggota yang telah dipilih melalui pertandingan, kemarin. Akan tetapi untuk Anggota Tim yang baru masuk (kebanyakan siswa kelas 1) serta beberapa yang mencalonkan diri untuk menjadi ketua.

      Selagi menunggu mereka, aku melakukan sedikit perenggangan tubuh. Agar sebentar tidak terlalu kaku. Serta, sedikit memainkan bola basket, yang aku bawa dari rumah.

     Setelah beberapa lama aku bermain. Aku mulai merasa lelah. Mungkin karena aku terlalu fokus dalam bermain. Aku tidak sadar bahwa aku sudah bermain cukup lama, sekitar dua jam lamanya. Dan pelatih dan anggota lainnya belum juga datang.

     Segera saja aku kembali ke tempat dudukku sebelumnya. Dan mencari ponselku, berniat menghubungi mereka. Belum sempat aku membuka ponselku, tiba-tiba saja ada panggilan masuk dari pelatih kami. Aku segera mengangkatnya.

"Reno! Akhirnya kamu mengangkatnya juga. Dari tadi bapak sudah menelponmu berulangkali dan kamu tidak menjawabnya." Ucap Pak Dani di seberang sana setelah aku menjawab panggilannya.

"Maaf, Pak. Tadi saya sibuk bermain bola basket. Jadi, tidak mendengar suara ponsel saya. Ada apa, Pak?" Jawabku pada Pak Dani, pelatih kami.

"Oh, begitu. Begini, Bapak ingin bilang bahwa atihan hari ini di batalkan. Bapak mau pergi melayat ke rumah saudara, suaminya meninggal. Bapak sebelumnya sudah mengirimkan pesan teks di grup. Tapi, kamu belum lihat. Jadi, bapak nelpon kamu. Takutnya kamu sudah ada disekolah. Sebelum sempat lihat pemberitahuan."

Mendengar itu aku ingin menjawab Pak Dani.

"Iya, pak saya sudah ada di sekolah. Sudah dua jam lebih lagi."

Tapi, aku tidak bisa menjawabnya seperti itu. Aku tidak ingin pak Dani merasa bersalah padaku. Dan jika dipikir-pikir aku yang salah. Sebab, tadi pagi setelah memberikan tiket pada Raina aku tidak memeriksa kembali ponselku!

"Ren? Ren!? Reno!" Terdengar suara Pak Dani terus memanggil namaku.

"Eh? Iya, Pak."

"Bapak kira kamu sudah menutup telponnya. Kamu kenapa tidak menjawab perkataan bapak? Atau kamu memang sudah ada di sekolah, ya?"

"Belum pak, ini saya keasikan main bola basket di rumah, pak. Saya kira bapak nelpon, karena saya belum datang pak. Hehe." Balasku. Agar Pak Dani tidak merasa bersalah.

"Syukurlah kalau begitu. Bapak matikan dulu, ya. Assalamu'alaikum."  Ucap Pak Dani sambil menutup teleponnya. Begitu mendengar balasanku.

      Begitu Pak Dani menutup panggilan teleponnya. Aku bergegas memeriksa pesan di ponselku, untuk memastikannya kembali.

     Ternyata memang benar,  Pak Dani sudah memberi tahukan bahwa latihan hari ini di batalkan, sebelum jam yang dijadwalkan. Pesan itu, Pak Dani kirim Tepat saat aku tiba di sekolah.

     Karena, latihan hari ini di batalkan. Aku berencana pergi ke rumah sakit. Aku ingin kesana untuk menemani Ibuku yang sedang menjaga Arini. Dan juga aku pikir, jika aku kembali ke rumah... aku hanya sendirian. Lebih baik ke rumah sakit, barang kali Ibuku memerlukan bantuanku!

     Setelah memasukkan bola basket yang kubawa dari rumah ke dalam tas. Aku melihat kembali lapangan sekolah secara menyeluruh, untuk memastikan aku tidak melupakan sesuatu.

    Karena tidak ada yang aku lupakan, aku segera ke tempat parkir sekolah, dan mengambil motorku. Sekarang aku dalam perjalanan ke Rumah Sakit Kasih Bunda, tempat dimana Arini dirawat. Yang jaraknya dari sekolahku, memerlukan waktu sekitar satu jam perjalanan, jika tidak macet.Aku berangkat dari sekolah pukul sepuluh pagi lewat lima belas menit.

...~~~...

      Saat hampir tiba di rumah sakit, aku melewati perempatan jalan yang dimana jika ingin ke rumah sakit, hanya perlu mengambil jalan lurus. pada saat yang bersamaan dari jalur sebelah kiri ku, terlihat mobil berwarna hitam melaju dengan sangat cepat. Yang hampir saja menghantam aku beserta motorku. Beruntung aku yang melihat mobil hitam yang melaju secara tidak normal itu, secara spontan melompat turun dari motorku. Akhirnya, yang terlindas oleh mobil hitam tersebut hanyalah motorku saja.

    Orang-orang sekitar yang melihat hal tersebut langsung bergegas menolongku. Yang sedikit terluka akibat melompat dari motor. Dan para pengendara sekitar juga langsung memberhentikan kendaraan mereka.

     Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan ini, hanya saja motorku sudah tidak jelas bentuknya. Dan pengendara mobil hitam itu, segera di amankan oleh polisi. Yang saat itu berkendara dengan keadaan kurang tidur.

     Setelah Polisi mengamankan pengendara itu. Orang-orang yang tadi menghampiriku, satu persatu meninggalkan aku, sesudah memastikan bahwa aku baik-baik saja. Hanya para warga sekitar yang masih menanyaiku. Seperti, aku darimana mau pergi kemana? Masih kaget? Dan berbagai pertanyaan lainnya.

"Nak, mau bapak antar ke rumah sakit? Nanti bapak bantu bicara sama ibumu, bagaimana?" Tanya salah satu warga yang menolongku.

Tentu saja aku menerima tawaran bapak itu. Kalau tidak, bagaimana aku bisa pergi ke rumah sakit dengan keadaan kaki seperti ini. Ya, kaki sebelah kiriku agak sakit akibat dari melompat tadi. Mungkin tulangku sedikit bergeser, atau mungkin hanya keseleo ringan saja. Tapi, untuk saat ini aku belum bisa menggunakan kaki kiriku.

Bapak tadi yang menghantarku bernama, Pak Rian. Pak Rian benar-benar mengantarku hingga bertemu dengan Ibuku. Dia memapah aku turun dari mobilnya hingga ke ruang rawat Arini. Pak Rian, juga menceritakan kecelakaan yang menimpaku tadi. Setelah memberitahu semua kejadian tadi, Pak Rian pamit undur diri. Dan Ibuku terus saja berterima kasih pada Pak Rian yang sudah membantu aku. Aku juga melakukan hal yang sama.

"Terimakasih, Pak. Sudah menolong saya. Semoga Allah membalas kebaikan Pak Rian dengan yang lebih baik. Begitu juga dengan orang-orang yang menolong saya tadi." Ucapku Pada Pak Rian yang hendak berdiri dari kursinya.

"Aamiin, kamu juga semoga Allah cepat menyembuhkan segala sakitmu." Ucap Pak Rian yang sekarang telah berada di depan pintu kamar.

    Aku hanya menjawab "Aamiin."

Setelah Pak Rian pergi. Aku juga berharap apa yang diucapkan Pak Rian dikabulkan oleh Allah. "Semoga Allah cepat menyembuhkan segala sakitmu." itu yang di ucapkan Pak Rian tadi, sebelumnya dalam perjalanan ke rumah sakit tadi aku sedikit menceritakan pada Pak Rian, hal yang menimpaku dua tahun lalu. Itulah sebabnya dia mengatakan hal seperti itu.

    Aku juga berharap. "Semoga Allah juga membiarkan aku mengingat hal yang sudah lama aku lupakan." Ya, aku belum menyerah. Aku masih ingin mengetahui semua masa laluku.

...~~~...

Saat aku terlarut dalam pikiranku. tiba-tiba ada seorang dokter yang datang untuk memeriksa keadaanku.

Dia bernama Dokter Gani. Dokter itu bersama seorang perawat. Dokter itu bergegas memeriksa kakiku, dan meminta pada perawatnya, agar menyiapkan obat yang dia sebutkan.

     Dokter mengatakan bahwa kaki kiriku hanya cedera ringan saja. Tapi, aku tidak boleh menggerakkan kakiku, untuk sementara. Dan Dokter Gani mengatakan bahwa dia akan menuliskan resep obat untuk aku makan selama beberapa hari. Agar mengurangi rasa nyeri pada kakiku.

      Setelah memeriksa kakiku, Dokter Gani dan perawatnya meninggalkan aku dan ibuku di dalam kamar. Aku yang sebelumnya di dudukkan oleh Pak Rian di ranjang rumah sakit, langsung merebahkan tubuhku.

Aku mengatakan pada Ibu, bahwa aku akan tidur dulu. Bangunkan saja aku jika ibu ada perlu. Ibuku menganggukkan kepalanya.

Melihat tanggapan Ibuku itu, aku langsung memejamkan mataku.

...~~~...

"Azril, Ka-kamu... pasti cuma bercanda, kan? Tidak mungkin kamu menyukai aku. Itu mungkin kamu hanya terpengaruh oleh Rumor yang beredar di sekolah saja!"

"Tidak! Aku memilihmu, aku dengan yakin mengatakan. Bahwa aku Arzil Askara Nero jatuh hati pada seseorang bernama Raina Puteri Permatasari. Seorang gadis yang bisa membuatku nyaman saat bersamanya. Aku ingin, kamu juga merasakan hal yang sama jika bersamaku, merasa nyaman. Aku tidak ingin memintamu menjadi pacarku. Akan tetapi aku ingin kamu menjadi satu-satunya pendamping hidupku."

"Ka-kamu...."

"Aku serius!"

"Tidak kamu pasti hanya merasa seperti itu karena kita selalu bersama saja. Lebih baik kamu pikirkan baik-baik dulu."

"Tapi, aku serius sama kamu Raina. Ini bukan karena rumor disekolah ataupun karena kita selalu bersama, aku sudah me-"

...~~~...

"Ren! Reno! Bangun Nak!" Teriak ibu padaku. Yang berusaha membangunkan Aku dari tidurku.

"Kamu kenapa Nak!?" Tanya ibuku khawatir. Mungkin saja Ibuku melihat aku bermimpi yang buruk.

"Hosh! Hosh... Aku, Mengingatnya!" Ucapku. Yang membuat Ibuku menunjukkan wajah yang bertanya-tanya, seperti apa yang aku ingat?

"Aku ingat Raina, Bu! Dia orang yang selam ini aku cari! tadi, memimpikan Seorang gadis bernama Raina. Dan juga aku melihat wajahnya, aku ingat dia!" Lanjut memberitahu Ibuku.

Ibuku terdiam cukup lama, dan kemudian dia memeluk aku dengan erat sambil sedikit terisak.

"Ada Apa, Bu? Kenapa ibu menangis? Aku sudah mengingat semuanya. Aku ingat tentang Raina. Ingat bagaimana aku bisa kecelakaan. Serta aku juga ingat bahwa aku akan bertunangan dengannya." Kataku yang membuat Ibuku semakin menangis tersedu-sedu.

Aku makin bingung melihat reaksi Ibuku itu, mengapa dia menangis? Bukankah dia harusnya merasa bahagia karena aku telah mengingat semuanya?

"Alhamdulillah, Nak. Allah akhirnya membiarkan kamu mengingat semuanya. Mungkin kecelakaan yang tadi menimpamu adalah salah satu cara Allah untuk mengingatkan kamu kembali atas kecelakaan yang menimpamu dua tahun lalu, yang menjadi pemicu terakhir agar kamu bisa mengingat semuanya..."

Ibu berhenti sejenak dalam ucapannya.

"Soal, Raina... Ibu awalnya ingin memberitahukan pada sejak kamu bangun dua tahun lalu. Tapi... pada saat itu kamu, mengatakan kamu tidak mengingat apapun. Jadi, ibu menunggu sampai kamu mengingat semuanya kembali." Lanjut Ibuku yang mulai terdiam lagi.

"Raina Kenapa Bu?" Ucapku karena penasaran oleh ucapan Ibuku.

"Ayah dan Ibu sudah memutuskan janji pertunangan kalian dua tahun lalu."

"Kami membatalkannya, karena saat itu kami berpikir kamu sudah tidak memiliki kesempatan untuk membuka matamu kembali. Dan kami tidak ingin Raina terus menggantung harapannya padamu. Dimana saat itu keadaan kamu tidak jelas. Maafkan kami, yang sudah mengambil keputusan itu." Lanjut Ibuku.

Aku yang mendengar itu, hanya diam seribu bahasa. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Tapi, Ibuku bilang dia masih berhubungan dengan keluarga Raina, hanya saja dia jarang berbicara dengan Raina. Jika aku ingin berbicara dengan keluarga Raina. Dia akan memberikan aku nomor telepon Kakak Raina, Kak Reza.

Karena selama ini hanya Kak Reza yang sering dia hubungi. Untuk mengetahui keadaan Raina dan hanya Kak Reza juga yang sering menanyakan keadaanku sebelum sadar dua tahun lalu.

Mendengar semua itu. Aku mulai bertanya-tanya. Jadi, Kemarin saat bertemu Kak Reza, apa dia sudah mengenaliku?

Aku menghubungi nomor telepon Kak Reza yang ku dapat dari Ibuku.

"Assalamu'alaikum. Halo Kak, ini Reno."

Ucapku begitu kulihat panggilan telepon kami terhubung.

"Wa'alaikumussalam. Iya, ada perlu apa menelepon saya?" Terdengar Kak Reza dari seberang telepon.

"Em... begini, Kak. Alhamdulillah, saya sudah mengingat semuanya." Ucapku begitu saja.

"Maksud kamu?"

"Jadi, Alhamdulillah. Aku mengingat bahwa aku adalah Arzil Askara Nero, sudah mengingat tentang Raina dan semua kejadian dua tahun lalu. Saya ingin meminta tolong pada Kak Reza, agar mengijinkan saya untuk kembali mengejar Raina, adik Kakak. Dengan identitas sebagai Reno Askara. Dan juga, saya sendiri yang akan menjelaskannya pada Raina. Mohon Kak Reza mengijinkan saya."

"Boleh saja. Tapi, semua itu tergantung pada keputusan Raina sendiri."

"Jika, kamu benar-benar ingin memberitahu Raina semuanya. Kamu harus memberitahunya cepat. Jika tidak, saat dia mengetahui bahwa dia adalah orang terakhir yang mengetahui semuanya... Saya tidak tahu apa keputusan yang diambilnya nanti."

"Kalau begitu, boleh tidak jika Kak Reza mempertemukan kami?" Tanyaku

Tapi, lama aku menunggu jawaban Kak Reza. Akhirnya aku memeriksa apakah telpon kami masih terhubung atau tidak. Ternyata sudah ditutup secara sepihak oleh Kak Reza.

Ting!...Ting!

Dua pesan teks aku terima yang ternyata dari Kak Reza. Isinya.

"Maaf, tadi Raina memanggil, bilang sudah waktunya masuk ke lokasi acara. Jadi, Kakak langsung mematikan Telepon secara sepihak. Sekali lagi, Maaf."

"Jika, ingin bertemu bagaimana jika sebentar di Restoran Seafood dijalan Pelaut. Jamnya nanti Kakak kabari, jika sudah pulang dari Acara ini."

Aku membalas pesan itu, mengatakan tidak apa-apa jika Kak Reza memutuskan telponnya secara sepihak tadi, dan juga setuju agar sebentar bertemu di lokasi yang Kak Reza sebutkan.

Aku juga menjelaskan dipesan teks yang kukirimkan. Bahwa aku habis kecelakaan dan kaki kiriku sedang terluka, jadi aku hanya bisa memesan Taksi online.

...~~~...

Terpopuler

Comments

Kas sie mien

Kas sie mien

yap, sebelum menjalankan pertandingan harus melakukan peregangan agar tidak kaku dan trjadi keseleo

2023-12-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!