Pov Reno.
Pertandingan, untuk milih Anggota Tim Basket yang akan mewakili sekolah, bertanding antar sekolah lainnya. Adalah hari dimana aku pertama kali berbicara dengannya.
Hari itu, aku benar-benar berbicara padanya, pada Raina. Aku mengenalkan diriku begitu saja. Dia tidak menanggapi ku saat itu. Aku terus melontarkan berbagai pertanyaan pada Raina.
Tapi... dia tetap saja tidak menanggapi aku yang terus berbicara disampingnya.
Hingga aku menanyakan.
"Nonton pertandingan basket... pasti ada seseorang dari anggota klub basket yang di sukai, kan?"
Perkataan aku itu, akhirnya mendapatkan perhatian dari Raina. Dia menolehkan kepalanya padaku.
Aku langsung saja menyimpulkan bahwa, perkataan aku yang sebelumnya, memang benar adanya.
"Wah... ternyata benar, ya!"
Aku melanjutkan pernyataan tidak berdasar itu. Dengan mengatakan.
"Penasaran deh, siapa sih laki-laki yang beruntung itu? Bisa disukai oleh Ratu Es kami."
Ternyata, pernyataan aku yang terakhir itu membuatnya marah padaku.
"Bisa diam tidak!" Ucap Raina sedikit membentak padaku.
"Aku tidak punya gebetan! Aku nonton basket juga cuma nemenin teman aku Ella, kekasih temanmu Angga itu! Jadi bisa tidak aku pergi sekarang!?" Ucap Raina, sambil kulihat dia menahan emosinya padaku.
Aku yang terkejut oleh ucapan Raina itu, hanya menganggukkan kepalaku padanya. Melihat tanggapan ku, Raina segera beranjak dari tempatnya duduk.
Setelah, Raina pergi. Aku berencana berbicara pada Angga dan memintanya membantu ku memikirkan cara meminta maaf pada Raina.
Tapi.... begitu aku berbalik Angga dan Ella sudah tidak ada di sana lagi. Sekarang aku mulai mengerti mengapa Raina begitu kesal saat menanggapi perkataan ku.
Selain, apa yang aku ucapkan itu sedikit mengganggu Raina, dia juga kesal, pada Angga dan Ella yang telah meninggalkan kami berdua. Tanpa pemberitahuan sebelumnya.
...~~~...
Setelah Kemarin, aku berbicara pada Raina. Aku terus saja merasakan ada yang aneh dengan ku. Aku mulai bermimpi tentang nya, yang aneh dari mimpiku, Aku dan Raina itu sangatlah akrab.
Kami sering berbicara dan bercanda bersama! Tidak seperti kemarin dia membentakku. Aku tidak marah, hanya saja aku merasa bersalah padanya, aneh kan? Aku juga merasa demikian.
Mengapa aku harus merasa seperti itu? Aku bahkan belum mengenalnya lama. Bisa di bilang dia baru bersekolah kurang dari sebulan!
Aku tersadar dari lamunanku. Begitu mendengar ketukan di depan pintu kamarku. Segera aku membukanya. Ternyata Arini, Adik perempuanku yang mengetuknya.
Tanpa dipersilahkan, Arini langsung masuk dan duduk di atas tempat tidurku.
"Nih!" katanya sambil menyerahkan dua tiket padaku.
"Apa ini?"
"Tiket buat Konser sekaligus Fanmeetingnya BTS. Kakak, jadikan temani aku pergi besok?" Jawab Arini.
Ternyata itu tiket Konser sekaligus Fanmeetingnya BTS. Ada alasan mengapa aku ingin menghadiri acara BTS kali ini. Yaitu mencoba untuk mencari ingatan ku.
Sebelumnya, saat membereskan barang-barangku yang dikirim dari rumah lama kami. Aku menemukan diary yang aku tulis dulu. karena aku penasaran seperti apa aku di masa lalu. Aku membuka diary tersebut.
Yang ternyata isinya adalah Aku sebagai Fanboy dari Idol K-Pop tersebut. Di sana aku menuliskan berbagai hal tentang BTS dan ARMY, mulai dari aku yang menemukan video Suga bermain basket yang membuatku tertarik, dan menerjemahkan lagu-lagu mereka, konser pertama mereka yang aku hadiri, bahkan disana aku menulis nama seseorang yang menemaniku menonton konser bersama! dan bermacam-macam hal lainnya.
Itulah sebabnya, selagi ada kesempatan untuk melihat mereka secara langsung, aku juga ingin memancing ingatanku tentang mereka.
Dengan harapan, jika aku bisa mengingat mereka perlahan-lahan ingatan ku yang lainnya juga bisa kembali.
"Kak! Kak! Kakak!" Teriak Arini.
"Eh... Iya, Kenapa?"
"Kakak, dengar tidak apa yang Arini bilang."
"Iya, Kakak dengar. Kalau tidak ada halangan kakak pasti temani kamu nonton besok. Dan lagi tiket ini kakak yang beli. Masa kakak tidak gunakan?" Jawabku
"Iya, memang kakak yang beli. Tapi kalau bukan aku yang pergi tukar hari ini, Kakak tidak bisa nonton besok!"
"Iya, deh. Kamu, kembali saja ke kamarmu sekarang. Kakak mau tidur." Ucapku mengusir Arini dari kamarku.
Dengan, kesal dia keluar dari kamar ku. Arini itu adalah adikku yang hanya berbeda 2 tahun dariku. Sekarang dia duduk di kelas 1 SMA. Dia juga bersekolah di sekolah yang sama denganku.
...~~~...
Rencananya tadi, aku akan berangkat bersama dengan Arini. Tapi pagi ini... dia demam tinggi. Dan Ibuku berencana membawa Arini, ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh padanya. Pasalnya, dia kemarin baik-baik saja, tapi pagi ini tiba-tiba demam tanpa di ketahui sebabnya.
Jadi, sekarang aku berangkat sendirian ke sana.
Setelah perjalanan yang cukup lama. Akhirnya aku tiba di tempat lokasi acara BTS akan dilaksanakan.
Disana telah ramai oleh orang-orang yang sepertinya juga ingin menonton atau baru menukarkan tiket mereka. Orang-orang disana sebagian besar bisa dipastikan adalah ARMY. Mulai dari yang semuran denganku, baik itu laki-laki maupun perempuan, tapi banyak juga yang terlihat lebih tua dariku itu terlihat dengan banyaknya anak kecil disana.
Selagi menunggu acara dimulai, aku sedikit berjalan-jalan di sekitar lokasi, yang sudah banyak kios-kios yang di dirikan oleh orang-orang. Banyak yang menjual barang-barang BTS.
Ada juga berbagai tempat Foto yang bertemakan BTS ARMY. Karena tertarik aku melihat-lihat dan membeli cukup banyak aksesoris-aksesoris yang bersangkutan dengan BTS. Dan tak lupa juga aku berfoto di tempat-tempat yang telah disediakan ada disana.
Selagi aku berjalan-jalan, tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul dua siang, yang berarti acara akan segera dimulai. Rencana awalnya, Aku akan menjual kembali tiket yang seharusnya untuk Arini. Tapi tanpa sengaja aku melihat seseorang yang sangat membuat aku tertarik, sejak aku melihatnya. Yah... Dia Raina.
"Hei! Ratu es!" Langsung saja aku memanggilnya.
Aku tahu dia tidak akan berbalik kearah ku. Karena seharusnya aku memanggilnya dengan namanya. Aku sebenarnya ingin memanggil namanya secara langsung. Tapi, aku berpikir kemarin dia belum mengenal kan dirinya padaku!
Tapi, pada akhirnya dia akan tetap berbalik kearah ku. Walaupun aku tahu dia berbalik bukan untuk melihat aku. Akan tetapi Raina berbalik untuk kembali ke meja makannya.
Tanpa memedulikan aku, Raina tetap saja berjalan menuju meja makannya. sekarang aku hanya mengikuti Raina dari belakang tanpa meminta persetujuan darinya.
Raina, duduk di depan meja makannya dengan makanan yang telah dia pesan sebelumnya. Aku langsung mengikutinya dan duduk di hadapannya tanpa bertanya padanya terlebih dahulu, apakah aku boleh duduk disana atau tidak? Dan kulihat raut wajah mulai kesal padaku.
Aku menunggunya untuk menyuap makanannya. Setelah kulihat dia mulai fokus menyantap makanannya. Segera saja aku bertanya pada Raina.
"Hei, kamu ARMY?"
"Aku punya nama!" Jawabnya dengan nada dingin.
"Maaf, soalnya bingung mau manggil apa. Ratu Es? Anak IPA 1? Kan kemarin belum kenalan." Kataku. Mungkin aku sedikit tersenyum jahil padanya.
"Huft... Aku Raina Puteri Permatasari. Panggil Raina aja." Ucap Raina sambil menghela nafas.
"Boleh, tidak ... panggil Nana supaya terdengar akrab gitu." Ucapku lagi.
Dengan Harap, dia menyetujuinya dan aku bisa sedikit lebih akrab lagi dengannya.
"Gak!" Kata Raina tegas.
Walaupun aku agak sedih oleh penolakannya itu. Tapi aku tetap harus melanjutkan tujuan ku sebenarnya mendekatinya saat melihat dia ada di acara ini. Makanya aku bertanya terlebih dahulu padanya.
"Yaudah, Raina, kamu ARMY?"
"Iya, kenapa? Ada masalah?
"Gak ada masalah, sih. Cuma mau tanya lagi kamu bakal nonton hari ini atau besok?"
"Besok." Jawabnya singkat, padat, dan jelas.
"Hmm... gitu ya."
"Gimana kalau nonton sekarang, aku punya dua tiket untuk hari ini, kita bisa nonton bareng, bagaimana?" Lanjut langsung ke intinya.
Cukup lama aku menunggu jawaban Raina, dan Akhirnya dia menjawabku.
"Baik. Tapi aku nelpon dulu mau ijin." Ucap Raina padaku.
Aku hanya menganggukkan kepalanku.
Setelah, Raina menyelesaikan makannya. Raina langsung menelepon Ibunya dan memberitahunya. Bahwa, Raina akan pulang setelah nonton konser hari ini.
"Hallo, kenapa?" Terdengar suara Ibu Raina di seberang sana.
"Ma, aku mau nonton hari ini, ya?" Ucapnya langsung.
"Loh, bukannya tiket yang beli Kak Reza, untuk kamu itu buat besok?"
Aku bukannya sengaja untuk mendengar percakapan mereka. Tapi, Raina yang menelepon Ibunya di depanku.
"Iya, tapi ada teman yang punya tiket hari ini. Dan dia ajak aku, Ma. Jadi, boleh ya?" Jelas Raina pada Ibunya.
"Lalu, pulangnya?"
Aku yang mendengar perkataan Ibu Raina, langsung memberikan kode padanya yang mengatakan.
"Biar aku yang antar pulang."
"Baiklah, hati-hati ya. Kalau selesai langsung pulang Jangan kemana-mana lagi." Ucap Ibu Raina memberitahu anak gadisnya. Jika selesai Raina tidak boleh keluyuran.
"Siap! Mama Irenku tersayang, mwah." Kata Raina sambil mencium layar ponselnya dihadapan Aku. Yang mungkin tidak disadarinya
Raina bergegas mematikan teleponnya. Mungkin dia sudah sangat malu dihadapanku. Dia yang tanpa sadar mungkin, telah memperlihatkan sisi yang tidak pernah dia perlihatkan pada orang lain, selain orang-orang terdekatnya.
Kesempatan itu tidak akan aku lewatkan, aku langsung mengejeknya. Dengan mengetakan.
"Ternyata Ratu Es sekolah kami, selain dingin punya sisi lain juga, ya."
Dia tak menanggapi perkataanku itu. Tapi, kulihat wajah Raina sekarang sudah seperti kepiting rebus saja saking malunya di hadapanku.
"Ayo, buruan jalan!" Ucapnya padaku.
Yang sekarang berjalan dibelakangnya dengan tersenyum. Karena, merasa tindakan Raina lucu bagiku.
Sungguh! Bertemu dengannya disini, bagaikan takdir yang Allah siapkan bagiku.
...~~~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Kas sie mien
shrsy reina jg merespon. kasihan jika ingin dekat tapi dicuekkin. kyak ngomong sm batu
2023-12-16
1