Hari itu, aku ingin menemani Bu Ayu dan Ibuku untuk berjaga, di rumah sakit. Tapi semua orang menyuruhku agar pulang ke rumah, besok baru kesana lagi. Jadi, aku mendengarkan apa yang mereka katakan.
...~~~...
Waktu terus berjalan, dan tanpa terasa sudah hampir empat bulan. Arzil, berbaring di ranjang rumah sakit. Dengan Perban yang menutupi seluruh wajahnya, sisa bagian yang terhubung dengan alat pernapasan saja yang terlihat.
Begitu tenang dan damai Arzil, berbaring di ranjang rumah sakit, tanpa ada tanda-tanda bahwa dia akan sadar dari tidur panjangnya.
Melihatnya seperti itu, selalu saja membuat aku tanpa sadar meneteskan air mata.
Selama Arzil, di rawat di rumah sakit. Aku selalu mengunjunginya, tiap hari. Sepulang dari sekolah, aku langsung pergi melihatnya. Aku, tidak bermalam, di rumah sakit. Kecuali... di hari Sabtu, karena sekolah libur, dan besoknya juga. Jadi, aku punya waktu untuk istirahat. Sabtu pagi, aku akan pergi ke rumah sakit, dan pulang di waktu siang, keesokan harinya.
Itu terus aku lakukan. Hingga, hari itu. Saat aku, yang datang menjenguk Arzil di ruang rawat inap VIP. Keluarga Arzil, mengambil ruang rawat inap VIP. Agar Arzil mendapat perawatan yang benar-benar insentif agar dia bisa cepat sadar.
Kreek!
Terdengar suara pintu terbuka. Dan seseorang berbicara dari balik pintu tersebut.
"Tadi, bibi ke toilet rumah sakit. Dan terburu-buru buat kembali. Karena, bibi pikir Arzil bakalan sendirian. Ternyata, ada Nana yang datang menjenguk, terimakasih, ya."
Yang masuk ternyata adalah Bu Ayu, ibunya Arzil.
Aku yang mendengarnya, langsung menolehkan kepalaku, yang sejak tadi memandangi Arzil. Dan melihat ke ara Bu Ayu.
"Iya, Bi. Ini, Nana juga baru sampai." Sahutku sambil berdiri dan menyalami Bu Ayu.
Aku berbicara dengan Bu Ayu cukup lama.
Beberapa saat kemudian, saat aku fokus, mendengarkan cerita masa kecil Arzil, dari Bu Ayu.
Paman Nero tiba-tiba saja bersuara.
"Yu, aku sudah berbicara dengan pihak rumah sakit. Kata mereka Arzil bisa dipindahkan pekan depan." Kata Paman Nero pada istrinya.
Aku dan Bu Ayu segera melihat ke arah Paman Nero, yang entah sejak kapan ada di dalam ruangan.
"Alhamdulillah. Jadi, pekan depan Arzil sudah bisa pindah, kan?" Ucap Bu Ayu memperjelas kembali ucap Paman Nero.
"Iya, sudah bisa. Jadi, yang harus diperhatikan kata dokter tadi, saat di pesawat, pasien di pastikan tidak terkena goncangan yang hebat. Agar tidak menambah luka luar maupun dalamnya. Itu kata dokter, jika bisa di pastikan hal lainnya juga terpenuhi. Maka, pasien bisa dipindahkan ke rumah sakit di luar negeri." Jelas Paman Nero.
Melihatku yang diam, tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan. Segera saja Bu Ayu dan Paman Nero menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dan akhirnya aku mengerti pembicaraan mereka. Yaitu, mereka akan segera memindahkan Arzil, ke rumah sakit di luar negeri, yang lebih besar, pekan depan.
Mengetahui itu, perasaanku menjadi campur aduk. Ada perasaan tak rela jika Arzil di pindahkan kesana. Karena, jika itu terjadi aku tidak bisa melihatnya lagi! Akan tetapi... jika, Arzil tetap disini ada kemungkinan dia tidak akan pernah membuka matanya kembali.
Aku katakan pada orang tua Arzil. Bahwa, aku berharap yang terbaik untuk kesembuhan Arzil. Semoga saja, dengan dia dirawat di sana, kita bisa melihat Arzil, membuka matanya kembali dan bersama kita lagi. Maka, lebih cepat Arzil di pindahkan, itu akan lebih baik.
...~~~...
Dua bulan telah berlalu sejak Arzil di pindahkan ke rumah sakit yang berada di luar negeri. Sudah selama itu juga aku tidak melihatnya.
Bahkan, aku tidak pernah menelepon ataupun menerima telepon dari mereka. Karena, sebelum Arzil di pindahkan.
Bu Ayu dan Paman Nero, mengatakan padaku, bahwa aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan keluarga mereka. Mereka juga meminta maaf padaku, karena tidak bisa menjadikan aku pendamping Arzil.
Mereka juga bilang, mereka tidak ingin bersikap egois. Dengan memaksaku, menjadi tunangan putra mereka, yang kondisinya tidak jelas saat ini. Apakah dia bisa sadar atau tidak.
Saat itu, aku menangis dengan keras dan memeluk Bu Ayu erat. Mengatakan, bahwa mereka tidak perlu meminta maaf padaku. Aku hanya berharap mereka tidak memutuskan hubungan mereka denganku. Jika tidak bisa menjadi pendamping untuk putra mereka. Setidaknya, mereka bisa menganggapku putri angkat mereka.
Tapi pada akhirnya, selama dua bulan Arzil di rawat di luar negeri. Hanya, Kak Reza. Yang sering berbicara dengan Paman Nero.
Sampai pada akhirnya, Ayah dan Ibuku memutuskan untuk pindah kembali ke kota A.
Flashback Off
...~~~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Alvian
kasihan sekali azril blm bangun. mukanya pasti parah banget dengan perban. semoga cpt sembuh dan sadar
2023-12-16
1
❤️⃟Wᵃf Zhang zhing li♚⃝҉𓆊
wah,sangat setia menunggui azril dirumah sakit. memang melelahkan, tapi mau gimana lagi. Strong jagain habis pulang sekolah dan liburpun ttp menjaga
2023-12-15
2
꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ❦꧂
kisah masa lalu nana dengan arzil sangat " berkesan dan pasti nana akan sulit melupakan masa lalu itu
2023-12-15
0