Pov Reno.
Di dalam Taksi aku bertanya-tanya, apa yang harus aku katakan pada Raina jika bertemu nanti? Apa aku harus langsung memberitahunya bahwa aku adalah Arzil? Tapi, apa yang akan Raina pikiran tentang itu? Bukankah itu hal yang mustahil. Bagaimana aku yang dikenal Raina sebagai Rano, adalah Arzil tunangannya dua tahun lalu!
Aku cukup terlarut dalam pikiranku. Hingga aku tidak sadar bahwa taksi yang aku tumpangi berhenti. Bukan karena mogok atau kehabisan bensin, tapi karena macet tengah menghadang kami.
Aku menunggu dengan cemas di dalam taksi, karena kulihat padatnya kendaraan di depan kami. Aku terus saja memeriksa ponselku dan memastikan bahwa aku bisa tiba pada waktu yang di katakan Kak Reza padaku di pesan tadi. Kak Reza mengatakan bahwa kami bisa bertemu sebelum jam sembilan malam.
Sekarang sudah pukul delapan malam lewat tiga puluh menit. Dengan wajah cemas aku terus saja melihat ponselku. Tiba-tiba saja, Supir taksi yang tadi mengenalkan dirinya bernama Pak Yusuf itu bertanya padaku.
"Ada acara yang sangat penting ya, Nak?" Tanya Pak Yusuf padaku.
Mungkin dia melihat kecemasan di wajahku.
"Iya, Pak. Pertemuan ini sangat penting bagiku."
"Eh!? Kalau begitu, mungkin kamu bisa turun disini saja. Karena bapak pikir kemacetan ini akan berlangsung lama. Takutnya kamu akan telat menghadiri Acaramu, Nak." Saran Pak Yusuf.
Aku tersenyum padanya dan menjawabnya.
"Tidak perlu Pak, Nanti saya akan menghubungi mereka dan memberi tahu bahwa saya terjebak macet. Dan mungkin saja tidak bisa hadir. Dan juga saya sebenarnya habis kecelakaan. Jadi untuk sementara waktu tidak bisa berjalan terlalu jauh, Pak. Terimakasih atas perhatiannya." Jelas sambil tersenyum pada Pak Yusuf.
Pak Yusuf menganggukkan kepalanya pertanda bahwa dia mengerti perkataanku.
Setelah mendapat tanggapan darinya, aku bergegas menelepon Kak Reza. Dan memberi tahunya bahwa aku terjebak macet.
"Kak-" Ucapanku dipotong oleh Kak Reza.
"Iya. Kamu ada dimana sekarang." Ucap Kak Reza dengan cepat begitu dia mengangkat telepon dariku
"Ini kak... Aku terjebak macet dijalan." Ucapku langsung pada intinya.
"Jadi? Kamu bisa datang kesini atau tidak? Jika, masih bisa aku dan Raina akan menunggumu. Jika tidak aku dan Raina akan pulang sekarang."
"Hmm... besok adalah hari Senin Raina dan aku harus ke sekolah, Kak Reza perlu ke kantor. Jadi, Kak Reza dan Raina pulang saja. Sudah terlalu malam jika harus menungguku. Aku bisa mencari kesempatan untuk memberitahu Raina semuanya. Kami akan sering bertemu disekolah. Atau tidak aku bisa bertamu ke rumah langsung, untuk berbicara dengan Raina, juga dengan Bibi dan Paman." Ucapku.
"Baiklah jika begitu aku dan Raina akan pulang. Jika kamu memerlukan bantuan, bisa menghubungi Kak Reza. Kapan saja. Oke?"
"Baik, Kak. Jika, Reno ada perlu Pasti akan minta bantuan Kak Reza." Ucapku. Dengan menyebut bahwa namaku yang sekarang adalah Reno Askara. Bukan lagi Arzil.
Kak Reza menutup telponnya setelah berkata bahwa mulai sekarang dia akan memanggilku Reno dan bukan lagi Arzil. Bahkan dia memberitahuku bahwa dia menyimpan nomor dengan nama Arzil.
Selesai menelpon Kak Reza, aku berkata pada Pak Yusuf agar menghantarku kembali kerumah sakit saja. Aku tiba di rumah sakit sekitar pukul sepuluh malam lewat! Banyakan saja ternyata aku terjebak macet hampir dua jam lamanya. Jika aku ke restoran tadi, mungkin mereka sudah menutupnya.
Meskipun, pertemuan Pertama setelah dua tahun lamanya dengan Raina gagal. Aku tetap berpikiran positif. Kami masih muda, kami memiliki banyak waktu. Dan lagi kami satu sekolah sekarang. Kami akan sering bertemu.
...~~~...
Pagi-pagi sekali, aku kembali ke rumah kami untuk berganti pakaian, dengan seragam sekolah. Sebelumnya, Dokter mengatakan, bahwa aku sekarang sudah bisa menggunakan kakiku kembali. Tapi belum bisa untuk berlari.
Jadi, semalam aku menelepon supir kami. Untuk menjemputku di rumah sakit, pukul empat dini hari. Awalnya aku berencana untuk pergi ke sekolah.
Tapi, tiba-tiba saja Ayah meneleponku. Ayah bilang bahwa hari ini adalah jadwal kontrol untuk aku. Ayah selalu menemani dan mengingatkan Aku tentang kontrol rumah sakit, karena terkadang aku suka melupakannya.
Mau ataupun tidak, aku harus pergi ke sana. Walaupun sekarang aku sudah mengingat semuanya kembali. Tapi tetap saja aku perlu kesana untuk memeriksakan diri. Ayahku juga bilang dia akan menjemputku dirumah, Ayah tahu aku kemarin terkena musibah.
Aku berganti pakaian kembali, yang tadinya adalah seragam sekolah sekarang menjadi pakaian kasual. Lalu sekolah? Ayah sudah menelepon wali kelas ku, dan meminta izin sebelumnya.
Aku menunggu Ayah cukup lama, sekitar empat puluh menit. Dan sekarang akhirnya aku melihat mobil Ayah di luar pagar rumah kami, segera saja aku tinggal tempat dudukku dan mengunci pintu rumah, lalu menghampiri Ayahku.
...~~~...
Aku cukup dekat dengan ayah dan ibuku. Aku menganggap mereka seperti temanku. Juga tetap menghormati mereka. Aku selalu menceritakan semuanya pada mereka.
Sebelum, mendapatkan ingatanku kembali, aku tidak berbicara banyak dengan mereka dan itu berlangsung selama hampir dua bulan. Selanjutnya, perlahan-lahan aku mulai berbicara banyak dengan mereka, dan akhirnya akrab dengan mereka kembali.
Jadi, di dalam mobil sekarang aku menceritakan semuanya pada Ayahku. Mulai dari, menceritakan kejadian yang menimpaku kemarin, sampai aku memberitahunya bahwa aku sudah mengingat semuanya kembali, bahkan aku memberi tahunya bahwa sekarang Raina dan Aku berada di sekolah yang sama.
Ayah tidak mempercayaiku, dia bilang mungkin saja itu adalah orang yang berbeda, jadi, Katanya dia ingin memastikannya sendiri.
Lalu, kubilang padanya bagaimana jika akhir pekan ini aku akan mengundang Raina untuk datang ke rumah? Ayah menyetujuinya.
Setelah itu aku terdiam dan mulai berpikir bagaimana aku harus mengundang Raina, agar dia setuju datang kerumah kami?
Aku masih saja larut dalam pikiranku, dan tiba-tiba ayah memberitahu bahwa kami sudah sampai di rumah sakit yang selama ini menjadi tempat kontrolku pasca operasi yang disarankan oleh dokter saat di Korea.
Kali ini kami keluar dari ruangan dokter cukup cepat. Karena aku memberitahu dokter bahwa aku sudah mengingat semuanya.
Dokter mengucapkan selamat padaku. Juga berkata hari ini dan selanjutnya, aku tidak perlu lagi mengunakan mesin pemeriksaan gelombang otak, yang biasanya dia gunakan untuk mengetahui kondisi kepalaku. Itulah sebabnya kali ini kami selesai cukup cepat.
...~~~...
Di perjalanan pulang, aku tiba-tiba saja terpikir cara agar Raina datang ke rumahku. Yaitu, meminta bantuan Kak Reza, untuk mengajak Raina ke rumahku.
Segera saja aku menelepon Kak Reza.
"Assalamu'alaikum, Kak."
"Wa'alaikumussalam, Ada apa?" Ucap Kak Reza mengangkat telepon dariku.
"jadi... Aku mau minta tolong sama Kakak, Aku ingin Kakak mengajak Raina ke rumah, akhir pekan ini. Apa ... Boleh?" Ucapku Ragu-ragu.
"Hmm... akhir pekan ini?" Ucap Kak Reza memastikannya kembali.
"Iya, Kak! Jika bisa."
"Boleh, kalau begitu aku akan mengatakannya pada Raina sebentar saat menemaninya keluar hari ini."
"Kak Reza dan Raina mau pergi kemana?"
"Mau pergi membeli boneka BT21, yang kemarin Kakak janjikan pada Raina."
"Hmm... kalau begitu bagaimana jika aku ikut? Sekalian aku saja yang mengundang Raina sendiri. Bagaimana? Jika boleh, Kakak bisa mengirimkan alamatnya padaku di pesan sebentar."
"Boleh, nanti Kakak kirimkan, sekarang kakak matikan dulu, ya. Mau Rapat." Ucap Kak Reza yang mematikan panggilan telepon kami.
"Itu tadi, Nak Reza? Kan?" Ucap Ayahku tiba-tiba.
Sejak tadi, ternyata Ayah mendengarkan pembicaraan aku dan Kak Reza.
"Iya, Kak Reza. Kakak pertamanya Raina. Jadi, sekarang ayah percayakan apa yang Reno bilang. Raina dan aku sekarang benar-benar satu sekolah." Kataku pada Ayah.
Ayah hanya menganggukkan kepalanya. Tidak lama setelah itu, dia berhenti tepat di depan pagar rumah kami. Dan menyuruhku untuk turun. Dia akan kembali ke luar kota, menyelesaikan pekerjaan yang dia tinggalkan.
Sebenarnya Ayah cukup sibuk bulan ini, ada proyek yang dia urus di luar kota. Tapi, dia menyempatkan waktu untuk menemaniku pergi kontrol ke rumah sakit, di waktu tersibuknya. Itu juga yang membuatku makin menyayangi Ayahku.
Terimakasih, Ayah.
...~~~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments