Pov Reno.
Malam ini, aku dirumah sendiri. Ibu dan Arini ada dirumah sakit. dan Ayahku sedang dinas Luar Kota A. Tadi, setelah mengantar Raina Pulang, aku langsung ke rumah sakit.
. Aku kesana untuk menjemput Ibuku. Pagi tadi, ternyata Arini sakit tipes. Dan perlu menginap di rumah sakit beberapa hari, kata dokter. Jadi, ibu memintaku menjemputnya disana dan mengantarnya kembali setelah dia mengemas barang-barang yang dibutuhkannya.
Setelah tadi mengantar Ibuku kembali ke Rumah Sakit. Aku pulang ke rumah dan setelah mengunci semua pintu dan jendela dirumah. Aku masuk ke kamarku dan membersihkan diri.
Sesudah, itu aku berniat untuk tidur akan tetapi semua rentetan kejadian hari ini, terus saja menggangguku!
Mulai dari, Nonton konser bersama Raina yang tidak direncanakan, makan bersamanya, mengantar Raina pulang kerumahnya, dan tanpa sengaja bertemu Kak Reza, Kakak Pertama Raina.
Yang menjadi, pikiran ku sekarang bukan lagi mengenai, aku dan Raina. Yang bisa bertemu di Acara BTS. Tapi, aku terus saja berpikir tentang Kak Reza. Aku merasa aku pernah bertemu dengannya! Dan perasaan itu sama saat aku pertama kali bertemu dengan Raina!
Aku mulai berpikir, mungkin saja aku mengenal Raina beserta keluarganya! Dan lagi! Saat berbicara dengan Kak Reza. Aegan samar-samar terlintas begitu saja di pikiranku. Apa itu? Apa itu kepingan ingatanku di masa lalu? Dan mengapa saat bertemu dengan Kak Reza, dia ternyata bisa memicu ingatanku!? Yang aku kira tidak akan kembali lagi!? Dan aku sudah merelakannya, jika yang terjadi di masa lalu tidak bisa aku ingat.
Karena aku terus saja memikirkannya, akibatnya sekarang kepalaku terasa sakit! Aku tidak bisa lagi menahan rasa sakitnya! Segera saja aku mengambil Obat di laci belajarku. Yang tidak jauh dari tempat tidurku. Obat yang aku cari adalah obat yang telah di resepkan oleh dokter, saat sakit kepalaku kambuh.
...~~~...
Semalam setelah meminum obat sakit kepalaku. Aku langsung tertidur, sebab itu juga salah satu efek dari obat. Aku bahkan lupa mematikan lampu kamarku.
Pagi ini aku berencana membawakan tiket yang sudah aku janjikan untuk Raina. Tapi, aku lupa memberitahunya, jam berapa aku harus memberikannya. Karena pagi ini aku juga harus ikut dalam latihan untuk pemilihan ketua tim basket, yang akan mengantikan ku. Setelah aku lulus nanti.
Aku tidak tahu harus bagaimana menghubungi Raina. Aku ingin menelpon ataupun sekedar mengirimkan pesan teks padanya. Tapi, aku tidak memiliki nomor ponsel Raina. dan kemarin lupa memintanya pada Raina.
Segera saja aku ambil ponselku, dan menghubungi seseorang yang mungkin memiliki nomor ponsel Raina.
Orang yang menjadi tujuan Aku adalah Angga! Yah... Sudah pasti Angga. Selain aku tidak memiliki banyak teman. Angga juga adalah teman sekelas Raina, sekaligus kekasih Ella sahabat Raina. Jadi sudah pasti dia memiliki nomor ponsel Raina, kan?
"Assalamu'alaikum. Angga, aku minta nomor ponsel Raina, dong. Penting ini!"
pesan itu langsung kirim pada Angga.
Dan tidak lama aku mendapatkan balasannya.
"Wa'alaikumussalam. Ada masalah penting apa memangnya? Aku tidak bisa memberikannya langsung nanti orangnya marah lagi."
Melihat pesan Angga itu, aku langsung membalasnya dan menjelaskan mengapa aku meminta nomor ponsel Raina. Dan dia langsung memberikan nomor ponsel Raina padaku.
...~~~...
Setelah, mengirimkan pesan pada Raina, aku melihat jam dinding di dalam kamar. Pukul enam lewat sepuluh menit. Aku yang sebelumnya telah siap, langsung mengambil Tas latihanku.
Sesudah memastikan pintu dan jendela rumah terkunci dengan benar, tak lupa aku juga mengunci pagar rumah. Karena, para asisten rumah tangga yang kami pekerjaan libur di akhir pekan. Jadinya rumah akan kosong sampai siang nanti.
...~~...
Aku tiba di rumah Raina, sekitar pukul Enam lewat Empat puluh lima menit. Aku tiba dengan cepat dirumah Raina, karena jarak rumah kami ternyata cukup dekat. Hanya memerlukan kurang lebih tiga puluh menit.
Begitu tiba di depan rumah Raina aku tidak mengirimkan pesan teks lagi. Tapi, langsung meneleponnya. Entah... Mengapa aku ingin mendengar suara Raina. Sebelum berangkat ke sekolah untuk latihan.
"Assalamu'alaikum. Raina aku sudah ada di depan rumahmu." Ucapku begitu mendengar nada telpon, yang menandakan Raina telah mengangkat teleponku.
Lama aku menunggu jawaban dari Raina di telpon. Segera aku melihat ke dalam rumah, apakah dia sudah membuka pintu rumahnya, atau belum. Tidak juga aku mendapatinya membuka pintu. Kulirik di ponsel apakah aku masih terhubung panggilan dengan Raina atau sudah putus. Kulihat masih nyambung.
Akhirnya, aku alihkan pandanganku ke lantai dua rumahnya. Berharap di salah satu jendela itu adalah kamarnya. Dan benar saja disana aku melihatnya, tengah melihatku dari atas sana sambil terdiam.
segera saja aku berbicara kembali.
"Mau sampai kapan, kamu melihatku dari sana? Aku sudah pegal nih!" Ucapku lagi. Yang berhasil menyadarkan Raina dari lamunannya.
"Ah! Wa'alaikumussalam. Iya. Maaf, tunggu aku turun sekarang." Ucap Raina diseberang sana dengan cepat dan langsung menutup telpon dariku.
...~~~...
"Maaf, sudah membuatmu lama menunggu."
Ucap Raina langsung padaku, begitu tiba di hadapanku.
"Tidak masalah, tapi kalau lebih lama lagi... bisa-bisa aku jadi pohon." Ucapku sambil sedikit bercanda dengan Raina
"Sekali lagi maaf, ya. Aku terkejut kamu sampai begitu cepat. Baru beberapa menit dari kamu kirim pesan, eh! Tiba-tiba sudah ada didepan rumah." Ucap Raina. Yang bingung mengapa aku bisa sampai begitu cepat ke rumahnya.
"Ah, soal itu... Aku juga tinggal di sekitar sini, kok."
Beberapa menit Aku menunggu jawaban Raina. Tapi, aku hanya melihatnya terdiam. Mungkin berpikir kenapa aku bisa tinggal berdekatan rumah dengannya.
"Ini! Dan juga aku titip hadiah ini untuk para member." Ucapku. Menyerahkan tiket dan hadiah yang telah aku dan Arini siapkan untuk para Member. Jauh-jauh hari.
Raina langsung menerima semuanya. Dan berkata.
"Terimakasih, nanti aku pasti para member menerimanya."
"Yasudah, kalau begitu aku pergi dulu, ya. Bersenang-senanglah." Balasku dan menyalakan mesin motorku bersiap berangkat ke sekolah.
"Pasti! Aku akan bersenang-senang. Kamu juga hati-hati."
Mendengar perkataan terakhir Raina padaku, membuat jantungku berdebar kencang, secara tiba-tiba. Aku terkejut dengan ucapannya itu, tidak biasanya Raina seperti itu padaku.
Aku langsung melesatkan motorku kembali ke jalan.
...~~~...
Sesampainya aku disekolah. Aku menunggu pelatih dan para anggota yang akan menjadi calon ketua, di ruang olahraga. Disana aku termenung memikirkan apa yang terjadi tadi di depan rumah Raina.
Aku merasa adegan tadi tidak asing denganku. Seperti itu pernah terjadi sebelumnya. Apa benar orang yang aku cari selama hampir dua tahun ini, adalah Raina?
Mengapa saat bersamanya. Sedikit demi sedikit aku rasakan seperti ingatan masa laluku perlahan-lahan kembali.
...~~~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments