Pov Reno.
Perlahan kubuka mataku yang kurasakan sudah lama terpejam. Walaupun sulit untuk terbuka. Namun kupaksakan membukanya karena memang aku ingin bangun dari tidurku.
Awalnya gelap, lalu perlahan cahaya itu mulai masuk dan menembus kornea mataku. Aku merasakan seseorang menggenggam tanganku dengan erat.
Yang aku dapati, seorang perempuan sekitar umur tiga puluhan tahun. Aku mencoba untuk menggerakkan tanganku. Dan kurasakan dia melonggarkan pegangannya, dan sedetik kemudian kudengar dia mengucapkan syukur sambil terasa basah diatas telapak tanganku, dia menangis.
Samar-samar kudengar dia memanggil seseorang. Aku tidak mengenal siapa mereka. Bisa dikatakan Aku tidak mengetahui atau mengingat apapun.
Bahkan aku juga tidak tahu siapa aku? Dimana aku? Apa yang terjadi, padaku? Aku hanya merasa ada seseorang yang sangat penting bagiku, yang tidak berada di sisiku sekarang. Tapi aku tidak tahu siapa dia!
Beberapa saat kemudian, dari aku membuka mataku, aku mulai beradaptasi oleh keadaan ku. Sekarang aku sadar bahwa aku berada di ranjang rumah sakit.
Orang yang memegang tanganku tadi, berkata bahwa dia adalah Ibuku. Kini seseorang berjas putih rapi, sedang memeriksaku.
Dokter, itu perlahan-lahan, membuka perban yang sedari tadi ku rasakan memenuhi wajah ku. Setelah itu dia bertanya padaku.
Tapi.... Aku tidak tahu apa yang dia tanyakan. Dia berbahasa asing, bahasa yang tidak aku ketahui. Jika, saja dia berbahasa Inggris, mungkin aku masih bisa menjawabnya. Lalu ku lirik seorang laki-laki paruh baya yang tadi mengenalkan dirinya sebagai Ayahku. Memberinya kode bahwa aku tidak mengerti apa yang dikatakan dokter. Untung saja, Ayahku mengerti itu. Dan menerjemahkannya untuk aku.
"Nak, apa ada bagian dari tubuhmu yang kurang nyaman?" Kata Ayahku.
Aku menggelengkan kepalaku. Karena bibir ini sulit untuk aku gerakan.
"Apa kamu ingat, apa yang terjadi padamu sebelumnya?" Tanya Dokter itu lagi yang diterjemahkan oleh Ayahku.
Tetap saja aku menggelengkan kepalaku. Setelah itu, kulihat Ayahku dan dokter itu keluar dari ruangan tempat aku dirawat.
Ibuku, yang sejak tadi melihat dari sisi samping ranjangku. Walaupun tidak bisa melihatnya dengan baik. Tapi aku samar-samar melihatnya menghapus air matanya.
Kemudian dia menarik kursi dan duduk sambil menggenggam tanganku. Lama dia menggenggamnya tanpa berbicara. Kemudian dia bersuara.
"Kamu ingat...Nana?"
Pertanyaan Ibuku membuatku berpikir. Aku bahkan tidak ingat siapa aku. Tapi begitu mendengar nama Nana, membuat perasaanku menjadi kacau.
Seakan-akan nama itulah yang kucari-cari sejak membuka mata ini. Aku berusaha keras ingin menggerakkan bibir ini, untuk bertanya pada ibuku, siapa dia? Tapi tetap saja aku tidak mampu melakukannya.
Ibuku yang sepertinya mengerti bahwa aku tertarik dengan seseorang yang dia sebutkan itu melanjutkan perkataannya.
"Nana itu, seorang gadis yang sangat cantik, sopan, juga baik. Tapi... Sayang, dia sekarang mungkin sudah miliki seseorang. Andai saja kamu bisa lebih cepat sadar, mungkin Nana sudah menjadi menantu Mama. Sekarang dia ada di-"
Mendengar perkataan Ibuku, perasaanku menjadi tidak jelas.
Ibuku bilang. "Jika aku bisa sadar lebih cepat Nana akan menjadi menantunya?"
Ibuku ingin melanjutkan perkataannya tapi, Ayahku yang dari tadi berbicara dengan dokter tiba-tiba masuk ke ruangan dan memanggil Ibuku untuk berbicara di luar.
Aku tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa Ayah dan Ibuku harus berbicara diluar, tidak bisakah aku juga mengetahui apa yang terjadi padaku!?
...~~~...
Tidak terasa sudah dua bulan lamanya. Sejak aku membuka mataku. Perlahan-lahan aku juga sudah mengingat siapa aku.
Aku Arzil Askara Nero. Aku sudah terbaring di ranjang rumah sakit selama satu tahun dua bulan akibat kecelakaan yang menimpaku.
Aku juga mengetahui bahwa, aku berada di salah satu rumah sakit terbesar di negeri ginseng itu. Mengapa aku bisa dirawat disana? Ibuku hanya memberi tahuku, bahwa akibat dari kecelakaan yang menimpaku adalah hampir seluruh wajahku hancur.
Jadi, para dokter menyarankan agar aku melakukan operasi pada wajahku secepatnya. Sebenarnya, Ayah dan Ibuku ingin aku melakukan operasi setelah aku sadar, akan tetapi dokter menyarankan agar melakukannya secepatnya saja.
Juga, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
Jadi, wajahku yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Sebab itu juga Aku meminta pada Ayah dan Ibuku. Untuk Membuat identitas yang baru untuk aku gunakan. Karena menurutku, wajah Arzil tidak seperti ini! Jadi, aku ingin mengubah identitasku juga. Tidak lagi sebagai Arzil, tapi seseorang yang lain. Seseorang yang telah bangun dari mimpi panjangnya. Tapi... kata Ayahku, setelah kembali di Indonesia, baru dia akan mengurusnya untuk aku.
...~~~...
Walaupun masih banyak hal yang tidak bisa aku ingat. Tapi, aku meminta pada ayahku agar bertanya pada dokter, kapan aku bisa keluar dari rumah sakit?
Sudah hampir tiga bulan sejak aku sadar, tapi dokter belum juga mengatakan bahwa aku bisa keluar dari sini. Aku merasa aku sudah cukup sehat. Tapi,
kata Ayah, Dokter bilang bahwa aku hanya perlu bersabar beberapa hari lagi, agar bisa keluar dari rumah sakit.
"Memang apa lagi yang perlu di perhatikan, Yah?" Tanyaku.
"Hmm... Banyak. Kata dokter perlu mencarikan tempat untuk kontrol keadaan kamu saat di Indonesia. Karena, takutnya nanti ada kendala dan tidak bisa kembali kesini lagi untuk kontrol rutin."
"Masih perlu kontrol lagi?"
"Iya, karena kamu tahu sendiri selain untuk wajah, perlu juga untuk membantu kamu mengingat hal yang kamu lupakan. Mungkin, setelah mengingat kamu akan mencari Ra-" Ucapan ayah terpotong oleh ibu yang masuk sembil membawa beberapa bungkusan makanan.
"Lagi bicara apa kalian berdua? Kenapa berhenti saat Mama masuk?" Ucap Ibuku sambil membongkar bawaannya.
"Tidak ada. Cuman ini Arzil meminta untuk keluar dari rumah sakit lagi." Ucap Ayahku sambil membantu ibu membongkar makanan yang di bawanya.
"Iya, Mas. Sebenarnya kapan Arzil bisa keluar dari sini. Aku juga sudah bosan di sini Mas. Mau balik kampung secepatnya." Tanya Ibuku. Yang juga setuju dengan permintaanku.
"Kata Dokter, beberapa hari lagi." Jawab Ayahku.
Tidak ada lagi percakapan yang berarti hanya ibuku yang terus berbicara tentang kerinduannya terhadap rumah.
...~~~...
Akhirnya hari ini adalah hari yang aku nantikan sejak lama, sejak aku sadar dari tidur panjangku.
Satu tahun tiga bulan aku berada di ranjang rumah sakit.
Satu tahun aku habiskan dengan menutup mata dan tiga bulanya aku gunakan untuk pemulihan.
Rencananya, setelah keluar dari rumah sakit hati ini. Ayah, Ibu, dan Aku, akan kembali ke rumah yang telah di beli Ayahku sejak aku dirawat disini.
Hanya untuk mengemasi barang-barang kami. Serta menjemput adik perempuanku. Yang sekarang sudah Kelas Satu SMA. Setelah itu kami akan terbang kembali ke Indonesia.
...~~~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
❤️⃟Wᵃf Zhang zhing li♚⃝҉𓆊
akhirnya sadar juga setelah bbrp hari dirawat dirumah sakit. wah, blm tahu ya siapa sj yng menunggui kamu dan berharap bisa sembuh
2023-12-15
3
❤️⃟WᵃfNurFitriAnisyah
Oh! Ternyata Reno itu Arzil yang sudah Oplas, ya? tapi, dia tidak ingat apapun untuk sekarang.
2023-12-15
4