Bab 7 Masa Lalu

   Kemarin, sepulang dari makan malam. Aku dan Kak Reza tidak saling berbicara. Kak Reza, tidak menjelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi.

   Dia tidak mengatakan padaku, mengapa Arzil bisa menelponnya! Ya! Yang menelepon Kak Reza, saat di restoran adalah Arzil!

Sebelumnya, Aku sudah pernah menceritakan pertemuan pertamaku dengan Arzil. Tapi tidak ada salahnya menceritakannya kembali.

...~~~...

Flashback On.

Dua tahun lalu, saat aku masih duduk di bangku SMA kelas 1, saat itu aku masih bersekolah di SMA Negeri Kota S.

Bruk!

Aku tidak tahu apa yang menimpaku, tiba-tiba saja pandanganku kabur dan penglihatanku mulai gelap.

"Kamu, apakah baik-baik saja?"

Aku hanya mendengar seseorang bertanya padaku tapi aku tidak tahu siapa yang mengatakan itu.

"Ugh... dimana ini?" Ucapku setengah sadar.

Kreek!

Terdengar suara pintu terbuka.

Seseorang nampak dari balik tirai yang ada di sekitar tempat dimana aku berbaring sekarang.

"Ah! Kamu sudah sadar? Masih ada yang kurang nyaman? Aku ambilkan Minum dulu, ya?" Ucap laki-laki itu secara bersamaan.

"I-itu... Aku ada dimana?"

"UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Maaf, gara-gara aku... kamu jadi seperti ini. Tadi, aku benar-benar tidak tahu kalau kamu bakal lewat, bukannya sengaja melempar bola basket kearahmu!. Untung saja kata dokter sekolah tidak ada cedera yang parah, hanya sedikit memar saja dikepala." Ucap laki-laki ini lagi yang belum ku ketahui namanya.

Dari perkataannya, sekarang aku tahu bahwa yang menimpaku tadi adalah bola basket. Dan pelaku yang melemparkannya sekarang ada didepanku!

"Hmm... tidak, apa-apa. Hanya saja aku belum tahu siapa namamu?" Tanyaku tiba-tiba.

Aku tidak tahu, mengapa tiba-tiba saja aku menanyakan namanya! Yang seharusnya itu tidak diperlukan. Tapi, tidak ada salahnya sih.

"Oh! Iya, Perkenalkan aku, Arzil Askara Nero. Kelas 1 IPS 2, Calon Ketua Tim Basket Sekolah Ini." Ucap Arzil yang memperkenalkan dirinya sebagai calon ketua tim basket dengan sangat percaya diri.

Aku hanya tersenyum sambil menahan tawaku, agar tidak menghancurkan kepercayaan dirinya itu.

"Kalau, kamu siapa?" Lanjutnya

"Uh... Aku Raina Puteri Permatasari. Kelas 1 IPA 1. Wakil Ketua Osis, sekarang." Ucapku Pada Arzil. Yang sekarang duduk dihadapanku.

Itu adalah kali pertama, Aku bertemu dengan Seorang Laki-laki, dimana selain keluargaku dia adalah laki-laki pertama yang bisa membuatku merasa nyaman.

...~~~...

Setelah hari itu, Aku dan Arzil semakin sering berpapasan. Kami sering sekali bertemu tanpa di sengaja, entah itu di kantin sekolah, ruang guru, bahkan kami pernah bertemu diluar sekolah, bukan satu, dua, kali saja!

Lama-kelamaan kami semakin dekat. Pernah. Suatu waktu, dia datang kerumah dan meminta izin pada keluargaku agar kami bisa pulang dan pergi ke sekolah bersama.

Awalnya, dia mengantarku pulang ke rumah.

Sore sepulang sekolah hari itu, Arzil yang baru saja selesai latihan basket di lapangan sekolah. Mendapati aku yang sedang berdiri didepan gerbang sekolah menunggu Kak Rama, menjemputku. Arzil menghampiriku.

Din! Din! Terdengar suara klakson motor dibelakangku.

"Hai, Na!"

Terdengar seseorang memanggilku, serta aku merasakan ada yang menyentuh pundakku. Yang membuat aku kaget. Karena saat itu aku sedang fokus melihat ke jalan. Sembari menunggu mobil Kak Rama, yang sampai sekarang Bahakan bayangannya saja tidak kelihatan.

"Ugh. Kamu Zil, baru pulang?" Ucap agak kaget.

Ternyata orang itu adalah Arzil.

"Iya, baru selesai latihan. Kamu, kok belum pulang? Sekolah udah sepi loh."

"Oh! Itu, Kak Rama belum jemput."

"Hmm... Aku antar kamu pulang saja, Bagaimana?" Ucap Arzil menawarkan diri mengantarkan aku pulang.

Sebenarnya, aku mau! Dia antar pulang. Tapi... bagaimana jika kak Rama datang setelah aku pulang bareng Arzil?

Jadi aku menolaknya. Tapi dia bilang sekolah sudah sepi, dan lagi cuaca sekarang agak mendung, takutnya bakalan turun hujan.

Jadi aku mengiyakannya, setelah meminjam ponsel Arzil dan menelepon Kak Rama, agar tidak perlu menjemputku lagi. Karena saat itu, aku lupa membawa ponselku.

Setelah menurunkan aku didepan rumah. Arzil pamit pulang ke rumahnya. Aku tidak menahannya karena kulihat langit semakin mendung, takutnya nanti Arzil kehujanan dijalan. Jika berlama-lama lagi disini.

...~~~...

Pukul delapan malam. Saat ini, aku berada didalam kamar. Selesai makan malam, aku segera membersihkan diri. Baru saja ingin memainkan ponselku.

Tiba-tiba terdengar suara, Tok!Tok! Dari luar pintu kamarku. Aku meletakkan ponselku kembali dan segera membuka pintu.

Ternyata, Kak Rama yang mengetuk pintu kamarku. Ku persilahkan Kak Rama masuk.

"Dek, tadi... pakai ponsel siapa? Memberitahu, Kak Rama supaya tidak perlu jemput disekolah?"

Ucap Kak Rama yang sudah duduk di kursi belajarku.

"Em... ponsel Arzil, Kak!" Jawabku jujur.

"Arzil? Dia Itu, siapanya kamu dek? Teman? Atau Apa?" Tanya Kak Rama yang membuatku bingung apa maksudnya?

"Teman, Kak."

"Yakin cuma teman?"

"Iya, memangnya kenapa?"

"Eh! Itu... dia telpon kakak tadi, katanya besok dia mau jemput kamu. Mau berangkat bersama ke sekolah, katanya." Jawab Kak Rama.

"Loh? Kenapa telpon Kak Rama? Arzil kan punya nomor teleponku, Kak?" Tanyaku.

Karena Aku dan Arzil sudah memberikan nomor masing-masing. Saat, Tim Basket mengumpulkan jadwal kegiatan mereka pada Osis waktu itu.

"Yah... mana kakak tahu."

"Mungkin dia, sudah bilang. Tapi kamu belum lihat?" Lanjut Kak Rama sambil meninggalkan kamarku.

Aku segera saja memeriksa ponselku dan benar saja ada beberapa pesan dari Arzil yang belum ku baca, isinya.

"Na, besok aku jemput, ya? Kita berangkat bersama saja. Kebetulan rumah kamu ternyata tidak jauh dari rumahku."

"Na? Na? Nana?"

"Raina?"

Tiga pesan teks diatas dikirim pukul enam sore ini. Saat aku sedang menyiapkan makan malam bersama Ibuku di dapur.

Ku lihat lagi pesan selanjutnya.

"Aku sudah berbicara dengan Kakakmu. katanya, kalau kamu mau, aku boleh jemput kamu besok!"

"Na? Nana? Kamu lagi sibuk, ya?"

Kedua pesan itu, baru ku terima dua puluh menit yang lalu. Saat aku baru selesai memakai pakaian.

Setelah membaca semua pesan dari Arzil, langsung saja ku balas satu persatu.

"Benarkah? Ternyata kamu juga tinggal daerah sini, ya."

"Aku tidak sibuk, cuman tadi lagi makan. Baru mau main ponsel, eh! Kak Rama mengetuk pintu kamarku, dan memberitahuku kalau kamu telfon dia, minta izin buat berangkat bareng aku besok."

"Hmm... Kalau aku tidak merepotkanmu, kita boleh berangkat bersama besok."

Tidak lama aku menerima balasan dari Arzil. Yang isinya.

"Tentu saja tidak merepotkan!"

"Jadi, aku bolehkan jemput kamu besok?"

Aku hanya membalas pesan Arzil mengunakan gif yang mengangguk-anggukkan kepala. Serta mengatakan bahwa aku ingin tidur sekarang.

Setelah mengirimkan itu.

Aku meletakkan ponselku. Dan memejamkan mataku.

...~~~...

Pukul enam pagi lewat lima menit. Sekarang aku sedang sarapan bersama Ayah dan Ibuku, para Kakak belum keluar dari kamar mereka.

Aku hampir saja lupa memberitahu Ayah, dan Ibuku bahwa sebentar tidak perlu, Kak Reza mengantarkan aku ke sekolah. Karena ada teman yang akan datang menjemputku dan kami akan berangkat bersama.

Saat sedang memberi tahu Ayah dan Ibuku.

Tiba-tiba saja.

"Siapa, Dek? Yang bakal jemput." Ucap Kak Reza yang baru keluar dari kamar. Kak Reza sudah rapi dan bersiap untuk ke kantor sekaligus mengantarku ke sekolah.

Yah... Kak Reza bertugas mengantarku ke sekolah dan Kak Rama yang akan menjemputku. Itulah tugas yang diberikan oleh ibuku pada kakakku. Kalau Kak Rendi, dia wajib membantuku mengerjakan tugas sekolah yang kurang kupahami.

"Itu, teman aku Kak."

"Arzil, dia sudah bicara sama Kak Rama. Kemarin malam ditelfon." Lanjutku.

"Iya, Kak Reza. Aku sudah bicara kemarin di telfon. Baru mau bilang ke kalian, tapi Aina sudah bilang duluan." Ucap Kak Rama yang baru saja keluar dari kamarnya.

"Wah! Wah! Pacar, ya dek." Sahut Kak Rendi yang juga keluar dari kamarnya.

Plak! Terdengar hantaman ringan dikepalanya. Pelakunya? Tentu saja Kak Rama. Mereka berdua memang sering kali bertengkar.

Dan penyebab utamanya adalah aku. Karena Kak Rendi selalu mengejekku, dan Kak Rama tidak suka itu.

Tapi... Walaupun kak Rendi, sering menjahili dan mengusikku. Saat ada yang menggangguku disekolah dia selalu saja membantuku!

Setelah insiden tersebut. Kami melanjutkan sarapan kami bersama.

Pukul enam lewat empat puluh menit. Aku yang dari tadi menunggu Arzil di teras depan rumahku. Segera pamit pada Ibuku begitu aku melihat Arzil didepan rumah.

"Ma, Nana berangkat ya. Arzil, sudah datang." Ucapku pada ibuku yang sekarang akan sendirian dirumah.

"Iya, hati-hati. Jangan ngebut." Sahut Ibuku. Sambil memberi tahu pada Arzil agar tidak mengebut.

"Iya, Tan. Kami berangkat dulu." Kata Arzil.

Setelah melihat tanggapan ibuku. Dia melajukan motornya ke jalan.

...~~~...

Kami sampai di sekolah, pukul tujuh pagi lewat tujuh menit.

Arzil, menurunkanku terlebih dahulu di depan parkiran sekolah. Sebelum memarkirkan motornya.

Aku menunggunya, dan setelah itu kami berdua berjalan bersama ke kelas.

Karena kelas kami berdampingan, jadi tidak ada salahnya aku menunggunya. Sepanjang jalan aku merasa banyak pasang mata yang melihat kami!

Walaupun aku tidak cukup bergaul dengan siswa yang lain.

Aku cukup terkenal disekolah, Wakil Ketua Osis yang Cantik, dan Dingin. Dan aku juga tahu mengapa begitu banyak siswa perempuan yang melihat kami.

Apalagi kalau bukan karena Arzil sang Ketua Basket yang Tampan, idaman para siswa perempuan ini. Sedang berjalan bersamaku saat ini.

Tanpa memedulikan semua itu. Aku dan Arzil terus saja berjalan bersama, bahkan kami sempat bercanda.

...~~~...

Terpopuler

Comments

🍌 ᷢ ͩ🔵🍭ͪ ͩ🥜⃫⃟⃤🍁S❣️🦚⃝⃟ˢᴴ

🍌 ᷢ ͩ🔵🍭ͪ ͩ🥜⃫⃟⃤🍁S❣️🦚⃝⃟ˢᴴ

ya biarin aja salah sendiri jemput nya terlambat

2023-12-16

4

Alvian

Alvian

yap, menceritakan seseorang ttg masa lalu tdk salah jadi rasanya tidak akan menganjal dihati, malah plong

2023-12-16

0

❤️⃟Wᵃf Zhang zhing li♚⃝҉𓆊

❤️⃟Wᵃf Zhang zhing li♚⃝҉𓆊

Mungkin karena kaget dan pandangan kabur jadi tidak tahu siapa yang barusan menabrak

2023-12-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!