Bab 8 Masa Lalu 2

  Hari berganti hari, dan minggu berganti minggu. Tak terasa sudah tiga bulan lamanya. Sejak Arzil mendapat izin dari keluargaku.

  Pada saat itu juga, Arzil, akan menjemputku tiap pagi dan mengantarku pulang ke rumah. Bahkan, pernah dia menungguku. Yang saat itu sedang mengikuti Rapat Osis, agar kami pulang bersama. Dan aku juga dia minta untuk menunggunya, jika ia sedang latihan basket disekolah.

  Hingga banyak rumor disekolah, yang mengatakan bahwa kami berdua berpacaran. Sebenarnya Aku agak risih dengan rumor itu. Akan tetapi kulihat Arzil seperti tidak memperdulikannya. Jadi, ku pikir aku juga tidak perlu peduli dengan apa yang dibicarakan oleh orang lain. Jika aku tidak seperti itu! Sampai rumor itu hilang dengan sendirinya.

...~~~...

   Aku juga ingat, saat Arzil menyatakan perasaannya padaku. Kupikir saat itu, Arzil mengatakannya hanya karena terpengaruh oleh rumor yang beredar disekolah. Jadi aku tidak mengganggapnya serius.

  Hingga dia datang bersama orang tuanya, ke rumahku!

   Waktu itu aku sedang tidak berada dirumah. Aku pergi bersama Kak Rendi, menjenguk Kakek dan Nenek. Yang rumahnya tidak jauh dari rumahku. Kami cukup berjalan kaki saja.

  Ketika aku pulang dari sana. Aku dan Kak Rendi saling bertukar pandang mata kami bertemu dan seakan menayangkan hal yang sama. Ada tamu dirumah? Siapa?

  Dari pada hanya saling melihat satu sama lain. Aku meninggalkan kak Rendi diluar rumah.

Dan bergegas masuk kedalam, agar segera mengetahui siapa sebenarnya yang datang kerumah?

"Assalamu'alaikum. Ma, Aina sudah pulang." Ucapku memberi salam di depan pintu.

"Wa'alaikumussalam. Kamu sudah pulang, Kak Rendi mana?" Sahut Ibuku. Sembari membuka pintu untukku.

Baru saja ingin aku jawab pertanyaan Ibuku.

"Assalamu'alaikum." Kak Rendi juga memberi salam.

  Dan semua orang dari dalam ruang yang mendengarnya menjawab salam Kak Rendi dengan serentak.

"Wa'alaikumussalam."

  Aku sebenarnya ingin bertanya siapa orang yang datang ke rumah. Tapi ... Begitu masuk, kedalam.

  Aku terkejut melihat Arzil yang telah duduk di sofa ruang tamu.

 Disampingnya ada seseorang wanita yang ku perkirakan hampir seumuran dengan Ibuku. Dan juga ada seseorang pria paruh baya disampingnya.

Setelah menyalami kedua orang tuaku, aku juga menyalami kedua orang tersebut.

  Sambil bertanya dalam hati. Siapa mereka? Apa orang tua Arzil? Tapi... Kenapa mereka kemari? Ada apa?.

  Dan banyak lagi yang terpikir olehku.

Aku masih terhanyut dalam pikiranku. Dan tiba-tiba saja Kak Rendi, menarik ku untuk duduk di sofa. Yang menyadarkanku kembali.

"Ini... Raina, ya?" Ucap wanita itu yang baru ku ketahui namanya, Bu ayu.

    Dan pria paruh baya itu bernama Pak Askara Nero. Katanya, boleh ku panggil paman Nero saja.

"Iya, bi." Sahutku

"Raina, kalau... bibi panggil kamu Nana? Seperti yang Zil, Lakukan? Boleh tidak?" Tanya Bu ayu padaku.

"Iya, boleh kok Bi. Tapi Nana mau tanya. Bibi datang kemari ada perlu apa? Maaf, kalau pertanyaan Nana kurang sopan. Nana hanya penasaran."

"Jadi, tujuan paman dan bibi kemari. Ingin meminta pada orang tuamu untuk memberikan kami satu-satunya putri mereka, yaitu kamu. Sebagai pendamping hidup putra kami Arzil." Ucap Paman Nero.

    Yang membuatku terdiam. Serta bertanya-tanya. Apa? Pendamping hidup? Calon istri, Arzil? Tapi kan... aku dan Arzil baru saja berumur 16tahun! Tidak mungkin menikah usia muda kan? Aku belum siap!

"Bukan sekarang, kami hanya ingin agar kalian bertunangan terlebih dahulu. Setelah lulus kalian bisa mengambil keputusan apakah ingin meneruskannya hingga jenjang pernikahan atau memutuskan pertunangan." Lanjut paman Nero. Yang sepertinya mengetahui apa yang ada dipikiranku.

   Aku memandangi Ayah dan Ibuku. Serta melihat Arzil yang sedari tadi ku lihat melirik ke arahku. Mata ku yang melihat mereka, seakan bertanya apa yang terjadi sekarang?

"Kalau jawaban dari kami, itu tergantung keputusan putri kami, Raina." Kata Ayahku yang langsung ku tatap tajam.

    Apa!? Ayah menyerahkan keputusan padaku!? Jawaban apa yang harus ke berikan pada mereka? Ku lirik Kak Rendi disampingku, agar dia membantuku memberi jawaban pada mereka.

Kak Rendi yang mengerti kode dariku. Mengangkat suara.

"Kalau boleh saya tahu, mengapa kalian memilih adik saya, Raina. Sebagai pendamping putra anda?" Ucap Kak Rendi.

  Setelah mendengar ucapan Kak Rendi itu, segera saja aku menghembuskan napas lega. Yah! aku juga ingin tahu dari sisi manakah mereka melihatku yang pantas menjadi pendamping putra mereka? Juga, aku ingin tahu, ini keinginan mereka ataukah keinginan Arzil sendiri?

"Aku memilih Raina, sebagai pendamping hidupku. Karena aku menyukainya. Aku suka dia, aku sudah mengatakan padanya. Bahwa aku Arzil Askara Nero jatuh hati pada seseorang bernama Raina Puteri Permatasari. Seorang gadis yang bisa membuatku nyaman saat bersamanya. Aku ingin, dia juga merasakan hal yang sama jika bersamaku, merasa nyaman. Aku tidak ingin memintanya menjadi pacarku. Akan tetapi aku ingin dia menjadi satu-satunya pendamping hidupku. Aku sudah mengatakan semuanya pada Raina. Tapi dia menganggap aku hanya terpengaruh oleh rumor yang beredar disekolah. Dan menolakku. Dia tidak mengetahui, bahwa sebenarnya Aku sudah, jatuh hati pada pandangan pertama dengannya. Saat kami berbicara pertama kali di ruang UKS. Jadi, untuk menunjukkan ke seriusan ku padanya. Aku membawa orang tuaku ke rumahnya. Dan meminta Raina pada keluarganya agar disandingkan denganku." Jelas Arzil. Yang sesekali melihatku saat menyebut tentangku.

 Setelah mendengar penjelasan Arzil. Ruangan ini hening sejenak.

Dan tidak lama terdengar sorakan dari semua orang yang ada diruang sambil bertepuk tangan. Mengakui keberanian Arzil mengatakan semuanya di depan orang tua kami.

  Hanya aku yang masih terdiam. Aku tidak menyangka, bahwa dia berani mengutarakan perasaannya padaku, langsung didepan orang tua kami. Yang sebelumnya ku pikir dia hanya bercanda denganku.

 Setelah mendengar Arzil berbicara. AKu merasa sekarang semua mata yang ada diruang tamu ini, tertuju padaku. Menanti jawaban seperti apa yang akan aku berikan.

"Bismillah.... Aku Raina Puteri Permatasari. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku merasa dia adalah laki-laki pertama yang selain keluargaku, yang bisa membuat aku merasa nyaman saat bersamanya. Memang benar, Arzil pernah mengatakan bahwa dia menyukaiku. Dan aku menganggapnya hanya terpengaruh oleh rumor saja. Jadi, saat itu aku tidak serius menanggapinya. Hingga saat ini. Setelah mendengar apa yang dikatakan, dan dilakukannya. Aku dengan yakin akan menerima permintaannya. Yang memintaku agar menjadi satu-satunya pendamping dalam hidupnya." Kataku.

  Yang membuat semua orang di ruangan ini tersenyum bahagia.

...~~~...

  Setelah hari itu, kedua keluarga kami. Mulai mengatur acara pertunangan kami.

  Tanggal yang dipilih adalah setelah kami melaksanakan Penilaian Akhir Tahun, atau dikenal sebagai Ujian Kenaikan kelas. Sebagai syarat, kami bisa naik ke kelas 2 SMA.

  Dan mengingat bahwa beberapa hari lagi kami akan melaksanakan ujian tersebut. Artinya, sudah hampir satu tahun aku mengenal Arzil. Aku juga semakin mengenalnya.

  Arzil itu orangnya, suka berterus terang, ramah, tapi tidak ke semua orang. Terutama para wanita yang selalu mencari perhatian padanya. Dia akan bersikap dingin layaknya kutub Utara dan Selatan menyatu.

 Dia juga suka makan jajanan di pinggir jalan. Dibanding memasuki kafe atau restoran yang sering teman-temannya lakukan. Aku juga sering di ajaknya makan disana.

  Aku sudah menanyakannya, mengapa dia suka makanan dipinggir jalan. Karena bisanya, anak-anak dari keluarga berada sepertinya. Akan memilih tempat yang sudah terjamin kebersihan makanannya. Akan tetapi dia tidak seperti itu.

  Jawabannya adalah membagikan rezeki yang di milikinya, katanya jika di tempat seperti restoran, kafe, yang sering di datangi para konglomerat itu. Harga makanannya saja, sudah seperti penghasilan satu bulan dari warung pinggir jalan ini.

  Bahkan ada juga, jika dibandingkan dengan harga makanan ditempat- tempat itu setara dengan penghasilan mereka satu tahun!

  Jadinya, Arzil lebih suka memberikan sebagian rezeki yang dimilikinya pada mereka.

...~~~...

    Hari terus berlalu dan akhirnya hari ini adalah hari terakhir kami melaksanakan ujian.

Dan hari pertunanganku dan Arzil pun hanya tinggal beberapa hari saja.

  Akan tetapi, hari ini aku merasakan ada sesuatu yang akan terjadi. Ada yang salah dengan perasaanku. Aku merasa bahwa akan ada yang hilang dariku. Dan aku belum tahu apa itu.

   Aku semakin khawatir, saat aku belum melihat Arzil hari ini. Biasanya saat aku tiba disekolah dia sudah keluar dari ruang ujiannya. Dan menghampiriku. Tapi kali ini sampai aku masuk ke ruang ujian aku belum bertemu dengannya. Yah.. selama ujian dilaksanakan kami tidak berangkat bersama. Karena dia sesi pagi dan aku sesi siang.

Setelah menyelesaikan ujian terakhirku. Aku terus saja mencari keberadaan Arzil. Karena biasanya saat aku keluar dia sudah menyambutku dan kami akan pulang bersama.

Tapi, kali ini berbeda. Kulihat sudah ada Kak Reza yang menungguku di gerbang sekolah. Langsung saja aku menghampiri Kakak pertamaku itu.

"Tumben, kok Kak Reza yang jemput? Kak Rama, dimana?" Tanya ku tapi tidak di jawab oleh Kak Reza.

Dia hanya membuka pintu mobil dan menyuruhku masuk. Aku semakin gelisah. Melihat sikap Kak Reza yang tidak seperti biasanya. Dan lagi ku perhatikan, ini bukan jalan untuk pulang ke rumah.

"Kak? Kak Reza!"

"Iya, Na. Ada apa? Kakak lagi fokus nyetir ini. Kamu jangan berisik, ya?" Ucap Kak Reza. Yang mulai fokus lagi.

" Kak, ini bukan arah pulang ke rumah. Kita mau kemana, sih?"

"Emm... nanti kamu juga tahu." Ucap Kak Reza dengan mimik wajah yang tidak bisa ku tebak.

Setelah mendengar itu, aku ingin bertanya lagi. Tapi tidak jadi. Karena, kakak menghentikan Mobilnya di parkiran Rumah Sakit Terbesar di Kota S. Yang membuatku melihat Kak Reza.

"Turun dulu. Nanti kakak beri tahu." Katanya.

Entah, mengapa perasaanku saat turun dari mobil. Ada hal buruk akan menimpaku. Aku hanya mengikuti Kak Reza dari belakang, Saat ini aku masih mengenakan seragam sekolahku. Kak Reza, berhenti tiba-tiba didepan ku. Dan aku melihat dari balik punggung Kak Reza.

Sebenarnya mengapa kakak tiba-tiba berhenti. Akhirnya, kudapati apa yang membuatku begitu gelisah saat di sekolah tadi. Jawabannya ada disini.

ICU, ruang ini dimana semua pasien yang di tangani adalah pasien yang sudah terlanjur dalam keadaan kritis.

Dan apa yang kulihat sekarang, Paman Nero sedang menenangkan istrinya yang tidak berhenti meneteskan air matanya. Dan juga ibuku yang membantu menenangkannya.

Aku tidak ingin berpikiran yang buruk. Akan tetapi, siapa lagi yang bisa membuat seorang ibu menangis dengan begitu keras dan sedihnya. Selain anaknya.

Tanpa sadar aku juga ikut meneteskan air mataku. Kak Reza, berbalik dan langsung memelukku begitu erat. Ketika melihatku menangis. Dia juga mengatakan.

"Arzil, terlibat dalam kecelakaan beruntun di poros jalan menuju sekolah. Saat ini sudah ditangani oleh dokter. Kabar terakhir yang kami dengar, sebagai wajahnya rusak. dan dia dalam kondisi tidak sadarkan diri saat ditemukan. Dokter meminta kita, untuk berdoa agar Arzil dapat di selamatkan."

Mendengar perkataan Kak Reza itu. Semakin membuatku menangis. Dan ibuku yang mendengar suara tangis ku pun, bergegas menghampiriku. Dan memelukku.

...~~~...

Waktu terus berlalu. Dan Penanganan untuk Arzil kini telah memakan waktu enam jam lamanya. Dan akhirnya, pintu ICU itu terbuka dan Bu ayu bergegas menghampiri dokter yang menangani operasi Arzil. Bu ayu langsung bertanya bagaimana keadaan anaknya sekarang.

"Dok, bagaimana keadaan anak saya!?"

"Untuk saat ini, kondisi pasien sudah stabil. Hanya saja, kami belum mengetahui kapan pasien akan sadar. Kami menyarankan agar bapak dan ibu memindahkan anak anda ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya. Yang bisa memperbaiki wajah putra anda. Karena, hampir sebagian wajah rusak parah. Kami menyarankan agar membawanya ke bedah plastik. Jika ada yang ingin ditanyakan lebih lanjut bisa bertanya di bagian konsultasi, saya pamit undur diri. Masih ada pasien gawat yang harus saya operasi." Kata Dokter sambil berlalu di hadapan kami.

Kami setidaknya bisa menghembuskan napas lega, mendengar bahwa Arzil sudah dalam keadaan stabil. Walaupun, belum bisa di pastikan kapan dia akan sadar.

...~~~...

Terpopuler

Comments

Alvian

Alvian

wah, azril cool bgt ya. ngantar dan jemput kamu pulang ke rmh. kayak kisah nyatamu aja thor

2023-12-16

0

Kas sie mien

Kas sie mien

rumor yg tdk usah dipikirkan. org selalunya memg begitu. banyak nyinyir, apalagi mslh pacaran. pd heboh

2023-12-16

0

꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ❦꧂

꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ❦꧂

arzil keren dan laki" yang tidak mau terlibat dalam hubungan dosa dia langsung membawa ortu nya untuk melamar nana

2023-12-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!