“Ada apa? Kenapa kamu pegang-pegang hape saya?!”
Suara marah seorang pria barusan, Calista kenali sebagai suara suaminya. Iya, Calista yakin itu suara Sabiru yang Yasnia katakan sedang tidur.
“M—maaf, Pak Sabiru. Tadi saya hanya ....”
Sementara suara barusan, Calista kenali sebagai suara Yasnia dan terdengar langsung ketakutan. Karenanya, Calista sengaja buru-buru mengambil ponselnya dan tadi memang sempat jatuh. Detik itu juga, pikiran Calista jadi menduga-duga, bahwa Yasnia telah melakukan kebohongan kepadanya.
“M—mas, Bi!” sergah Calista benar-benar manja. Ia ingin mengabarkan kepada suaminya mengenai apa yang terjadi.
“S—sayang, sebentar.” Sabiru terdengar sangat emosional.
“I—iya.” Calista yang menjadi menggi—git kuat bibir bawahnya, berangsur memejamkan kedua matanya. Tak bisa ia pungkiri, balasan Sabiru mulai membuatnya merasa lega.
“Setelah ini, saya tidak mau melihat kamu lagi! Kamu benar-benar saya pecat karena kamu sudah menyia-nyiakan kesempatan yang kamu miliki!” Sabiru masih berucap sangat tegas, marah-marah dan Calista yakini ditujukan kepada Yasnia.
Seiring suasana dari tempat Sabiru yang menjadi lebih tenang, Calista sengaja menyapa. “Mas, sudah?”
“Iya. Anggap saja dia orang setres yang sudah semestinya kita cuekin. Aku beneran sudah enggak mau memperkejakan dia lagi.” Sabiru masih emosional.
Calista yang merasa lega, berangsur duduk di pinggir tempat tidurnya. “Ya sudah gitu saja. Aku ya jadi takut.”
“Takut gimana?” balas Sabiru lirih tapi sangat serius.
“Ya takut Mas akhirnya menikahi karyawan sendiri kayak yang lagi viral! Ih, amit-amit!” rengek Calista benar-benar manja. Apalagi yang sedang viral dan tengah ia maksud, si suami menikahi karyawan wanita sang istri tepat di hari ulang tahun pernikahan si pria dengan istri pertama. Selain itu, istri pertama si pria tipikal ‘paket lengkap’ dan bahkan tengah hamil anak ke tiga.
“Duh, kamu jangan nyimak hal-hal gitu deh. Cukup tonton saja acaranya Anjar dan kak Ojan. Itu jauh lebih baik karena kamu pasti dibikin ketawa sampai nangis!” ucap Sabiru terdengar sangat khawatir.
“Iya, sih. Ini saja aku nyesel. Aku jadi enggak bisa tenang.” Calista menunduk manja.
“Kangen banget?” tanya Sabiru yang menjadi tak lagi disertai emosi. Beda jauh dari ketika Sabiru menghadapi Yasnia.
Calista mengangguk-angguk kemudian bergumam. “Aku nyusul, ya? Kasih tahu lokasinya, nanti aku ke sananya sama sopir aku.”
“Kamu enggak usah nyusul—”
“Enggak apa-apa. Aku bisa kerja online. Aku mau nyusul Mas saja.”
“Nanti malam aku pulang! Sumpah!” yakin Sabiru sudah langsung membuat Calista mesem.
“Beneran nanti malam?” tanya Calista memastikan sambil tersenyum girang.
“Iya ... nanti malam aku pasti pulang ke rumah orang tua kamu,” yakin Sabiru benar-benar lembut.
“Jam berapa?” lirih Calista sambil tersenyum malu-malu. Calista bahkan refleks menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur seiring dadanya yang makin berdebar-debar.
Tak seperti sebelumnya, kali ini Sabiru tak langsung menjawab. Namun, suara menyerupai kecupan gemas, Calista dengar dan sudah langsung membuatnya terkejut. Iya, suara tadi seolah sang suami baru saja menc–iumnya.
“Secepatnya!” ucap Sabiru dan langsung membuat hati Calista meleleh.
Malu-malu, Calista yang refleks menggigit ujung kuku jari tangan kirinya, bertanya, “Itu tadi, ... Mas nyi—um, aku, ya?”
“Nah iya ... kenapa kamu enggak balas?” balas Sabiru terdengar protes.
Calista jadi tersipu, sementara tangan kirinya refleks meraih sebuah bantal guling yang perlahan ia dekap gemas. Seolah, bantal guling tersebut justru Sabiru.
“Aku balasnya pas Mas sudah pulang saja!” ucap Calista refleks memejamkan erat kedua matanya, sebelum ia justru berakhir membenamkan wajahnya di kasur. “Kok aku jadi manja gini, ya? Ya ampun, jadi geli sendiri!” batinnya.
“Yah ... jadi pengin pulang sekarang!” balas Sabiru yang juga terdengar tertawa pasrah.
“Ih, jadi segemes ini ke suami sendiri!” batin Calista yang jadi menertawakan dirinya sendiri. “Tapi Mas ....”
“Apa?” tanggap Sabiru terdengar sangat sabar.
“Bentar-bentar kabari, ya?” pinta Calista benar-benar serius.
“Kamu sering-sering WA apa telepon saja, ya. Pasti aku balas,” balas Sabiru dengan santainya.
“Iya, begitu saja. Rasanya sedih setengah mati dan sebentar-bentar pengin tahu kabar Mas,” rengek Calista. Sampai detik ini Calista belum tahu, kenapa ia bisa semanja sekarang. Namun Calista jadi berpikir, kerinduan yang membuncah juga kekhawatiran yang tak kunjung bisa ia sudahi, menjadi penyebabnya.
Pergi ke restoran, hadirnya Emran selaku pria yang menyukai Calista dan memang tukang memaksa, berakhir menjadi sasaran empuk am-ukan Calista.
“Katanya sudah nikah kok masih kerja? Memangnya suami kamu enggak kasih kamu nafkah? Sudah deh, kalau kamu memang sudah menikah dan dapatnya suami model gitu, ceraikan saja dia, terus kamu nikah sama aku. Aku jamin, kamu pasti bahagia dunia akhirat tanpa harus capek-capek kerja!” ucap Emran dengan entengnya.
Padahal sebelumnya, Calista sudah langsung mengusir Emran. Namun, pria berdarah Arab itu memang tidak beda dengan Yasnia. Sebab Emran juga akan melakukan segala cara untuk mendapatkan balasan terlebih perhatian Calista. Ditambah lagi, saking niatnya mendapatkan Calista, selama lima tahun terakhir, pria berusia tiga puluh empat tahun itu sengaja membangun butik di sebelah restoran milik Calista.
“Buuuuuukkkk!”
“Aduuuuhhh!”
Calista yang telanjur murka, kali ini memang gelap mata. Calista tak segan membant-ing Emran mengandalkan keahlian bela dirinya. Padahal dari bentuk tubuh saja, tubuh Emran jauh lebih besar.
“Pria berisik seperti kamu harusnya cepat-cepat menikah biar enggak ganggu hidup istri orang terus. Biar kamu punya kesibukan lain, dan itu jauh lebih pasti!” marah Calista itu di hadapan para karyawan sekaligus pengunjung restorannya. Sebab, kejadian kini terjadi di restoran lantai bawah.
Kegaduhan sudah langsung terjadi, tapi sebagian besar dari mereka sudah langsung simpati. Semuanya kompak membenarkan sekaligus mendukung Calista.
“Ya ampun sakit banget, Ta. Ini kayaknya aku langsung kena tulang kejepit!” rengek Emran masih meringkuk kesakitan dan tak kunjung bisa berdiri.
“Itu enggak ada apa-apanya, dari cara kamu nyinyirin hubunganku dan suamiku!” kesal Calista.
Tak mau berurusan lagi dengan Emran, Calista sengaja menugaskan satpam yang berjaga di restorannya untuk mengangkut dan membawa Emran keluar dari sana. Calista memutuskan naik ke lantai atas, ke balkon yang saat revisi sempat runtuh menjatuhi sang suami.
“Kadang suka heran, kok ada orang seperti Emran. Namun kalau dipikir-pikir, yang kayak Emran itu enggak hanya ada, melainkan banyak! Tuh, Yasnia juga sebelas dua belas sama dia. Sudah dikasih hati sama jantung, ta—i pun dia angkut!” gerutu Calista refleks mengernyit akibat matahari siang ini yang sangat terik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Sandisalbiah
mungkin bawaan Calista yg sekarang jd lebih manja krn lagi hamil tuh.. 🤔🤔🤔
2024-07-30
0
Elizabeth Zulfa
mantaaaaaaapppsssss 👏👏👏👍👍👍
2023-12-21
1
Erina Munir
orang kaya mereka mah ada aja temenya
2023-12-19
0