“Ya sudah Sayang, ... kamu duduk di situ,” ucap Sabiru ketika Yasnia sampai menarik kursi miliknya dan memang sudah siap diduduki.
Yasnia langsung bengong kebingungan, menatap tak percaya sang bos besar. “Terus, Bos duduk di mana?”
“Ini kan saya sudah duduk,” balas Sabiru dengan santainya.
“Kenapa ekspresimu sedrama itu?” heran Calista yang kemudian bersiap duduk. Tak lupa, ia sengaja membaca doa dalam suara terbilang keras.
Sabiru yang mendengar ulah istrinya, sudah langsung tersipu dan lagi-lagi memperhatikannya penuh cinta.
“Duh ... duh, duh ... enggak bener ini. Kenapa Calista sampai baca ayat kursi di air minum bekalnya? Jangan bilang kalau itu juga buat Pak Sabiru!” panik Yasnia dalam hatinya.
“Ini Mas minum dulu sebelum mulai rapat,” ucap Calista benar-benar manis ke Sabiru. Ia bahkan membantu sang suami dalam minum.
“Ya Tuhan gagal total kalau gini caranya!” batin Yasnia yang tak sadar jika kini, dirinya tengah diperhatikan oleh Calista melalui lirikan.
“Yasnia kok aneh banget ya. Perasaanku beneran enggak enak. Apalagi sekarang aku lagi puasa Senin, biasanya insting aku jadi lebih kuat. Coba nanti aku tanya-tanya ke mamah deh, takutnya air dan lap tadi emang ada apa-apanya. Belum lagi, sikap Yasnia ke Mas Bi jatuhnya kayak obsesi,” batin Calista yang kemudian menarik botol air minum bekalnya karena Sabiru sudah beres minum.
“Mas mau aku siapin pir kukusnya?” tawar Calista benar-benar tidak membiarkan Yasnia memiliki kesempatan.
Melalui ekor lirikannya, Calista memergoki Yasnia yang awalnya ia yakini akan berbicara kepada Sabiru, langsung mendengkus kecewa tak lama setelah ucapannya. Yasnia yang berdiri di seberangnya, tepat di sebelah Sabiru, tampak tidak bisa tenang sekaligus gelisah.
“Boleh, masih ada waktu sepuluh menit. Biar tenggorokanku lebih enakan. Apalagi kan sekarang kamu lagi puasa,” ucap Sabiru mulai menyalakan laptopnya.
“Memangnya, hubungan sakit tenggorokannya Mas, dengan puasaku, ... apa?” balas Calista penasaran.
Sabiru yang menatap Calista menjadi menahan tawanya.
“Ih ....” Calista tersipu karena paham, balasan sang suami tak ubahnya kode mereka sebagai suami istri.
Meski Yasnia merasa sangat panas atas kenyataan kini, wanita itu tetap berusaha memberikan perhatian kepada Sabiru. Yasnia tak segan menanyakan sakit tenggorokan yang Sabiru alami.
“Boleh enggak, sebelum rapat dimulai, biarin kami tenang?” lama-lama, Calista tidak tahan. Ia menatap marah sekaligus tak habis pikir Yasnia. “Bos kamu sedang ada istrinya. Istrinya lagi urus suaminya. Enggak sekali dua kali loh, kamu begini! Ajudan suamiku saja enggak seheboh kamu dan dia tetap hidup!” Calista ngegas.
Yasnia tentu saja tidak terima. “Ada beberapa hal yang harus saya beri tahu ke Pak Sabiru karena Pak Sabiru sudah terlalu lama tidak berangkat dan—”
“Yasnia ... Astaghfirullah kamu ya ... sudah, sudah. Istri saya juga bisa sekalian membantu pekerjaan saya. Karena selama saya tidak berangkat pun, istri saya yang membantu saya. Istri saya lulusan S2 di luar negeri. Kamu tenang saja. Kinerjanya sudah tidak diragukan karena dia saja sudah punya usaha!” tegas Sabiru sengaja memotong penjelasan Yasnia.
“Astaghfirulah ... Ya Allah ... ampuni hamba karena apa yang Yasnia lakukan bikin hamba sakit hati.” Dalam hatinya, Calista tak hentinya menyabarkan sekaligus menyemangati dirinya sendiri.
***
Seharian menemani Sabiru, akhirnya membuat Calista memiliki kesempatan berbicara empat mata dengan Yasnia. Lebih tepatnya, Yasnia yang menghampiri Calista, ketika Sabiru sedang mengajak kliennya, keliling ruang produksi.
Sabiru hanya didampingi oleh sang ajudan. Calista sengaja ditinggal karena Sabiru tak mau sang istri yang tengah puasa, kelelahan. Sementara alasan Yasnia ditinggal karena Sabiru sudah terlalu pusing dengan sikap sekretarisnya.
“Iya, silakan. Saya punya banyak waktu untuk siapa saja yang mau berpikir waras,” ucap Calista jadi degdegan. “Bismillah, andai tadi beneran air pengasih, berarti yang lainnya juga ada kemungkinan masih berkaitan,” pikir Calista.
“Saya tahu, Ibu Calista sudah tahu mengenai apa yang sebenarnya terjadi,” ucap Yasnia menatap sungkan Calista yang kali ini duduk di kursi kerja milik Sabiru.
“Mmm ...? Maksudnya bagaimana, Ibu Yasnia?” lembut Calista makin tidak nyaman. “Rasanya makin enggak nyaman saja,” batinnya.
“Mengenai perasaan saya kepada pak Sabiru!” tanpa ragu, Yasnia mengatakannya.
Detik itu juga detak jantung Calista menjadi makin kencang, selain tubuhnya yang seolah dipanggang. Padahal menjalani puasa saja, sudah membuat suhu tubuhnya menjadi panas.
“Saya mencintai pak Sabiru, bahkan ketika pak Sabiru ada di titik paling ren—dah!” tegas Yasnia lagi kali ini menatap marah Calista. “Saya bukan wanita yang tiba-tiba terima enaknya saja, tanpa tahu bagaimana membantu laki-laki berjuang! Saya juga bukan wanita yang hanya mengandalkan power keluarga untuk mendapatkan segalanya!”
“Saya sadar, saya bukan keturunan raja apalagi orang kaya. Saya juga bukan lulusan sarjana luar negeri seperti Anda!” lanjut Yasnia kali ini berkaca-kaca menatap Calista.
“Kamu sakit?” Sesingkat itu Calista membalas Yasnia dan langsung membuat yang bersangkutan menggeleng cepat, tentu saja itu menepis pertanyaan sekaligus anggapannya.
“Saya hanya sakit ketika melihat kalian berduaan!” tegas Yasnia.
Yang paling membuat Calista syok, Yasnia tak segan memohon agar diizinkan menjadi madunya. Calista sudah langsung syok, tapi karena itu juga, Calista akhirnya merasakan apa itu yang dinamakan cemburu.
“Izinkan pak Sabiru menikahi saya karena saya akan membuat pak Sabiru menjadi laki-laki paling bahagia, setelah beliau menikahi saya!” tegas Yasnia.
Di tengah tubuhnya yang menjadi gemetaran hebat dan rasanya sangat tak karuan, Calista berkata, “Coba sekarang posisinya dibalik.”
“Maksudnya?” sergah Yasnia tak sabar.
“Kamu yang ada di posisi saya, saya yang memaksa kamu membuat suami kamu menikahi saya!” tegas Calista.
Tanpa pikir panjang, Yasnia langsung berkata, “Tentu saya akan mengizinkan, apalagi dalam agama kita, seorang suami boleh memiliki istri lebih dari satu. Dalam agama kita, seorang laki-laki boleh berpoligami. Sementara bagi istri yang mau dipoligami, ALLAH akan memberinya surga!”
Sadar Calista akan menyela balasannya, Yasnia buru-buru berkata, “SEMENTARA BAGI PARA WANITA YANG MENOLAK DIMADU APALAGI MEMILIH MENGHALANG-HALANGI PERNIKAHAN SUAMINYA YANG MENJADI BAGIAN DARI IBADAG, NERAKA AKAN DIA DAPATKAN SEGERA!”
Dengan santai, Calista mengangguk-angguk kemudian tersipu. “Oke ... saya doakan Anda, Ibu Yasnia segera menikah dan dipoligami oleh suami, agar Ibu Yasnia mendapatkan atau itu masuk surga, seperti cita-cita sekaligus impian Ibi Yasnia, ya. Bismillah, ... AMIN.”
“Ibu Calista, tolong yang serius. Ini saya tidak sedang bercanda!” marah Yasnia.
“Kenapa kamu justru marah-marah kepada saya? Kamu sadar, kamu siapa? Kamu sadar, apa yang kamu lakukan lancang bahkan KUR—ANG AJAR?!” Calista benar-benar geram. Dadanya bergemuruh menahan amarah yang telanjur pecah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Sandisalbiah
nah.. niat banget jadi pelakor malah sok²an menasehati pake dalih surga neraka.. ngaca bu... situ tau agama tp pergi kedukun minta air pengasihan buat melet si Sabiru.. lupa kalau kelakuan situ itu bisa menyeret anda ke neraka..?? kelakuan situ yg terang² niat banget buat jd pelakor aja udah termasuk dosa.. hais.. dasar gak waras kau Yasnia.. 🙄😏😏😏
2024-07-30
0
Mas Lucky
rajin puasa kayak mama chole.hebatt
2024-05-01
0
Alanna Th
emang yakin pk sabiru mau sama kamu? ih, sama aja dg bunuh diri
2024-04-17
0