Keesokan harinya, Calista datang ke kantor Sabiru lagi. Kali ini Calista tak hanya datang sendiri. Karena selain bersama sang suami, Calista juga ditemani oleh sang papah dan Aqwa. Seperti yang kita ketahui, Aqwa merupakan anak dari Kim—kakak Calista. Aqwa terlahir sebagai indigo yang sejak lahir sudah dijaga oleh leluhur keluarga mereka. Jadi, jangankan melihat hal gaib seperti hantu, mengusirnya saja, Aqwa bisa.
“Aqwa beneran bisa lihat yang begitu?” bisik Sabiru kembali menempati kursi rodanya. Di sebelahnya, sang istri yang menggandengnya juga langsung mengangguk.
“Papah juga, tapi Mas Aqwa ibarat pawangnya para makhluk astral,” balas Calista berbisik-bisik juga.
Detik itu juga, Sabiru menatap punggung jemari tangannya. “Merinding!” bisiknya.
“Jangan dibahas Mas. Soalnya daripada berurusan sama yang tak kasatmata, aku lebih milih gelud sama bag—al!” balas Calista.
“Kan kamu memang jago bela diri. Kalau aku sih, mending enggak milih dua-duanya. Aku milih sama kamu saja,” balas Sabiru yang langsung membuat Calista tersipu.
“Kalau pilih sama aku, berarti Mas siap ikut gelud sama bega—l!” ucap Calista berakhir tertawa kecil.
Di depan Calista dan Sabiru, pak Helios yang menggandeng Aqwa sampai menoleh gara-gara kehebohan anak dan menantunya.
“Papah hafal ruangannya?” tanya Sabiru benar-benar santun.
Pak Helios langsung tersenyum kemudian mengangguk-angguk. “Iya. Masih, meski terakhir ke sini, sekitar dua bulan lalu. Apa memang sudah ada perubahan?” ucap pak Helios sambil tetap menggandeng Aqwa.
Sabiru berangsur menggeleng. “Belum, Pah. Belum ada perubahan dan memang belum ada yang perlu diubah,” balasnya masih sangat santun.
Pengawal Sabiru yang memimpin langkah, segera membuka lift di depan mereka dan memang menjadi tujuan mereka.
“Opa, nanti habis dari sini, aku mau beli roti rasa cokelat dan juga yang rasa stroberi kesukaan Asih. Kan besok, aku sama papah mamah pulang,” pinta Aqwa. Bocah berusia sembilan tahun itu menatap sang opa dengan sangat memohon.
Opa Helios segera mengangguk sambil tersenyum hangat menatap Aqwa. “Nanti sekalian beli oleh-oleh lain juga buat Asih.”
“Mas Aqwa kalau ke Asih baik banget. Aunty juga mau dong, dikasih hadiah sama Mas Aqwa,” protes Calista.
“Aunty kan sudah ada Uncle Sabiru. Mintanya ke Uncle lah,” balas Aqwa.
Walau sempat langsung salah tingkah, Calista tetap meminta Aqwa untuk memberinya hadiah. Lain dengan Sabiru yang jadi sibuk tersipu.
“Cara pikirnya lebih dewasa ketimbang Rain,” bisik Sabiru sambil mengelus-elus tangan kanan Calista yang sampai detik ini masih ia genggam.
“Nanti kalau mas Rain sudah nikah, dia juga kalem,” ucap Aqwa dan langsung membuat Sabiru terkejut bertepatan dengan pintu lift yang akhirnya terbuka.
“Anak indigo, Mas. Jangankan bisik-bisik, suara hati kita saja, dia tahu,” yakin Calista.
“Awalnya aku enggak percaya, tapi sekarang aku sudah membuktikannya sendiri kalau ternyata, anak Kim memang sesakti ini. Pantes sekelas uncle saja selalunya sungkem kalau ketemu Aqwa,” batin Sabiru.
Karena kemampuan Aqwa juga, bocah itu bisa melihat wujud asli Yasnia yang sudah langsung menyambut kedatangan mereka, dengan senyum palsu.
Yasnia yang awalnya duduk di kursi kerjanya, sampai sengaja menghampiri Aqwa agar terkesan akrab bahkan penyayang kepada anak kecil.
“Biar Pak Sabiru makin terpesona ke aku!” ucap Yasnia dalam hatinya.
“Memangnya kamu sudah sesadar itu, kamu enggak laku, makanya kamu sengaja goda-goda Uncle Sabiru. Emang boleh, semura—han itu? Uncle Sabiru sudah menikah. Uncle Sabiru hanya untuk Aunty Calistaku. Kamu ya!” sinis Aqwa pada Yasnia yang masih agak membungkuk di hadapannya.
Detik itu juga Calista, pak Helios, apalagi Sabiru terdiam menatap Yasnia.
“Nih bocah, apa maksudnya? Dia bisa tahu isi hati aku? Ah masa ... bercanda ah!” batin Yasnia berusaha bersikap setenang sekaligus sesantun mungkin agar mereka yang di sana tidak curiga.
“Enggak bisa mengelak pokoknya kalau mas Aqwa sudah maju,” batin Calista.
“Mas Aqwa lihat apa? Ayo cerita ke Uncle,” lembut Sabiru jadi makin penasaran. Benarkah Yasnia telah main guna—guna yang bisa merugikan hubungannya dan Calista.
Aqwa masih menatap saksama Yasnia. Ia dapati, ada sosok wanita cantik dan juga sosok laki-laki berwajah seram yang mengawal Yasnia.
“Kamu boleh saja memakai pengasih, tapi jangan sampai itu kamu kerahkan melebihi takdir yang Allah gariskan. Malu dengan penampilanmu, dan kamu akan berurusan dengan saya, jika kamu kembali mengusik putri saya maupun rumah tangganya dan bos kamu!” semprot pak Helios yang memang bisa melihat apa yang Aqwa lihat.
“Hah ...?” batin Yasnia tak berkutik dan memang sudah langsung merasa diadili. Yasnia yakin, pak Helios bisa melihat hal gaib. Begitu juga dengan Aqwa yang masih saja mengawasi sekitar.
“Kalian kalau lapar, jangan mau disuruh-suruh bos kalian. Disuruh kalau hasilnya enggak sesuai kan belum tentu dikasih makan. Jadi, mending kalian makan bos kalian saja, ketimbang capek-capek kerja, tapi imbalan belum jelas!” ucap Aqwa yang memang bisa berpikir lebih dewasa melebihi usianya.
“Yasnia, bisa tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?” sergah Sabiru langsung kesal dan tidak bisa menundanya.
“Pak, saya ...,” ucap Yasnia berusaha mengelak. Jantungnya berdetak sangat cepat karena keadaan kini.
“Kalau kamu masih mengelak, saya akan pecat kamu dengan tidak hormat!” tegas Sabiru makin emosi. “Saya bisa masukin kamu ke data hitam karyawan, agar tidak ada lagi perusahaan yang mau terima kamu!”
“Hah ...? Ini sebenarnya ada apa sih? Mereka beneran tahu kalau aku ...?” batin Yasnia.
“Meski bapak kamu dukun, Opaku pawangnya dukun dan aku pawangnya makhluk tak kasatmata. Kalau kamu enggak percaya, bentar.” Aqwa berusaha mengarahkan kedua makhluk tak kasatmata yang mengawal Yasnia.
“Cubit Yasnia sampai gosong. Habis itu, kamu dorong dia sampai jatuh!” titah Aqwa.
Yang laki-laki berwajah seram langsung mencubit lengan kiri Yasnia hingga Yasnia yang tak bisa melihat sosok pengawalnya, menjerit kesakitan. Sementara yang wanita cantik bertubuh ular, segera mendorong Yasnia hingga Yasnia berakhir tersungkur.
Pemandangan tersebut sudah langsung membuat Sabiru muak. “Sudah, kemasi saja semua barang-barang kamu. Saya sudah tidak butuh karyawan seperti kamu lagi!” tegas Sabiru sudah langsung membawa Calista masuk ke ruang kerjanya.
Tak ada yang menolong Yasnia. Bahkan itu Aqwa yang mengabarkan pada Yasnia bahwa warna hitam bekas cubitan si sosok pria seram, baru akan hilang, sekitar satu minggu lagi.
“Pak Sabiru ... saya minta maaf, Pak. Pak, saya benar-benar minta maaf!” heboh Yasnia ketakutan. Meski masih kesakitan bekas cubitan sosok tak kasatmata, maupun dorongan yang membuat ya jatuh, Yasnia tetap menyusul Sabiru.
Yasnia memohon-mohon sambil berlutut sekaligus menangis. Malahan kepada Calista, Yasnia sampai bersujud, mohon bantuan sekaligus memohon ampun.
“Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kami ingin mendengar kejujuran yang sebenarnya, dari kamu secara langsung. Karena andai kamu tidak melakukannya, kami yang sudah tahu semuanya, benar-benar akan menuntut kamu!” tegas Calista dan makin membuat Yasnia kocar–kacir.
“Ya Gustiiiii, gimana iniiiiii?” batin Yasnia kembali tersedu-sedu. Sampai detik ini, ia masih berlutut di hadapan Calista. Ia sangat berharap Calista memberinya kesempatan. Terlebih harus ia akui, selain posisi kerjanya di sana yang sudah mentereng, gaji yang ia terima juga terbilang sangat besar.
***
Novel Aqwa : Teror Tak Kasatmata
Novel orang tua Aqwa : Saling Cinta Setelah Menikah
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
anikbunda lala
tak kira aqwa ....... ternyata imut2
2024-11-09
0
Sandisalbiah
menjatuhkan Yasnia sampai ke dasar bumi ini mah... sok main dgn yg gaib, gak tau aja Calista punya pawangnya... Aqwa keren..
2024-07-30
0
Al Fatih
hehehe d sini mas aqwa masih imut2 yaa,, padahal aq sdh baca kisah cinta mas aqwa dan mbak asih,, sungguh mengharu biru.....
2024-06-20
0