“Jadi setelah ini, rencana kalian apa, selain bulan madu?” tanya Rain masih senyum-senyum sendiri memandangi kedua sejoli di hadapannya. Namun alasannya sulit berhenti tersenyum, tentu karena Calista yang tak hentinya salah tingkah. Calista tampak malu-malu kucing. Padahal sedari kebersamaan mereka, Calista sampai menyuapi sekaligus membantu Sabiru minum.
“Punya anak.” Sangat bahagia, Sabiru berangsur menatap sang istri penuh cinta.
“Ehm ....” Calista sengaja berdeham sembari membereskan piring dan juga semua bekas makan mereka.
Detik berikutnya, Rain langsung tertawa. Bagi Rain, ekspresi gugup Calista sangat lucu sekaligus menggemaskan. “Gimana Mas Sabiru enggak makin klepek-klepek lah, Mbak!”
Seperti sebelumnya, jika digod—a tentang Sabiru dan itu di depam Sabiru, yang ada Calista akan sibuk berdeham.
“Istrimu loh, Mas!” heboh Rain terpingkal-pingkal.
“Istriku anak dari papahnya daddy kamu. Ingat itu!” semprot Sabiru. Kini, sambil menahan tawanya, ia sengaja berkata, “Jangan macam-macam ke anaknya papah Helios!”
“Hahahahahhah!” Rain benar-benar tertawa lepas.
“Sayang, jangan kamu yang bawa. Itu kasih ke Rain saja, biar dia yang cuci,” ucap Sabiru sengaja menghentikan kesibukan sang istri.
“Apaan, ih Mas. Masa iya, aku disuruh kerja rodi terus?” balas Rain jadi sewot.
Sabiru berangsur menatap Rain. “Kerja rodi apaan? Masa iya aku harus minta kamu balikin setiap transferan dari aku?”
Balasan dari Sabiru langsung membuat Rain tersenyum tak berdosa. “Tapi masa iya, kalian beneran enggak mau pakai orang buat bantu-bantu? Mohon maap, nih. Ini aku sarjana luar negeri, tapi masa jadi ibarat jadi panci seba guna kamu, Mas? Cukup telepon apa WA, aku wajib ada. Berasa jin atau malah seling-kuhan kamu, kalau gini caranya!”
“Sudah, ... sudah. Sekarang kamu sudah kenyang, kan?” ucap Sabiru tak mau sang istri makin salah tingkah gara-gara dig*oda Rain.
“Aku menghirup, aroma-aroma pengusiran tanpa hormat apalagi sampai diadakan upacara,” ucap Rain tak berdosa sambil menghabiskan sisa air minum di gelasnya. Sebab keputusannya mengganggu pasangan baru di sana makan siang, membuatnya mendapatkan jatah satu porsi utuh. Jadi, Sabiru dan Calista tak hanya makan sepiring berdua dan itu Calista yang menyuapi. Karena untuk sekadar minum pun, Calista dan Sabiru menggunakan gelas yang sama.
“Kamu bilang, siang sampai sore menjelang malam, kamu free. Urus pemasangan CCTV, ya? Aku sama Lista mau istirahat dulu. Sesantai-santainya di rumah sakit, di rumah sendiri kan lebih nyaman,” ucap Sabiru.
“Bilang saja mau pacaran atau malah mau langsung otewe bikin anak!” sinis Rain sambil memboyong piring sekaligus sisa nasi di penanak nasinya.
Disindir begitu, Sabiru langsung tertawa riang.
“Senang banget pokoknya!” sinis Rain meski ia sudah melangkah pergi. Namun bisa ia pastikan, Sabiru dan Calista yang ia tinggal, masih bisa mendengarnya.
“Yang ingin punya anak beneran serius. Aku mau langsung punya anak karena sekarang saja, usiaku sudah tiga puluh tiga tahun,” lembut Sabiru sambil berusaha menatap wajah apalagi kedua mata Calista. Namun karena pembahasan anak yang ia lakukan, sang istri jadi sibuk menepis tatapannya, selain Calista yang justru terus menunduk.
“Suttttt ....” Sabiru berbisik-bisik memberi kode keras, sambil menggunakan tangan kirinya untuk mengelus punggung tangan kanan Calista yang baru saja ia raih di pangkuan wanitanya itu.
Mengandalkan ajian nekat, Calista yang jadi sangat deg-degan bahkan panas dingin, memaksakan diri untuk menatap sang suami.
“Enggak usah takut, Mbak. Mas Biru nyer*ang, kamu balas bahkan bila perlu berkali-lipat, biar Mas Biru makin klepek-klepek!” ucap Rain yang kembali datang untuk mengangkut sisa bekas makan siang mereka.
Detik itu juga Calista mendadak batuk-batuk, tapi sengaja bersembunyi di balik punggung sang suami.
Lain dengan Calista, Sabiru malah tersipu seiring tangan kanannya yang makin mengelus mesra tangan kanan Calista yang masih ia genggam. Kemudian, yang ia lakukan ialah membawa Calista pergi dari sana.
“Serius?” lirih Calista sambil melirik Sabiru malu-malu dan memang sudah langsung mengajaknya masuk kamar.
Sabiru langsung mengangguk-angguk sambil tersenyum ceria membalas Calista yang baru saja duduk di pinggir tempat tidur mereka, nyaris di hadapannya.
“Emang bisa? Mas masih sakit loh,” ucap Calista lagi, tapi sang suami malah menertawakannya.
“Kamu beneran tinggal terima beres!” yakin Sabiru.
“Ih Mas apaan, sih? Andai pun harus aku yang mulai, ini kan yang pertama, enggak kebayang sakitnya gimana!” serius Calista dan untuk kali ini, sang suami juga jadi serius.
“Berarti, kamu sudah paham gimana caranya?” serius Sabiru, tapi yang ada Calista mendadak naik ke tempat tidur kemudian membenamkan wajah ke kasur sudut seberang.
“Heh, kamu kenapa!” Sabiru tidak bisa untuk tidak tertawa, tapi ia sengaja membuat kursi rodanya memutari tempat tidur mereka, hingga ia berakhir di sebelah wajah Calista.
“Kalau kamu kabur-kabur terus, kapan mau mulai?” lirih Sabiru sambil mengelus mesra pipi sang istri.
Malu-malu, Calista memberanikan diri untuk membuka mata kemudian menatap Sabiru. “Enggak tahu kenapa rasanya aku, ... jadi malu banget, Mas Bi!” rengeknya benar-benar manja.
Sabiru langsung menahan tawanya sambil menggeleng tak habis pikir. Ia yang sampai detik ini masih menatap Calista penuh cinta jadi bingung. “Sebenarnya kamu ini mirip siapa, ya? Kok bisa pemalu begini? Mamah kamu, enggak. Lebih-lebih papah Helios, beliau bisa lebih berisik dari Rain!”
Calista tak kuasa membalas, tapi lagi-lagi, ia memberanikan diri untuk menggerakkan kedua tangannya. Menggunakan kedua tangannya itu, ia membingkai wajah Sabiru yang langsung menyambutnya dengan senyum lembut.
Di tengah kedua mata mereka yang terus bertatapan dalam, Calista nyaris kehilangan kewarasan ketika bibir Sabiru dengan sangat santun menguasai bibirnya. Sesap*an bahkan gigi*tan lembut yang Sabiru lakukan perlahan membuat Calista terbiasa. Termasuk ketika tangan kiri Sabiru berusaha membuka jilbab Calista, Calista yang sempat kebingungan, canggung, sekaligus malu, dan semua itu sempat membuat Calista bengong, juga menjadi berinisiatif membantu melepas jilbabnya.
“Istriku secantik ini ... Masya Allah ...,” lembut Sabiru sengaja memuji istrinya yang detik itu juga langsung tersipu.
Meski ketika Sabiru mulai mengungkung tubuh Caliata, Calista dengan sigap menggunakan kedua tangannya untuk mempermudah Sabiru. Malahan sepanjang itu, Calista kerap berbisik, meminta Sabiru hati-hati agar tangan kanan dan juga kaki kanannya, tak makin terluka.
Sementara itu, di depan ruang tamu selaku ruang pertama di kediaman Sabiru dan Calista, Yasnia yang berdiri menyandar pada pintu, menatap sedih foto bayi laki-laki di sana. Foto yang merupakan foto Sabiru dan memang bersebelahan dengan foto bayi perempuan yang tak lain foto Calista ketika masih bayi.
“Meski kita ibarat langit dan bumi, aku enggak akan nyerah karen alasan Tuhan menciptakan langit dan bumi karena memang mereka ditakdirkan bersama, menjadi satu kesatuan,” sedih Yasnia dalam hatinya.
Sejak itu juga, selain Sabiru yang makin perhatian sekaligus mesra, Calista justru kerap melakukan kesalahan karena terlalu gugup sekaligus malu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Sandisalbiah
jd khawatir kalau Yasnia ini bakal berbuat nekat buat mendapatkan Sabiru.. dia nih tipe org yg bakal menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai... serem
2024-07-30
0
Al Fatih
yas....yas....,, koq semakin ngeri yaa,, bener bumi langit tuh sepasang,, jadi ga boleh ad yg lain,, tuh mas biru sdh ad pasangannya mbak Calista,, jadi harusnya ga boleh ad yg lain....
2024-06-20
0
Sugiharti Rusli
harus mulai dibiasakan Ta, dan kurangi rasa gugupnya
2023-12-12
2