Satu bulan lebih telah berlalu, dan keadaan Sabiru makin membaik. Kaki kanan Sabiru mulai bisa berjalan lebih banyak, meski tak lagi memakai tongkat bantu dalam berjalannya.
“Masalahnya Mas belum lepas pen. Jalannya tetap wajib hati-hati, terus kalau bisa, tetap wajib pakai kursi roda juga,” ucap Calista benar-benar cerewet.
Calista yang awalnya akan memakai jilbab segi empat warna pink salem, sengaja menundanya. Wanita itu melangkah cepat melewati sekaligus mendahului sang suami yang baru keluar dari kamar mandi.
Sabiru yang memang baru beres mandi, sudah langsung pasrah menunggu sang istri melakukan segala sesuatunya, kepadanya. Calista mengambilkan dasi sekaligus jas Sabiru dari gantungan di ruang sebelah dan merupakan tempat keberadaan lemari pakaian, tas, maupun sepatu koleksi mereka.
“Sepatunya mau pakai yang di sini, apa di depan, Mas? Aku bawakan kaos kak warna hitam juga, ya!” Kali ini Calista sampai berseru mengingat jarak mereka yang memang terbilang jauh bahkan sampai tersekat ruangan, meski mereka masih sama-sama di dalam kamar.
“Sepatunya yang di ruang tamu saja,” balas Sabiru benar-benar lembut. Malahan kini, ketika ia baru mengucapkan beberapa kata, Calista sudah tembus ratusan bahkan nyaris ribuan.
Membaiknya keadaan Sabiru memang dibarengi dengan perhatian Calista yang sampai membuat wanita cantik itu jadi cerewet. Tak ada lagi jaim atau itu malu-malu. Meski sampai detik ini, Calista tetap tidak bisa mengakhiri ketegangannya, di setiap dirinya sedang bersama Sabiru. Terlebih, sekadar menatap sekaligus berkomunikasi dengannya saja, Sabiru selalu melakukannya penuh cinta. Kenyataan tersebut juga yang membuat Calista selalu menghabiskan waktunya dengan dada berdebar-debar.
Melihat gerak-gerik Calista yang sampai menuntun Sabiru untuk lebih dekat ke meja rias, Sabiru sudah bisa menduga arah tujuan istrinya. Apalagi ketika wanita yang sangat ia cintai itu sampai naik ke kursi rias kemudian memasang dasi di kerah kemeja slim fit warna abu-abu Sabiru. Setelah sempat tersipu, Sabiru juga berakhir terkekeh.
“Alternatif baru?” lembut Sabiru.
Calista merengut manja menatap kilat kedua mata Sabiru, sebelum akhirnya kembali fokus dengan proses pemasangan dasi yang dipasang. “Soalnya Mas enggak mungkin angkat kursi rias ini ke tempat lain. Sementara tinggi kita cukup terpaut, dan aku juga enggak mungkin bikin Mas membungkuk sangat lama.”
“Jangankan angkat kursi rias, angkat kamu saja, aku masih kuat, kan?” balas Sabiru sukses membuat Calista tersipu.
“Kamu dandan secantik ini mau ke mana?” lanjut Sabiru masih sangat betah memandangi wajah cantik istrinya yang sebenarnya tak sampai memakai bedak. Calista benar-benar hanya memoles wajahnya dengan pelembab, selain lipstik warna merah bata yang menghiasi bibirnya.
“Dandan cantik apa? Basa saja ih,” balas Calista kali ini protes.
“Oh iya, lupa. Istriku kan sudah terbiasa cantik!” balas Sabiru benar-benar manis.
Setelah sempat tersipu, Calista yang sudah beres memasang dasi Sabiru, memberanikan diri untuk menatap kedua mata bermanik mata biru milik suaminya. “Nah itu Mas tahu, kalau istri Mas sudah terbiasa cantik!”
Merasa agak geli tapi cenderung bahagia, Sabiru berangsur menahan tawanya. Setelah membiarkan Calista membantunya memakai jas, ia sengaja mendekap tubuh Calista, dengan dekapan yang sangat hangat. Dekapan yang ia harapkan akan membuat waktu berhenti berputar agar mereka bisa seperti itu lebih lama.
“Senyaman ini ... tahu begini, dari dulu aku mau diajak nikah sama kamu, Mas!” batin Calista tersenyum lembut sembari membalas pelukan hangat suaminya, yang memang akan memperlakukannya penuh cinta.
“Kamu bahagia?” tanya Sabiru sambil menatap kedua mata Calista, tanpa membuat kedua tangannya mengakhiri dekapannya.
Meski malu-malu, Calista yang jadi tidak berani menatap kedua mata Sabiru secara terang-terangan, berangsur mengangguk. “Banget, Mas!”
“Alhamdullilah ... kenapa kita enggak nikah dari dulu saja? Kalau dari dulu kan, anak kita sudah banyak!” heboh Sabiru.
“Sebanyak apa? Memangnya Mas mau punya anak berapa?” balas Calista.
“Cukup dua atau tiga saja sih. Enggak usah banyak-banyak. Keluarga kita sama-sama banyak, aku yakin kamu tahu alasannya. Soalnya setelah melihat keadaan keluarga kita, aku jadi mikir, ... sebenarnya kita juga masih kekurangan kasih sayang orang tua. Karena banyak saudara juga harus rela berbagi kasih sayang mereka. Kita enggak bisa memaksa orang tua kita buat hanya fokus ke kita.”
Mendengar itu, kedua mata Calista menjadi berkaca-kaca. Ia tersenyum menatap Sabiru kemudian mengangguk setuju.
“Terus yang tadi, ini kamu mau pergi kerja juga ke restoran?” lanjut Sabiru.
“Ke restoran nanti saja kalau Mas sudah mendingan,” balas Calista yang berangsur meninggalkan Sabiru. Ia meraih jilbab segi empatnya, kemudian memakainya.
“Terus?” balas Sabiru menatap Calista dari pantulan cermin di hadapan mereka.
“Aku mau temenin Mas!” balas Calista dan detik itu juga langsung membuat Sabiru tersipu. Mereka bertatapan melalui pantulan mereka di cermin rias.
Keadaan Sabiru yang belum sepenuhnya normal, membuat Calista mengesampingkan kepentingannya, termasuk itu dalam mengurus restoran. Karena apa pun akan Calista lakukan, asal dirinya bisa memastikan suaminya baik-baik saja.
***
Kedatangan Sabiru ke kantor yang ditemani Calista, langsung menyita perhatian di sana. Setelah satu bulan lebih absen kerja secara tatap muka, kini datang-datang ditemani wanita cantik. Wanita cantik yang disinyalir merupakan istri.
Padahal awalnya, karyawan di perusahaan sekaligus pabrik Sabiru berpikir, Sabiru akan menikah dengan Yasnia. Apalagi sejauh ini, Yasnia sendiri yang membuat pemikiran tersebut ada. Karenanya, kini mereka jadi kompak meminta pertanggung jawaban kepada Yasnia. Akan tetapi berbeda dari biasanya, kini Yasnia justru langsung melongos memasang wajah sebal, sebelum mengikuti kepergian Sabiru.
Hari ini, selain ditemani Calista, Sabiru juga kembali dikawal secara khusus oleh sang ajudan yang juga merangkap menjadi sopir Sabiru.
“Mas, nanti aku minta keripik tahu yang pedas, ya!” Bisik Calista masih membiarkan tangan kanannya digandeng Sabiru.
Sabiru yang memang duduk di kursi roda mengikuti arahan Calista, refleks menatap Calista penuh cinta. “Nanti kita ke tempat produksi. Kamu pilih-pilih mau makan yang mana, ya?” lembutnya. Kelembutan yang justru sangat menyakitkan untuk Yasnia.
Calista sudah langsung tersenyum girang membalas Sabiru.
“Maaf Ibu Calista. Selain karyawan, dilarang masuk ke ruang rapat!” tegas Yasnia ketika Calista tetap melenggang santai memasuki ruang rapat menyertai Sabiru.
Detik itu juga tangan kanan Sabiru yang tak lagi diperban, menekan tombol berhenti di kursi roda elektriknya. “Ibu Yasnia, Nyonya Calista memang bukan karyawan di perusahaan ini. Namun statusnya sebagai istri saya, dengan kata lain, beliau juga bos di perusahaan ini. Intinya, apa pun yang dilakukan Nyonya Calista, biarkan saja karena saya saja tidak keberatan!” tegas Sabiru tanpa sedikit pun melirik Yasnia yang masih berdiri di belakangnya.
Yasnia langsung ketar-ketir tanpa bisa menjawab dan memang tidak berani.
“Si Yasnia beneran naksir suamiku apa gimana? Parahnya, dia tetap begitu meski tahu aku dan Mas Biru sudah menikah?” pikir Calista yang memergoki perhatian berlebihan Yasnia kepada Sabiru.
Setelah ditegur oleh Sabiru karena melarang Calista masuk ke ruang rapat, Yasnia buru-buru masuk ke ruang rapat. Menggunakan semprotan yang dikeluarkannya dari dalam tas kerjanya secara buru-buru, Yasnia membersihkan meja bagian ujung maupun kursinya dan di sana ada papan nama : Sabiru (CEO).
“Itu semprotan apa, ya? Kelihatannya sengaja tanpa merek dan perasaanku sebagai seorang istri kok jadi enggak enak,” batin Calista yang diam-diam mengawasi kesibukan Yasnia.
Semprotan yang ukurannya bisa diisi cairan setengah liter lebih, buru-buru Yasnia masukan ke dalam tas bersama kain lap berwarna putihnya. Kain yang bahkan mirip kain mori. Alasan yang juga membuat insting Calista sebagai seorang istri, jadi sangat tidak nyaman.
“Ibu Yasnia hanya membersihkan bagian situ saja? Kenapa yang lain tidak? Terus, maaf sebelumnya. Itu tadi cairan apa yang buat semprot-semprot?” tanya Calista sengaja menghampiri Yasnia, ia sampai meninggalkan Sabiru.
“Astaga si belatung nangka ini, ngapain tanya-tanya gitu sih! Jangan sampai dia macam-macam ke air dan lap pengasihan punyaku. Kalau sampai iya, Pak Sabiru pasti makin sulit aku kendalikan!” batin Yasnia makin gelisah tanpa berani menatap Calista.
(Beberapa penulisan sengaja dia—kali biar acc—nya lancar dan enggak sampai baru lolos besok, ya)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Sandisalbiah
tuh kan.. udah mulai gak wajar ini mainnya si Yasnia.. main jampe² dia pake air pengasihan lagi.. gila nih cewek... kedukun larinya.. dasar gak normal 🤦♀🙄😏😏
2024-07-30
0
sherly
wiiih mulutnya yasnia nih perlu dicabein...
2024-07-29
0
Al Fatih
yas....yas kau maen jahat ya ternyata,, blm tau dia mbak Calista anaknya papa Helios nih bukan keluarga sembarangan
2024-06-20
0