“Logikanya, jika tidak merasa memiliki power, harusnya Yasnia enggak senekat ini. Harusnya Yasnia enggak punya kepercayaan diri buat menghadapi apalagi sampai menantang aku. Kalau gini caranya, aku makin yakin, dia memang main guna-guna. Dari semprotan tadi, juga kenyataan Mas Bi yang jadi enggak tegaan ke dia. Bisa jadi, andai Mas Bi sampai meninggalkan ibadan, Mas Bi pasti sudah tunduk ke Yasnia,” pikir Calista. “Aku harus menyelesaikan ini segera karena pengaruh guna-guna biasanya sangat fatal. Kasihan Mas Bi, selain hubungan kami yang memang dipertaruhkan.” Dalam hatinya, Calista bertekad menyudahi ulah Yasnia.
“Begini yah, Ibu Yasnia. Sebelum dan sesudahnya, saya benar-benar meminta maaf jika apa yang saya lakukan telah menyakiti Ibu Yasnia. Dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya benar-benar minta maaf. Namun perlu saya tekankan, apa yang Ibu Yasnia sementara saya bahkan merupakan bos Ibu, sudah sangat kelewatan. Ibu Yasnia ini sangat kura—ng ajar!”
Yasnia langsung merengut bahkan menatap bengis wanita cantik yang sampai detik ini masih duduk tenang di kursi kerja seorang Sabiru.
“Dan akan saya tekankan untuk terakhir kalinya, mengingat saya hanya akan memberi waktu kepada orang waras, ... alasan saya menikah sekaligus memiliki suami bukan untuk dibagi-bagi apalagi digi—lir, meski di agama kita, seorang suami diperbolehkan memiliki istri lebih dari satu layaknya dakwah dadakan yang tadi sempat ibu Yasnia lakukan kepada saya. Sementara mengenai surga dan neraka, biarlah itu menjadi urusan saya dengan Tuhan saya. Tidak perlu bawa-bawa ibadah, agama, maupun Tuhan, kecuali jika saya sudah mencuri apalagi melakukan hal yang lebih fatal,” ucap Calista dengan gaya yang begitu elegan. Tak ada lagi amarah, selain doa dan wirid yang detik itu juga Calista lakukan di dalam hatinya. Sebab Calista tahu, melawan kekuatan atau itu pengaruh guna-guna hanya dengan doa sekaligus kuasa Alloh yang akan menolongnya. Malahan jika diladeni, bisa jadi justru Calista yang jadi terkesan bobr—ok.
“Sudah, ini beneran sudah hanya begini? Duh, andai si Calista enggak puasa dan minum air dariku, pasti dia bakalan tunduk ke aku seperti pak Sabiru. Meski selama ini juga, efek pak Sabiru masih mau menjalani ibadah sekaligus ingat agama dan Tuhannya, guna-guna dariku enggak terlalu berpengaruh,” batin Yasnia makin jengkel lantaran Calista justru mengeluarkan ponsel dan memutar surat yasin.
“Bu Calista, saya belum selesai bicara loh!” tuntut Yasnia yang kemudian berkata, “Ya sudah, nanti kalau sudah buka puasa, Ibu langsung minum air minumnya sekaligus nasi bentonya.”
“Sabar ... sabarrrr ...,” batin Calista sengaja cuek kepada Yasnia.
Seperginya Yasnia yang sangat emosional, Calista sengaja membuang segelas air minum, dan juga makanan di nampan yang Yasnia kirimkan.
“Ke bos saja nyuruh–nyuruh gitu. Aku disuruh minum sama makan yang dia siapkan. Dikiranya aku bo—doh.” Air minumnya Calista tuang ke wastafel kamar mandi. Sementara makanan termasuk potongan buahnya, sengaja Calista tuang ke tong sam—pah. Selain itu, Calista juga kepikiran air semprot milik Yasnia.
“Aku juga harus buang itu!” batin Calista bergegas keluar dari ruang kerja Sabiru.
Kebetulan, ruang kerja Yasnia hanya berupa meja konter yang keberadaannya persis di sebelah pintu ruang kerja Sabiru. Yang mana, ternyata Yasnia juga tidak ada di sana dan tasnya pun ditinggal di sana begitu saja.
Diam-diam Calista mengambil semprotan maupun lapnya. Terlebih dulu, isi air semprotnya Calista tuang ke wastafel. Kemudian, Calista juga sampai mencuci botolnya menggunakan sabun cuci tangan.
“Biar pengaruh guna-gunanya hilang!” pikir Calista sangat bersemangat. Terakhir, ia menaruh lap maupun botol semprotnya ke tong sam—pah.
Namun, Calista yang tak mau meninggalkan jejak, sengaja mengambil kantong sam—pah berisi semua buangannya. Calista sengaja membuang langsung ke lantai dasar, menaruhnya di truk sam—pah yang kebetulan baru datang dan langsung mengangkut. Saking bahagianya karena barang bukti akhirnya langsung dibawa pergi, Calista sampai memberi tukang sam—ahnya uang tips.
Adzan magrib sudah usai, tapi Calista masih tersenyum riang melepas kepergian truk samp—ah yang membawa barang bukti kejahatan Yasnia.
Sabiru yang sejak sebelum adzan magrib sudah datang ke ruang kerjanya, sudah panik karena sang istri tak kunjung pria itu temukan.
“Jangan-jangan, setelah buka puasa, si Calista langsung linglung atau malah setre—s? Kalau memang iya, berarti guna—guna bapak, topcer banget!” batin Yasnia diam-diam kegirangan di atas kekhawatiran Sabiru kepada Calista.
“Astaghfirullah ... kamu bahkan enggak bawa hape,” keluh Sabiru lantaran telepon yang ia coba kepada nomor ponsel Calista, juga disambut dering telepon ponsel Calista yang terdengar dari tas wanita itu di meja kerja Sabiru.
“Kamu yah, tahu saya sedang sangat mengkhawatirkan istri saya, bukannya membantu mencari, tapi malah senyum-senyum begitu!” marah Sabiru kepada Yasnia yang ia pergoki tengah senyum kegirangan memandangi nampan di meja kerja Sabiru.
Kaget dan tidak percaya, Yasnia rasakan detik itu juga. Sebelumnya, Yasnia belum pernah Sabiru semarah itu apalagi kepadanya. “Kok jadi gini?” batinnya.
“Ngapain malah bengong? Cepat bantu temukan nyonya Calista! Cek ke CCTV, cari ke mana dia pergi! Kalau dia sampai kenapa-kenapa bagaimana?!” Sampai detik ini Sabiru masih marah-marah.
Yasnia yang memang langsung ketakutan, tak memiliki pilihan lain selain pergi dari sana. “Aku pergi bukan karena aku mau cari. Maaf-maaf saja, ngapain juga aku cari. Mending bikin kopi apa nyeduh mi di kantin.” Seperti niatnya, Yasnia sungguh melakukan itu.
Padahal di kantin yang dimaksud Yasnia, Calista yang sudah langsung akrab dengan karyawan di sana, membawa nampan berisi dua gelas kopi hitam dan juga dua buah pop—mi.
“Tukang guna—guna ke sini juga. Dia enggak boleh lihat aku!” pikir Calista dengan cekatan bergabung di antara kerumunan karyawan yang juga akan meninggalkan kantin.
“Aku memang awam ke hal-hal mistis gitu. Namun setidaknya, asal sholat lima waktu maupun ibadah sunah lain aku jalani, insya Allah andai sampai kena, dampaknya enggak sefatal yang mereka harapkan,” batin Calista yang lagi-lagi terlibat obrolan renyah dengan karyawan di sana, sebelum mereka benar-benar berpisah.
Calista tak butuh waktu lama untuk sampai di ruang kerja Sabiru karena ia sengaja memakai lift khusus CEO dan para klien. Sabiru tengah berkemas dan tampak akan pulang. Namun, suara langkah dan juga aroma kopi maupun mi yang Calista bawa sudah langsung mengusiknya.
“Astaghfirullah Sayaaaaanggggggggg!” Saking gemasnya dengan Calista, Sabiru yang tak lagi di kursi roda, buru-buru melangkah menghampiri.
“Aku mau pulang sekarang. Yuk pulang yuk Mas Bi. Pulang ke rumah orang tuaku. Ini makannya di mobil saja!” rengek Calista.
Tak lama kemudian, seseorang datang dan itu ajudan Sabiru. Melalui kode mata, Sabiru meminta ajudannya untuk mengambil nampan yang Calista bawa, agar dirinya bisa memeluk sang istri dengan leluasa.
“Ya sudah, ayo kita pulang. Kamu tolong bawa nampan itu ke mobil, nyonyamu mau makan di mobil. Sekalian tas kerja saya!” sergah Sabiru yang sudah langsung menenteng tas milik Calista.
“Kursi rodanya juga wajib dibawa loh Mas!” protes Calista.
“Oke, nanti aku minta bantuan OB saja di luar,” balas Sabiru sangat lembut.
“Serius ini, bukan apa-apa serba Yasnia lagi?” batin Calista makin girang ketika Sabiru mengeluhkan keberadaan Yasnia yang tidak ada di ruang kerjanya.
“Gimana sih tuh kerjanya!” lirih Sabiru benar-benar sewot.
Calista yang masih Sabiru gandeng makin menerka-nerka, sekuat itu pengaruh guna-guna, hingga setelah Calista singkirkan dampaknya sudah sangat luar biasa?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Nadiyah1511
waduh serem juga ya mau nan nya s yasinan nih
2024-09-27
0
Sandisalbiah
ternyata pakanya Yasnia langsung yg jadi dukun buat guna² in Sabiru biar tunduk ke Yasnia.. kelyarga gila emang.. pengen hidup enak dgn cara gila..
2024-07-30
0
Elizabeth Zulfa
aaaaahhhh.. bagus calista 👏👏👏👏
ulet bulu memang patut digituin 😎😎
2023-12-21
2