“Hari ini sudah dibolehkan pulang?” santun Calista memastikan apa yang baru saja ia dengar, kepada suster yang ada di hadapannya.
“Iya, Bu. Setelah ini, Ibu langsung ambil obat di apotek, terus ke ruang perawat buat ambil surat kontrol, ya. Terus ini infusnya bentar lagi juga akan dilepas,” ucap perawat tak kalah santun.
“Kok aku dipanggil ibu sih? Memang wajah dan penampilanku tua banget, yah, Mas?” lirih Calista sengaja berbisik-bisik di tengah kesibukannya menahan bersin. Ia sungguh belum terbiasa dengan panggilan yang tengah ia permasalahkan.
“Kamu pakai seragam SMP juga masih pantas,” lembut Sabiru membalas dengan berbisik juga meski suster yang bersangkutan baru saja keluar dari ruang rawatnya. Namun, Calista yang sampai detik ini masih ia tatap penuh cinta, malah mendelik kemudian tak segan mencubit perut Sabiru asal.
“Awwwh! Galak banget,” refleks Sabiru meringis kesakitan dan sampai detik ini masih menatap istrinya.
“Enggak sekalian bilang aku masih pantas pakai popok?” sebal Calista yang bergegas pergi dari sana. Terlebih suster yang tadi sudah datang lagi. Namun bukannya marah, Sabiru yang menertawakannya malah merengek-rengek minta ditangani.
“Apa?” lirih Calista sembari kembali menghampiri sang suami.
“Temenin, tolong ih. Masa iya kamu lupa kalau suami kamu juga pemalu,” lirih Sabiru masih merengek. Menggunakan tangan kirinya yang sengaja ia ulurkan, ia meraih tangan kanan Calista, menggenggamnya erat dan sesekali mengelus jemarinya.
“Nih orang kenapa, sih?” pikir Calista.
Seolah paham apa yang istrinya rasa, Sabiru berkata, “Takut ada fitnah kalau hanya duaan. Di ruangan ini otomatis aku sendiri kalau kamu juga pergi.”
“Ohw ...,” refleks Calista yang akhirnya paham, sang suami begitu menjaga hubungan mereka. Terlebih, suaminya memang memiliki ketampanan sekaligus pesona di atas rata-rata. Karena meski kini keadaan Sabiru masih dihiasi sisa cacar yang mengering, suaminya itu masih terlihat sangat tampan.
Lima hari di rumah sakit, dan Sabiru yang ia rawat justru makin peduli, Sabiru memperlakukannya layaknya ratu, kenyataan tersebut membuat Calista menyadari, cintanya kepada Sabiru kembali membara. Ditambah lagi, hubungan mereka sudah terbebas dari bayang-bayang Hyera. Calista yang masih merasa sangat malu kepada Sabiru jadi makin menghabiskan kebersamaan mereka dengan dada berdebar-debar, hingga kebiasaan bersin di setiap ia gugup karena dekat dengan Sabiru, membuatnya kewalahan.
Layaknya kini, Calista tak ubahnya tugu pahlawan yang hanya diam ketika Sabiru dengan sengaja membenamkan wajah ke perutnya demi menyembunyikan wajah tampannya dari perawat yang datang.
Sabiru sudah diizinkan pulang, tapi tanpa kawalan orang tua maupun pihak keluarga mereka, Sabiru mengajak Calista ke sebuah rumah yang dikelilingi taman dan kebun.
“Ini rumah siapa?” tanya Calista terheran-heran, meski suasana di sana sudah langsung membuatnya betah.
“Rumah kita. Aku sudah siapin ini jauh-jauh hari buat kita,” ucap Sabiru dan lagi-lagi, sang istri yang masih sibuk bersin, mendelik menatapnya.
“Serius ... aku juga sudah ngadain syukuran. Papah mamah kamu juga kemarin datang, dan mereka bilang, rumah ini bagus. Adem,” yakin Sabiru, meski detik itu juga, bersin Calista makin parah.
“Pasti makin gugup, ya? Jadi makin cinta ke aku, kan?” lirih Sabiru dan kali ini sambil menahan tawanya. Sebab ia memang sengaja menggoda istrinya. Lihat saja, selain makin sibuk bersin, pipi Calista juga jadi merah merona. Tak kalah mencolok, Calista jadi menghindar dan tak berani sekadar meliriknya.
Kenyataan tersebut juga yang membuat Sabiru tidak bisa untuk tidak tertawa.
Namun, sampai detik ini, masih serba Calista yang mengurus Sabiru. Calista menggandengnya erat, menuntun suaminya dengan hati-hati terlebih kini jadi menggunakan tongkat bantu untuk jalan. Sementara itu, sopir yang mengantar mereka, menurunkan semua barang-barang mereka dari mobil, kemudian membantu mereka membawa masuk ke rumah.
Rumah dengan halaman luas di sana sudah langsung membuat Calista berbunga-bunga. Seolah dari semuanya, Calista menjadi bunga paling cantik di sana. Hanya saja, munculnya seorang pemuda dari dalam rumah mereka, refleks membuat Calista yang terlalu gugup, melepaskan gandengan tangannya terhadap Sabiru. Calista bahkan agak mendorong kemudian menjaga jarak dari suaminya lantaran pemuda yang mengejutkannya merupakan anggota keluarga mereka yang hobi nyinyir.
“Ya Allah!” refleks Calista lagi-lagi panik. Namun, alasannya kali ini panik justru karena ulahnya nyaris membuat Sabiru terbanting. Buru-buru ia menahan sang suami menggunakan kedua tangannya, dibantu juga oleh si pemuda nyinyir bernama Rain.
Tertawa kegirangan, Rain yang memiliki paras sekaligus ketampanan layaknya Sabiru berkata, “Ya ampun, Mas. Dengan kepala dan kedua mataku, aku menyaksikan sendiri kamu dibuang Mbak Lista. Berasa barang rong*sokan saja! Hati-hati loh Mas, kamu wajib cepat sembuh. Takutnya ditukar tambah atau malah ditimbang tukar sama gulali di tempat loak! hahaha!”
Rain benar-benar heboh, tapi Sabiru juga tak segan menggunakan tongkat bantu jalannya untuk menyapa kepala Rain. Kendati demikian, Rain tetap saja tidak bisa menyudahi tawanya.
“Ya sudah Mbak Lista, enggak usah malu apalagi segugup itu. Keluarga besar kita yang makin ru*sak silsilahnya gara-gara pernikahan kalian kan, sudah tahu semua kalau kalian sudah menikah!” yakin Rain.
“Awal mula peru*sak silsilah keluarga ya daddy kamu!” sergah Sabiru.
“Daddy Ojan memang paling oye! Soalnya, enggak semua orang bisa meru*sak silsilah banyak keluarga, kan?” heboh Rain sangat berisik dan langsung Sabiru usir.
“Iya, ... iya, aku pergi. Semuanya sudah aku pel. Pokoknya semuanya sudah beres, aku sudah kasih aroma terapi rasa hati juga,” jelas Rain.
“Untung enggak sampai kamu kasih aroma janda!” kesal Sabiru tapi lagi-lagi ditanggapi tawa puas oleh Rain.
“Tapi Mas, sebenarnya aku masih betah banget di sini. Jadi tukang beberes juga enggak apa-apa, Mas. Tidurnya di teras asal enggak bengek kena gangguan paru-paru, juga ayo!” ucap Rain yang mendadak kembali. Namun seperti sebelumnya, Sabiru kembali mengusirnya. Sabiru bahkan tak segan menggunakan tongkat bantu jalannya untuk mengusir Rain.
“Di dalam masih ada siapa?” lembut Calista tak lama setelah Rain benar-benar pergi.
Rain pergi bersama mobil yang mengantar mereka dengan gaya hebohnya yang juga membuat pemuda itu tampak sangat tengil.
“Sudah enggak ada siapa-siapa,” yakin Sabiru yang mengajak sang istri masuk.
Baru masuk, pemandangan dua bingkai foto berukuran besar yang dijejerkan di sana sudah langsung membuat Calista terpana. Foto bayi berbeda dan Calista kenal sebagai dirinya, sementara satunya lagi merupakan sang suami ketika masih bayi.
“Memang boleh, ya, segemes ini? Mana bisa aku enggak makin cinta!” batin Calista refleks tersenyum kegirangan menatap sang suami yang sudah kembali ia gandeng. Senyum yang juga langsung menular kepada sang suami yang sampai detik ini menatapnya penuh cinta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Sandisalbiah
lha.. ini yg unik.. dimana² saat masuk rumah kalau pun ada bingkai goto yg ada itu foto pernikahan atau setidaknya foto keluarga.. lha ini boto tuan dan nyonya rumah yg masih bayi.. seriusan pajang foto mereka yg masih pd jd baby lho... mentang² udah di jodohin semenjak masih embrio dlm bentuk janin di perut ini mah.. 😅😅😅
2024-07-30
0
sherly
hahahah bersin mlulu ya Calista...
2024-07-29
0
Rahma Putri
o ini cerita keluarga pak haji Septi ojan kalandra Arum ya jdi ngobatin kangen sama keluarga kalandra dan Arum apa kabar nya
2024-01-21
0