“Baru istri, kan? Mereka pengantin baru. Cukup bikin Calista dicerai, aku tetap jadi ratu buat pak Sabiru. Atau setidaknya, asal aku bisa membuat pak Sabiru menikahiku, hubungan kami pasti lebih manis dari madu! Mohon maaf, ya. Status sekaligus hubungan kalian beneran enggak penting!” batin Yasnia.
Sempat menghela napas lega karena berpikir, Yasnia akan pergi dari sana, Calista dan Sabiru justru kompak melotot karena bukannya pergi, Yasnia yang membongkar kantong berisi makanan bawaannya malah bermaksud menyuapi Sabiru.
“Ngigo, kamu?!” lirih Sabiru jengkel.
“Mungkin pas pembagian urat malu, dia transmigrasi, Mas. Jadinya ... ya enggak punya urat malu karena memang enggak kejatah!” yakin Calista dan sukses membuat Sabiru tertawa sambil menatapnya penuh cinta. Kendati demikian, Calista tetap tidak bisa menyudahi rasa canggungnya kepada sang suami. Terlebih ketika tangan kiri Sabiru mengelus pipi kanan Calista penuh cinta, bersin Calista makin menjadi-jadi.
“Bengek!” sinis Yasnia melirik tak suka Calista.
“Aku beneran sakit hati kamu bilang gitu ke istriku!” kesal Sabiru.
“Enggak apa-apa, Mas. Siapa tahu bisa jadi ladang pengurangan dosaku,” ucap Calista tak mau ambil pusing.
Namun, Sabiru tidak bisa tinggal diam. “Apa pun alasannya, saya benar-benar akan marah kalau kamu tetap di sini, sementara sekarang, selain sudah sangat malam, saya juga sangat ingin berduaan dengan istri saya!”
Bukan hanya Calista yang sadar bahwa kini, Sabiru benar-benar marah. Karena Yasnia yang ibaratnya tengah dihakimi juga paham itu.
“Pak Sabiru, saya hanya ingin menjalankan tugas saya, selain memang ada beberapa pekerjaan yang harus secepatnya kita bahas sekaligus selesaikan.” Bagi Yasnia, pekerjaan sekaligus jabatannya dalam perusahaan Sabiru ibarat senj*a ampuh untuknya mengelabuhi pria itu.
“Tugas apa, dan pekerjaan apa? Jelaskan secepat mungkin sekarang juga. Lima menit dari sekarang, jika kamu tidak bisa menyelesaikannya, kamu saya pecat!” sergah Sabiru benar-benar tegas.
“Lumrahnya, kalau memang tidak ada sesuatu, harusnya kamu takut. Andaipun kamu baper ke Mas Sabiru, ... ya jangan bu*n*uh diri gitu loh!” ucap Calista sembari menatap sedih Yasnia dan baginya sudah mempermalukan dirinya sendiri.
Yasnia yang takut benar-benar dipecat Sabiru, berangsur berdeham. Tanpa kembali menatap menantang Calista, ia yang berangsur menunduk berkata, “Ya sudah ... saya pamit. Kalau ada apa-apa, Pak Sabiru cukup hubungi saya.” Kali ini ia sengaja menatap Sabiru penuh harap sebelum mereka benar-benar berpisah.
Sempat berpikir akan ditahan dan setidaknya Sabiru basa-basi kepada Yasnia, tapi nyatanya kepergian Yasnia dari sana tanpa hambatan.
“Serius, ini, aku dibiarin pergi? Apa pak Sabiru terlalu malu mengakuiku?” pikir Yasnia.
Karena terlalu tidak percaya dan memang tidak bisa menerima kenyataan, Yasnia berinisiatif menunggu di sebelah pintu ruang rawat Sabiru. Yasnia berharap Sabiru segera menghubunginya, hingga ia juga sudah sampai menggenggam ponselnya. Berharap, melalui gawai putih miliknya, Sabiru akan meminta maaf. Sabiru akan mengabari bahwa pria itu juga menginginkan Yasnia. Hanya saja karena kini ada Calista, mereka harus melakukannya dalam senyap.
Akan tetapi keyakinan Yasnia sirna lantaran setelah sepuluh menit menunggu dan kabar dari Sabiru tak kunjung ia dapatkan, ia yang nekat mengintip keadaan di dalam malah memergoki pemandangan yang membuat jantungnya seperti ditus*uk-tus*uk. Karena di dalam sana, Sabiru yang tangan dan kakinya diperban tuntas layaknya mumi, tengah berusaha miring hanya untuk merangkul Calista. Sabiru tengah berusaha memeluk sekaligus menc*ium wanita yang beberapa saat lalu, Sabiru tegaskan sebagai istrinya.
“Calista ...,” batin Yasnia benar-benar sakit hati kepada wanita yang sampai membuatnya kehilangan jati diri. Karena demi meluluhkan hati seorang Sabiru, Yasnia nekat menirukan gaya Calista agar Sabiru tertarik kepada Yasnia.
Demi dicintai Sabiru, Yasnia memang nekat berhijab sekaligus memperdalam agama. Yasnia menirukan setiap cara sekaligus gaya Calista. Hanya saja, usaha Yasnia yang sudah ditekuni selama empat tahun terakhir, sama sekali belum membuahkan hasil. Termasuk itu meski hubungan Sabiru dan Calista sempat putus. Nyatanya kini keduanya justru sudah menikah. Bahkan kini, bibir Sabiru menempel di pipi kiri Calista. Bibir berisi yang begitu Yasnia dambakan itu seolah tidak mau lepas dari pipi kiri Calista.
Lagi-lagi, rasa tidak nyaman membuat Calista hanya pura-pura tidur. Calista bahkan tidak bisa menghentikan tawanya hingga ia menjadi alasan sang suami menertawakannya.
“Apaan sih mereka!” sebal Yasnia tak tahan dan memilih pergi dari sana. Jiji*k rasanya ia menyaksikan ekspresi malu-malu Calista yang menggunakan kedua jemari tangannya untuk menutupi wajah demi menghindari Sabiru.
“Kalau memang belum mengantuk, ayo kita ngobrol. Atau kalau enggak, kamu mau makan apa? Nanti aku bilang ke orangku buat urus,” lembut Sabiru tidak bisa untuk tidak mengelus sebelah wajah maupun hidung sang istri.
Calista yang awalnya masih bertahan menutupi sebagian wajahnya menggunakan jemari tangannya, berangsur menatap Sabiru.
“Tentu saja bukan Yasnia. Sumpah demi apa pun, aku enggak ada rasa ke Yasnia. Aku cinta dan sayangnya cuma ke kamu, dan aku yakin kamu tahu itu!” sergah Sabiru meyakinkan.
“Ssstttt! Sumpah yah, Mas. Sakit hati aku dengarnya. Kamu bilang begitu karena kamu belum sadar!” sedih Yasnia memilih buru-buru pergi dari sana.
“Kamu kan tahu kalau aku punya pengawal pribadi. Ya kayak kamu ... keluarga kita kan dikawal khusus oleh mafia,” lembut Sabiru lagi.
“Tapi kalau Yasnia terus gitu mirip orang kesuru*pan, cari yang lain saja, yah, Mas?” pinta Calista lembut dan Sabiru langsung mengangguk-angguk.
“Ini makanan dari dia, susun di kantongnya lagi dan kasih ke suster sama satpam yang jaga di luar saja. Kamu mau makan apa minum apa, tinggal bilang. Nanti pesan ke pengawalku,” sergah Sabiru makin yakin dengan keputusannya membuat sang istri percaya.
Lagi-lagi, Yasnia yang nekat kembali kemudian mengintip, juga berakhir sakit hati.
“Innalilahiiiii!” jerit Yasnia dalam hati ya dan kali ini benar-benar menangis. Selain itu, kali ini Yasnia juga benar-benar pergi.
Makanan dan minuman yang Yasnia bawa sudah Calista kantongi semua. Dua kantong tersebut juga langsung Calista bawa keluar karena niatnya memang seperti arahan Sabiru. Semua itu akan Calista antar ke pos suster maupun satpam yang jaga di lantai kamar rawat Sabiru berada.
“Hati-hati,” lembut Sabiru yang sebenarnya sedang sangat tersiksa akibat luka bekas operasinya. Hanya saja, ia tidak bisa untuk tidak memperlakukan sang istri penuh cinta. Perlakuan yang sangat kontras dari caranya memperlakukan orang lain apalagi Yasnia.
“Masya Allah, andai para jomblo di luar sana tahu perlakuan suamiku kepadaku, pasti mereka nangis batin. Termasuk si Yasnia, sepertinya dia juga bakalan nangis batin!” batin Calista.
Calista keluar dari ruang rawat sang suami dengan senyum yang begitu indah. Di tengah kesunyian suasana malam, kedatangannya sudah langsung disambut hangat oleh suster yang berjaga. Kata terima kasih terus menyertai langkah kepergiannya dari mereka.
“Duh, masuk ke ruang rawat mas Bi, langsung deg-degan lagi,” batin Calista langsung kembali bersin, ketika pada akhirnya, tatapannya bertemu dengan tatapan Sabiru. Suaminya itu tampak sengaja menunggu di tengah kenyataannya yang pucat sekaligus berkeringat. Sabiru tampak jelas menahan rasa sakit mendalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Sandisalbiah
sumpah.. menghadapi org yg terobsesi itu serem banget, soalnya mereka itu suka bertindak nekat, bahkan bisa melakukan hal² yg diluar nurul... dan dr gelagatnya Yasnia ini bisa jd psycopath krn obsesinya itu, buktinya dia dgn sengaja cosplay jd Calista demi menarik perhatian dan simpati Sabiru kan..??
2024-07-30
0
sherly
kalo dekat sabiru deh degkan efeknya bersin bersin... ah Calista jd ketahuan donk kalo kamu lagi tegang
2024-07-29
0
sherly
pede bener yasnia nih, hadew si biru nih ngasih apa sih ke dia sampai kok ngarep banget ditlp
2024-07-29
0