“Kalau kamu enggak bisa tidur, ... aku boleh tanya-tanya, kan?” ucap Sabiru dengan nada sangat hati-hati.
“Aku tahu, alasan kamu enggak bisa tidur bukan karena kamu enggak ngantuk. Alasan kamu enggak bisa tidur karena aku. Kamu belum terbiasa, waktunya tidur kok aku masih ada sama kamu,” lanjut Sabiru mengakhirinya sambil menahan tawa.
“Mas ih ... lagi sakit, juga. Masih saja sempat meledek,” lirih Calista sampai detik ini masih bersin.
Calista masih tiduran di sebelah Sabiru. Namun seperti yang baru saja Sabiru katakan, alasannya tidak bisa tidur, bukan karena dirinya tidak mengantuk. Karena alasan Calista tidak bisa tidur memang Sabiru. Calista belum terbiasa di waktu tidurnya, ia masih bahkan harus bersama Sabiru.
Mengandalkan ajian nekat, Calista memberanikan diri untuk menatap sang suami. “Masih sakit?” lembutnya.
“Banget! Sakit benget! Dari ujung kaki sampai kepala, enggak ada yang enggak sakit!” balas Sabiru.
Calista percaya Sabiru tidak berbohong. Karena sebentar-sebentar saja, termasuk sekarang, ia jadi sibuk menyeka keringat sang suami menggunakan tisu kering.
“Padahal, Mas sering bilang, asal sama aku, apa pun itu pasti Mas akan baik-baik saja ... Mas enggak akan sakit. Kadang aku gemas ke orang-orang yang begitu. Yang bilang aku enggak bisa hidup tanpa kamu, posisinya baru pedekate atau pacaran, pas sudah putus,” ucap Calista sambil mengelap keringat dingin di tangan kiri Sabiru.
“Pas sudah putus, dia tetap sehat wal afiat, bahkan badannya makin subur, selain dia yang bucin tingkat micin ke orang lain!” ucap Sabiru yang juga menjadi alasannya dan Calista tertawa.
“Terus, kamu mau nagih, kok aku masih kesakitan, padahal kamu sudah sama aku?” lanjut Sabiru.
Calista refleks kikuk.
“Memangnya sudah setegar ini, suamimu masih kamu anggap Kang Gombal?” lanjut Sabiru dan langsung membuat Calista tersipu.
Seperti yang Sabiru katakan, pria itu memang tidak mengeluhkan rasa sakitnya. Sabiru benar-benar tegar menahan rasa sakitnya, dan hanya sesekali refleks kesakitan.
Kini, Calista sengaja buru-buru menggunakan kedua tangannya untuk menutupi kedua mata Sabiru agar suaminya itu berhenti menatapnya.
“Tadi aku sudah bilang, aku mau ngobrol, aku mau tanya-tanya ke kamu. Sekarang juga, aku ingin tahu, alasan dulu kamu mendadak mutusin aku,” ucap Sabiru.
Membahas masa lalu dan diminta menjelaskannya, yang Calista ingat tentu perasaan Hyera adiknya yang begitu mencintai Sabiru. Beberapa kali Hyera jatuh sakit karena hubungan Calista dan Sabiru. Hingga Calista yang tidak tega, di masa lalu sengaja memberikan semua hadiah dari Sabiru dan harusnya untuknya, kepada Hyera.
Di masa lalu, demi Hyera, Calista sengaja melakukan hal seolah Sabiru mencintai Hyera, bukan lagi kepada Calista. Hingga Calista yang terjebak dalam rencana konyolnya, terpaksa memutuskan Sabiru.
Namun sekarang, Calista harus jujur dan tentunya meminta maaf. Karena selain keputusannya sudah sangat melukai Sabiru, Calista juga baru sadar, ulahnya membuat keadaan seolah Sabiru mencintai Hyera, di mata Hyera, justru jadi membuat keadaan makin kacau.
“Aku benar-benar minta maaf untuk semua yang ada di masa lalu,” ucap Calista tak lama setelah ia menyingkirkan kedua tangannya dari kedua mata Sabiru. “Aku tahu permintaan maaf dariku sudah terlambat. Aku juga tahu, permintaan maafku tidak akan membuat keadaan baik-baik saja.”
Karena ingat Hyera juga, Calista jadi sangat bingung. Calista sampai menangis karena merasa telah membangun bahagia di atas luka Hyera.
“Jangan nangis. Beneran enggak apa-apa. Yang penting sekarang kita sudah menikah,” lembut Sabiru sembari menyeka setiap air mata Calista.
Calista refleks menggeleng. “Bukan begitu, tapi tanpa sadar aku telah membangun kebahagiaanku di atas luka Hyera.”
“Hyera pasti juga bahagia karena kebahagiaan kita. Hyera hanya masa lalu. Dia pasti enggak ngarep lagi ke aku karena aku sudah nikah. Lagian ngapain juga ngarep ke pasangan orang, selain aku yang jelas-jelas cintanya ke kamu dan otomatis, sekarang Hyera juga jadi adik ipar aku,” yakin Sabiru.
“Lagian ngapain juga kamu memikirkan orang lain bahkan itu adikmu, menjadi bagian dari hubungan kita?” lanjut Sabiru dan langsung membuat Calista terdiam. Wanitanya itu bahkan tak lagi menangis, seolah apa yang baru saja ia tegaskan tak ubahnya tampa*ran.
“Kamu sayang aku, kan?” lanjut Sabiru masih berusaha merangkul hati sang istri. Detik berikutnya, Calista langsung mengangguk.
“Kamu ingin kita punya rumah tangga seperti orang tua kita, kan?” lanjut Sabiru, dan lagi-lagi Calista membalasnya dengan anggukan.
“Ya sudah jangan nangis lagi. Sampai sekarang saja kamu masih bersin. Ditambah nangis, yang ada dadamu pasti sesak bahkan sakit banget!” lanjut Sabiru. Tangan kirinya yang sempat mengelap air mata Calista, berangsur mengelus-elus dada Calista. Berharap, sesak yang menimbulkan sakit di sana, berangsur sirna tanpa sisa.
Pada kenyataannya, niat hati menjaga Sabiru, kenyataannya justru sebaliknya. Justru Sabiru yang menidurkan, menenangkan Calista hingga wanita pemalu itu lelap. Malahan, Sabiru kesakitan sendiri. Menghadapi pemeriksaan suster di jam malam pun Sabiru melakukannya sendiri. Sabiru baru membangunkan Calista ketika sholat subuh tiba.
“Ini beneran sudah subuh?” heran Calista. Rasa heran yang terus berlanjut hingga siang menyambut. Karena yang ada, bukan dirinya yang merawat. Karena Calista lah yang dirawat Sabiru.
Sarapan romantis Sabiru siapkan. Bukan hanya menu lengkap, karena di sana juga ada buket mawar putih berukuran besar.
“Cacarku beneran keluar semua,” keluh Sabiru lirih.
Calista yang masih terpukau memandangi sarapan romantis dari sang suami, menjadi terusik.
“Itu lebih bagus daripada enggak keluar, Mas. Aku olesi salep lagi ya,” lembut Calista. Ia tak jadi memfoto sarapan romantis pemberian Sabiru yang ada di meja sebelah tirai, di ruang sebelah ranjang rawat Sabiru berada. Ia menghampiri Sabiru, tapi kali ini pria itu menolaknya.
“Kenapa?” lirih Calista.
“Takut kamu ketularan,” balas Sabiru yang jujur saja merasa sangat tersiksa.
Merasakan luka bekas operasi saja sudah tak karuan, tapi kini Sabiru juga harus merasakan rasa sakit sekaligus gatal nan panas dari cacar.
“Lah gimana sih? Bahkan Mas belum sarapan. Sini aku suapi,” balas Calista berusaha memaksa.
“Nanti minta yang lain saja daripada kamu ketularan,” yakin Sabiru dan membuat Calista heboh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Sandisalbiah
bener² suami idaman banget.. hatinya yg selalu terjaga utk Calista juga sikap pengertiannya yg war biasa.. pantas kalau Hyera dan Yasnia sampai terlove² pd Sabiru
2024-07-30
0
Rindyani
Biyungngalah...udh tangan kaki digips lha kok cacar pisan...biyuh
2024-01-03
5
Sugiharti Rusli
oh berkorban demi orang lain pisahnya yang notebene adik sendiri Ta,,,
2023-12-12
0