“I—ni ... foto aku baru lahir, dan ini ... Mas?” Calista menerka-nerka setiap bingkai foto berukuran besar yang menghiasi sepanjang ruangan rumah impian buatan Sabiru.
“Benar, tapi pada kenyataannya aku sudah mulai ngapelin kamu, semenjak kamu masih ada di dalam kandungan!” balas Sabiru begitu santai sambil menatap teduh foto yang dimaksud. Di sebelahnya, melalui lirikan, diam-diam ia mendapati sang istri jadi tersipu sekaligus cekikikan.
Rumah impian yang Sabiru siapkan memang dihiasi banyak kenangan tentang mereka. Kenangan kebersamaan mereka yang memang tidak hanya terjalin sejak bayi. Sebab di ruang keluarga, ada bingkai foto berisi Sabiru dan orang tua mereka. Di sana, Sabiru kecil tengah memeluk perut ibu Chole dan Calista yakini sang mamah dalam posisi hamil Calista. Perut mamahnya berukuran besar, selain di sana juga turut disertai Kim kecil yang sebaya dengan Sabiru.
“Mas Bi kelihatan niat banget bikin semua ini. Semanis ini, yang lain pasti akan langsung iri apalagi kalau merujuk pernikahan di luar sana yang dipenuhi drama perselingkuhan,” pikir Calista.
Sampai detik ini, Calista yang masih malu-malu kepada Sabiru, jadi sibuk tak percaya lantaran pernikahannya dengan Sabiru membuatnya seolah menjadi protagonis utama wanita dalam sebuah drama romantis manis.
Calista merasa sangat bahagia. Karena meski sepanjang hidupnya, dirinya tak pernah mengalami kekurangan sedikit pun, baginya menjadikan kenangan sebagai isi dari rumah impian agar mereka tetap bisa menikmati masa lalu mereka yang penuh kebahagiaan, bukan hal yang mudah.
“Masya Allah ini beneran bagus banget!” refleks Calista yang detik itu juga terdiam seiring kedua matanya yang refleks melirik Sabiru. Karena tadi, ia memang keceplosan.
“Tadi kamu bilang apa? Aku enggak dengar. Coba dong bisikin lagi,” ucap Sabiru sangat lembut. Ia sengaja menunduk, membuat telinga kirinya ada persis di depan wajah Calista agar istrinya itu sungguh berbisik-bisik kepadanya.
Calista yang masih sibuk bersin jadi menahan tawanya sambil terpejam pasrah. Tentu, ia tidak melakukan apa yang Sabiru minta karena ia terlalu gugup. Sebab karena kebahagiaan itu juga, bersin dan ketegangan Calista makin menjadi-jadi.
“Ini sebenarnya kamu kenapa, ya? Aku saja yang lihat capek, apalagi kamu yang jalani,” ucap Sabiru. Tangan kirinya yang bebas, berangsur mengelus-elus punggung hidung sang istri. Akan tetapi, ulahnya itu tetap tak membuat perubahan pada Calista. Termasuk ketika tangan kirinya mengeluarkan botol kecil berisi minyak angin. Ia mencoba membuat Calista menghirup minyak angin tersebut.
Sabiru melakukan apa pun, berusaha mengobati bersin sang istri karena baginya, bersin Calista dan itu efek tegang kepadanya, sudah tidak wajar. Namun, Sabiru justru berakhir membuat mereka melakukan ciu*man bibir. Ci*uman bibir yang memang baru pertama kali mereka lakukan. Detik itu juga suasana di sana senyap, seolah di sana tidak berpenghuni. Tak ada lagi suara bersin dari Calista, meski jadi digantikan dengan detak jantung dari wanita itu yang jadi terdengar sangat jelas.
“Ini apa?” batin Calista mendadak panik dan buru-buru menjauh, selain ia yang juga sampai memunggungi Sabiru. Ulahnya berhasil mengakhiri ci*uman bibir mereka. Ia terlalu tegang, gugup, dan juga malu.
“Sembuh, loh ...,” lirih Sabiru dan itu berkaitan dengan sang istri yang tak bersin-bersin lagi.
Mendengar itu, Calista belum paham apa yang dimaksud sang suami. Barulah setelah sang suami sampai tertatih hanya agar bisa berdiri di hadapannya, ia mengerti.
“Kamu beneran sudah enggak bersin-bersin,” ulang Sabiru dan jadi membuat Calista makin bingung.
“Kok bisa?” batin Calista jadi bertanya-tanya. Kenapa ia tak lagi bersin-bersin semenjak ciu*m*an bibir pertama mereka?
“Ternyata semudah itu obat bersin kamu? Ah, kenapa enggak dari dulu!” ucap Sabiru mendadak heboh.
“Apaan sih Mas Biru!” protes Calista merasa sangat malu. Bedanya, kali ini ia yang sampai menggunakan kedua tangannya untuk menitupi wajah, tak sampai bersin-bersin lagi. Yang tersisa efek dari rasa tegangnya hanya dadanya yang jadi sibuk berdebar-debar.
“Asli, kan? Langsung sembuh? Bahkan kamu pernah berobat ke Singapura, nyatanya malah aku yang bisa mengobati!” balas Sabiru lagi.
“Ih Mas ih ... aku malu!” balas Calista tak kalah heboh. Sambil terus menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan, ia meninggalkan sang suami.
Calista memasuki rumah bagian lebih dalam. Sementara Sabiru yang tak mau menyusahkan sang istri sengaja menyusul, setelah ia duduk di kursi roda yang ada di sana dengan hati-hati. Kursi roda elektrik yang ia pakai memang sengaja disiapkan oleh Rain atas titahnya. Pemuda berisik bin tengil itu tak hanya beres-beres rumah Sabiru. Karena Rain juga sampai menaruh kursi roda, dan beberapa keperluan termasuk makanan dan bahan masakan di kulkas
“Masya Allah ... masih terasa banget ini bibir. Berasa langsung jadi berubah ukuran,” batin Calista langsung berkeringat panas dingin. Terlebih di ingatannya, kejadian Sabiru tiba-tiba menyambar bibirnya penuh kekhawatiran, tak hentinya terputar dan itu benar-benar membuatnya tegang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Nadiyah1511
karna udh halal jadi obatnya ya yg bikin penyakit itu🤭💜
2024-09-27
0
Sandisalbiah
ampun.. gak kebayang jd Calista yg terus²an bersin krn aku sendiri yg mendadak bersin² krn aroma nyegrak kalau numis bumbu aja langsung pilek mendadak selama 1-2 jam itu ingus langsung meler terus baru nanti baik sendiri.. konon lagi kek si Calista yg bersin terus menerus bisa molor kek air itu ingusnya 🤦♀😅😅
2024-07-30
0
sherly
syukurlah sembuh juga tu bersin kasian banget kalo sampai tamat bersin mluluuu, Calista yg bersin tp aku yg ngerasa capek... ahhaha
2024-07-29
0