Dengan air mata berlinang, Sabiru tersenyum haru kemudian menyatakan persetujuannya. “Tentu! Ayo kita menikah! Ayo kita sama-sama dalam suka maupun duka. Ayo kita menua bersama, dan benar-benar hanya maut yang mampu memisahkan!”
Mendengar itu, Calista yang sampai detik ini masih sibuk bersin, merasa sangat lega tanpa bisa menyudahi rasa gugupnya. “Alhamdullilah ...,” lirihnya.
“Aku beneran enggak tahan kalau hanya karena dekat-dekat denganku, kamu jadi bersin bahkan bengek enggak karuan begitu,” ucap Sabiru yang refleks menggerakkan tangan kanannya dan bermaksud mengelus hidung Calista. Namun kenyataan tersebut sudah langsung membuatnya meringis menahan sakit mengingat baik tangan kanan maupun kaki kanannya, baru saja menjalani operasi pasang pen.
“Pelan-pelan ... tangan kanan dan kaki kanan Mas, tulangnya patah. Itu dipasang pen. Sakit banget, ya?” balas Calista tidak bisa untuk tidak peduli.
“Yang penting kamu enggak kenapa-kenapa,” lembut Sabiru.
“K—kata siapa?” balas Calista mendadak sedih dan tak lagi menatap Sabiru. Ia tak sanggup untuk sekadar menatap Sabiru jika keadaan pria itu sedang terluka parah layaknya sekarang dan itu karenanya.
“Hm ...? Kamu terluka? Oh, apa gara-gara aku mendorongmu terlalu kuat?” sergah Sabiru yang sampai berusaha duduk demi bisa memastikan kekhawatirannya bahwa Calista terluka karenanya.
Calista buru-buru menggeleng seiring ia yang kembali menatap Sabiru. Pria itu sudah meringis kesakitan akibat gerak berlebihan yang dilakukan. “Aku sakit karena gara-gara aku, Mas jadi—”
“Lebih bahaya lagi kalau justru kamu yang mengalami. Sudah jangan dibahas lagi. Kita lanjut saja rencana pernikahan kita.” Sabiru sengaja mengalihkan pembicaraan. Detik itu juga mata lebar Calista yang awalnya menunduk, berangsur menatapnya.
“Setelah aku sembuh atau setidaknya bisa jalan, ayo kita menikah!” ucap Sabiru serius. “Kamu ingin resepsi dan acara pernikahan seperti apa, aku ikut saja, terserah kamu!”
“Aku mau sekarang saja,” pinta Calista.
“Hah ...?” refleks Sabiru merasa jantungnya seolah langsung copot karena andai apa yang ia dengar memang benar, baginya itu merupakan rezeki nomplok.
“Iya ... agar aku bisa merawat Mas tanpa batasan. Aku ingin merawat Mas dengan leluasa. Karena jika kita belum menikah, menyentuh buat membantu saja kita belum boleh,” yakin Calista refleks menatap dalam kedua mata Sabiru di tengah kesibukannya bersin.
“Nanti aku yang bilang ke mamah papah,” ucap Calista lagi.
“Ini beneran aku yang dilamar?” balas Sabiru masih tidak percaya. “Ulang tahunku masih lama, Li.”
“Mau nikah secepatnya, enggak?” rengek Calista.
“Banget lah! Aku mau banget!” yakin Sabiru yang kemudian berkata, “Biar aku saja yang bilang ke papah mamah!”
“Enggak apa-apa, aku saja Mas.” Calista menunduk dalam dan berharap Sabiru memberinya izin. Karena baginya, setelah semua yang terjadi memohon restu juga bagian dari tanggung jawabnya.
“Baiklah aku ikut kamu saja, tapi omong-omong, papah mamah kita ke mana? Enggak mungkin mereka enggak menunggu kita,” balas Sabiru masih menatap dalam setiap inci wajah cantik Calista yang sama sekali tidak tersentuh rias.
“Di sebelah,” lirih Calista sambil melirik tirai di sebelah mereka.
Detik itu juga Sabiru menahan senyumnya. “Sepertinya mereka sudah mendengar siaran langsung yang kita lakukan. Terlebih mereka selalu jadi yang paling gercep buat setiap kelanjutan hubungan kita!” Kali ini ia sengaja berbisik-bisik lebih dari sebelumnya, seiring lawan bicaranya yang berangsur tersenyum pasrah.
Sesuai kesepakatan, Calista mengabarkan niat baik mereka kepada orang tua mereka yang memang ada di sana. Mereka sungguh di ruangan yang sama dan para orang tua memang sudah kompak mendengar obrolan Calista maupun Sabiru.
“Mau nikah hari ini juga?” ucap pak Excel selaku papah dari Sabiru. Ia menatap setiap mata di sana dan sudah langsung mengangguk khususnya para orang tua dan juga Sabiru. Justru, Calista yang mengangguk paling akhir.
“I—ya!” ucap Calista yakin. Balasan Calista barusan menjadi suara pertama yang membalas pertanyaan dari pak Excel.
“Yang penting ijab kabul dulu karena keadaan Mas Sabiru enggak memungkinkan buat melangsungkan resepsi dalam waktu dekat. Semoga setelah ini Mas Sabiru cepat sehat, dan Mbak Lista juga bisa merawat sekaligus MENCINTAI Mas Biru dengan segenap jiwa,” balas pak Helios dan tak lain merupakan papah Calista. Ia sengaja menggoda putrinya yang sudah langsung tersipu malu, terlebih semuanya termasuk Sabiru sudah langsung tersenyum renyah karenanya.
“Kalau gitu pagi ini juga, Papah cari penghulu dan keperluan lainnya. Acaranya di ruangan ini saja karena keadaan Mas Sabiru memang enggak memungkinkan,” yakin pak Excel sangat bersemangat dan lagi-lagi semuanya setuju.
Tak ada halangan berarti, niat baik Calista dan Sabiru sungguh dilancarkan hingga ijab kabul usai. Keluarga besar mereka menjadi saksi, selain beberapa petugas rumah sakit karena biar bagaimanapun, mereka sengaja izin demi kebaikan bersama.
“Mau peluk lagi ...!” ucap Kim dan merupakan kakak laki-laki Calista.
Calista yang memang memiliki kepribadian baik sekaligus menyenangkan, memang sangat disayangi oleh saudara laki-lakinya. Terbukti, bukan hanya Kim sang kakak yang merasa kehilangan Calista. Karena pernikahan Calista juga membuat Brandon yang terkenal dingin sekaligus cuek, menitikkan air mata.
“Mas Brand, enggak mau peluk juga?” lembut Calista sembari merentangkan kedua tangannya. Ia siap memeluk saudaranya yang selama ini begitu sibuk menyendiri, selain Brandon yang memang selalu tampak kuat padahal ia yakin, sang adik yang juga memiliki kembaran itu sangat kesepian. Dengan mata yang basah, Calista sungguh siap memeluk Brandon yang sangat mirip papah mereka.
“Minggir ih, Boy!” sebal Brandon kepada kembarannya dan sampai detik ini masih memeluk Calista dari belakang mengingat hubungan keduanya yang memang sangat dekat.
“Mas Brand beneran jelmaan papah Helios muda no kaleng-kaleng!” ucap pak Excel sengaja memijat kedua pundak Brandon dan sukses membuat semua yang ada di sana tertawa.
Sebenarnya Calista masih memiliki satu adik, tapi tak sampai hadir di sana. Sosok yang menjadi satu-satunya yang absen dalam acara ijab kabul Calista dan Sabiru. Adalah Hyera selaku satu-satunya saudara perempuan Calista. Kini Hyera masih kuliah di Australia, hingga gadis yang usianya terpaut lima tahun lebih muda dari Calista, menjadi satu-satunya yang absen dalam kebersamaan mereka.
“Andai ada Hyera, pasti kamu yang jadi enggak nyaman, kan?” ucap Sabiru bertepatan dengan Calista yang baru saja kembali setelah menutup pintu, mengantar keluarga besar mereka hingga depan pintu.
Disinggung tentang Hyera yang memang sangat menyukai Sabiru, Calista langsung menjadi merasa canggung.
“Kamu tidur gih. Dari kemarin pasti kamu belum tidur karena terlalu mengkhawatirkan aku, kan?” ucap Sabiru tidak bisa untuk tidak perhatian kepada Calista.
Status mereka sebagai pengantin baru, dan mereka hanya ditinggal berdua oleh keluarga mereka, membuat keduanya khususnya Calista, melakukan segala sesuatunya penuh kecanggungan. Kecanggungan yang manis. Karena bukannya tidur layaknya arahan Sabiru, Calista justru langsung merawat Sabiru.
“Daripada disuapi, sebenarnya aku lebih ingin dipeluk,” ucap Sabiru sambil mengunyah suapan dari Calista dengan tidak bersemangat.
Mendengar itu, Calista yang sengaja memakai masker agar efek bersinnya tak separah andai ia tak memakai masker, langsung deg-degan. Padahal harusnya Calista tahu, hal seperti sekarang bahkan yang lebih, akan mewarnai hubungan mereka. Kini status mereka sudah menjadi suami istri, dan otomatis interaksi lebih akan selalu mewarnai.
“Habisin dulu makannya, habis itu baru ....” Tiba-tiba saja lidah Calista menjadi kelu hanya karena wanita itu akan membahas apa yang Sabiru inginkan.
“Baru ...?” Sabiru yang sebenarnya sudah tahu maksud istrinya, sengaja membuat Calista mengatakannya langsung.
Malu-malu, mengandalkan ajian nekat, Calista berkata, “Peluk!”
“Yes!” ucap Sabiru sangat bersemangat dan langsung membuat Calista kikuk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
sweetie belle
lah ini br tau hyera demen jg ama biru, baca kisah mrk kebalik2 🤣🤣
2025-02-28
0
Nartadi Yana
oh alista menghindar karena hyra suka sama sabiru baru ingat akunya
2024-12-12
0
Nadiyah1511
aku malah bacanya kisah hyera dluan thor😁✌️💜
2024-09-27
0