Malam makin larut, tapi di ruang rawat Sabiru, pengantin baru itu masih ditawan kecanggungan. Baru saja Sabiru meminta Calista untuk naik ke ranjang rawatnya dan tiduran di sebelahnya.
“Emang enggak sempit? Nanti Mas jadi enggak nyaman karena efek luka terlebih operasi yang Mas jalani saja, sudah enggak karuan.”
“Memangnya tubuhmu sebesar apa? Ini masih sangat muat, sekalian pengin peluk lagi!” mohon Sabiru yang kali ini sampai merengek. Terlebih tak bisa ia pungkuri, luka bekas operasinya sedang terasa sakit-sakitnya.
Tentu Calista tidak bisa menolak karena alasan dirinya membuat mereka menikah secepatnya pun agar mereka bisa melakukan segala sesuatunya dengan leluasa. Karenanya, meski masih sangat canggung dan masih sangat terpaksa, Calista melakukannya.
Sabiru sengaja membangun keromantisan dalam hubungan mereka. Tangan kirinya yang masih bisa bergerak dengan leluasa, sudah langsung merangkul punggung Calista. Sesekali, tangan tersebut juga akan mengelus maupun membelai. Dan selama itu juga, Calista akan memberikan refleks terkejut karena mungkin wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu belum terbiasa. Kini saja selain canggung sekaligus sangat tegang, Calista tak hentinya bersin.
“Coba jangan tegang biar kamu enggak bersin-bersin,” lirih Sabiru sambil menatap serius kedua mata Calista yang berada tepat di bawahnya. Karena kini, jarak wajah mereka tak kurang dari satu jengkal. Namun, Calista yang balas menatapnya langsung sibuk menggeleng.
“Sssstttt!” refleks Sabiru menahan sakit atas keadaan kaki maupun tangan kanannya.
“Mas Bi ... aku panggilin perawat, ya?” sergah Calista langsung siaga. Ia segera duduk, dan Sabiru yang kesakitan dan sibuk menahan rasa sakitnya, berakhir membenamkan wajah di pangkuannya.
“Mas ...?”
“Enggak ... sepertinya sekarang memang lagi masa sakit-sakitnya,” balas Sabiru tetap bertahan pada posisinya, sementara tangan kirinya berpegangan erat pada tepi ranjang.
“Seenggaknya kalau bilang ke perawat pasti dikasih obat atau minimal saran harus gimana-gimananya?” yakin Calista.
“Yang aku butuhkan cuma kamu. Kamu obat sekaligus vitaminku. Aku beneran enggak butuh yang lain asal aku punya kamu dan kamu bersamaku, Li!” yakin Sabiru masih merintih di pangkuan Calista.
“Mau aku peluk lagi? Tapi susah karena Mas saja miring ke kiri,” khawatir Calista sambil mengelus-elus punggung Sabiru.
Calista baru mendekap Sabiru yang akhirnya agak duduk hingga jauh lebih gampang Calista peluk, tapi mendadak ada yang datang menerobos masuk.
“Ada yang datang ...?” lirih Calista sempat mengira yang datang merupakan perawat yang hendak kontrol. Namun, ternyata seorang wanita berhijab layaknya Calista, dan Calista kenali sebagai Yasnia.
Yasnia merupakan karyawan teladan sekaligus orang kepercayaan Sabiru. Masalahnya, cara Yasnia yang asal menerobos masuk tanpa salam bahkan meski kini mereka sudah berhadapan, membuat Calista sangat tidak nyaman.
“Assalamualaikum Pak Sabiru?” sapa Yasnia sambil buru-buru membawa dua kantong karton yang dibawa ke nakas di sebelah. “Sekarang bagaimana keadaan Bapak? Pak Sabiru sudah merasa lebih baik?” lanjutnya setelah meletakan tasnya di sofa kecil dekat nakas. Ia menatap saksama Sabiru yang masih bertahan dalam pelukan Calista.
“Ini aku sama sekali tidak disapa bahkan sekadar melalui tatapan? Memang sih, suasananya memang remang. Namun masa iya, aku yang segede ini enggak kelihatan?” pikir Calista.
“Memangnya ada yang mendesak yah, Yas?” tanya Sabiru susah payah fokus meski kini, sebenarnya ia sedang sangat kesakitan.
“Sebentar, Pak. Saya panggilkan perawat dulu. Bapak kesakitan begitu, saya mana bisa membiarkannya!” sergah Yasnia buru-buru menekan nurse call bahkan meski Sabiru melarang.
Anehnya, sampai detik ini Calista sampai tidak diajak komunikasi oleh Yasnia. Termasuk itu ketika akhirnya suster yang datang dan apa-apa serba Yasnia yang serba tanya sekaligus meminta solusi, pergi.
“Si Yasnia apa banget, sih, ya? Memangnya dia pikir, alasan aku ada di sini dan sampai sekarang masih ditahan-tahan mas Sabiru apa, kalau bukan karena hubungan kami sudah sah? Baru kali ini ada karyawan yang bikin aku ingin ceramah. Caranya beneran enggak sopan,” batin Calista langsung terdiam tak percaya ketika Yasnia dengan tegas meminta Calista pergi dari sana.
“Yasnia!” tegas Sabiru.
“Saya tegaskan lagi, tolong tinggalkan kami sekarang juga karena ada beberapa hal penting yang harus kami bahas!” tegas Yasnia masih dengan keputusannya.
“Yasnia, tolong jaga sikap kamu. Dari awal kamu datang, kamu sudah sangat tidak sopan. Nona Calista istri saya. Kami sudah menikah dan otomatis status Nona Calista sekarang juga bos kamu!” tegas Sabiru tidak bisa untuk tidak emosi. Menahan rasa sakit di lukanya saja sudah membuatnya jadi emosional, ditambah Yasnia yang bersikap seolah wanita itu tuannya.
“Posisi kami masih pengantin baru! Dan saya tegasin lagi, tolong jaga sikap kamu khususnya kepada istri saya! Orang yang tahu sikap kamu pasti akan beranggapan kamu minim sopan santun!”
Calista merasa aneh pada cara interaksi Sabiru dan Yasnia. Selain yang Calista tahu selama hidupnya, Sabiru hanya mengejarnya. Sabiru tak pernah dekat dengan wanita mana pun, sementara status Yasnia Calista ketahu merupakan karyawan Sabiru. Namun setelah Sabiru menegaskan status Calista dan Sabiru merupakan pengantin baru, Yasnia terlihat sangat terkejut bahkan sakit.
“Hah? Mereka sudah menikah?” batin Yasnia benar-benar terkejut. Dadanya sudah langsung terasa kebas sekaligus bergemuruh.
“Si Yasnia sebenarnya kenapa, sih?” batin Calista tak mau pergi dari sana. Tak semata karena Sabiru masih kesakitan, tapi juga karena Calista merasa berhak ada di sana ketimbang Yasnia. Karena selain Calista merupakan istri Sabiru, Sabiru saja marah kepada Yasnia atas sikap karyawan itu yang semena-mena kepada Calista.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Nartadi Yana
wah si yasnia pingin jadi istri bos ini
2024-12-12
0
Sandisalbiah
Yasnia ini kariawan yg terobsesi dgn Sabiru.. lagian jd cewek kok ya gak tau diri banget, nyelonong masuk ke ruang rawat tanpa ngucap salam sementara kepala berhijab tp etika zonk
2024-07-30
0
sherly
wah duh sabiru nemu dimana karyawan modelan kayak gini , ngk ada etika dan sopannya... pecat aja
2024-07-29
0