“Ta, aku enggak akan nyerah!” teriak Emran dari depan butiknya.
Calista yang sempat terkejut, refleks istighfar seiring ia yang kembali melangkah. Calista siap pulang di petang menuju malam, setelah dirinya melangsungkan shalat maghrib di restoran. Namun, hadirnya Emran yang melangkah saja terpinca-ng—pin-cang, membuat Calista meradang.
“Ta, please! Pertama-tama, jadi teman tapi mesra juga enggak apa-apa. Habis itu kita nikah, kamu ceraikan suamimu dulu!” rengek Emran sudah menunggu di halaman restoran Calista memarkir mobil.
“Mohon maaf, ya. Suamiku berkali-lipat lebih baik dari kamu. Aku beneran enggak butuh badut, jadi kamu jangan rusu-h!” semprot Calista.
Tertatih-tatih Emran menyusul Calista, tapi Calista yang tahu apa yang akan terjadi, buru-buru masuk mobil. Tak mau kalah dari Calista, Emran nekat lari. Emran sampai terjatuh gara-gara kenyataan tersebut. Namun demi Calista, Emran tetap berusaha bangkit dan berakhir mendekap mobil bagian depan Calista. Calista yang murka sengaja menekan klakson mobilnya sangat lama. Terakhir, efek Emran yang masih berulah, Calista memilih turun dan lagi-lagi memban-ting Emran.
“In ... in—na ... lilahi.” Ulah Calista kali ini sampai membuat Emran tak bisa berkata-kata. Selain itu, napas Emran juga jadi sangat sesak dibarengi dengan tubuh Emran yang gemetaran. Pria berhidung bangir itu benar-benar kesakitan. Hanya saja, Emran tipikal yang masih satu spesies dengan pak Rayyan. Karena jika kalian sudah membaca novel orang tua Calista, kalian pasti akan mengenal sosok tersebut.
***
Sampai di rumah orang tuanya, keadaan cukup membuat Calista bingung. Semuanya tampak sibuk mempersiapkan penampilan terbaik.
“Kok Mas Aqwa sama dek Ara sudah di sini lagi? Ini mau pada ke mana, sih?” bingung Calista lantaran semua anggota keluarganya ada di sana, termasuk keluarga mas Kim sang kakak yang harusnya ada di kampung halaman.
“Sudah, kamu siap-siap juga. Ini kita mau kondangan ke klien penting! Dia dapat keluarga kita dan menikahnya dadakan, jadi ya beneran enggak ada persiapan!” yakin mbak Ryuna selaku istri dari mas Kim.
“Kondangan ke klien penting yang dapat keluarga kita? Siapa? Terus acaranya di mana? Takutnya mas Sabiru pulang, soalnya beliau bilang, beliau mau pulang,” ucap Calista tak bersemangat sambil memainkan kunci mobilnya.
Ditanya begitu, mbak Ryuna jadi kebingungan dan perlahan menatap sang suami. Namun karena Ara putri mereka memang sedang menangis setelah terjatuh, mas Kim buru-buru pergi dari sana dan memang tidak fokus. Mas Kim sibuk menenangkan Ara.
“Kalau gitu, mending sekarang kamu siap-siap dulu, ya. Soalnya yang lain sudah pada siap. Nanti kita perginya bareng. Kamu sama Papah mamah. Sementara mas Brandon dan mas Boy, mau langsung jemput Hyera. Nanti kita berangkatnya barengan,” jelas mbak Ryuna.
“Berangkatnya beneran sebentar lagi, ya?” balas Calista memastikan dan langsung membuat mbak Ryuna mengangguk.
“Iya, beneran sebentar lagi. Kamu langsung siap-siap ya. Itu kok Ara enggak berhenti-berhenti,” ucap mbak Ryuna sambil meninggalkan Calista.
Mbak Ryuna ya g susah memakai kebaya gamis warna merah muda sengaja menyusul keberadaan sang suami yang masih sibuk menenangkan Ara.
“Kalau gitu aku kabari mas Bi dulu. Jadi penasaran, saudara kami yang mana yang dapat klien penting dan sampai bikin Hyera pulang juga,” batin Calista yang bergegas menaiki anak tangga.
Sembari melewati setiap anak tangga menuju lantai keberadaan kamarnya, Calista kerap mengawasi lantai bawah. Di sana masih heboh karena pak Helios dan ibu Chole masih sibuk menenangkan Ara yang terus saja menangis.
“Mas Bi enggak balas-balas, sementara aku wajib siap-siap. Ya sudahlah, nanti aku kabari lagi, mana tahu beliau mau nyusul. Tapi kira-kira, siapa ya. Klien penting kami yang dapat saudara kami? Di keluarga kami yang belum nikah kan ... lah, aku saja juga belum tahu, saudara kami yang dimaksud, cowok apa cewek. Jangan-jangan Hyera? Jangan-jangan malah Aurora ... soalnya tadi mbak Ryuna bilang, semuanya serba mendadak,” pikir Calista jadi pusing sendiri.
“Andai bisa kondangan bareng mas Biru, pasti lebih seru. Duh, LDR kok seberat ini. Padahal hanya tinggal hitungan jam!” keluh Calista jadi uring-uringan sendiri.
Sekitar satu setengah jam kemudian, mereka sampai di hotel resepsi pernikahan akan digelar. Resepsinya disinyalir tertutup, tapi diadakan di hotel berbintang. Beberapa mobil yang terparkir Calista kenali sebagai milik keluarga besarnya.
“Itu mobil mas Brandon. Berarti mereka sudah sampai, ya?” ucap Calista mengabarkannya kepada orang tuanya.
Seperti yang Calista duga, rombongan adik-adiknya yang memboyong Hyera memang sudah tiba. Lebih tepatnya, mereka hanya beberapa menit sampai lebih dulu dari rombongan Calista.
Untuk beberapa saat, kecanggungan menimpa Calista dan Hyera karena biar bagaimanapun, keduanya mencintai pria yang sama yaitu Sabiru. Namun, melalui tatapan anggota keluarga mereka yang sudah berkumpul di depan lobi hotel, Calista dan Hyera kompak melangkah, mendekati satu sama lain.
Calista dan Hyera yang masih melakukan segala sesuatunya dengan ragu, berangsur meraih kedua tangan satu sama lain. Karena tak kuasa berkata-kata, dan malah berlinang air mata, kakak beradik yang gaya tampilannya sangat berbeda itu berangsur memeluk erat satu sama lain.
“Maaf yah, Mbak banyak salah ke kamu!” ucap Calista.
Berbeda dengan Calista yang memang bisa jauh lebih tegar, Hyera yang manja sekaligus cengeng, justru makin tidak bisa berkata-kata. Hyera berakhir tersedu-sedu.
Setelah saling menguatkan, mereka kompak masuk hotel. Mas Kim dan mbak Ryuna memimpin langkah, keduanya saling bergandengan mesra. Sementara di belakang mereka ada pak Helios dan ibu Chole. Pak Helios mengemban Ara, sementara ibu Chole menuntun Aqwa. Dan tepat di belakang mereka, ada Brandon yang dengan gagahnya menggandeng Calista. Barulah di belakang mereka, ada Boy yang menggandeng Hyera.
“Kita tuh kalau ke acara kayak gini, rasanya rasa pawai saking banyaknya!” ucap Boy yang berakhir tertawa. Tawa yang langsung pecah ketika sang kembaran berkata, “Ini belum apa-apa. Soalnya kalau keluarga besar kita beneran kumpul dalam formasi lengkap, berasa lihat kecambah berhamburan!”
“Kok mas Bi belum nyaut-nyaut. Pesan-pesanku malah belum ada yang dibaca,” batin Calista jadi gelisah sendiri.
“Mau ke toilet?” tawar Brandon yang memang jauh dari manusiawi karena adik Calista yang satu ini memang tipikal sangat dingin.
Calista mengangguk-angguk menerima tawaran sang adik. Karena meski Sabiru belum meresponnya, Calista sengaja menyiapkan penampilan terbaik untuk pertemuan mereka.
Ternyata yang ke toilet bukan hanya Calista dan Brandon. Karena Hyera dan Boy juga.
“Jangan mengikuti saya!” tegas suara pria dari belakang rombongan Calista.
Detik itu juga Calista berhenti melangkah seiring dirinya yang mengenali suara tadi sebagai suara suaminya. Benar saja, itu memang Sabiru. Sabiru yang memakai setelah jas putih, tidak sendiri. Sabiru bersama Yasnia.
Dalam diamnya, Calista menjadi bertanya-tanya. Namun sang suami yang melangkah menghampirinya, tak hentinya tersenyum menatapnya penuh cinta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Sandisalbiah
Lha itu si kunti bogel Yasnia kok masih mengintili Sabiru..? bukannya udah di pecat kan ya..?? 🤔🤔🤔
2024-07-30
0
Mas Bos
peran yasnia bikin yg baca gregetan
pingin jongklokin ke kolam buaya
/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
2024-02-13
1
Erina Munir
ya ampuun si yasnia cari mati tuh pere...gregetan jdi nya nih aku thoor
2023-12-19
2