Langkah santai seorang Yasnia perlahan menjadi lebih pelan, sebelum akhirnya benar-benar berhenti, tepat di depan konter meja kerjanya.
“Kok sepi banget, ya? Si Calista beneran belum ketemu dan pak Sabiru belum balik karena masih nyari, apa bagaimana?” pikir Yasnia yang bergegas melongok.
Ada sedikit penyesalan di lubuk hati Yasnia lantaran dirinya tak sampai mengawasi gerak-gerik Sabiru. Hingga yang ada, kini ia kehilangan jejak pujaan hatinya itu.
Heningnya suasana ruang kerja Sabiru, menjadi alasan Yasnia melongok masuk. “Wah, malah enggak ada tanda-tanda kehidupan. Tas Calista dan tasnya pak Sabiru juga sudah enggak ada. Calista kecelakaan apa bagaimana, makanya pak Sabiru terpaksa pulang tanpa mengabari aku?” pikir Yasnia sengaja buru-buru pulang juga, sesaat setelah ia menyambar tas kerjanya dari meja kerja miliknya.
“Hah ...? Kecelakaan bagaimana, Bu Yasnia? Enggak, kok. Enggak ada yang kecelakaan. Tadi setahu saya, nyonya Calista sehat wal afiat!” yakin satpam yang berjaga, kepada Yasnia yang langsung memastikan kabar sakitnya Calista.
“Hah? Calista enggak sakit dan justru sehat wal afiat? Gimana ceritanya?!” kaget Yasnia dalam hatinya dan sudah langsung merasa sangat sebal. Ia pergi begitu saja dari sana tanpa pamit apalagi mengucapkan terima kasih kepada satpam yang ia tanya.
Satpam yang Yasnia tinggalkan jadi menatap heran Yasnia. Di depan pintu masuk utama tempat pertemuannya dengan Yasnia, ia jadi bertanya-tanya dalam hatinya. “Apa jangan-jangan, sebenarnya nyonya Calista memang kecelakaan, ya pas di perjalanan? Masa iya, ibu Yasnia langsung seyakin itu kalau nyonya besar, kecelakaan? Duh, semoga baik-baik saja lah. Apalagi baru juga datang sehari, aku sudah dikasih jatah kopi sama nasi kotak, padahal enggak sedang dalam rangka khusus!”
Padahal yang dimaksud, tengah fokus menikmati kopi maupun mi-nya, di dalam mobil. Sabiru ada di sana, menemani sekaligus menyuapi sang istri makan mi.
“Lapar banget?” lembut Sabiru karena itulah yang ia tangkap dari apa yang ia saksikan atas lahapnya sang istri menerima setiap suapannya.
Calista mengangguk-angguk. Dan langsung berkata, “Itu sudah aku kasih ke yang lebih membutuhkan.” Ketika Sabiru menyinggung makanan pemberian Yasnia dan di meja Sabiru hanya tersisa wadahnya. “Yang lebih membutuhkan maksudnya tempat sam—pah,” batinnya.
“Lihat kamu selahap ini, jadi pengin,” ucap Sabiru. “Enak banget, ya?”
“Iya ... enak banget, Mas! Coba deh!” ucap Calista bersemangat sebelum akhirnya ia menyeruput kopi hitamnya. “Kopinya sudah dingin jadi kurang enak.”
Sabiru langsung mengernyit hanya karena mendengar keluh kesah sang istri. “Sejak kapan sih, kamu jadi suka kopi dan itu kopi hitam?” Lagi, Sabiru yang penasaran dan perlahan penasaran dengan rasa kopi yang sang istri menikmati, mencicipi kopi Calista.
“I—itu kan Mas sudah aku kasih. Mi, kopi. Makan loh. Habis ini wajib minum obat lambung, soalnya pasti lambung langsung gonjang-ganjing!” ucap Calista sambil menahan tawanya. Tawa yang juga menular kepada suaminya.
“Iya, enak ... ini beneran enak. Ini buat aku!” ucap Sabiru sungguh menguasai sekaligus mengambil alih kopi sang istri.
“Loh, yang punya Mas kan itu,” heran Calista sampai bengong.
“Enggak, aku maunya yang ini saja,” ucap Sabiru tak mau diusik.
“Nih orang kenapa? Bucin sih bucin, tapi masa iya, apa-apa serba mau punya aku,” batin Calista berangsur meraih kopi maupun mi dan awalnya ia siapkan secara khusus oleh Sabiru.
“Kalau boleh tahu, Mas tahu rumah Yasnia?” kali ini, Calista sengaja bertanya dengan hati-hati.
Sabiru yang masih menikmati kopinya langsung mengernyit menatap Calista, dan berakhir menggeleng. “Enggak, tapi tahu alamatnya karena ada di data karyawan. Kenapa gitu?”
“Ya pengin tahu saja. Kata Mas, dia karyawan teladan. Siapa tahu sampai tahu rumah dan pernah ke sana buat jaga hubungan baik,” balas Calista.
“Ya lihat kondisi lah. Kami kan sama-sama dewasa, takutnya dia baper padahal niatku sebatas hubungan kerja,” ucap Sabiru.
Mendengar itu, Calista yang awalnya akan memakan mi—nya, jadi tidak jadi. Lagi-lagi, ia menatap heran sang suami. “Masa Mas enggak merasa kalau dia baper ke Mas?”
Disinggung begitu, Sabiru yang tengah melahap mi, refleks bengong menatap Calista, sebelum akhirnya ia menggeleng tak berdosa.
“Ya iyalah Mas enggak peka, orang Mas cintanya hanya ke aku. Apalagi jalur yang dia pakai, jalur guna-guna, ya enggak bisa nembus hati Mas. Hanya bisa nembus pikiran saja,” ucap Calista sengaja menyindir Sabiru.
“Guna-guna apa? Siapa?” lembut Sabiru kali ini benar-benar penasaran.
“Pokoknya, sekarang Mas ibadahnya wajib dikencengin. Kalau bisa, yang sunnah pun iya!” balas Calista belum mau membongkar tabiat Yasnia.
“Yang sunnah pun jadi wajib, ya?” tanya Sabiru yang kemudian sengaja berbisik-bisik, “Berarti setiap malamku bakalan jadi malam jumat, ya?”
Meski langsung kikuk, Calista buru-buru berkata, “Bukan malam jumat pun enggak pernah absen!” Karena begitulah kenyataannya. Namun sang suami justru tertawa tak berdosa.
Sampai akhirnya mereka tiba di rumah orang tua Calista, cerita Calista sukses membuat orang tuanya tercengang. Perihal Yasnia yang kurang a—jar kepada Calista, termasuk itu permohonan izin agar Calista mengizinkan Yasnia menjadi madu yang bisa membahagiakan Sabiru.
“Dia kesuru—pan apa bagaimana? Kok bisa-bisanya begitu? Hanya orang enggak waras yang berani bersikap begitu!” sergah ibu Chole langsung marah. Lain dengan sang suami yang masih diam, belum berkomentar.
“Kok kamu enggak cerita?” kaget Sabiru. Ia yang awalnya sibuk mengeringkan kepalanya menggunakan handuk kecil, langsung diam menahan kecewa. Rasa kecewa yang tentu saja langsung lahir untuk Yasnia.
“Ini yang tadi aku maksud guna-guna, Mas!” yakin Calista yang juga sudah mandi layaknya Sabiru.
“Innalilahi ....” Ibu Chole makin marah.
“Guna-guna bagaimana?” Sabiru makin penasaran.
“Yang semprot-semprot itu, sama sajian yang awalnya dikasihkan ke aku buat buka puasa. Dan setelah semua itu aku buang, untuk pertama kalinya, Mas bisa marah ke Yasnia.” Calista berucap yakin menatap sang suami penuh keseriusan.
“Sudah ... sudah. Sekarang kalian tenang saja. Besok, Papah ke sana. Besok Papah bawa Aqwa biar Aqwa ajak demit di sana ngobrol,” ucap pak Helios berusaha meredam ketegangan di sana.
“Biasanya yang begitu susah berhenti sebelum dia pindah ke alam lain loh, Pah. Papah ngerti maksud Mamah, kan?” gercep ibu Chole.
“Jujur kalau sekarang enggak ada pengaruh buru—k di diri Mas Bi. Ya mungkin efek yang dibuang-buang sama Mbak Lili. Ya buat pembelajaran, ke depannya jangan mau mengonsumsi sembarangan. Kalau memang paham enggak bisa bekal sendiri, pastikan pesan makanan dan saat sampai ke kita, itu masih disegel.” Pak Helios masih berbicara dengan sangat sabar.
“Mau enggak mau, hal semacam inu pasti akan terjadi di lingkungan kita, meski kita bukan pelakunya. Intinya, dijadikan pembelajaran saja. Andai ada gerak-gerik mencurigakan, ya distop saja. Sekadar semprot-semprot meja rapat yang jelas sudah bersih saja harusnya itu sudah jadi hal janggal. Cara itu sudah berlebihan, Mas Bi!”
“Iya, Pah. Masih enggak sangka saja. Kok sampai begitu padahal sebisa mungkin, aku selalu bersikap baik ke semua orang apalagi ke karyawan,” ucap Sabiru lemas dan memang langsung trauma. Kini ia refleks menatap Calista yang jadi membuat dirinya merasa sangat bersalah. Tak terbayangkan bagaimana rasanya ada di posisi Calista ketika Yasnia semena-mena. Bahkan sampai meminta Calista mengizinkan Yasnia menjadi madu Calista.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Nadiyah1511
wah kalau pak holis dh bertindak .... selesai kamu yas
2024-09-27
0
Sandisalbiah
jaman sekarang pelakor lebih berbahaya dr pd pembegal, Bi.. makanya selain harus bisa jaga diri dan jaga hati kamunya juga harus bisa jaga istri... krn pelakor sekarang lebih sadis dr pembunuh berantai juga lebih seram dr sosok kuyang dan wewe gombel
2024-07-30
0
Nurwana
Thu si yasnia minta dicabein kali....
2024-05-09
0