“Saya minta maaf. Saya akui saya salah. Namun saya mohon, tolong beri saya kesempatan sekali saja. Tolong izinkan saya untuk tetap bekerja di sini karena saya benar-benar sedang butuh banyak uang!” Yasnia tersedu-sedu dan sampai detik ini masih berlutut di hadapan Calista.
Permintaan maaf dari Yasnia kepada Calista, membuat Calista dilema. Di lain sisi, Calista memang marah bahkan kecewa. Namun di lain sisi yang lain lagi, Calista yang hatinya terlalu baik, jadi tidak tega.
“Kamu masih boleh kerja di sini, tapi bukan sebagai sekretarisku lagi!” tegas Sabiru yang sudah langsung mengakhiri ketidaknyamanan di sana.
Tentu, apa yang Sabiru katakan sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka yang ada di sana, apalagi Yasnia, paham.
***
Hari-hari berlalu, dan semuanya berjalan dengan semestinya. Sabiru mulai meninggalkan kursi rodanya, yang mana kini ia tak lagi menjadikan Yasnia sebagai sekretarisnya.
Selain itu, Calista juga mulai aktif kembali bekerja mengurus restoran. Hari ini mereka yang kesiangan dan tak sempat memasak, sepakat makan di restoran Calista.
“Tadi Mas di telepon bilang, ada hal penting yang mau Mas bahas dengan aku?” ucap Calista memimpin langkah dalam menaiki anak tangga menuju balkon atas di dapurnya.
Renovasi di restoran Calista dan sempat membuat Sabiru kejatuhan balkon, nyaris usai. Suasana di balkon juga sudah manusiawi, tinggal sentuhan akhir dan itu sekadar bersih-bersih. Beberapa pot bunga tampak tengah disusun.
“Nanti habis makan siang saja,” ucap Sabiru turut ikut mengawasi keadaan di sana, layaknya apa yang tengah dilakukan sang istri.
Tanpa sedikit pun curiga, Calista langsung membagi senyumnya kepada sang suami yang ia tatap penuh cinta. “Ya sudah Mas. Aku mau lihat-lihat sini dulu. Senang banget akhirnya ruangan khusus VIP ini jadi juga!”
Dengan santai, Sabiru yang langsung tersenyum karena kebahagiaan Calista otomatis menular kepadanya, berkata, “Ke depannya kalau sudah beroperasi, setiap hari aku booking ruang VIP ya. Buat makan siang apa makan malam bareng istri, sepertinya sangat cocok!”
Mendengar itu, Calista yang sedang mengawasi pengecatan dinding langsung tersipu. Ia berangsur menghampiri Sabiru meski jarak mereka tak kurang dari satu meter.
“Mas juga wajib bawa keluarganya Mas buat makan atau sekadar ngopi di sini!” pinta Calista sambil tersenyum manis dan memang bagian dari bujuk rayu yang tengah ia lakukan.
“Berani bayar pajak berapa?” sergah Sabiru kian menyikapi sang istri dengan jauh lebih santai.
Malu-malu menepis tatapan Sabiru, langkah kecil yang Calista lakukan membuatnya berakhir tak lagi berjarak dengan Sabiru. Detik itu juga ia menyandarkan kepadanya pada dada Sabiru yang juga langsung memeluknya penuh cinta.
“Baiklah ... ke depannya kalau ada ketemuan sama klien, aku akan langsung ajak mereka ke sini,” janji Sabiru dan langsung membuat Calista yang ada di dekapannya, tertawa geli.
Beres makan dan itu di salah satu ruang VIP, Sabiru masih betah memandangi wajah sang istri penuh cinta, hingga yang dipandangi itu menjadi salah tingkah.
“Aku pengin cul—ik kamu loh! Habis ini ikut aku ke kantor, ya?” ucap Sabiru yang kali ini sambil tertawa.
“Mau nyu—lik kok bilang-bilang!” balas Calista sambil menertawakan suaminya. Kenyataan yang makin sering mewarnai kebersamaan mereka.
“Ya wajib bilang. Takutnya istrinya enggak mau, terus kalau dipaksa yang ada aku kena hukuman. Sementara dari semua hukuman, hukuman dari istri rasanya selalu jadi hukuman paling berat!” balas Sabiru sambil menahan tawanya.
Setelah kebersamaan mereka mendadak senyap karena baik Sabiru maupun Calista kompak diam, Calista sengaja berdeham. Calista kembali menyinggung hal penting yang sempat Sabiru utarakan.
“Oh itu ... lusa aku dan beberapa karyawanku mau keluar kota.”
Apa yang Sabiru katakan barusan sudah langsung membuat Calista sendu.
“Wah ....” Calista refleks mengatakannya dan memang belum siap jika harus menjalani LDR sebagai suami istri dengan Sabiru.
“Kenapa? Enggak apa-apa, kan?” balas Sabiru memastikan karena sebelum mereka menikah pun, hampir setiap minggunya, Sabiru menjalani dinas keluar kota.
“Memangnya lusa mau ke mana?” tanya Calista tanpa berniat membalas pertanyaan Sabiru yang sebelumnya karena baginya, harusnya pria itu tahu tanpa harus membuatnya membalas.
“Mau ke dua tempat, tapi semuanya sama-sama puncak. Ke Bogor, dan ke sekitar Dieng. Nanti rame-rame, bareng pihak pertanian juga. Kami mau bahas budidaya kedelai, sekalian promosi produk,” jelas Sabiru benar-benar lembut, selain ia yang sudah sampai menggenggam kedua.tangan Calista.
“Yasnia, ... ikut?” tanya Calista sungkan terlebih ia sampai memotong penjelasan dari Sabiru.
Meski sempat terdiam sejenak, Sabiru mengangguk lembut kemudian mendekap sang istri penuh sayang. “Enggak apa-apa, kan rame-rame. Yasnia enggak mungkin berani macam-macam.”
Ketakutan Calista atas seran—gan dari Yasnia sang bibit pela—kor, benar-benar membuncah detik itu juga.
“Ke puncak yang identik dengan suasana mendukung. Duh ...,” batin Calista mendadak menyesal telah memberi Yasnia kesempatan tetap bekerja kepada Sabiru, satu minggu lalu.
***
“Aku enggak bisa tidur,” lirih Calista berangsur duduk sekaligus keluar dari selimutnya. Padahal di sebelahnya, Sabiru sudah tidur dan sampai mendengkur.
Rencana dinas keluar kota yang akan Sabiru lakukan, sudah langsung membuat Calista mendadak str—es. Lebih parahnya lagi, Calista tak bisa mengungkapkannya dan berakhir uring-uringan sendiri. Karenanya, Sabiru memutuskan untuk menitipkan Calista ke orang tuanya selagi Sabiru dinas keluar kota.
“Hanya empat hari! Empat hari dari sekarang, aku akan langsung pulang ke sini! Byeee ...!” Untuk ke sekian kalinya, Sabiru berpamitan dengan kalimat yang sama. Di depan gerbang rumah kediaman orang tua Calista, Calista yang ditemani ibu Chole sampai sesenggukan. Calista memang tidak sampai bersuara, bahkan itu sekadar melayangkan kata-kata perpisahan. Namun bisa Sabiru rasakan dengan jelas, sang istri tidak ikhlas dan memang tidak mau ia tinggal.
“I love you!” teriak Sabiru masih bertahan di jendela pintu penumpang belakang sopirnya.
Namun, apa yang Sabiru katakan dan harusnya memang terasa manis bagi Calista yang menerimanya, justru membuat Calista makin sesenggukan.
Ibu Chole yang menemani sang putri jadi kewalahan. Ibu Chole memeluk Calista dan berusaha menenangkannya.
Sabiru yang tidak tega juga memutuskan turun, terlebih dulu memeluk sang istri sebelum pria itu benar-benar pergi.
Siang menjelang jam makan siang, Calista sengaja menelepon sang suami. Entah kenapa, wanita itu menjadi sulit baik-baik saja semenjak tahu, Yasnia menjadi bagian dari dinas keluar kota yang dijalani oleh sang suami. Puncaknya, ketika telepon yang Calista lakukan kepada Sabiru, justru dibalas oleh suara Yasnia yang sangat perhatian.
“Pak Sabirunya sedang tidur, tolong tinggalkan pesan saja,” lembut suara Yasnia dari seberang, tapi ponsel Calista telanjur jatuh dari genggaman tangan kanan, bersama air mata bahkan jantung Calista yang seolah mengalami hal serupa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Sandisalbiah
Lha kok bisa Sabiru tidur tp hp bisa dipegang Yasnia..?? kan buat Calista dan rwader jd overthinking nih... makin galau dong si Calista, mengingat sepak terjang Yasnia yg ajaib itu
2024-07-30
0
Ida Ulfiana
kok hp sabiru bisa d pegang yasnia sih
2024-07-20
0
Mas Bos
yasnia mestinya di cemplungin
ke dalem kawah dieng biar tobat
/Joyful//Joyful//Joyful/
2024-02-12
1