Sudah dua jam berlalu, dan Calista masih menangis. Calista tak mau menjaga jarak apalagi meninggalkan Sabiru, seperti yang pria itu minta.
Bukan hanya jatah sarapan Sabiru yang berakhir dingin. Karena sarapan romantis yang Sabiru siapkan secara khusus untuk Calista atas bantuan ajudannya, juga bernasib sama.
“Li, ... aku hanya enggak mau kamu ketularan. Ini cacar, rawan menular bahkan dari udara. Serius, aku enggak ada niat lain, selain aku yang enggak mau melukai kamu.” Sabiru masih sangat sabar menjelaskan, menatap saksama sang istri yang tersedu-sedu tanpa bisa menyudahi bersinnya. Di sebelahnya, Calista masih berdiri. Wanitanya itu tak mau pergi meski ia sudah mengusirnya.
“Alasanku menikah sama kamu karena aku ingin merawat kamu, Mas!” isak Calista.
Baru juga Calista diam, seseorang membuka pintu dari luar dan ternyata itu orang tua mereka yang datang.
Para orang tua langsung kebingungan menatap Sabiru dan Calista silih berganti. Mereka sungguh tak menyangka jika anak-anak mereka yang mereka ketahu saling cinta, sudah mewarnai rumah tangganya dengan air mata, di hari kedua setelah pernikahan.
“Mas, istrinya diapain?” lembut ibu Azzura buru-buru merengkuh Calista. Ia berusaha menenangkan menantunya.
“Harusnya kalau memang ada masalah yang beneran masalah, Sabiru sudah dibanti*ng sih,” refleks pak Helios karena biar bagaimanapun, putrinya yang jika kepada Sabiru akan sangat pemalu, pada kenyataannya memang sangat jago bela diri.
Akan tetapi, tanggapan refleks pak Helios sukses membuat sang istri mendelik sambil menyikut lengan kirinya. Alasan yang juga membuat pak Helios buru-buru kalem.
“Sarapan pun sampai dingin? Di sini, di balik tirai. Harusnya sih semuanya baik-baik saja karena semuanya serba masih tertata manis,” komentar pak Excel dengan santainya. Kemudian ia sengaja memilih duduk di sofa tunggal dan keberadaannya tak jauh dari ranjang rawat sang putra berada. Kemudian, yang ia lakukan ialah mengamati secara saksama keadaan anak dan menantunya, guna mendapatkan alasan keadaan kini sampai terjadi.
“M—mas, cacarmu loh. Keluar semua itu ya. Tapi bagus sih, soalnya kata orang tua kalau cacar enggak keluar semua, justru dampaknya ke perut. Perut jadi kaku gitu. Makanya ini Mamah sengaja bikin wedang asam jawa, biar cacar kamu keluar semua. Soal ya oma Aleya sudah wanti-wanti,” ucap ibu Chole yang memang sengaja membawa banyak makanan maupun minuman. Baik yang untuk Sabiru, maupun Calista. Semua itu ada dalam tiga kantong dan ditenteng langsung oleh sang suami. Namun khusus untuk wedang asam jawanya, ia tenteng sendiri menggunakan kantong karton kecil.
Tak beda dengan ibu Chole, ibu Azzura juga membawa keperluan. Hanya saja karena ibu Chole sudah membawa makanan berat, ia sengaja membawa beberapa camilan termasuk pizza kesukaan anak-anak. Alasan mereka begitu kompak, tentu karena mereka sudah bersahabat sejak lama.
“Nah itu, sama Mamah mau!” protes Calista tepat ketika Sabiru baru saja menerima satu suap wedang asam Jawa, dari ibu Chole.
Para orang tua khususnya ibu Chole yang disebut-sebut, kompak kebingungan.
“Memangnya kenapa, sih?” tanya ibu Azzura yang sampai saat ini masih memeluk Calista penuh sayang.
Calista langsung menjelaskan bahwa Sabiru sampai mengusirnya, dengan dalih tidak mau membuat Calista tertular.
“Kamu ngusir istrimu, nanti kalau istrimu diambil pria lain, baru nyaho, kamu!” ucap pak Excel yang meski santai, tapi kali ini ia tengah memarahi sang putra.
Intinya, saking saling memahami karena mereka sudah kompak menjodohkan anak-anak sejak bayi, bahkan sejak dalam kandungan, para orang tua justru nyaris tidak pernah membela anak-anak mereka, jika hubungan anak-anak sampai ada masalah.
“Mbak Lista, ... alasan Mas Sabiru minta kalian jaga jarak kan karena suami Mbak sayang banget ke Mbak!” lembut ibu Chole kali ini juga sengaja menegur sang putri.
“Biar Mbak Lista tetap glowing, Mbak. Biar Mbak makin cantik. Kalau istri makin cantik kan, suami makin cinta!” timpal pak Helios yang kali ini sengaja menggoda putrinya. Alasan yang juga membuat para orang tua kompak menahan tawa. Lain dengan kedua anak mereka khususnya Calista yang langsung kikuk.
“Aku lapar loh. Tadi Chole bawa masakan banyak, kan?” ucap pak Excel yang kemudian menyusul pak Helios ke ruangan seberang dan sampai saat ini masih dibatasi dengan tirai merah. Alasannya menyusul sang sahabat yang kini juga telah menjadi besannya karena pak Helios memboyong semua kantong berisi makanan maupun minuman yang dibawa, ke sana.
Para orang tua bukannya iba apalagi terpancing emosi karena percekcokan anak-anak, justru sengaja menggo*da. Membuat suasana di sana justru jadi jauh lebih hangat.
“Pah, itu buat anak-anak, jangan dihabisin!” omel ibu Azzura ketika memergoki sang suami akan nambah.
Pak Helios dan ibu Chole kompak menahan tawa mereka, menertawakan wajah tak berdosa pak Excel yang tampak jelas ingin makan lagi. Namun tak lama setelah itu, giliran keduanya yang menertawakan pak Helios. Karena kesibukan pak Helios ngemil dan sampai habis dua bungkus keripik berukuran besar, juga membuat pria itu mendapat siraman rohani dari sang istri.
“Ih, Papah Mamah kok malah ngelawak, padahal harusnya kalian kasih solusi, biar aku enggak benar-benar disuruh pergi,” rengek Calista jadi gemas kepada tingkah para orang tua.
Karena teguran Calista juga, para orang tua akhirnya memberikan solusi agar Calista bisa tetap bersama Sabiru, yaitu dengan mereka wajib jaga jarak.
“Jangan sampai disuruh pergi, Mas. Nanti yang ada istrimu dicolong orang!” ucap pak Excel yang kemudian menenggak sebotol ar mineral berukuran sedang, sesaat setelah ia kembali duduk di sofa ia sempat duduk dekat ranjang sang putra berada.
Detik itu juga, baik Calista maupun Sabiru kompak berkode mata. Calista bahkan meminta maaf.
“Nah gitu, ... saling maaf-memaafkan meski belum lebaran, biar disayang Tuhan kalau kata Paojan!” canda pak Helios masih sibuk minum air putih layaknya tuntunan sang istri agar ia tak terkena radang tenggorokan karena khilaf menghabiskan dua bungkus camilan berukuran besar.
“Jangan dibahas lah Her, nanti yang ada orangnya datang!” ujar pak Excel yang memang sudah langsung tertawa. Tawa yang juga langsung menular kepada pak Helios hingga sahabatnya itu tersedak.
Para mamah hanya geleng-geleng, tapi ibu Chole dan ibu Azzura dan kali ini kompak memakai nuansa keemasan termasuk untuk cadarnya, meminta Calista maupun Sabiru untuk sarapan.
“Tapi andai kalian sama-sama kena cacar ya enggak apa-apa, biar sama-sama mengobati. Bebasnya pun bareng,” usul ibu Azzura, tapi Sabiru dengan tegas tak mau sang istri tertular.
Padahal, sekadar menjaga jarak saja sudah sangat membuat Sabiru rindu. Sabiru mengatakannya kepada Calista yang sudah langsung deg-degan sekaligus tersipu malu. Karena biar bagaimanapun, di sana masih ada orang tua mereka, khususnya para papah yang sungguh rese sekaligus berisik.
🌟Novel Para Orang Tua🌟
Pak Helios~ibu Chole : Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta yang Kejam.
Pak Excel ~ ibu Azzura : Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Nartadi Yana
nah ini masalahnya nggak tau bacanya harus yang mana dulu , bila ada urutan kapan outhornya bikin misalkan novel pertama, kedua dan seterusnya ...... aku suka 💗💗💗💗💗
2024-12-13
1
Nadiyah1511
seharusnya baca novel para ortu dlu kah
2024-09-27
0
Sandisalbiah
di novel Alina dan Akina Azzura dan Axcel gak pernah muncul.. cuma Helios sesekali
2024-07-30
0