Selama dalam perjalanan, Dava benar-benar tidak enak hati. Dua minggu lamanya dia mengacuhkan Reva yang sama sekali tidak mempunyai salah apa-apa.
"Bodoh sekali, aku sudah menyalahkan istriku sendiri dan membenci dia tanpa seba," gumam Dava.
Berkali-kali dia memukul stir mobilnya saking dia marah kepada dirinya sendiri. Dava melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga beberapa saat kemudian Dava pun sampai di rumah.
Dava keluar dari dalam mobilnya dan langsung berlari menuju kamarnya, dia ingin sekali cepat bertemu dengan istrinya dan meminta maaf atas apa yang sudah dia lakukan.
"Sayang!"
Dava mencari keberadaan Reva di kamarnya, ternyata tidak ada, dia beralih ke kamar mandi.
"Sayang, apa kamu ada di dalam!" teriak Dava.
Tidak ada jawaban sama sekali, Dava pun membuka pintu kamar mandi dan ternyata kosong tidak ada siapa-siapa.
"Dia ke mana, kok gak ada?" gumam Dava.
Dava langsung turun dan mencari Wati. "Bi Wati!"
"Iya, ada apa Mas Dava?" tanya Bi Wati.
"Reva ke mana? kok, gak ada?"
"Bu Reva sama Mas Rian sudah pergi dari rumah ini, Mas."
"Pergi? pergi ke mana?" tanya Dava kaget.
"Kata Bu Reva, ia ingin menenangkan diri dulu tapi Bu Reva sama Mas Rian bawa koper besar dan sampai sekarang belum pulang lagi ke sini," sahut Bi Wati.
"Kapan mereka pergi?"
"Satu minggu yang lalu Mas."
Dava terkejut, dia berlari ke kamar Rian dan memeriksa semuanya ternyata kamar Rian sudah kosong bahkan lemarinya pun sudah kosong juga. Setelah itu, dia berlari ke kamarnya dan melihat lemarinya juga. Baju Reva pun sudah tidak ada di sana, Dava menjambak rambutnya sendiri.
"Kamu pergi ke mana, sayang? maafkan aku karena sudah membuatmu terluka," gumam Dava.
Dava terdiam sebentar, lalu beralih ke ruangan kerjanya. Dia mengotak-ngatik laptop dan melihat kejadian di saat Chika dan Cello kecelakaan.
Lagi-lagi Dava dibuat terkejut, benar saja Reva sama sekali tidak menyuruh Chika dan Cello untuk membeli susu. Dava melihat setiap harinya dan terlihat sekali Reva sangat sedih bahkan Reva sering menangis sendirian.
Dava melihat saat Reva jatuh pingsan dan Rian terlihat panik, lalu yang terakhir Dava melihat Reva dan Rian pergi dengan membawa koper.
"Astaga, aku jahat sekali sudah membuat Reva sedih bahkan dengan teganya aku mengacuhkan Reva yang saat ini sedang mengandung anakku," gumam Dava dengan mengusap wajahnya kasar.
Dava segera menghubungi Reva namun ponsel Reva tidak aktif, lalu Dava beralih menghubungi Rian dan ternyata ponsel Rian pun tidak aktif. Rian memang sudah mengganti nomornya, sedangkan Reva sengaja mematikan ponselnya.
"Ya Allah, aku harus cari mereka ke mana?" batin Dava.
Dava teringat akan sekolah Rian. "Ya, aku cari ke sekolahan Rian saja."
Dava segera menyambar kunci mobilnya lagi dan langsung melajukan mobilnya menuju sekolah Rian.
"Jam segini Rian belum pulang, mudah-mudahan Rian sekolah," gumam Dava.
Dava melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga beberapa saat kemudian Dava pun sampai di depan sekolah Rian. Dava langsung menuju ruangan guru dan berapa terkejutnya Dava saat mendengar kalau Ria sudah keluar dan pindah sekolah satu minggu yang lalu.
"Aku harus mencari mereka ke mana? aku sama sekali tidak tahu di mana mereka tinggal," gumam Dava dengan menjambak rambutnya sendiri.
Dava tidak tahu harus ke mana, hingga setelah mengelilingi kota Jakarta dan mencari Reva ke tempat yang mungkin tahu keberadaan Reva, akhirnya Dava memilih kembali ke rumah sakit.
Dava melangkahkan kakinya dengan gontai dan masuk ke dalam ruangan rawat Chika dan Cello. Dava melihat kedua keponakannya tertidur dengan lelap.
"Kamu kenapa Dava? kok kamu kelihatan sedih, apa Reva marah sama kamu?" tanya Mama Amelia.
"Setiap Mama pulang, apa Mama tidak pernah melihat Reva?" tanya Dava lemas.
"Tidak, Reva selalu ada di kamarnya dan Mama tidak pernah melihatnya juga. Pasti Reva marah ya? wajar sih kalau Reva marah karena kita sudah menyalahkan dia padahal dia sama sekali tidak melakukan apa pun," sahut Mama Amelia menyesal.
"Reva dan Rian sudah pergi dari rumah satu minggu yang lalu," seru Dava.
"Apa? pergi ke mana?" tanya Mama Amelia kaget.
"Dava tidak tahu."
Dava dan Amelia sangat menyesal sudah marah-marah kepada Reva padahal Reva tidak salah sama sekali, bahkan mereka berdua mengacuhkan Reva dan tidak memperdulikan Reva.
"Astaga, Mama merasa sangat bersalah sudah mengacuhkan Reva padahal saat ini Reva sedang mengandung cucu Mama," seru Mama Amelia sedih.
"Bodoh-bodoh, kenapa aku bisa sebodoh itu," geram Dava.
"Kamu sudah mencari Reva?"
"Sudah, tapi Dava sama sekali tidak bisa menemukan Reva dan Rian. Dava sangat khawatir kepada mereka, setahun Dava mereka sudah tidak punya kerabat lagi di sini," seru Dava mengusap wajahnya dengan kasar.
"Astaga, di mana kalian? Mama takut mereka kenapa-napa."
Dava hanya bisa diam, dia sungguh tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia tidak tahu ke mana Reva dan Rian pergi, kebodohan dia sudah membuat istri dan calon anaknya pergi.
"Dava memang suami yang tidak berguna Ma, karena tidak bisa membahagiakan Reva justru Dava sudah membuat Reva sedih dan terluka," lirih Dava.
Amelia mengusap punggung putranya itu. "Kita do'akan saja, semoga Reva dan Rian baik-baik saja dan mendapatkan tempat tinggal yang layak. Besok kamu lapor polisi saja, semoga Reva dan Rian bisa secepatnya ditemukan," seru Mama Amelia.
Malam ini Dava tidak bisa tidur, dia sangat merindukan istrinya itu. Dava ingat betapa jahatnya dia bentak-bentak Reva dan menyalahkan Reva atas musibah yang dialami oleh Chika dan Cello.
"Kamu di mana sayang? maafkan aku, pulanglah aku sangat merindukanmu," batin Dava.
Tidak terasa air mata Dava pun menetes, sungguh hatinya sangat ngilu jika ingat perlakuan dia terhadap Reva waktu itu. Bahkan saat Reva dibawa ke klinik pun, Dava sangat mengacuhkannya dan tidak memperdulikannya.
Sementara itu, Reva terduduk di atas tempat tidur sudah satu minggu semenjak kepergiannya dari rumah Dava, Reva susah sekali tidur. Dia terus saja ingat kepada Dava dan kedua keponakannya.
"Apa Chika dan Cello sudah siuman? dan apakah Mas Dava tidak mencariku? aku sangat merindukanmu, Mas. Rindu akan pelukanmu, rindu akan ciumanmu, dan rindu dengan senyumanmu yang selalu membuat aku semakin mencintaimu," batin Reva.
Reva kembali meneteskan air matanya, lalu dia mengusap perutnya yang terlihat masih rata itu.
"Apa Daddy kamu akan mencari kita, Nak? apa Daddy kamu juga merindukan kita? seperti kita yang selalu merindukan Daddy," batin Reva.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Erna Fadhilah
kamu jangan gampang luluh re biarkan aja dava nyesel senyesel nyeselnya
2024-02-02
3
Bunda Elsha
baru sadar ya Dava kl kamu bodoh
2023-12-20
2
reza indrayana
Kenapa TDK bisa mencari sichvDava...kn ada asistenya yg bisa melacak keberadaan Reva . /Toasted//Toasted/
2023-12-14
2