Tidak terasa waktu pun berjalan dengan sangat cepat, sudah satu bulan Reva bekerja di rumah Dava sebagai pengasuh dan banyak sekali perubahan yang terjadi dalam diri Chika dan Cello.
Chika dan Cello yang awalnya anak-anak yang super aktif, nakal, dan jahil berubah menjadi anak-anak yang penurut bahkan dalam segi makan pun, keduanya jadi semakin baik tidak pernah rewel lagi yang membuat seisi rumah pusing tujuh keliling.
Siang ini seperti biasa, Dava masih sibuk dengan pekerjaannya. Walaupun hari libur, dia masih berada di dalam ruangan kerjanya, tiba-tiba Dava terkejut saat melihat pintu ruangan kerjanya terbuka.
"Daddy, apa kita boleh masuk?" seru Chika dengan wajah yang sangat menggemaskan.
"Boleh dong, sini," sahut Dava dengan merentangkan kedua tangannya.
Chika dan Cello berlari lalu memeluk Dava..
"Ada apa? tumben datang ke ruangan kerja Daddy?" tanya Dava.
"Kita rindu sama Daddy, soalnya akhir-akhir ini Daddy sibuk banget," keluh Cello.
Dava tersenyum, ia menggendong Chika dan Cello bersamaan lalu membawa keduanya duduk di sofa.
"Kirain kalian sudah tidak rindu lagi sama Daddy karena Daddy lihat, kalian nempel terus kepada Bu Reva," goda Dava.
"Enggak dong Daddy, kita sayang sama Daddy tapi kita juga sayang sama Bu Reva. Sebenarnya kita ke sini ingin bicara sama Daddy," seru Chika.
Dava mengerutkan keningnya, lalu tersenyum sembari mencibit pipi Chika dengan gemasnya.
"Kamu mau bicara apa sama Daddy? wajahnya serius banget," goda Dava.
"Daddy, kita ingin Bu Reva menjadi ibu kita mau kan, Daddy menikah dengan Bu Reva?" rengek Chika.
"Iya Daddy, Daddy harus menikah dengan Bu Reva," sambung Cello.
Dava terdiam, entah kenapa tiba-tiba kedua keponakannya itu meminta seorang ibu.
"Daddy kok diam saja? bagaimana Daddy, Daddy mau kan, menikah dengan Bu Reva?" rengek Chika.
"Chika, Cello, menikah itu urusan orang dewasa bukan urusan kalian lagipula kalian tidak bisa memaksa Daddy untuk menikah dengan Bu Reva karena Daddy dan Bu Reva kan, baru kenal mana bisa Daddy langsung menikah dengan Bu Reva," sahut Dava dengan lembut.
"Pokoknya kita ingin Daddy menikah dengan Bu Reva, kalau Daddy tidak mau kita akan marah sama Daddy dan tidak mau bicara lagi sama Daddy, ayo Cello!"
Chika menarik tangan Cello lalu keluar dari ruangan kerja Dava. Sementara itu, Dava mengusap wajahnya dengan kasar dan menyandarkan kepalanya di sofa.
"Astaga, ada-ada saja permintaan anak-anak," gumam Dava.
Menjelang makan siang, Dava baru keluar dari ruangan kerjanya. Mata Dava menyapu setiap ruangan dan mencari keberadaan kedua keponakannya tapi rumah terasa sangat sepi.
"Bi, anak-anak ke mana?" tanya Dava.
"Ada di kamarnya bersama Bu Reva."
"Kalau Mama?"
"Nyonya Amelia masih di kamarnya, mungkin sebentar lagi keluar," sahut Bi Kokom.
Dava melangkahkan kakinya menuju kamar Chika dan Cello, terlihat pintu kamar mereka terbuka sedikit. Dava mencoba mengintip sedikit dari luar dan terlihat Reva sedang membujuk Chika dan Cello untuk makan siang.
"Chika, Cello, ayo kita makan siang dulu! Nenek dan Daddy sepertinya sudah menunggu di meja makan," bujuk Reva dengan lembut.
"Kita tidak mau makan bareng Daddy, kita sedang marah sama Daddy," sahut Cello dengan menenggelamkan wajahnya ke bantal.
Reva tampak bingung dengan Chika dan Cello, pasalnya Reva baru pulang dari rumah sakit menjenguk adiknya dan pada saat pulang ke rumah, Chika dan Cello sudah seperti itu.
"Sayang, kok marah sama Daddy? kalau boleh tahu, memangnya kalian marah kenapa?" tanya Reva.
"Daddy tidak mau menuruti keinginan kita, Bu," sahut Chika.
"Memangnya kalian ingin apa dari Daddy?" tanya Reva kembali.
"Kita ingin Bu Reva menikah dengan Daddy," sahut Cello.
Reva membelalakkan matanya, seketika mulutnya terkunci saking terkejutnya dengan permintaan Chika dan Cello.
Chika bangkit dan memegang tangan Reva. "Bu Reva mau kan, menikah dengan Daddy?" seru Chika dengan wajah penuh harap.
Reva tidak tahu harus menjawab apa, sedangkan Dava juga hanya diam di balik pintu. Dava merasa penasaran juga dengan jawaban dari Reva.
"Bu, jawab dong! kok, ibu malah diam sih," seru Chika.
Reva tersadar, dia mengusap kepala Chika dan Cello bergantian dengan senyuman yang selalu membuat kedua anak itu merasa sangat nyaman.
"Chika, Cello, dengarkan ibu. Kalian tidak boleh bicara seperti itu lagi ya, mungkin saat ini Daddy kalian sudah mempunyai calon untuk ibu kalian," sahut Reva lembut.
"Tapi kita maunya Bu Reva yang jadi ibu kita," sahut Cello dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Reva tidak tega melihat mereka, lalu Reva pun memeluk keduanya dengan penuh kasih sayang.
"Wanita mana yang tidak mau menjadi istri Mas Dava, tapi aku yang seorang pengasuh memangnya pantas bersanding dengan Mas Dava," batin Reva.
Dava memilih untuk kembali ke bawah dan menunggu mereka di meja makan bersama Mamanya, sedangkan Reva akhirnya bisa membujuk Chika dan Cello untuk makan walaupun Reva harus memberikan sedikit ancaman supaya keduanya mau menurut.
Selama makan siang, tidak ada yang bicara sama sekali bahkan Chika dan Cello tampak cemberut.
"Cucu-cucu Nenek kenapa? tumben cemberut seperti ini?" tanya Mama Amelia.
Chika dan Cello tidak memperdulikan Neneknya itu.
"Nyonya, sepertinya Chika dan Cello jenuh berada di rumah terus, bolehkah jika saya mengajak mereka jalan-jalan keluar?" seru Reva.
"Boleh, kenapa tidak. Dava, kamu temani mereka jalan-jalan ya," seru Mama Amelia.
Dava hanya menganggukkan kepalanya, setelah selesai makan siang akhirnya mereka pun sampai di sebuah Mall. Chika dan Cello masih terlihat cemberut, sedangkan Reva dan Dava sama-sama merasa canggung.
"Bu, kita mau main itu!" tunjuk Cello ke salah satu permainan.
"Boleh."
Chika dan Cello menarik tangan Reva, sedangkan Dava mengikuti mereka dari belakang. Kedua anak itu sangat bahagia, bahkan mereka sudah lupa dengan kemarahannya kepada Dava.
Chika dan Cello mencoba seluruh permainan yang ada di Mall itu membuat Reva dan Dava merasa kelelahan. Chika dan Cello bermain bola, dan Reva pun duduk di kursi dengan sedikit memukul-mukul kakinya yang terasa pegal itu.
Dava datang dengan membawa minuman. "Ini, minumlah," seru Dava.
"Terima kasih, Mas."
Dava duduk di samping Reva, Dava sedikit melirik ke arah Reva yang masih memukul-mukul kecil kakinya itu.
"Pasti kamu jarang olahraga, ya?" seru Dava dingin.
Reva kaget dan menghentikan pukulannya. "Bukan jarang lagi Mas, tapi aku gak pernah olahraga," sahut Reva.
"Kenapa? olahraga itu sangat penting, apalagi kamu yang kerjanya gak bisa diam ngurus anak-anak."
"Boro-boro olahraga Mas, aku sibuk ngurus Rian jadi aku gak sempat olahraga bahkan jangankan olahraga, makan pun kadang-kadang aku terlewatkan," sahut Reva.
Dava terdiam, tanpa mereka sadari keduanya malah terlibat perbincangan hangat. Chika dan Cello tersenyum melihat Dava dan Reva duduk berdua seperti itu.
"Cello, kita harus mendekatkan Bu Reva sama Daddy," bisik Chika.
"Oke."
Keduanya kembali bermain dengan riangnya..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Erna Fadhilah
anak kembar yang cerdas dan menggemaskan pasti rencana mereka berhasil
2024-02-01
3
☠☀💦Adnda🌽💫
bkln sukses klo Mak nyomblangnya duo anak rusuh ini 🤭
2024-01-29
1
🌸so0bin🌸
makcomblang cilik 🤣🤣🤣
2023-11-29
4