Semuanya sudah berkumpul di meja makan, tinggal Dava saja yang belum keluar dari dalam kamarnya.
"Dava belum datang," seru Mama Amelia.
"Biar Reva susul Mas Dava dulu."
Baru saja Reva bangkit dari duduknya, tiba-tiba Dava datang dengan wajah cemberutnya.
"Lah, muka kamu kenapa Dava? cemberut seperti itu?" tanya Mama Amelia.
"Tidak apa-apa," sahut Dava dingin.
Reva hanya bisa diam, dia tahu kenapa Dava seperti itu dan sungguh dia merasa sangat bersalah.
Setelah selesai sarapan, semuanya berkumpul di halaman depan. Seperti biasa, Chika dan Cello bermain bersama Lulu yang merupakan cucu Warsih dan Diman.
Dava sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba Reva datang dengan membawa kopi untuk Dava beserta cemilan.
"Mas, ini kopinya," seru Reva.
"Kak, Rian mau jalan-jalan dulu sebentar di daerah sini ya," seru Rian.
"Mau kakak temani?" seru Reva.
"Tidak usah kak, aku bisa sendiri."
"Ya sudah, kamu hati-hati dan kalau sudah capek cepat pulang jangan dipaksakan," seru Reva.
"Iya, kak."
Rian pun pergi jalan-jalan sendirian, sedangkan Dava, Reva, dan Amelia duduk santai sembari memperhatikan anak-anak bermain.
"Daddy, Chika dan Cello ingin punya adik," rengek Chika dengan menggoyang-goyangkan tubuh Daddy.
"Iya Daddy, ayolah," sambung Cello.
"Kalian itu selalu minta adik, tapi kalian selalu ganggu Daddy sama Mommy jadi Daddy mau kasih adik bagaimana kalau kalian selalu mengganggu," ketus Dava.
Seketika Reva membelalakkan matanya, sedangkan Amelia hampir menyemburkan teh yang dia minum saking terkejutnya mendengar ucapan Dava.
Reva malu, dia menginjak kaki Dava membuat Dava meringis.
"Aw, kok kamu injak kaki aku?" kesal Dava.
Reva tidak bicara, dia hanya melotot ke arah Dava sebagai kode kalau Dava harus diam. Amelia bangkit dari duduknya dan menarik tangan Chika dan Cello.
"Chika, Cello, kita jalan-jalan yuk! di sana ada penangkaran ikan, kalian mau lihat?" seru Mama Amelia.
"Mau-mau," sahut Chika dan Cello bersamaan.
Amelia melirik ke arah Dava dan mengedipkan sebelah matanya, lalu Amelia pun dengan cepat membawa kedua cucunya itu pergi.
Reva bangkit dari duduknya hendak beres-beres tapi Dava dengan cepat menarik tangan Reva dan membawanya ke kamar.
"Astagfirullah Mas, Mas mau ngapain?" tanya Reva bingung.
"Sudah diam, sekarang kita harus mulai berkembang biak."
"Hah, maksud Mas apa?"
"Kamu tadi dengar kan, apa permintaan Chika dan Cello? jadi sekarang kita harus mengabulkannya," seru Dava.
Seketika wajah Reva berubah menjadi merah, Dava membawa Reva ke dalam kamar tidak lupa kali ini Dava mengunci kamarnya karena dia takut akan gagal lagi.
"Mas, tapi aku harus beres-beres dulu."
"Ada Bi Warsih yang beres-beres."
Tidak lama kemudian, suara Dava dan Reva sudah tidak terdengar lagi entah apa yang mereka lakukan di pagi hari yang mendung itu.
Hingga satu jam kemudian, terlihat keduanya bergelung di balik selimut. Wajah Reva memerah dan memiringkan tubuhnya membelakangi Dava, hingga Dava pun mendekat dan memeluk Reva dari belakang.
"Terima kasih, Reva."
"Mas, bukanya Mas bilang kalau kita hanya nikah kontrak? bagaimana kalau aku sampai hamil terus kontrak pernikahan kita selesai?" tanya Reva dengan polosnya.
Dava terkekeh membuat Reva mengerutkan keningnya dan membalikan tubuhnya menghadap Dava.
"Kok Mas malah ketawa sih?" kesal Reva.
"Aku bukan pria pengecut Reva, dulu aku memang menginginkan nikah kontrak karena aku belum punya rasa kepadamu tapi sekarang aku sudah yakin, kalau aku memang mencintaimu," seru Dava.
"Serius Mas? Mas tidak sedang mempermainkanku, kan?" tanya Reva tidak percaya.
"Memangnya wajahku seperti wajah pria brengsek apa?"
Reva dengan cepat menggelengkan kepalanya, membuat Dava tersenyum.
"Kamu jangan khawatir, kalau kamu hamil aku akan tanggung jawab seratus persen dan aku juga sudah merencanakan kalau bulan depan aku akan menggelar resepsi pernikahan kita biar semua orang tahu kalau kamu adalah istriku," seru Dava.
Reva benar-benar sangat bahagia, Reva pun memeluk Dava.
"Sayang, adik aku bangun lagi ini bagaimana?" seru Dava.
Reva melepaskan pelukannya dan menatap Dava. "Kok adik Mas gampang sekali bangun sih?"
"Ya karena ini bersentuhan denganmu, apalagi saat ini kita sama sekali tidak pakai baju, otomatis dia akan bangun terus," sahut Dava sembari tersenyum.
"Dasar, pria tidak tahu malu."
Dava memulai lagi aksinya, kali ini Dava benar-benar ketagihan. "Aku sangat menyesal, kenapa tidak menikah dari dulu," seru Dava.
"Ya karena Mas itu jodohnya aku jadi menikahnya sekarang tidak dari dulu," sahut Reva.
Keduanya kembali melakukannya lagi, ternyata rencana Amelia mengajak mereka liburan tidak sia-sia dan sepertinya Reva akan segera hamil mengingat Dava yang sangat semangat melakukan pembibitan di rahim Reva.
***
Liburan selama tiga hari dua malam itu berjalan dengan lancar dan menyenangkan, Amelia sangat bahagia karena Dava sudah melakukannya dengan Reva dan berharap Reva akan segera hamil.
Pagi ini mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta, seperti biasa Chika dan Cello satu mobil dengan Amelia dan Rian sedangkan Dava membawa mobil sendiri bersama istri tercinta.
"Mas makan dulu, soalnya tadi Mas tidak sempat sarapan," seru Reva.
Reva menyuapi Dava nasi goreng buatannya, semua orang sudah sarapan berbeda dengan Reva dan Dava tidak sempat sarapan karena mereka bangun kesiangan bahkan Reva pun memasak nasi goreng dengan sangat cepat karena Dava tidak mau makan kalau bukan masakan Reva.
"Kamu juga makan jangan Mas saja," seru Dava.
"Iya, ini juga aku makan kok."
Dava dan Reva sangat bahagia, apalagi Dava yang baru merasakan jatuh cinta. Dava merasa kalau saat ini mereka sedang pacaran, namun bedanya pacaran secara halal karena mereka bebas melakukan apa pun tanpa ada yang melarang.
"Sayang, kita mampir dulu ke restoran ya, soalnya sebentar lagi jam makan siang," seru Dava.
"Ya sudah, aku telepon Mama dulu ya," seru Reva.
"Eh, mau ngapain kamu telepon Mama?"
"Mau kasih tahu kalau kita makan siang dulu, Mas mau makan di mana? biar aku kasih tahu Mama untuk pergi ke restoran itu terlebih dahulu," sahut Reva polos.
Dava langsung merebut ponsel Reva dan menyimpannya di kantong celana.
"Aku mau makan berdua saja sama kamu, Mama dan yang lainnya biar pulang saja ke rumah," seru Dava.
"Tapi, nanti Chika dan Cello nyariin aku lho."
"Please sayang, untuk satu hari saja kamu pikirkan suamimu saja jangan anak-anak terus," seru Dava dengan wajah memelas.
Reva tersenyum, lalu Reva pun mengusap pipi Dava dengan lembut.
"Baiklah, terserah kamu saja," sahut Reva.
"Nah, begitu dong."
Akhirnya keduanya mampir dulu ke sebuah restoran untuk makan siang, entah kenapa saat ini Dava menjadi pria pencemburu. Bahkan Dava juga merasa sangat cemburu kalau Reva selalu dekat dengan Chika dan Cello karena untuk saat ini Dava ingin Reva memperhatikannya saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Erna Fadhilah
udah ngrasain enaknya reva jadi ketagihan dan bucin dia😂😂😂😂
2024-02-02
2
Esther Lestari
unboxingnya sukses tanpa gangguan duo C
2023-12-13
2
나의 왕자
Iya deh yg baru jatuh cinta langsung MP lagi pengennya ber2an terus
2023-12-07
3