Seperti biasa, jalan menuju puncak sangatlah macet apalagi saat ini adalah hari sabtu di mana banyak orang yang akan liburan juga.
Reva sudah tertidur di dalam mobil, kepala Reva terus saja bergerak-gerak. Dava yang melihatnya langsung menahan kepala Reva dan menyimpan jaketnya di arah samping supaya kepala Reva tidak terbentur kaca mobil.
Menjelang tengah hari, mereka baru sampai di puncak. Mereka tidak perlu menyewa villa karena dulu Davi yang tidak lain dan tidak bukan kakaknya Dava membangun sebuah villa yang besar di sana. Dia membangun villa sengaja untuk tempat liburan para keluarganya.
"Reva, bangun sudah sampai," seru Dava dengan menepuk pelan pipi Reva.
Reva mulai terbangun. "Astagfirullah, sudah sampai ya Mas? maaf aku ketidurannya lama," seru Reva.
"Tidak apa-apa, ayo turun."
Reva dan Dava pun keluar dari dalam mobil, sesampainya di villa milik keluarga itu mereka sudah disambut dengan berbagai masakan oleh Warsih dan Diman, sepasang suami istri yang dipercaya untuk menjaga dan merawat villa itu.
"Selamat datang Nyonya Amelia dan Mas Dava," seru Bi Warsih.
"Iya Bi. Oh iya Bi, perkenalkan ini Reva istri aku dan ini Rian adiknya Reva," seru Dava.
"Hallo Bi," sapa Reva.
"Ya Allah, istri Mas Dava cantik sekali sangat cocok dengan Mas Dava," puji Bi Warsih.
"Bibi bisa saja," sahut Reva dengan wajah yang memerah.
"Silakan masuk, tadi pagi pada saat Nyonya Amelia menghubungi akan datang ke sini, istri saya sudah menyiapkan masakan untuk kalian semua semoga kalian suka," seru Mang Diman.
Mereka semua pun langsung menuju meja makan, sedangkan Chika dan Cello memilih berlarian di halaman depan yang luas itu.
Reva dengan sigap mengambilkan makanan untuk Dava.
"Ini Mas makanannya," seru Reva.
"Terima kasih."
"Mas Dava dan Mbak Reva kapan menikah?" tanya Bi Warsih.
"Baru sebulan lebihan lah Bi, lagipula pernikahan aku sama Reva tidak ada pesta hanya ijab kabul saja yang penting sah," sahut Dava.
"Owalah, pantas saja Bibi tidak tahu soalnya pada saat Mas Davi menikah dengan Mbak Mulan, satu Indonesia sampai tahu karena pernikahan mereka disiarkan di TV nasional," seru Bi Warsih.
"Tapi, tidak apa-apa yang penting kami do'akan semoga Mas Dava dan Mbak Reva cepat diberikan momongan," sambung Pak Diman.
Reva dan Dava terbatuk secara bersamaan membuat Amelia mengulum senyumannya. Setelah semuanya selesai makan, sekarang giliran Reva yang menyuapi Chika dan Cello di halaman depan.
Amelia duduk di kursi yang ada di teras memperhatikan Reva dan anak-anak sembari mengobrol ringan bersama Bi Warsih dan Pak Diman. Sementara Rian, dia langsung istirahat di kamar karena untuk saat ini Rian tidak boleh terlalu lelah dulu.
Berbeda dengan Dava yang duduk-duduk sendiri di balkon kamarnya, sembari memperhatikan Reva yang sedang menyuapi keponakannya di bawah.
"Sepertinya Mbak Reva sangat menyayangi Chika dan Cello," seru Bi Warsih.
"Iya Bi, sebenarnya dulu Reva adalah pengasuh Chika dan Cello tapi mereka saking menyayangi Reva, sampai meminta Dava untuk menikahi Reva dan akhirnya Dava menikahi Reva walaupun awalnya Dava menolak tapi akhirnya Dava mau juga menikahi Reva. Entahlah, apa saat ini Dava sudah mencintai Reva atau belum," seru Mama Amelia.
"Tapi menurut Bibi, dari cara Mas Dava memandang Mbak Reva sepertinya Mas Dava mencintai Mbak Reva," sahut Bi Warsih.
"Mudah-mudahan saja seperti itu Bi, soalnya saya mengajak mereka liburan ke sini supaya hubungan mereka semakin dekat saja," seru Mama Amelia dengan senyumannya.
Sedangkan Dava, dia senyum-senyum sendiri melihat Reva yang dengan sabar menyuapi Chika dan Cello.
"Kamu memang wanita hebat Reva, selain kamu bisa merebut hati Chika dan Cello, sepertinya aku juga sudah mulai menyukaimu," batin Dava.
Akhir-akhir ini Dava memang sudah merasakan getar-getar aneh yang selama ini belum pernah Dava rasakan. Dava tidak pernah jatuh cinta kepada wanita mana pun saking sibuknya mengurus perusahaan dan keponakannya, Dava sampai lupa mencari pasangan hidupnya.
"Reva, lebih baik sekarang kamu susul Dava ke kamar dan istirahat dulu, Chika dan Cello biar Mama saja yang jaga," seru Mama Amelia.
"Memangnya Mama tidak apa-apa kalau harus jaga Chika dan Cello?"
"Tidak apa-apa, lagipula Chika dan Cello tampak senang bermain dengan anak Bi Warsih dan Pak Diman," sahut Mama Amelia.
"Ya sudah, kalau begitu Reva masuk kamar dulu."
Kebetulan siang ini puncak sedang hujan, cuaca puncak yang dingin ditambah turun hujan membuat udara di sana semakin dingin.
Perlahan Reva membuka pintu kamar, terlihat Dava sedang mengotak-ngatik ponselnya di atas tempat tidur. Tidak lupa dia pun menggunakan selimut karena udara di puncak memang sangat dingin walaupun dia sudah memakai jaket.
Reva membuka tasnya dan mencari jaket di sana, tapi sepertinya jaket Reva ketinggalan. Dava hanya melirik ke arah Reva, dia tahu apa yang sedang Reva cari.
"Astaga, aku lupa bawa jaket," batin Reva.
Reva mengusap-usap lengannya sendiri, lalu Reva pun naik ke atas tempat tidur. Reva melirik sedikit ke arah Dava, dia ingin mengajak Dava bicara tapi lidahnya begitu kelu dan tidak mau mengganggu Dava.
Reva mulai sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga tidak lama kemudian Reva merasa terkejut saat sebuah tangan melingkar di perutnya.
"Aku tahu kamu kedinginan kan?" seru Dava.
"I-iya Mas, ta-pi a-ku lu-pa ba-wa ja-ket," sahut Reva gagap.
Dava menarik tubuh Reva untuk mendekat dengannya, lalu menyelimuti tubuh Reva dengan selimut yang sama dengannya.
Jantung Reva kembali tidak aman, bahkan saat ini keduanya sangat dekat dan Dava memeluk pinggang Reva. Untuk sesaat, keduanya saling tatap satu sama lain.
"Jangan salah paham, aku hanya tidak tega melihatmu kedinginan," seru Dava.
Seketika Reva merasa sangat kecewa, ternyata sampai saat ini Dava belum juga mencintainya. Dava menyalakan TV, keduanya duduk bersandar ke kepala ranjang sembari bergelung dalam selimut.
"Ternyata kamu belum bisa mencintaiku, Mas. Tapi, walaupun seperti itu tetap saja apa pun yang kamu lakukan kepadaku selalu berhasil membuat jantungku tidak aman," batin Reva.
"Maafkan aku Reva, ternyata nyaliku begitu ciut saat dekat denganmu. Aku memang sudah mulai menyukaimu, tapi aku tidak tahu harus mengatakannya bagaimana?" batin Dava.
Akhirnya keduanya hanya bisa diam sembari menonton TV, tidak ada yang tahu bagaimana isi hati keduanya yang sebenarnya. Keduanya berusaha bersikap tenang, padahal siapa sangka kalau jantung mereka berdua saat ini sedang tidak aman bahkan seakan mau loncat dari tempatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Erna Fadhilah
yyyah dava cemen 😏😏😏harusnya kamu ungkapin perasaanmu nanti kamu dapat guling hidup dan hangat buat ngangetin ranjangmu dari udara yang sangat dingin di puncak itu
2024-02-01
2
☠☀💦Adnda🌽💫
ayok bantu Daddy kalian anak " biar berani ngungkapin perasaannya ke mommy kalian jangan kaku bgtu
2024-01-29
1
나의 왕자
haruskah menghadirkan orang k3 biar ada keberanian mengungkapkan perasaan kalin 😁😁😁
2023-12-07
4