Reva dan Rian memutuskan untuk pulang kampung, di sana mereka memang masih punya rumah peninggalan orang tua mereka tapi entah bagaimana sekarang penampakan rumah itu karena Reva dan Rian sudah lama tidak pulang kampung.
Menjelang sore, mereka sampai di kampung halaman mereka. Para tetangga menyambut hangat kepulangan keduanya, bahkan mereka juga membantu membersihkan rumah itu yang sekarang sudah kotor dan penuh dengan debu.
"Kakak diam saja, kakak kan sedang hamil jangan sampai kakak kelelahan karena Rian tidak mau keponakan Rian kenapa-napa," seru Rian.
"Iya, tenang saja kakak kuat kok."
Sementara itu di rumah sakit, Dava tiba-tiba saja ingat kepada Reva.
"Kenapa tiba-tiba aku ingat kepada Reva?" batin Dava.
Sudah satu minggu Dava memang mendiamkan Reva, bahkan Dava lupa kalau saat ini Reva sedang mengandung dan sangat membutuhkan perhatian darinya.
Tapi lagi-lagi, akibat rasa marah yang bersemayam dihatinya membuat Dava kehilangan akal sehatnya. Amelia pun tidak memperdulikan Reva, padahal dia sering pulang ke rumah tapi Amelia sama seperti Dava, selalu mengacuhkan Reva.
***
Keesokan harinya...
Pagi-pagi sekali Reva pergi ke warung untuk membeli bahan-bahan untuk dia masak.
"Reva, kenapa kamu memilih pulang kampung? bukanya suami kamu orang kaya?" tanya salah satu tetangganya.
"Aku hanya ingin melihat rumah peninggalan orang tuaku saja sembari berlibur juga," sahut Reva dengan senyumannya.
"Kenapa suami kamu tidak ikut?"
"Mas Dava sibuk kerja, mungkin nanti kalau sudah tidak sibuk dia akan menyusul," dusta Reva.
Reva dengan cepat memilih bahan-bahan yang dia butuhkan setelah itu dia buru-buru kembali ke rumah, Reva tidak mau sampai tetangganya itu lebih jauh menanyakan perihal Dava.
Resepsi pernikahan Dava dan Reva waktu itu memang sangat mewah dan meriah bahkan disiarkan oleh semua media, tidak heran kalau tetangga Reva tahu akan pernikahan Reva dengan Dava.
"Kakak kenapa? kok wajah kakak pucat seperti itu?" tanya Rian.
"Barusan ibu-ibu menanyakan Mas Dava," sahut Reva.
"Dasar ibu-ibu tukang gosip, mau tahu saja sama urusan orang," kesal Rian.
"Kakak bingung Rian kalau ibu-ibu itu menanyakan tentang Mas Dava, kakak harus jawab apa? tidak mungkin kakak jawab yang sebenarnya."
"Sudah kakak jangan banyak pikiran, nanti kalau kakak butuh apa-apa biar Rian saja yang beli dan kakak lebih baik diam saja di rumah."
Reva menganggukkan kepalanya, Rian secara diam-diam sudah keluar dari sekolahnya dan pindah ke sekolah yang ada di kampung itu. Rian memang mandiri, saking dia tidak mau merepotkan kakaknya, dia urus sendiri kepindahannya.
Pada saat Rian melihat kakaknya dibentak-bentak oleh Dava, Rian memang sudah ada niat untuk membawa kakaknya pergi dari rumah maka dari itu dia segera mengurus kepindahan sekolahnya.
Reva mulai membuat sarapan. "Kak, mulai besok Rian akan sekolah di sini," seru Rian.
Reva menghentikan gerakan tangannya dan langsung menatap adiknya itu.
"Sekolah di sini? kapan kamu daftar? lagipula kamu kan belum mengurus kepindahan sekolah dari sekolah kamu yang lama," seru Reva.
"Rian sudah mengurus semuanya kak, dan kemarin Rian daftar sekolah ke sekolahan di sini lewat online jadi kakak jangan khawatir lagi masalah pendidikan Rian."
"Masya Allah Rian, kakak sangat bangga kepadamu. Maafkan kakak ya, karena selama ini kakak belum bisa membahagiakan kamu."
"Kakak jangan bicara seperti itu, Justru selama ini kakak sudah banyak berkorban demi Rian jadi sekarang sudah waktunya Rian membahagiakan kakak," seru Rian.
Reva memang sangat bersyukur mempunyai adik yang sangat perhatian dan baik seperti Rian.
***
Dua minggu pun berlalu dan Dava masih setia berada di rumah sakit, Dava sampai lupa kalau dia mempunyai istri yang sedang mengandung anaknya.
Selama dua minggu di rumah sakit, Dava hanya meminta Pak Rahmat untuk membawakan baju ganti untuk dirinya bahkan Dava bekerja di rumah sakit dan tidak pernah ke kantor.
Begitu pula dengan Amelia, dia sesekali pulang ke rumah tapi dia sama sekali tidak tahu kalau Reva sudah pergi dari rumah karena dia selalu berpikir kalau Reva ada di kamarnya sedang istirahat tanpa bertanya kepada Wati.
"Dava, Mama pulang dulu ya nanti sore Mama ke sini lagi."
"Iya, Ma."
"Apa kamu tidak mau pulang dulu menemui istri kamu? sudah dua minggu kamu di sini, bagaimana pun saat ini Reva sedang mengandung anakmu," seru Mama Amelia.
"Nanti saja Ma, Dava belum siap bertemu dengan Reva entah kenapa setiap melihat Reva, Dava bawaannya ingin sekali memarahinya jadi lebih baik Dava tidak bertemu dulu dengan Reva," sahut Dava lemah.
"Ya sudah, kalau begitu Mama pulang dulu."
Baru saja Amelia melangkahkan kakinya, Tiba-tiba tangan Chika dan Cello bergerak membuat Dava terkejut.
"Ma, tangan Chika dan Cello bergerak!" pekik Dava.
"Hah, serius kamu?"
"Iya, Ma."
Mata Chika dan Cello mulai terbuka. "Daddy."
"Iya sayang, ini Daddy," sahut Dava dengan mata yang berkaca-kaca.
"Nenek."
"Iya, ini Nenek."
"Mommy, mana?" tanya keduanya lemah.
Dava dan Amelia saling pandang satu sama lain. "Mommy ada di rumah, kalian lebih baik istirahat ya jangan banyak bicara dulu," seru Dava dengan mengusap kedua kepala keponakannya itu.
Amelia menekan tombol, dan tidak membutuhkan waktu lama dokter pun datang.
Dokter menyuruh Dava dan Amelia keluar karena ia akan memeriksa keadaan Chika dan Cello.
Beberapa saat kemudian dokter pun selesai dan keluar.
"Bagaimana, dok?" tanya Dava.
"Alhamdulillah, keadaan mereka baik-baik saja sekarang tinggal pemulihannya saja. Saya harap, mereka jangan terlalu banyak pikiran dulu biar cepat pulih kondisinya."
"Baik, dokter."
"Kalau begitu, saya permisi dulu."
Dava dan Amelia kembali masuk, melihat Chika dan Cello siuman membuat hati Dava merasa sangat lega. Amelia yang awalnya ingin pulang, mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk tetap berada di rumah sakit.
"Daddy, Mommy dan dedek bayinya baik-baik saja kan?" lirih Chika.
"Iya, mereka baik-baik saja. Sudah jangan pikirkan mereka dulu, kalian itu masih sakit," sahut Dava.
"Apa susu yang kita beli sudah Daddy berikan kepada Mommy?" tanya Cello.
"Iya, maafkan Mommy ya, karena sudah menyuruh kalian untuk beli susu, seharusnya Mommy tidak menyuruh kalian pergi karena kalian masih kecil dan itu sangat bahaya," seru Dava kesal.
Chika dan Cello menggelengkan kepalanya. "Mommy tidak menyuruh kita untuk beli susu, tapi itu kemauan kita sendiri," sahut Cello.
"Maksud kalian apa?" tanya Dava kaget.
"Waktu itu Daddy menyuruh kita jagain Mommy, terus kita mau membuatkan susu untuk Mommy tapi susunya habis. Chika dan Cello punya uang pemberian Daddy, lalu membelikan Mommy susu," sahut Chika.
Dava dan Amelia terkejut mendengarkan ucapan Chika dan Cello.
"Kita tidak izin kepada Mommy karena pasti Mommy akan marah dan tidak memperbolehkan kita pergi, lalu kita pergi diam-diam tapi pas mau pulang ada mobil yang nabrak kita," sambung Cello.
Deg...
Jantung Dava berdetak kencang, dia terdiam ternyata selama ini dia sudah salah paham dan mengira Reva yang menyuruh Chika dan Cello untuk beli susu.
"Ma, Dava pulang dulu."
Dava menyambar kunci mobil dan berlari meninggalkan rumah sakit, sungguh saat ini Dava merasa sangat bersalah kepada Reva.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Erna Fadhilah
syukurin kamu dava, semoga reva ga di temukan oleh dava biar tambah nyesel dia
2024-02-02
2
☠☀💦Adnda🌽💫
nyesel DECH bang Dava ,Reva udah pulang kmpung 😔
2024-01-29
1
reza indrayana
nach...., tinggal penyesalan nich pastinya....
2023-12-14
4