Bab 19 Siuman

Reva dan Rian memutuskan untuk pulang kampung, di sana mereka memang masih punya rumah peninggalan orang tua mereka tapi entah bagaimana sekarang penampakan rumah itu karena Reva dan Rian sudah lama tidak pulang kampung.

Menjelang sore, mereka sampai di kampung halaman mereka. Para tetangga menyambut hangat kepulangan keduanya, bahkan mereka juga membantu membersihkan rumah itu yang sekarang sudah kotor dan penuh dengan debu.

"Kakak diam saja, kakak kan sedang hamil jangan sampai kakak kelelahan karena Rian tidak mau keponakan Rian kenapa-napa," seru Rian.

"Iya, tenang saja kakak kuat kok."

Sementara itu di rumah sakit, Dava tiba-tiba saja ingat kepada Reva.

"Kenapa tiba-tiba aku ingat kepada Reva?" batin Dava.

Sudah satu minggu Dava memang mendiamkan Reva, bahkan Dava lupa kalau saat ini Reva sedang mengandung dan sangat membutuhkan perhatian darinya.

Tapi lagi-lagi, akibat rasa marah yang bersemayam dihatinya membuat Dava kehilangan akal sehatnya. Amelia pun tidak memperdulikan Reva, padahal dia sering pulang ke rumah tapi Amelia sama seperti Dava, selalu mengacuhkan Reva.

***

Keesokan harinya...

Pagi-pagi sekali Reva pergi ke warung untuk membeli bahan-bahan untuk dia masak.

"Reva, kenapa kamu memilih pulang kampung? bukanya suami kamu orang kaya?" tanya salah satu tetangganya.

"Aku hanya ingin melihat rumah peninggalan orang tuaku saja sembari berlibur juga," sahut Reva dengan senyumannya.

"Kenapa suami kamu tidak ikut?"

"Mas Dava sibuk kerja, mungkin nanti kalau sudah tidak sibuk dia akan menyusul," dusta Reva.

Reva dengan cepat memilih bahan-bahan yang dia butuhkan setelah itu dia buru-buru kembali ke rumah, Reva tidak mau sampai tetangganya itu lebih jauh menanyakan perihal Dava.

Resepsi pernikahan Dava dan Reva waktu itu memang sangat mewah dan meriah bahkan disiarkan oleh semua media, tidak heran kalau tetangga Reva tahu akan pernikahan Reva dengan Dava.

"Kakak kenapa? kok wajah kakak pucat seperti itu?" tanya Rian.

"Barusan ibu-ibu menanyakan Mas Dava," sahut Reva.

"Dasar ibu-ibu tukang gosip, mau tahu saja sama urusan orang," kesal Rian.

"Kakak bingung Rian kalau ibu-ibu itu menanyakan tentang Mas Dava, kakak harus jawab apa? tidak mungkin kakak jawab yang sebenarnya."

"Sudah kakak jangan banyak pikiran, nanti kalau kakak butuh apa-apa biar Rian saja yang beli dan kakak lebih baik diam saja di rumah."

Reva menganggukkan kepalanya, Rian secara diam-diam sudah keluar dari sekolahnya dan pindah ke sekolah yang ada di kampung itu. Rian memang mandiri, saking dia tidak mau merepotkan kakaknya, dia urus sendiri kepindahannya.

Pada saat Rian melihat kakaknya dibentak-bentak oleh Dava, Rian memang sudah ada niat untuk membawa kakaknya pergi dari rumah maka dari itu dia segera mengurus kepindahan sekolahnya.

Reva mulai membuat sarapan. "Kak, mulai besok Rian akan sekolah di sini," seru Rian.

Reva menghentikan gerakan tangannya dan langsung menatap adiknya itu.

"Sekolah di sini? kapan kamu daftar? lagipula kamu kan belum mengurus kepindahan sekolah dari sekolah kamu yang lama," seru Reva.

"Rian sudah mengurus semuanya kak, dan kemarin Rian daftar sekolah ke sekolahan di sini lewat online jadi kakak jangan khawatir lagi masalah pendidikan Rian."

"Masya Allah Rian, kakak sangat bangga kepadamu. Maafkan kakak ya, karena selama ini kakak belum bisa membahagiakan kamu."

"Kakak jangan bicara seperti itu, Justru selama ini kakak sudah banyak berkorban demi Rian jadi sekarang sudah waktunya Rian membahagiakan kakak," seru Rian.

Reva memang sangat bersyukur mempunyai adik yang sangat perhatian dan baik seperti Rian.

***

Dua minggu pun berlalu dan Dava masih setia berada di rumah sakit, Dava sampai lupa kalau dia mempunyai istri yang sedang mengandung anaknya.

Selama dua minggu di rumah sakit, Dava hanya meminta Pak Rahmat untuk membawakan baju ganti untuk dirinya bahkan Dava bekerja di rumah sakit dan tidak pernah ke kantor.

Begitu pula dengan Amelia, dia sesekali pulang ke rumah tapi dia sama sekali tidak tahu kalau Reva sudah pergi dari rumah karena dia selalu berpikir kalau Reva ada di kamarnya sedang istirahat tanpa bertanya kepada Wati.

"Dava, Mama pulang dulu ya nanti sore Mama ke sini lagi."

"Iya, Ma."

"Apa kamu tidak mau pulang dulu menemui istri kamu? sudah dua minggu kamu di sini, bagaimana pun saat ini Reva sedang mengandung anakmu," seru Mama Amelia.

"Nanti saja Ma, Dava belum siap bertemu dengan Reva entah kenapa setiap melihat Reva, Dava bawaannya ingin sekali memarahinya jadi lebih baik Dava tidak bertemu dulu dengan Reva," sahut Dava lemah.

"Ya sudah, kalau begitu Mama pulang dulu."

Baru saja Amelia melangkahkan kakinya, Tiba-tiba tangan Chika dan Cello bergerak membuat Dava terkejut.

"Ma, tangan Chika dan Cello bergerak!" pekik Dava.

"Hah, serius kamu?"

"Iya, Ma."

Mata Chika dan Cello mulai terbuka. "Daddy."

"Iya sayang, ini Daddy," sahut Dava dengan mata yang berkaca-kaca.

"Nenek."

"Iya, ini Nenek."

"Mommy, mana?" tanya keduanya lemah.

Dava dan Amelia saling pandang satu sama lain. "Mommy ada di rumah, kalian lebih baik istirahat ya jangan banyak bicara dulu," seru Dava dengan mengusap kedua kepala keponakannya itu.

Amelia menekan tombol, dan tidak membutuhkan waktu lama dokter pun datang.

Dokter menyuruh Dava dan Amelia keluar karena ia akan memeriksa keadaan Chika dan Cello.

Beberapa saat kemudian dokter pun selesai dan keluar.

"Bagaimana, dok?" tanya Dava.

"Alhamdulillah, keadaan mereka baik-baik saja sekarang tinggal pemulihannya saja. Saya harap, mereka jangan terlalu banyak pikiran dulu biar cepat pulih kondisinya."

"Baik, dokter."

"Kalau begitu, saya permisi dulu."

Dava dan Amelia kembali masuk, melihat Chika dan Cello siuman membuat hati Dava merasa sangat lega. Amelia yang awalnya ingin pulang, mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk tetap berada di rumah sakit.

"Daddy, Mommy dan dedek bayinya baik-baik saja kan?" lirih Chika.

"Iya, mereka baik-baik saja. Sudah jangan pikirkan mereka dulu, kalian itu masih sakit," sahut Dava.

"Apa susu yang kita beli sudah Daddy berikan kepada Mommy?" tanya Cello.

"Iya, maafkan Mommy ya, karena sudah menyuruh kalian untuk beli susu, seharusnya Mommy tidak menyuruh kalian pergi karena kalian masih kecil dan itu sangat bahaya," seru Dava kesal.

Chika dan Cello menggelengkan kepalanya. "Mommy tidak menyuruh kita untuk beli susu, tapi itu kemauan kita sendiri," sahut Cello.

"Maksud kalian apa?" tanya Dava kaget.

"Waktu itu Daddy menyuruh kita jagain Mommy, terus kita mau membuatkan susu untuk Mommy tapi susunya habis. Chika dan Cello punya uang pemberian Daddy, lalu membelikan Mommy susu," sahut Chika.

Dava dan Amelia terkejut mendengarkan ucapan Chika dan Cello.

"Kita tidak izin kepada Mommy karena pasti Mommy akan marah dan tidak memperbolehkan kita pergi, lalu kita pergi diam-diam tapi pas mau pulang ada mobil yang nabrak kita," sambung Cello.

Deg...

Jantung Dava berdetak kencang, dia terdiam ternyata selama ini dia sudah salah paham dan mengira Reva yang menyuruh Chika dan Cello untuk beli susu.

"Ma, Dava pulang dulu."

Dava menyambar kunci mobil dan berlari meninggalkan rumah sakit, sungguh saat ini Dava merasa sangat bersalah kepada Reva.

Terpopuler

Comments

Erna Fadhilah

Erna Fadhilah

syukurin kamu dava, semoga reva ga di temukan oleh dava biar tambah nyesel dia

2024-02-02

2

☠☀💦Adnda🌽💫

☠☀💦Adnda🌽💫

nyesel DECH bang Dava ,Reva udah pulang kmpung 😔

2024-01-29

1

reza indrayana

reza indrayana

nach...., tinggal penyesalan nich pastinya....

2023-12-14

4

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pusing Tujuh Keliling
2 Bab 2 Guru Baru
3 Bab 3 Pengasuh Cantik
4 Bab 4 Kagum
5 Bab 5 Permintaan Chika dan Cello
6 Bab 6 Si Kembar Sakit
7 Bab 7 Terpaksa Menikah
8 Bab 8 Canggung
9 Bab 9 Menantu Idaman
10 Bab 10 Memperhatikan Dalam Diam
11 Bab 11 Liburan Bersama
12 Bab 12 Mulai Ada Getaran
13 Bab 13 Percobaan Yang Gagal
14 Bab 14 Minta Adik
15 Bab 15 Positif
16 Bab 16 Kecelakaan
17 Bab 17 Kemarahan Dava
18 Bab 18 Kepergian Reva
19 Bab 19 Siuman
20 Bab 20 Mencari Reva
21 Bab 21 Menjelang Melahirkan
22 Bab 22 Momen Mengharukan
23 Bab 23 Perfect Husband
24 Bab 24 Keluarga Bahagia
25 Bab 25 Kembali Hamil
26 Bab 26 Perjuangan Berbuah Manis
27 Bab 27 Keluarga Baru
28 Bab 28 Kecelakaan
29 Bab 29 Merasa Bersalah
30 Bab 30 Aku Harus Tanggung Jawab!
31 Bab 31 Kembali Ke Jakarta
32 Bab 32 Kemarahan Albi
33 Bab 33 Berusaha Bersabar
34 Bab 34 Ketakutan Diva
35 Bab 35 Perasaan Aneh
36 Bab 36 Mulai Mencair
37 Bab 37 Pulih
38 Bab 38 Pura-pura
39 Bab 39 Memang Boleh Senempel Itu?
40 Bab 40 Kejutan Untuk Diva
41 Bab 41 Sat-set
42 Bab 42 Terungkap
43 Bab 43 Hati Yang Hancur
44 Bab 44 Sakit Tak Berdarah
45 Bab 45 Syarat Dari Albi
46 Bab 46 Kepindahan Diva
47 Bab 47 Menjalani Hidup Masing-masing
48 Bab 48 Merindukanmu
49 Bab 49 Membesuk Dava
50 Informasi Author
51 Bab 51 Bertemu Bianca
52 Bab 52 Meninggal
53 Bab 53 Kemarahan Mommy Reva
54 Bab 54 Ujian Untuk Diva
55 Bab 55 Tersiksa Keadaan
56 Bab 56 Pura-pura Kuat
57 Bab 57 Akhirnya Aku Menemukanmu
58 Bab 58 Teramat Sakit
59 Bab 59 Kakak Yang Hebat
60 Bab 60 Pengorbanan
61 Bab 61 Janji Albi
62 Bab 62 Memulai Semuanya
63 Bab 63 Tragedi
64 Bab 64 Penyesalan
65 Bab 65 Siuman
66 Bab 66 Sebuah Permohonan
67 Bab 67 Jodoh Tidak Akan Kemana
68 Bab 68 Kebahagiaan Albi Dan Diva
69 Bab 69 Akhir Dari Kebahagiaan
70 Bab 70 END
71 Pengumuman
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 Pusing Tujuh Keliling
2
Bab 2 Guru Baru
3
Bab 3 Pengasuh Cantik
4
Bab 4 Kagum
5
Bab 5 Permintaan Chika dan Cello
6
Bab 6 Si Kembar Sakit
7
Bab 7 Terpaksa Menikah
8
Bab 8 Canggung
9
Bab 9 Menantu Idaman
10
Bab 10 Memperhatikan Dalam Diam
11
Bab 11 Liburan Bersama
12
Bab 12 Mulai Ada Getaran
13
Bab 13 Percobaan Yang Gagal
14
Bab 14 Minta Adik
15
Bab 15 Positif
16
Bab 16 Kecelakaan
17
Bab 17 Kemarahan Dava
18
Bab 18 Kepergian Reva
19
Bab 19 Siuman
20
Bab 20 Mencari Reva
21
Bab 21 Menjelang Melahirkan
22
Bab 22 Momen Mengharukan
23
Bab 23 Perfect Husband
24
Bab 24 Keluarga Bahagia
25
Bab 25 Kembali Hamil
26
Bab 26 Perjuangan Berbuah Manis
27
Bab 27 Keluarga Baru
28
Bab 28 Kecelakaan
29
Bab 29 Merasa Bersalah
30
Bab 30 Aku Harus Tanggung Jawab!
31
Bab 31 Kembali Ke Jakarta
32
Bab 32 Kemarahan Albi
33
Bab 33 Berusaha Bersabar
34
Bab 34 Ketakutan Diva
35
Bab 35 Perasaan Aneh
36
Bab 36 Mulai Mencair
37
Bab 37 Pulih
38
Bab 38 Pura-pura
39
Bab 39 Memang Boleh Senempel Itu?
40
Bab 40 Kejutan Untuk Diva
41
Bab 41 Sat-set
42
Bab 42 Terungkap
43
Bab 43 Hati Yang Hancur
44
Bab 44 Sakit Tak Berdarah
45
Bab 45 Syarat Dari Albi
46
Bab 46 Kepindahan Diva
47
Bab 47 Menjalani Hidup Masing-masing
48
Bab 48 Merindukanmu
49
Bab 49 Membesuk Dava
50
Informasi Author
51
Bab 51 Bertemu Bianca
52
Bab 52 Meninggal
53
Bab 53 Kemarahan Mommy Reva
54
Bab 54 Ujian Untuk Diva
55
Bab 55 Tersiksa Keadaan
56
Bab 56 Pura-pura Kuat
57
Bab 57 Akhirnya Aku Menemukanmu
58
Bab 58 Teramat Sakit
59
Bab 59 Kakak Yang Hebat
60
Bab 60 Pengorbanan
61
Bab 61 Janji Albi
62
Bab 62 Memulai Semuanya
63
Bab 63 Tragedi
64
Bab 64 Penyesalan
65
Bab 65 Siuman
66
Bab 66 Sebuah Permohonan
67
Bab 67 Jodoh Tidak Akan Kemana
68
Bab 68 Kebahagiaan Albi Dan Diva
69
Bab 69 Akhir Dari Kebahagiaan
70
Bab 70 END
71
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!