Tidak terasa sudah sore, Dava pun mengajak kedua keponakannya itu pulang. Dari hasil perbincangan keduanya, Dava dan Reva menjadi tahu satu sama lain.
Reva terkejut saat tahu kalau Chika dan Cello adalah keponakan Dava bukan anaknya, selama ini Reva memang menganggap kalau Chika dan Cello merupakan anak Dava karena mereka memanggil Dava dengan sebutan Daddy.
Mereka sampai di rumah hampir menjelang isya, dan terlihat Chika dan Cello sudah tertidur di jok belakang.
"Tolong kamu bukakan pintu mobil, biar aku bawa Chika dan Cello," seru Dava.
Reva pun membuka pintu mobilnya dan Dava menggendong Chika terlebih dahulu, lalu setelah itu Cello. Reva sangat kagum kepada Dava karena meskipun mereka keponakannya, tapi terlihat sekali kalau Dava sangat menyayangi mereka seperti anak-anak nya sendiri.
Reva menutup tubuh keduanya dengan selimut lalu Reva dan Dava pun keluar dari kamar Chika dan Cello.
"Bu Reva, maafkan anak-anak jika mereka sudah bicara macam-macam kepadamu, itu hanya ungkapan kerinduan mereka kepada Mami dan Papinya," seru Dava.
"Iya Mas, aku juga ngerti kok."
"Kalau begitu sekarang kamu boleh istirahat."
"Baik, Mas."
Reva pun masuk ke dalam kamarnya, begitu juga dengan Dava yang masuk ke dalam kamarnya sendiri.
***
Keesokan harinya...
Chika dan Cello berusaha mendekatkan Dava dengan Reva dan Dava menyadari semuanya membuat Dava sedikit jengkel akan kelakuan kedua keponakannya itu.
"Bu Reva, sepertinya Daddy ingin makan cumi buatan ibu deh, soalnya kemarin Daddy bilang cumi buatan ibu enak," celetuk Cello.
Dava sampai terbatuk-batuk mendengar celetukan Cello, sedangkan Amelia terlihat mengulum senyum ketika melihat wajah Dava memerah karena menahan malu.
"Hmmm..kalau begitu besok saja ibu buatkan cumi lagi," sahut Reva gugup.
"Daddy, apa nanti siang Daddy sibuk?" tanya Chika.
"Memangnya kenapa?"
"Kalau gak sibuk, nanti Bu Reva akan datang ke kantor Daddy dan membawakan makanan," celetuk Chika.
Dava menghentikan suapannya, Dava merasa sangat kesal kepada kedua keponakannya yang terus saja berusaha mendekatkan dirinya dengan pengasuh mereka.
"Chika, Cello, hentikan semua ini! Daddy tidak suka ya, kalian bersikap seperti ini. Daddy banyak pekerjaan, jangan coba-coba kalian mengganggu pekerjaan Daddy dengan rencana-rencana kalian itu!" bentak Dava.
Semua orang yang ada di sana sampai tersentak kaget mendengar bentakan Dava, apalagi saat ini Chika dan Cello sudah meneteskan air matanya saking takutnya mendengar bentakan Dava.
"Daddy jahat, Chika benci sama Daddy!" teriak Chika berlari menuju kamarnya.
"Cello juga benci sama Daddy!"
Cello ikut berlari menyusul saudara kembarnya itu.
"Maaf Nyonya, Mas, saya permisi mau nyusul Chika dan Cello," seru Reva gugup.
Reva dengan cepat menyusul Chika dan Cello, sedangkan Dava mengusap wajahnya dengan kasar dan untuk pertama kalinya Dava membentak kedua keponakan yang selama ini dia sayangi itu.
"Ma, Dava berangkat ke kantor dulu," seru Dava dingin.
Dava lalu pergi ke kantor, Amelia hanya bisa diam dan menghela napasnya. Sementara itu di dalam kamar, Chika dan Cello menangis sesenggukan di atas tempat tidur.
"Chika, Cello, kalian tidak boleh berkata kasar seperti tadi dosa lho," seru Reva lembut.
"Kita benci sama Daddy, Bu. Daddy tidak mau menuruti keinginan Chika dan Cello untuk menikah dengan ibu," seru Cello.
Reva tersenyum, lalu mengusap kepala Chika dan Cello secara bergantian.
"Chika, Cello, dengarkan ibu. Daddy Dava mungkin sudah punya calon, jadi kalian tidak boleh melakukan itu makanya tadi Daddy Dava membentak kalian, itu tandanya Daddy Dava sangat marah dan kalian tidak boleh membuat Daddy Dava marah, dosa lho."
Chika dan Cello bangkit lalu mendekati Reva dengan deraian air mata mereka yang terus saja berjatuhan.
"Tapi kita ingin ibu yang menjadi Mommy kita, kita tidak mau yang lain," rengek Chika.
"Tidak boleh bicara seperti itu karena itu sangat tidak baik, ibu yakin siapa pun nantinya yang akan menjadi Mommy kalian, pasti dia akan menyayangi kalian seperti ibu jadi kalian tidak usah takut," bujuk Reva.
Chika dan Cello terdiam. "Bu Reva lebih baik sekarang keluar dari kamar kita, dan hari ini kita ingin libur dulu tidak mau belajar," ketua Chika.
Reva tersenyum, dia tahu kalau Chika dan Cello saat ini sedang marah kepada dirinya tapi Reva sama sekali tidak merasa marah.
"Ya sudah, kalau begitu ibu keluar dulu nanti kalau kalian butuh apa-apa, kalian panggil ibu saja," seru Reva.
Chika dan Cello memasang wajah yang cemberut, Reva pun memilih keluar dari kamar mereka dan memberikan waktu keduanya untuk menenangkan diri mereka.
***
Waktu pun berjalan dengan cepat, pintu kamar Reva diketuk dengan sangat kencangnya membuat Reva yang sedang tidur siang tersentak kaget dan langsung membukakan pintu.
"Nyonya Amel, ada apa Nyonya?" tanya Reva khawatir.
"Bu Reva, Chika dan Cello demam," sahut Mama Amelia panik.
"Apa, demam? perasaan tadi pagi-pagi mereka baik-baik saja," seru Reva.
Reva segera berjalan menuju kamar Chika dan Cello, diikuti oleh Amelia dengan wajah paniknya. Reva masuk dan menyentuh kening keduanya.
"Ya Allah badan mereka panas banget, apa kita tidak bawa mereka ke rumah sakit saja, Nyonya?" seru Reva.
"Bu Reva, mereka trauma dengan rumah sakit yang ada mereka akan tambah sakit. Saya sudah telepon dokter keluarga, dan Dava juga saat ini sedang dalam perjalanan," sahut Mama Amelia.
Tidak lama kemudian, Dava pun sampai di rumah. Dava berlari menuju kamar kedua keponakannya itu, sungguh Dava merasa sangat khawatir dengan keadaan Chika dan Cello.
"Bagaimana keadaan Chika dan Cello, Ma?" tanya Dava yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Mereka mengalami demam, sebentar lagi dokter datang kok," sahut Mama Amelia.
Dava terlihat sangat khawatir, apalagi tadi pagi dia sudah membentak keduanya membuat Dava merasa sangat bersalah.
"Maafkan Daddy karena sudah membentak kalian," seru Dava dengan mencium pucuk kepala Chika dan Cello.
Dokter keluarga datang dan segera memeriksa Chika dan Cello.
"Bagaimana, Dok?" tanya Dava.
"Mereka mengalami demam, ini obat yang harus mereka minum. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu."
"Iya Dok, Terima kasih."
"Mari dok, biar saya antar," seru Mama Amelia.
"Maaf Mas, saya permisi mau buatkan bubur untuk Chika dan Cello," seru Reva.
Dava duduk di samping keduanya, Dava benar-benar merasa sangat bersalah kepada kedua keponakannya itu.
"Daddy jahat, tidak mau menikah dengan Bu Reva padahal kita hanya ingin seperti teman-teman yang lain punya Mommy dan bisa jalan-jalan bersama," seru Chika dengan memejamkan matanya.
"Mami dan Papi selalu mengabulkan permintaan kita, tapi Daddy jahat tidak mau mengabulkan permintaan kita," seru Cello yang sama masih memejamkan matanya.
Ternyata keduanya mengigau, hati Dava merasa sangat sakit saat disebut jahat oleh kedua keponakan kesayangannya itu. Tidak lama kemudian, Reva datang dengan membawa bubur dan Dava memilih pergi dari sana dan membiarkan Reva menyuapi Chika dan Cello.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Erna Fadhilah
mereka merindukan kedua orang tuanya, makanya mereka pengen daddy nikah sama bu reva biar mereka merasa mempunyai keluarga yang utuh
2024-02-01
2
☠☀💦Adnda🌽💫
mereka rindu punya orang tua yg utuh .....sini peluk jauh Chika & cello 🤗🤗
2024-01-29
1
💞Amie🍂🍃
Sedih deh jadinya
2023-12-19
3