Chika dan Cello makan dengan lahapnya, hingga tidak terasa mereka pun menghabiskan satu piring.
"Apa kalian sudah kenyang?" tanya Reva.
"Sudah, Bu," sahut Chika dan Cello bersamaan.
"Hebat. Oh iya Bu, kenapa Chika dan Cello tidak memakai baju seragamnya? memangnya mereka tidak akan masuk sekolah?" tanya Reva.
"Mulai sekarang, Chika dan Cello home schooling saja lagipula kamu kan seorang guru jadi kamu bisa mengajari mereka," sahut Dava.
Dava bangkit dari duduknya. "Ma, Dava berangkat dulu. Chika, Cello, Daddy berangkat dulu ya," seru Dava.
"Iya, Daddy."
Chika dan Cello menghampiri Dava lalu mencium Dava, Reva hanya tersenyum melihat pemandangan seperti itu. Reva tidak tahu kalau Dava adalah paman Chika dan Cello bukan Daddynya.
"Kalian jangan nakal, kalau sampai Bu Reva mengundurkan diri akibat kenakalan kalian, Daddy tidak akan mencarikan kalian pengasuh lagi!" tegas Dava.
"Tenang saja Dad, kita tidak akan nakal dan kita akan menurut kepada Bu Reva," sahut Chika.
Dava melirik ke arah Reva dan Reva dengan cepat menundukkan kepalanya. Dava pun berangkat menuju kantor.
"Chika, Cello, sekarang kita belajar dulu yuk!" ajak Reva.
"Oke, Bu."
"Bu Reva, lebih baik sekarang ibu sarapan dulu," seru Mama Reva.
"Nanti saja Nyonya, kalau begitu saya pamit mau mengajar Chika dan Cello dulu."
Reva pun pamit dan menuju ruangan tengah untuk mengajar Chika dan Cello. Kedua anak yang terkenal nakal dan jahil kepada setiap pengasuh, berubah menjadi anak-anak yang penurut membuat Amelia menyunggingkan senyumannya.
"Reva memang punya sifat keibuan yang sangat luar biasa," batin Mama Amelia.
Amelia menghampiri ketiganya dan duduk di sofa sembari memperhatikan Reva yang sedang mengajari cucu-cucunya itu.
"Bu Reva sangat telaten sekali menghadapi anak-anak, sepertinya Bu Reva berpengalaman sekali," seru Mama Amelia.
"Iya, Nyonya. Sejak kecil aku sudah mengurus Rian. Ayah aku meninggal saat aku kelas lima SD dan Ibu aku meninggal saat melahirkan Rian, jadi Ayah meninggal saat ibu sedang mengandung Rian. Sejak kecil aku memang sudah dipaksa harus mengurus bayi jadi mau tidak mau, aku sudah terbiasa," sahut Reva.
"Ya Allah, terus Rian itu sakit apa?" tanya Mama Amelia kembali.
"Gagal jantung, Nyonya."
"Kamu memang wanita hebat."
Reva hanya menyunggingkan senyumannya, lalu kembali mengajar Chika dan Cello dengan penuh kesabaran.
"Sepertinya Reva cocok dengan Dava," batin Mama Amelia.
Entah kenapa Amelia sangat menyukai Reva dan berharap bisa menjadikan Reva sebagai menantunya. Sementara itu, Dava melihat laptopnya dan memeriksa CCTV yang tersambung ke laptopnya itu.
Dava memperhatikan gerak-gerik Reva yang saat ini sedang bermain dengan kedua keponakannya itu. Chika dan Cello sangat bahagia bermain dengan Reva, bahkan tanpa sadar lagi-lagi Dava sedikit menyunggingkan senyumannya kala melihat Reva yang joget-joget di hadapan Chika dan Cello.
"Untuk pertama kalinya, aku bisa melihat Chika dan Cello tertawa lepas seperti itu. Mudah-mudahan saja Reva bisa betah menjadi pengasuh mereka," batin Dava.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, saat ini Reva sedang berada di kamar Chika dan Cello dengan membawakan susu hangat untuk keduanya.
"Chika, Cello, sebelum tidur kalian harus minum susu dulu," seru Reva dengan senyumannya.
Chika dan Cello mengambil gelas susu masing-masing dan meneguk nya sampai tandas.
"Bu Reva, bacakan dongeng dong," seru Cello dengan memberikan sebuah buku dongeng kepada Reva.
"Baiklah, tapi setelah ibu bacakan dongeng, kalian harus tidur ya."
"Siap, Bu."
Chika dan Cello merebahkan tubuhnya di atas kasur masing-masing, sedangkan Reva duduk di kursi dan posisinya berada di tengah-tengah.
Reva mulai membacakan buku dongeng, Dava yang mengintip dari balik pintu merasa kagum kepada Reva. Reva terus membacakan dongeng, hingga tidak terasa Chika dan Cello pun sudah tertidur.
"Ya Allah, ternyata mereka sudah tidur," gumam Reva.
Reva menyimpan buku dongeng itu, lalu menyelimuti tubuh Chika dan Cello. Reva segera mematikan lampu dan perlahan keluar dari kamar mereka.
Reva menuruni anak tangga dan masuk ke dalam dapur. Reva membuat teh hangat dan duduk di mini bar yang ada di dapur itu, tidak lupa Reva menghubungi Hendra dan menanyakan kabar mengenai adiknya Rian.
"Kamu sedang apa?"
Reva terperanjat saat mendengar suara bas dari belakangnya.
"Mas Dava, maaf Mas saya sudah lancang masuk ke dapur, saya cuma membuat teh hangat saja," seru Reva gugup.
"Kenapa kamu harus gugup? aku tidak melarang kamu untuk melakukan apa pun di rumah ini, justru aku ingin memberitahukan kepadamu kalau kamu butuh apa-apa bicara saja kepadaku atau Mama."
"Ba-baik, Mas."
"Bagaimana keadaan adikmu?" tanya Dava.
"Alhamdulillah, Mas Hendra barusan memberitahu kalau Rian baik-baik saja," sahut Reva.
Dava manggut-manggut. "Ya sudah, sekarang lebih baik kamu istirahat karena aku tidak mau pengasuh Chika dan Cello sakit di hari pertama bekerja," seru Dava dingin.
"Baik, Mas."
Reva segera menyimpan gelas dan dengan cepat pergi ke kamarnya, begitu juga dengan Dava yang sama masuk ke dalam kamarnya.
***
Keesokan harinya...
Setelah shalat dan mandi, Reva pun keluar dari kamarnya dan masuk ke dalam dapur. Di sana terlihat Kokom sedang memotong sayuran dan bahan-bahan lainnya untuk sarapan.
"Pagi, Bi Kokom!" sapa Reva.
"Bu Reva, ngapain pagi-pagi ke dapur? apa ibu butuh sesuatu?" tanya Bi Kokom.
"Tidak, justru aku ke sini ingin membantu bibi masak," seru Reva dengan senyumannya.
"Tidak usah Bu, ibu itu tugasnya hanya mengasuh Chika dan Cello bukan masak."
"Tidak apa-apa, lagipula ini masih pagi aku bingung harus melakukan apa. Kalau diam juga aku merasa gak enak, serasa makan gaji buta," sahut Reva dengan senyumannya.
"Ya sudah, kalau begitu Bu Reva siapkan makanan untuk Chika dan Cello saja soalnya mereka memang susah sekali makan kali aja kalau Bu Reva yang masak, mereka mau makan," seru Bi Kokom.
"Baiklah, aku masak buat anak-anak saja."
Reva membuka kulkas dan mencari-cari bahan untuk menu sarapan Chika dan Cello.
"Chika dan Cello tidak suka makan sayur, jadi sepertinya aku harus sering masakin sayur-sayuran buat mereka," batin Reva.
Reva pun mulai memasak untuk Chika dan Cello, Reva suka sekali memasak makanya Reva terlihat cekatan sekali. Tidak membutuhkan waktu lama, Reva pun sudah selesai membuat sarapan untuk Chika dan Cello.
"Bi, tolong makanan ini ditata di meja makan ya, soalnya aku mau bangunin Chika dan Cello dulu," seru Reva.
"Iya."
Reva terburu-buru menaiki tangga, bahkan Reva tidak melihat kalau dari atas Dava juga terlihat buru-buru. Hingga akhirnya keduanya bertabrakan, Reva hampir terjatuh tapi dengan sigap Dava menarik tangan Reva.
Untuk sesaat keduanya saling tatap satu sama lain, sehingga tidak lama kemudian Reva tersadar dan dia pun menjauhkan tubuhnya dari Dava.
"Ma-maaf, Mas saya tidak sengaja," seru Reva gugup.
Dava terdiam, Dava pun akhirnya memilih pergi tanpa menjawab apapun. Sedangkan Reva, dia melanjutkan langkahnya menuju kamar Chika dan Cello dengan jantung yang berdetak kencang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Suyudana Arta
kok sama majikan panggil mas??
2024-06-19
1
Erna Fadhilah
jantungnya dag dig dug ga karuan ya😄😄😄
2024-02-01
2
Goesmalla Thee_wii 🐈💕
berdebar hati berdebar 🎶🎶
terbayang saat kau sentuh aku 🎶🎶🎤🎤🎤
2024-01-24
1