Dava sampai meneteskan air mata melihat kedua keponakannya terbaring tidak berdaya seperti itu. Dava menyayangi Chika dan Cello melebihi apa pun.
Dava membalikan tubuhnya dan menatap Reva dengan tatapan tajamnya, saat ini Dava sedang sangat emosi.
"Lebih baik sekarang kamu pulang dan diam di rumah," geram Dava.
"Tapi Mas, aku juga ingin menjaga Chika dan Cello," sahut Reva memelas.
"Apa aku tidak salah dengar? bukannya akhir-akhir ini kamu lemas tidak kuat melakukan apa pun, tapi kenapa sekarang kamu justru ingin menjaga Chika dan Cello? ternyata selama ini kamu hanya pura-pura kan, supaya kamu tidak mengurus Chika dan Cello," tuduh Dava.
"Astagfirullah Mas, tega-teganya Mas bicara seperti itu."
"Sudahlah, saat ini aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu jadi aku minta sekarang kamu pulang."
"Tapi, Mas----"
"Aku bilang pulang, ya pulang!"
Rian tidak terima melihat kakaknya terus-terusan dibentak seperti itu, Rian pun menarik tangan Reva untuk pergi.
"Ayo kak, lebih baik sekarang kita pulang saja," seru Rian.
"Tapi Rian----"
Rian tidak mendengarkan ucapan kakaknya, dia pun dengan paksa menarik Reva dan membawanya pergi dari rumah sakit. Rian segera menghentikan taksi dan membawa Reva pulang.
"Rian, kakak ingin ikut menjaga Chika dan Cello karena bagaimana pun kakak juga bersalah karena sudah lalai dalam menjaga mereka," seru Reva dengan deraian air matanya.
"Ini bukan salah kakak, lagipula kakak tidak menyuruh mereka untuk membeli susu kan?"
"Demi Allah Rian, kakak sama sekali tidak menyuruh mereka untuk beli susu, kakak hanya menyuruh mereka untuk main soalnya kakak tidak kuat lemas banget," sahut Reva.
"Kak Dava benar-benar keterlaluan, Rian gak terima kakak dibentak-bentak seperti tadi," geram Rian.
"Tidak apa-apa Rian, kakak ngerti dengan perasaan Mas Dava mungkin saat ini dia sangat sedih karena kamu tahu sendiri kan, bagaimana Mas Dava sangat menyayangi Chika dan Cello. Kakak dulu sama seperti Mas Dava yang sangat hancur melihat kamu terbaring lemah di rumah sakit, begitu pun dengan Mas Dava pasti dia sangat sedih melihat keponakan kesayangannya terluka apalagi sampai koma seperti itu," sahut Reva menenangkan Rian.
"Iya, tapi Kak Dava tidak perlu bentak-bentak kakak karena memang ini bukan kesalahan kakak. Hati Rian sakit melihat kakak dibentak-bentak seperti itu."
Reva memeluk adiknya itu. "Sudah, kakak tidak apa-apa kok jadi kakak mohon kamu jangan benci sama Kak Dava, ya."
Reva sangat tahu bagaimana perasaan adiknya itu, tapi Rian tidak tahu kalau dia jauh lebih sakit. Untuk pertama kalinya Reva melihat Dava semarah itu bahkan menuduh Reva berpura-pura dan itu sangat menyakitkan untuk Reva.
Malam pun tiba...
Reva merasa gelisah, dia dari tadi berdiri di depan jendela menunggu kepulangan Dava bahkan Reva sudah beberapa kali menghubungi Dava tapi Dava sama sekali tidak mengangkatnya.
Hingga sekian lama menunggu, Reva pun mulai mengantuk dan akhirnya tertidur.
***
Keesokan harinya...
Reva terbangun dan dilihatnya tidak ada Dava di sana.
"Apa Mas Dava tidak pulang?" gumam Reva.
Reva segera membersihkan tubuhnya, setelah itu turun dan sarapan hanya berdua dengan Rian.
"Bi, Mas Dava dan Mama Amelia tidak pulang?" tanya Reva.
"Tidak Bu, sepertinya mereka menginap di rumah sakit. Oh iya Bu, tadi malam Mas Dava menghubungi saya katanya suruh menyiapkan baju ganti nanti Pak Rahmat yang akan mengantarkannya ke rumah sakit."
"Kenapa Mas Dava tidak langsung menghubungiku?" seru Reva.
Lagi-lagi Reva merasa sakit hati dengan sikap Dava yang seperti itu, padahal dia sudah beberapa kali menghubungi Dava tapi Dava sama sekali tidak mengangkatnya.
"Kak, Rian berangkat sekolah dulu, ya."
"Iya, kamu hati-hati."
Rian pun segera pergi sekolah, sedangkan Reva menuju kamarnya untuk menyiapkan baju yang diminta oleh Dava. Reva kembali meneteskan air matanya, ibu hamil memang sensitif dan gampang sakit hati.
Seharian ini Reva diam di rumah dengan perasaan yang sangat gelisah, dia ingin sekali ke rumah sakit namun dia takut Dava akan marah. Sementara itu di rumah sakit, Dava terus saja duduk di samping Chika dan Cello.
"Dava, kamu makan dulu sana, dari kemarin siang kamu belum makan apa-apa," seru Mama Amelia.
"Dava tidak lapar Ma, pokoknya Dava tidak akan meninggalkan Chika dan Cello."
"Iya, tapi kamu juga harus makan biar kamu tidak sakit."
"Nanti sajalah Ma, lebih baik Mama saja duluan yang makan."
Perasaan Dava saat ini campur aduk, dia melihat puluhan panggilan dari Reva. Dia tidak bermaksud mengabaikan Reva, tapi hatinya saat ini sedang tidak ingin berbicara kepada Reva.
Dava masih mengira kalau kecelakaan yang menimpa kedua keponakannya itu adalah kesalahan Reva.
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, tidak terasa sudah tiga hari berlalu dan Dava sama sekali tidak pernah pulang. Dava dan Amelia tidur di rumah sakit membuat Reva semakin tidak enak.
Pada saat Reva sedang duduk di teras rumah, Amelia pun pulang dan Reva langsung menghampiri mertuanya itu.
"Ma, bagaimana keadaan Chika dan Cello?" tanya Reva.
"Mereka masih koma," ketus Mama Amelia.
"Ma, jika Mama mau ke rumah sakit lagi, Reva ikut ya, Ma."
Amelia menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya menatap Reva.
"Bukanya kamu lemas, lebih baik kamu istirahat saja di rumah lagipula seharusnya kamu bahagia karena tidak akan ada yang recokin kamu lagi," sinis Mama Amelia.
Amelia pun pergi dan masuk ke dalam kamarnya, Reva terdiam dengan air mata yang mulai menetes. Reva tidak menyangka kalau mertuanya yang dulu baik dan sayang kepada dirinya sekarang mulai membencinya.
***
Hari demi hari berjalan dengan sangat cepat, Dava dan Amelia semakin acuh dan cuek kepada Reva. Pada saat hamil muda seperti ini Reva sangat merindukan suaminya dan ingin sekali dimanja oleh Dava seperti awal-awal dia ngidam.
Sudah satu minggu berlalu, hanya satu kali Dava pulang ke rumah itu pun Dava mengacuhkan Reva sama sekali tidak menanyakan kabar Reva.
"Ya Allah, kenapa hati aku merasa sakit banget," gumam Reva.
Kepala Reva mulai pusing, hingga akhirnya Reva pun jatuh pingsan di dapur saat dia hendak membuat susu.
"Ya Allah, Bu Reva!" teriak Bi Wati.
Rian yang saat itu sedang belajar langsung berlari saat mendengar teriakan Bi Wati. Reva dibawa ke sebuah klinik yang dekat dengan rumah, tubuh Reva demam membuat Rian sangat khawatir.
"Bagaimana keadaan kakak saya, Bu bidan?" tanya Rian.
"Sepertinya kakak kamu mengalami stres karena banyak pikiran, saya sarankan jangan buat kakak kamu banyak pikiran karena saat ini usia kandungannya masih sangat muda ditakutkan akan berpengaruh buruk kepada janinnya."
"Baik, bu."
"Jangan khawatir tadi saya sudah berikan obat, sebentar lagi kakak kamu akan sadar."
"Iya, terima kasih Bu Bidan."
Rian menggenggam tangan Reva. "Kak Dava memang sudah keterlaluan membuat Kak Reva sampai stres seperti ini," geram Rian.
Satu jam kemudian...
Reva sudah mulai membuka matanya. "Ini di mana?" lirih Reva.
"Kakak ada di klinik, tadi kakak pingsan," sahut Rian.
"Apa kamu sudah menghubungi Mas Dava?" tanya Reva.
"Sudah, tadi Rian mengirim pesan kepada Kak Dava tapi Kak Dava tidak membalasnya," sahut Rian.
"Rian, antar kakak ke rumah sakit."
"Mau ngapain? kakak itu masih sakit lebih baik kakak istirahat saja."
"Kakak ingin bicara kepada Mas Dava, kakak mohon antar kakak."
Rian tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti kemauan kakaknya itu. Tidak membutuhkan waktu lama, saat ini mereka sudah sampai di rumah sakit. Reva hendak membuka pintu ruangan rawat Chika dan Cello, tapi Reva terdiam saat mendengar pembicaraan antara Dava dan Amelia.
"Dava, kata Bi Wati tadi Reva pingsan dan dibawa ke klinik, apa kamu tidak pulang dulu lihat keadaan Reva?"
"Tidak perlu Ma, ada Rian yang jaga Reva lagipula kalau Dava pergi, Dava takut Chika dan Cello siuman dan mencari keberadaan Dava," sahut Dava dingin.
"Tapi dia saat ini dia sedang hamil."
"Dava yakin dia bisa jaga diri dia baik-baik, Reva juga pasti mengerti kalau saat ini yang jadi prioritas utama Dava adalah Chika dan Cello. Dava tidak mau kehilangan Chika dan Cello, bagaimana Dava bisa pergi sedangkan mereka terbaring lemah seperti ini lagipula mereka terluka akibat kelalaian Reva juga."
Air mata Reva menetes, tangannya lemas. Rian mengeraskan rahangnya, menahan amarah. Rian paling tidak suka melihat kakaknya menangis, dia ingin sekali menghajar Dava tapi dia tidak bisa melakukannya mengingat begitu besarnya jasa Dava kepada dirinya.
"Kak, kita pulang saja."
Reva menganggukkan kepalanya pelan, selama perjalanan pulang Reva terus saja menangis.
"Kak, lebih baik sekarang kita pergi saja dari rumah Kak Dava. Rian tidak bisa melihat kakak terus-terusan menangis seperti ini, kata bidan kakak jangan banyak pikiran jadi menurut Rian lebih baik sekarang kita pergi dulu dan menenangkan pikiran kakak," seru Rian.
Reva terdiam, Rian menganggap kalau Reva menyetujui sarannya. Hingga akhirnya setelah sampai di rumah, Rian segera mengemas semua bajunya lalu Rian membantu Reva untuk mengemas bajunya juga.
"Kita pulang ke kampung saja ya, kak. Di sana masih ada rumah peninggalan Ayah dan Ibu."
Keduanya menggeret koper keluar dari rumah Dava.
"Bu Reva sama Mas Rian mau ke mana?" tanya Bi Wati.
"Aku mau bawa Kak Reva menenangkan diri dulu, kasihan tinggal di sini Kak Reva stres," sahut Rian.
"Tapi kalian mau pergi ke mana? terus kalau Mas Dava nanya, bibi harus jawab apa?"
"Mas Dava tidak akan pulang sebelum Chika dan Cello siuman, jadi bibi tidak usah khawatir karena Mas Dava tidak akan menanyakan keberadaanku. Kalau begitu kita pergi dulu ya, bi."
Reva dan Rian pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah itu, tanpa sepengetahuan Dava dan juga Amelia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Erna Fadhilah
semoga🤲🤲🤲 setelah reva dan Riyan pergi si kembar siuman dan mereka menceritakan kejadian yang sebenarnya
2024-02-02
2
Pak Gogot
sinetron Indosiar, gak masuk akal lebih sayang ponakan drpd anak sendiri
2024-01-28
1
reza indrayana
bikin Baper...., sedih nichh..../Sweat//Sweat//Cry//Cry//Cry/
2023-12-14
2