Tidak lama kemudian, Rian pun sampai di rumah namun Rian mengerutkan keningnya saat melihat pintu gerbang yang sedikit terbuka itu.
"Lah, kok gerbangnya terbuka," gumam Rian.
Rian pun masuk dan menghampiri satpam yang masih tertidur itu.
"Pak Budi," seru Rian dengan menggoyangkan lengan satpam itu.
"Ah iya, ada apa Mas Rian?"
"Enggak, cuma mau nanya saja kok gerbangnya terbuka?" tanya Rian.
"Hah, terbuka? perasaan tadi nutup kok Mas."
Sementara itu dengan lemas dan langkah gontai, Reva keluar dari kamar dan turun ke bawah.
"Chika, Cello!" panggil Reva.
Reva mencari keberadaan Chika dan Cello, tapi dia tidak menemukannya. Reva melihat alat tulis dan peralatan menggambar masih ada di ruangan TV.
"Ke mana mereka?" gumam Reva.
Reva kemudian keluar rumah. "Rian, apa kamu melihat Chika dan Cello?" tanya Reva.
"Tidak Kak, Rian baru saja pulang sekolah," sahut Rian.
Budi panik, dia dengan cepat melihat CCTV dan Budi sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Astagfirullah."
"Ada apa, Pak?" tanya Reva dan Rian bersamaan.
"Lihat Bu, Chika dan Cello keluar rumah," sahut Pak Budi.
"Apa!"
Reva dan Rian segera melihatnya dan benar saja, keduanya terlihat keluar rumah dengan bergandengan tangan.
"Ya Allah, mereka mau ke mana?" seru Reva khawatir.
Baru saja Reva ingin keluar, Tiba-tiba salah satu tetangganya datang dengan wajah paniknya.
"Bu Reva, Chika dan Cello tertabrak mobil di depan mini market," seru salah seorang tetangganya.
"Apa!"
Reva, Rian, dan Budi segera berlari ke tempat kejadian bahkan Reva tidak memperdulikan dirinya yang sedang mengandung, dia terus saja berlari.
Reva segera menghampiri polisi yang saat itu ada di lokasi. "Pak, mana kedua keponakan saya?" tanya Reva panik.
"Kedua korban sudah dibawa ke rumah sakit, ibu bisa langsung menyusul ke rumah sakit terdekat di sini."
"Baik, Terima kasih, Pak."
Tanpa berpikir lagi, Reva dan Rian pun segera menghentikan taksi untuk ke rumah sakit. Selama dalam perjalanan, Reva terus saja menangis dia takut terjadi kenapa-napa kepada Chika dan Cello.
"Sudah kak, kakak harus tenang Rian yakin kalau Chika dan Cello tidak apa-apa," seru Rian menenangkan kakaknya.
Reva segera menghubungi Dava dan Dava sangat terkejut, tanpa menunggu lagi Dava langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
Sedangkan Amelia dan ART baru saja sampai di rumah.
"Pak Budi kenapa? kok wajah Pak Budi pucat?" tanya Mama Amelia.
"Maafkan saya Nyonya, saya sudah lalai," sahut Pak Budi dengan menundukkan kepalanya.
"Maksud Pak Budi apa?" tanya Mama Amelia bingung.
Budi pun menceritakan semuanya kepada Amelia, seketika paper bag yang ia pegang terjatuh.
"Pak Rahmat, sekarang kita ke rumah sakit," seru Mama Amelia panik.
"Baik, Nyonya."
Amelia tidak kalah paniknya dengan Dava dan Reva. Reva dan Rian sampai di rumah sakit, setelah tahu di mana kedua keponakannya mereka pun langsung menuju ruangan operasi.
Reva dan Rian menunggu di depan ruangan operasi dengan perasaan yang sangat khawatir, hingga tidak lama kemudian Dava pun datang.
"Kenapa Chika dan Cello bisa sampai tertabrak seperti ini?" bentak Dava.
Reva sampai tersentak kaget mendengar bentakan Dava, air matanya pun semakin deras membasahi pipinya.
"Aku tidak tahu Mas," sahut Reva.
"Kenapa bisa sampai tidak tahu? mereka itu masih kecil, kenapa mereka bisa keluar rumah?" bentak Dava kembali.
Reva menundukkan kepalanya, dia merasa takut akan bentakan Dava begitu pun Rian yang hanya bisa diam.
"Selamat siang Pak, apa Bapak wali dari kedua anak yang tertabrak itu?" tanya pak polisi.
"Iya Pak, ada apa?" sahut Dava.
"Di lokasi kejadian, kami menemukan barang belanjaan yang korban beli di sebuah mini market itu."
Polisi memberikan kantong kresek berisi susu hamil untuk Reva, Dava mengepalkan tangannya.
"Sopir ambulance yang sudah menabrak kedua anak Bapak ternyata sudah meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit, kami berharap kedua anak bapak baik-baik saja."
"Amin, Terima kasih, Pak."
"Kalau begitu, kami permisi."
Polisi itu pun pergi, Dava masih mengepalkan tangannya. Dava membalikan tubuhnya dan menatap tajam ke arah Reva.
"Kamu menyuruh Chika dan Cello untuk membeli susu ini?" bentak Dava.
Saking takutnya, Reva tidak bisa menjawab dia hanya bisa geleng-geleng kepala dengan deraian air matanya.
"Kamu keterlaluan Reva, bisa-bisanya kamu menyuruh anak kecil untuk membeli susu. Selemah itukah tubuh kamu, sampai-sampai kamu dengan teganya menyuruh Chika dan Cello. Atau jangan-jangan kamu hanya pura-pura lemah supaya semua orang merasa kasihan kepadamu!"
"Kak, Kak Reva tidak seperti itu," seru Rian.
Reva langsung menahan Rian, Reva tidak mau kalau Rian bersikap kasar kepada kakak iparnya itu.
"Kamu pura-pura lemah kan, supaya kamu tidak mengurus Chika dan Cello?" bentak Dava.
"Astagfirullah, demi Allah Mas aku sama sekali tidak ada pikiran seperti itu. Dari dulu aku sayang kepada Chika dan Cello seperti anak aku sendiri," sahut Reva dengan deraian air mata.
Dava hendak memarahi Reva lagi, tapi Amelia datang dan mengurungkan Dava untuk memarahi Reva.
"Dava, bagaimana keadaan Chika dan Cello?" tanya Mama Amelia panik.
"Masih di dalam Ma, masih menjalani operasi," sahut Dava.
"Ya Allah, Mama merasa bersalah seandainya tadi Mama paksa mereka untuk ikut sama Mama mungkin ini semua tidak akan terjadi," seru Mama Amelia.
"Mama tahu, mereka keluar karena disuruh Reva untuk membeli susu ini," seru Dava dengan geramnya.
"Apa?"
"Tidak, Ma. Reva----"
"Diam kamu Reva, sudah tahu salah masih saja berusaha membela diri," seru Dava.
"Reva, kalau kamu butuh susu hamil kenapa kamu tidak nitip ke Mama? kenapa kamu harus menyuruh anak kecil?" kesal Mama Amelia.
"Tidak Ma, Reva----"
Lagi-lagi ucapan Reva terhenti karena pintu ruangan operasi terbuka, Dava dan Amelia langsung menghampiri dokter.
"Bagaimana dengan keadaan anak-anak saya, dokter?" tanya Dava cemas.
"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar namun akibat benturan yang sangat keras, kedua anak Bapak mengalami koma dan saya belum bisa memastikan kapan anak-anak Bapak akan siuman. Jadi saya minta untuk Bapak, banyak-banyaklah berdo'a semoga kedua anak Bapak cepat sadar," sahut dokter.
Semuanya terlihat sangat terkejut, dua orang perawat memindahkan Chika dan Cello ke ruangan rawat inap. Tubuh keduanya penuh tertempel dengan alat-alat medis.
"Kalian harus kuat, jangan tinggalin Nenek sudah cukup Mami dan Papi kalian yang pergi. Kalau sampai kalian pergi, Nenek tidak akan memaafkan diri Nenek sendiri karena sudah meninggalkan kalian di rumah," seru Mama Amelia dengan deraian air mata.
Reva memeluk Rian, sungguh saat ini dia merasa bingung dan harus melakukan apa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Erna Fadhilah
kenapa dava nyalahin Reva dan ga mau dengerin penjelasan Reva, semoga🤲🤲 setelah ini dava jangan terus menerus nyalahin Reva apalagi ngusir Reva, kalau sampai itu terjadi dava bakal nyesel nantinya
2024-02-02
2
☠☀💦Adnda🌽💫
mulai ada prahara di rumah tangga mereka ,semoga tidak berlarut "
2024-01-29
1
Esther Lestari
dengerin dulu penjelasan istrimu Dava, jangan marah2 dulu
2023-12-13
2