Bab 8 Canggung

Beberapa saat kemudian, mobil Dava pun sampai di rumah sakit. Dava langsung mengurus semuanya sedangkan Reva masuk ke dalam ruangan rawat Rian.

Reva menggenggam tangan Rian dengan deraian air matanya.

"Kakak jangan menangis, Rian akan baik-baik saja kok," lirih Rian dengan senyumannya.

"Dek, Kakak mohon bertahanlah jangan tinggalkan Kakak karena hanya kamu di dunia ini keluarga Kakak," seru Reva.

"Rian kuat kok Kak, buktinya selama ini Rian bisa bertahan."

Reva mengusap kepala adiknya itu dengan penuh kasih sayang, lalu mencium kening Rian begitu sangat lama membuat Dava merasa sedikit terenyuh dengan hubungan kakak beradik itu.

Hingga tidak lama kemudian, perawat pun membawa Rian ke ruang operasi. Reva, Dava, dan Hendra menunggu di depan ruangan operasi. Reva benar-benar merasa sangat khawatir dengan adiknya itu.

"Ya Allah, lancarkanlah operasi Rian jangan kau ambil dahulu Rian dari sampingku karena aku belum siap untuk kehilangan Rian," batin Reva.

Dava bangkit dari duduknya tapi Reva tidak menyadari kalau Dava pergi karena Reva terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga tidak lama kemudian Dava pun kembali dengan membawa minuman dan makanan juga.

"Ini, makanlah. Kamu dari tadi belum sarapan sama sekali," seru Dava.

"Tidak Mas, lebih baik Mas saja yang makan. Aku kuat kok, karena aku sudah terbiasa. Lagipula aku tidak makan sehari saja tidak akan membuat aku pingsan," sahut Reva.

"Makan, atau aku batalkan operasi untuk adik kamu," ancam Dava.

Reva kaget, dia langsung merebut roti dari tangan Dava dan melahapnya dengan cepat membuat Dava sedikit menyunggingkan senyumannya.

Reva dengan sekejap menghabiskan roti itu. "Rotinya sudah habis Mas, jadi Mas jangan batalkan operasi untuk Rian," seru Reva dengan mulut yang masih penuh dengan roti itu.

"Telan dulu rotinya nanti kamu tersedak," seru Dava.

Dava juga melahap rotinya dengan senyuman yang tertahan, ternyata kelakuan Reva mampu membuat Dava yang dingin menyunggingkan senyumannya.

Rian sudah masuk ruangan operasi, Reva begitu sangat khawatir. Reva menoleh ke arah Dava yang saat ini sedang mengotak-ngatik ponselnya.

"Mas, jika Mas mau pergi ke kantor, pergilah. Aku bisa sendiri di sini," seru Reva gugup.

Dava menghentikan gerakan tangannya dan menatap Reva membuat Reva seketika menundukkan kepalanya.

"Kantor sudah ada yang ngurus, lagipula memangnya kamu sanggup menunggu di sini sendirian?" seru Dava.

"Kalau Mas memang mau ke kantor, aku tidak apa-apa sendirian," sahut Reva gugup.

"Sudahlah, aku akan di sini sampai operasi Rian selesai karena bagaimana pun sekarang Rian sudah menjadi adikku juga."

Reva membalikan tubuhnya. "Maaf Mas, aku ke toilet dulu."

Reva dengan cepat berjalan menuju toilet, dia masuk ke dalam toilet dan menguncinya. Reva memegang dadanya yang terasa berdetak tak karuan itu.

"Apa aku akan kuat menghadapi Mas Dava seperti ini, baru segini saja membuat hati aku sudah tak karuan apalagi kalau aku harus menghadapi Mas Dava setiap hari," batin Reva.

Reva mencoba menenangkan hatinya yang sudah tidak bisa terkontrol itu, setelah merasa tenang, Reva pun keluar dari kamar mandi dan segera menuju ruangan operasi.

Reva terkejut saat melihat Dava yang saat ini memejamkan matanya dengan posisi duduk. Diperhatikannya wajah Dava secara seksama, alis matanya yang terlihat tebal, hidungnya yang begitu sangat mancung, dan rahang yang begitu keras, sungguh Dava sangat tampan dan Reva merasa mimpi kalau pria tampan itu adalah suaminya.

Reva pun duduk di samping Dava, dia melihat ke arah pintu ruangan operasi.

"Ya Allah, kuatkan Rian jangan dulu Kau ambil Rian karena aku belum siap jika harus kehilangan Rian," batin Reva.

Empat jam pun berlalu, lampu operasi sudah dimatikan dan pintu ruangan operasi pun terbuka membuat Reva dan Dava bangkit dan segera menghampiri dokter.

"Dok, bagaimana keadaan adik saya?" tanya Reva khawatir.

"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar dan kondisi Rian pun stabil. Adik anda memang luar biasa, semangat hidupnya sangat tinggi. Kalau begitu, saya pamit dulu sebentar lagi Rian akan dipindahkan ke ruangan rawat," seru dokter.

"Baik dok, Terima kasih," sahut Reva.

Reva sangat bahagia, saking bahagianya dia langsung memeluk Dava membuat Dava terdiam membeku sembari membelalakkan matanya.

"Terima kasih Mas, aku sangat bahagia," seru Reva dengan deraian air mata.

Dava masih terdiam, jantungnya berdetak tak karuan. Dava adalah pria kaku yang selama ini bisa dibilang belum tersentuh oleh wanita mana pun tapi sekarang, wanita yang merupakan pengasuh keponakannya dan yang sudah menjadi istrinya itu untuk pertama kalinya menyentuh Dava dan seketika membuat hati Dava porak-poranda.

Setelah beberapa saat, Reva pun tersadar dan langsung melepaskan pelukannya dengan sangat canggung.

"Ma-maaf Mas, aku tidak sengaja saking bahagianya," seru Reva gugup.

Reva menundukkan kepalanya, dia takut kalau Dava akan memarahinya.

"Tidak apa-apa, lagipula kamu tidak salah aku kan sudah menjadi suamimu," sahut Dava gugup.

Dava melangkahkan kakinya meninggalkan Reva dengan wajah yang memerah, Dava tidak mau sampai Reva melihat wajahnya merah bisa-bisa dia malu.

Sementara itu, Reva hanya bisa terdiam dia tidak menyangka kalau Dava akan berkata seperti itu, padahal Reva sudah menyangka kalau Dava akan marah kepadanya.

Dava dan Reva masuk ke dalam ruangan rawat Rian, ternyata Rian masih belum sadar.

"Terima kasih, Mas," seru Reva.

"Untuk apa?"

"Karena Mas sudah menolong Rian, aku tidak tahu harus membayarnya dengan apa? Rian adalah orang yang paling aku sayangi dan satu-satunya yang aku miliki, kalau Mas tidak menolongku entah apa yang akan terjadi kepada Rian."

"Sudahlah tidak usah dipikirkan, kita sama-sama melakukan hal untuk orang yang kita sayangi. Rian bisa selamat dan aku bisa menyenangkan hati kedua keponakanku," sahut Dava.

Reva hanya bisa tersenyum. "Oh iya, jika Mas mau kembali ke kantor tidak apa-apa kok, aku bisa sendiri jagain Rian," seru Reva.

Dava melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya itu. "Baiklah, aku harus kembali ke kantor soalnya masih banyak pekerjaan yang harus aku urus," sahut Dava.

"Sekali lagi Terima kasih Mas, maaf aku sudah merepotkan dan menyusahkan Mas."

Dava tersenyum sedikit lalu Dava pun melangkahkan kakinya tapi pada saat Dava hendak membuka pintu, tiba-tiba Dava terdiam dan kembali membalikan tubuhnya menghadap Reva membuat Reva mengerutkan keningnya.

"Ada apa lagi, Mas?" tanya Reva.

Dava terlihat canggung, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu dengan salah tingkah.

"Ehmm...nanti aku jemput kamu."

Setelah mengatakan itu, Dava dengan cepat pergi dan lagi-lagi membuat Reva terkejut. Tapi sedetik kemudian, Reva menyunggingkan senyumannya merasa tidak percaya dengan apa yang Dava barusan katakan.

Terpopuler

Comments

Erna Fadhilah

Erna Fadhilah

masih sama-sama malu dan tau isi hati masing-masing

2024-02-01

2

☠☀💦Adnda🌽💫

☠☀💦Adnda🌽💫

malu " meong y bang Dava 🤭🤭bikin gumush

2024-01-29

1

Goesmalla Thee_wii 🐈💕

Goesmalla Thee_wii 🐈💕

Alhamdulillah Dava masih Ori ternyata 🤣🤣🤣

2024-01-28

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pusing Tujuh Keliling
2 Bab 2 Guru Baru
3 Bab 3 Pengasuh Cantik
4 Bab 4 Kagum
5 Bab 5 Permintaan Chika dan Cello
6 Bab 6 Si Kembar Sakit
7 Bab 7 Terpaksa Menikah
8 Bab 8 Canggung
9 Bab 9 Menantu Idaman
10 Bab 10 Memperhatikan Dalam Diam
11 Bab 11 Liburan Bersama
12 Bab 12 Mulai Ada Getaran
13 Bab 13 Percobaan Yang Gagal
14 Bab 14 Minta Adik
15 Bab 15 Positif
16 Bab 16 Kecelakaan
17 Bab 17 Kemarahan Dava
18 Bab 18 Kepergian Reva
19 Bab 19 Siuman
20 Bab 20 Mencari Reva
21 Bab 21 Menjelang Melahirkan
22 Bab 22 Momen Mengharukan
23 Bab 23 Perfect Husband
24 Bab 24 Keluarga Bahagia
25 Bab 25 Kembali Hamil
26 Bab 26 Perjuangan Berbuah Manis
27 Bab 27 Keluarga Baru
28 Bab 28 Kecelakaan
29 Bab 29 Merasa Bersalah
30 Bab 30 Aku Harus Tanggung Jawab!
31 Bab 31 Kembali Ke Jakarta
32 Bab 32 Kemarahan Albi
33 Bab 33 Berusaha Bersabar
34 Bab 34 Ketakutan Diva
35 Bab 35 Perasaan Aneh
36 Bab 36 Mulai Mencair
37 Bab 37 Pulih
38 Bab 38 Pura-pura
39 Bab 39 Memang Boleh Senempel Itu?
40 Bab 40 Kejutan Untuk Diva
41 Bab 41 Sat-set
42 Bab 42 Terungkap
43 Bab 43 Hati Yang Hancur
44 Bab 44 Sakit Tak Berdarah
45 Bab 45 Syarat Dari Albi
46 Bab 46 Kepindahan Diva
47 Bab 47 Menjalani Hidup Masing-masing
48 Bab 48 Merindukanmu
49 Bab 49 Membesuk Dava
50 Informasi Author
51 Bab 51 Bertemu Bianca
52 Bab 52 Meninggal
53 Bab 53 Kemarahan Mommy Reva
54 Bab 54 Ujian Untuk Diva
55 Bab 55 Tersiksa Keadaan
56 Bab 56 Pura-pura Kuat
57 Bab 57 Akhirnya Aku Menemukanmu
58 Bab 58 Teramat Sakit
59 Bab 59 Kakak Yang Hebat
60 Bab 60 Pengorbanan
61 Bab 61 Janji Albi
62 Bab 62 Memulai Semuanya
63 Bab 63 Tragedi
64 Bab 64 Penyesalan
65 Bab 65 Siuman
66 Bab 66 Sebuah Permohonan
67 Bab 67 Jodoh Tidak Akan Kemana
68 Bab 68 Kebahagiaan Albi Dan Diva
69 Bab 69 Akhir Dari Kebahagiaan
70 Bab 70 END
71 Pengumuman
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 Pusing Tujuh Keliling
2
Bab 2 Guru Baru
3
Bab 3 Pengasuh Cantik
4
Bab 4 Kagum
5
Bab 5 Permintaan Chika dan Cello
6
Bab 6 Si Kembar Sakit
7
Bab 7 Terpaksa Menikah
8
Bab 8 Canggung
9
Bab 9 Menantu Idaman
10
Bab 10 Memperhatikan Dalam Diam
11
Bab 11 Liburan Bersama
12
Bab 12 Mulai Ada Getaran
13
Bab 13 Percobaan Yang Gagal
14
Bab 14 Minta Adik
15
Bab 15 Positif
16
Bab 16 Kecelakaan
17
Bab 17 Kemarahan Dava
18
Bab 18 Kepergian Reva
19
Bab 19 Siuman
20
Bab 20 Mencari Reva
21
Bab 21 Menjelang Melahirkan
22
Bab 22 Momen Mengharukan
23
Bab 23 Perfect Husband
24
Bab 24 Keluarga Bahagia
25
Bab 25 Kembali Hamil
26
Bab 26 Perjuangan Berbuah Manis
27
Bab 27 Keluarga Baru
28
Bab 28 Kecelakaan
29
Bab 29 Merasa Bersalah
30
Bab 30 Aku Harus Tanggung Jawab!
31
Bab 31 Kembali Ke Jakarta
32
Bab 32 Kemarahan Albi
33
Bab 33 Berusaha Bersabar
34
Bab 34 Ketakutan Diva
35
Bab 35 Perasaan Aneh
36
Bab 36 Mulai Mencair
37
Bab 37 Pulih
38
Bab 38 Pura-pura
39
Bab 39 Memang Boleh Senempel Itu?
40
Bab 40 Kejutan Untuk Diva
41
Bab 41 Sat-set
42
Bab 42 Terungkap
43
Bab 43 Hati Yang Hancur
44
Bab 44 Sakit Tak Berdarah
45
Bab 45 Syarat Dari Albi
46
Bab 46 Kepindahan Diva
47
Bab 47 Menjalani Hidup Masing-masing
48
Bab 48 Merindukanmu
49
Bab 49 Membesuk Dava
50
Informasi Author
51
Bab 51 Bertemu Bianca
52
Bab 52 Meninggal
53
Bab 53 Kemarahan Mommy Reva
54
Bab 54 Ujian Untuk Diva
55
Bab 55 Tersiksa Keadaan
56
Bab 56 Pura-pura Kuat
57
Bab 57 Akhirnya Aku Menemukanmu
58
Bab 58 Teramat Sakit
59
Bab 59 Kakak Yang Hebat
60
Bab 60 Pengorbanan
61
Bab 61 Janji Albi
62
Bab 62 Memulai Semuanya
63
Bab 63 Tragedi
64
Bab 64 Penyesalan
65
Bab 65 Siuman
66
Bab 66 Sebuah Permohonan
67
Bab 67 Jodoh Tidak Akan Kemana
68
Bab 68 Kebahagiaan Albi Dan Diva
69
Bab 69 Akhir Dari Kebahagiaan
70
Bab 70 END
71
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!