Beberapa saat kemudian, mobil Dava pun sampai di rumah sakit. Dava langsung mengurus semuanya sedangkan Reva masuk ke dalam ruangan rawat Rian.
Reva menggenggam tangan Rian dengan deraian air matanya.
"Kakak jangan menangis, Rian akan baik-baik saja kok," lirih Rian dengan senyumannya.
"Dek, Kakak mohon bertahanlah jangan tinggalkan Kakak karena hanya kamu di dunia ini keluarga Kakak," seru Reva.
"Rian kuat kok Kak, buktinya selama ini Rian bisa bertahan."
Reva mengusap kepala adiknya itu dengan penuh kasih sayang, lalu mencium kening Rian begitu sangat lama membuat Dava merasa sedikit terenyuh dengan hubungan kakak beradik itu.
Hingga tidak lama kemudian, perawat pun membawa Rian ke ruang operasi. Reva, Dava, dan Hendra menunggu di depan ruangan operasi. Reva benar-benar merasa sangat khawatir dengan adiknya itu.
"Ya Allah, lancarkanlah operasi Rian jangan kau ambil dahulu Rian dari sampingku karena aku belum siap untuk kehilangan Rian," batin Reva.
Dava bangkit dari duduknya tapi Reva tidak menyadari kalau Dava pergi karena Reva terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga tidak lama kemudian Dava pun kembali dengan membawa minuman dan makanan juga.
"Ini, makanlah. Kamu dari tadi belum sarapan sama sekali," seru Dava.
"Tidak Mas, lebih baik Mas saja yang makan. Aku kuat kok, karena aku sudah terbiasa. Lagipula aku tidak makan sehari saja tidak akan membuat aku pingsan," sahut Reva.
"Makan, atau aku batalkan operasi untuk adik kamu," ancam Dava.
Reva kaget, dia langsung merebut roti dari tangan Dava dan melahapnya dengan cepat membuat Dava sedikit menyunggingkan senyumannya.
Reva dengan sekejap menghabiskan roti itu. "Rotinya sudah habis Mas, jadi Mas jangan batalkan operasi untuk Rian," seru Reva dengan mulut yang masih penuh dengan roti itu.
"Telan dulu rotinya nanti kamu tersedak," seru Dava.
Dava juga melahap rotinya dengan senyuman yang tertahan, ternyata kelakuan Reva mampu membuat Dava yang dingin menyunggingkan senyumannya.
Rian sudah masuk ruangan operasi, Reva begitu sangat khawatir. Reva menoleh ke arah Dava yang saat ini sedang mengotak-ngatik ponselnya.
"Mas, jika Mas mau pergi ke kantor, pergilah. Aku bisa sendiri di sini," seru Reva gugup.
Dava menghentikan gerakan tangannya dan menatap Reva membuat Reva seketika menundukkan kepalanya.
"Kantor sudah ada yang ngurus, lagipula memangnya kamu sanggup menunggu di sini sendirian?" seru Dava.
"Kalau Mas memang mau ke kantor, aku tidak apa-apa sendirian," sahut Reva gugup.
"Sudahlah, aku akan di sini sampai operasi Rian selesai karena bagaimana pun sekarang Rian sudah menjadi adikku juga."
Reva membalikan tubuhnya. "Maaf Mas, aku ke toilet dulu."
Reva dengan cepat berjalan menuju toilet, dia masuk ke dalam toilet dan menguncinya. Reva memegang dadanya yang terasa berdetak tak karuan itu.
"Apa aku akan kuat menghadapi Mas Dava seperti ini, baru segini saja membuat hati aku sudah tak karuan apalagi kalau aku harus menghadapi Mas Dava setiap hari," batin Reva.
Reva mencoba menenangkan hatinya yang sudah tidak bisa terkontrol itu, setelah merasa tenang, Reva pun keluar dari kamar mandi dan segera menuju ruangan operasi.
Reva terkejut saat melihat Dava yang saat ini memejamkan matanya dengan posisi duduk. Diperhatikannya wajah Dava secara seksama, alis matanya yang terlihat tebal, hidungnya yang begitu sangat mancung, dan rahang yang begitu keras, sungguh Dava sangat tampan dan Reva merasa mimpi kalau pria tampan itu adalah suaminya.
Reva pun duduk di samping Dava, dia melihat ke arah pintu ruangan operasi.
"Ya Allah, kuatkan Rian jangan dulu Kau ambil Rian karena aku belum siap jika harus kehilangan Rian," batin Reva.
Empat jam pun berlalu, lampu operasi sudah dimatikan dan pintu ruangan operasi pun terbuka membuat Reva dan Dava bangkit dan segera menghampiri dokter.
"Dok, bagaimana keadaan adik saya?" tanya Reva khawatir.
"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar dan kondisi Rian pun stabil. Adik anda memang luar biasa, semangat hidupnya sangat tinggi. Kalau begitu, saya pamit dulu sebentar lagi Rian akan dipindahkan ke ruangan rawat," seru dokter.
"Baik dok, Terima kasih," sahut Reva.
Reva sangat bahagia, saking bahagianya dia langsung memeluk Dava membuat Dava terdiam membeku sembari membelalakkan matanya.
"Terima kasih Mas, aku sangat bahagia," seru Reva dengan deraian air mata.
Dava masih terdiam, jantungnya berdetak tak karuan. Dava adalah pria kaku yang selama ini bisa dibilang belum tersentuh oleh wanita mana pun tapi sekarang, wanita yang merupakan pengasuh keponakannya dan yang sudah menjadi istrinya itu untuk pertama kalinya menyentuh Dava dan seketika membuat hati Dava porak-poranda.
Setelah beberapa saat, Reva pun tersadar dan langsung melepaskan pelukannya dengan sangat canggung.
"Ma-maaf Mas, aku tidak sengaja saking bahagianya," seru Reva gugup.
Reva menundukkan kepalanya, dia takut kalau Dava akan memarahinya.
"Tidak apa-apa, lagipula kamu tidak salah aku kan sudah menjadi suamimu," sahut Dava gugup.
Dava melangkahkan kakinya meninggalkan Reva dengan wajah yang memerah, Dava tidak mau sampai Reva melihat wajahnya merah bisa-bisa dia malu.
Sementara itu, Reva hanya bisa terdiam dia tidak menyangka kalau Dava akan berkata seperti itu, padahal Reva sudah menyangka kalau Dava akan marah kepadanya.
Dava dan Reva masuk ke dalam ruangan rawat Rian, ternyata Rian masih belum sadar.
"Terima kasih, Mas," seru Reva.
"Untuk apa?"
"Karena Mas sudah menolong Rian, aku tidak tahu harus membayarnya dengan apa? Rian adalah orang yang paling aku sayangi dan satu-satunya yang aku miliki, kalau Mas tidak menolongku entah apa yang akan terjadi kepada Rian."
"Sudahlah tidak usah dipikirkan, kita sama-sama melakukan hal untuk orang yang kita sayangi. Rian bisa selamat dan aku bisa menyenangkan hati kedua keponakanku," sahut Dava.
Reva hanya bisa tersenyum. "Oh iya, jika Mas mau kembali ke kantor tidak apa-apa kok, aku bisa sendiri jagain Rian," seru Reva.
Dava melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya itu. "Baiklah, aku harus kembali ke kantor soalnya masih banyak pekerjaan yang harus aku urus," sahut Dava.
"Sekali lagi Terima kasih Mas, maaf aku sudah merepotkan dan menyusahkan Mas."
Dava tersenyum sedikit lalu Dava pun melangkahkan kakinya tapi pada saat Dava hendak membuka pintu, tiba-tiba Dava terdiam dan kembali membalikan tubuhnya menghadap Reva membuat Reva mengerutkan keningnya.
"Ada apa lagi, Mas?" tanya Reva.
Dava terlihat canggung, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu dengan salah tingkah.
"Ehmm...nanti aku jemput kamu."
Setelah mengatakan itu, Dava dengan cepat pergi dan lagi-lagi membuat Reva terkejut. Tapi sedetik kemudian, Reva menyunggingkan senyumannya merasa tidak percaya dengan apa yang Dava barusan katakan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Erna Fadhilah
masih sama-sama malu dan tau isi hati masing-masing
2024-02-01
2
☠☀💦Adnda🌽💫
malu " meong y bang Dava 🤭🤭bikin gumush
2024-01-29
1
Goesmalla Thee_wii 🐈💕
Alhamdulillah Dava masih Ori ternyata 🤣🤣🤣
2024-01-28
2