Setelah Rian sadar, Reva memberitahukan semuanya kepada Rian kalau saat ini dia sudah menikah dengan Dava.
"Serius Kak Dava sudah menikahi Kakak?" lirih Rian.
"Iya, Dek."
"Kok bisa? Kakak kan, belum lama bekerja di rumah Kak Dava tapi kok Kak Dava sudah mau menikahi kakak? memangnya Kak Dava benar-benar mencintai kakak?" tanya Rian kembali.
"Kok kamu ngomongnya seperti itu sih, Dek?"
"Rian takut kalau Kak Dava hanya ingin mempermainkan kakak saja, Kak Dava orang kaya yang mempunyai segalanya jangan sampai kakak menikah dengan Kak Dava itu semua gara-gara Rian," seru Rian sedih.
"Astagfirullah, kok gara-gara kamu sih, Dek? jangan ngaco ah," sahut Reva.
"Bisa jadi kan, kakak menikah dengan Kak Dava terpaksa karena ingin Rian di operasi. Rian tahu kakak tidak punya uang, tapi kemarin Kak Hendra bilang kalau Rian akan segera di operasi sudah jelas kalau uang itu dari Kak Dava, kan?" tebak Rian.
Reva terdiam, ucapan Rian memang benar sekali. Reva dan Dava menikah karena keduanya sama-sama saling membutuhkan.
Reva mengusap kepala Rian lembut. "Uang itu memang dari Mas Dava, tapi Mas Dava menikahi kakak karena dia benar-benar mencintai kakak," dusta Reva.
"Syukurlah kalau begitu, semoga ucapan Kak Reva memang benar."
"Sudah, kamu jangan banyak pikiran lebih baik sekarang kamu istirahat biar cepat sembuh dan pulang ke rumah," seru Reva.
Rian menganggukkan kepalanya lalu matanya pun mulai menutup. Reva mengusap kepala adik kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan kakak, Dek. Kakak sudah berbohong, ini semua demi kebaikan kamu dan kakak akan bersedia melakukan apa pun termasuk dinikahi tanpa dicintai," batin Reva.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, sore ini Dava dengan cepat meluncur menuju rumah sakit entah kenapa Dava begitu bersemangat untuk menjemput Reva.
Hingga beberapa saat kemudian, Dava pun sampai di rumah sakit dan segera menuju ruangan rawat Rian. Reva dan Rian sama-sama menoleh ke arah pintu saat mendengar pintu itu terbuka.
"Mas Dava."
"Bagaimana keadaan Rian?" tanya Dava dengan menghampiri Rian.
"Alhamdulillah kondisinya baik-baik saja, Mas. Oh iya Mas, sepertinya aku mau menginap di sini soalnya Rian tidak ada yang jaga," seru Reva.
"Kakak pulang saja, Rian kan ada Kak Hendra yang menemani," seru Rian.
"Tapi Dek, kakak ingin menemani kamu di sini," seru Reva.
"Sudah, aku baik-baik saja kok. Kak Dava, tolong jaga Kak Reva, ya," seru Rian.
"Insya Allah," sahut Dava.
"Kakak pulang saja ya, Rian akan baik-baik saja kok di sini."
"Tapi Dek-----"
"Bukannya kakak bilang kalau saat ini kakak sudah menikah dengan Kak Dava? berarti kakak harus pulang dan mengurus suami kakak. Ingat Kak, kata kakak, Ibu dulu sangat sayang kepada Ayah jadi sekarang juga kakak harus sayang sama suami kakak jangan melawan dan turuti semua perintah Kak Dava," seru Rian.
Mata Reva berkaca-kaca, Reva pun memeluk adiknya itu. Sedangkan Dava merasa sangat terharu dengan hubungan kedua kakak beradik itu yang saling menyayangi satu sama lain.
"Ya sudah, sekarang kakak pulang dulu besok setelah mengajar Chika dan Cello, kakak datang lagi ke sini," seru Reva.
Rian menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Rian, nanti setelah pulang dari rumah sakit kamu pulang ke rumahku saja ya dan kita tinggal bersama," seru Dava.
"Iya, Kak."
Akhirnya dengan berat hati, Reva pun pulang bersama Dava. Selama dalam perjalanan, Reva terlihat diam saja dan pandangannya pun dia arahkan ke luar jendela.
Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya pun sampai di rumah.
"Mommy!" teriak Chika dan Cello bersamaan.
Chika dan Cello berlari lalu memeluk Reva membuat Reva oleng akibat pelukan kedua anak kembar itu.
"Oh, jadi sekarang Daddy sudah terlupakan. Jadi kalian sudah tidak mau meluk Daddy lagi?" seru Dava dengan berpura-pura marah.
Chika dan Cello melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Dava.
"Apa kalian sudah makan?" tanya Reva.
Chika dan Cello menggelengkan kepalanya secara bersamaan.
"Mereka tidak mau makan, katanya mereka ingin makan yang dimasak oleh kamu," seru Mama Amelia.
"Chika, Cello, kalian tidak boleh seperti itu. Biasanya juga kan kalian makan masakan si Bibi, kenapa sekarang jadi gak mau?" seru Dava.
"Gak mau ah, sekarang masakan Mommy lebih enak," sahut Chika.
"Ya sudah, sekarang Mommy masak dulu ya," seru Reva.
Amelia menggandeng menantunya itu, sedangkan Dava menggendong Chika dan Cello bersamaan.
Reva mengikat rambutnya dan bersiap-siap untuk masak, lagi-lagi Dava hanya melongo melihat Reva yang terlihat sangat cantik itu.
"Daddy, kok diam saja?" tanya Cello.
"Daddy kalian terpesona lihat Mommy Reva," goda Mama Amelia.
"Apaan sih Ma, ya sudah kalian main dulu sana Daddy mau mandi, gerah," seru Dava dengan menurunkan kedua keponakannya.
"Oke, Daddy."
Keduanya langsung berlari menuju ruangan TV, begitu pun dengan Dava yang buru-buru naik ke lantai dua menuju kamarnya dengan wajah yang memerah.
Reva yang sudah mulai memasak justru jauh lebih gugup digoda oleh mertuanya itu, kalau tidak ada orang mungkin saat ini Reva sudah jingkrak-jingkrak kegirangan karena sudah diperhatikan oleh Dava.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, Reva sudah selesai masak.
"Anak-anak, ayo makan!" panggil Reva.
Chika dan Cello berlarian menuju meja makan, begitu pun Amelia dan Dava yang ikut duduk di meja makan.
Reva dengan cekatan memberikan nasi dan lauk pauknya kepada Dava, setelah itu kepada Chika dan Cello. Pada saat Reva ingin mengambilkan untuk Amelia, ia menahan Reva.
"Reva, Mama tidak usah di ambilin karena Mama bisa kok ambil sendiri," seru Mama Amelia.
"Ah iya, Ma."
Terlihat Dava, Chika, dan Cello makan dengan layaknya membuat Reva menyunggingkan senyumannya.
"Dava, masakan Reva enak, ya?" seru Mama Amelia.
Dava mengacungkan jempolnya ke arah Amelia, dia tidak bisa menjawab karena mulutnya penuh dengan makanan.
"Pokoknya masakan Mommy itu paling enak di dunia," seru Chika.
Reva terkekeh dan mengusap kepala Chika. "Makan yang banyak ya, biar sehat dan tidak gampang sakit."
"Siap, Mommy."
"Chika dan Cello memang tidak salah memilih Mommy, sudah cantik, pintar mengurus anak-anak, pintar masak pula. Di zaman sekarang ini, susah mencari wanita yang seperti kamu kebanyakan mereka memilih beli makanan yang sudah jadi dibandingkan memasak yang menurut mereka sangat menyusahkan. Kamu beruntung Dava mempunyai istri seperti Reva, begitu pun Mama yang sangat bahagia mempunyai menantu seperti Reva karena menurut Mama, Reva menantu idaman," puji Mama Amelia.
"Mama terlalu berlebihan," sahut Reva malu.
"Bukan berlebihan, memang itu kenyataannya. Iya kan, Dav?" seru Mama Amelia melirik ke arah Dava.
Dava menganggukkan kepalanya dan itu lagi-lagi membuat Reva baper dan hatinya berbunga-bunga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Erna Fadhilah
bunganya bermekaran ya Rev 😁😁
2024-02-01
2
☠☀💦Adnda🌽💫
laper ap doyang bang Dava sampe penuh mulutnya 🤭
2024-01-29
1
💞Amie🍂🍃
Reva besar kepala gak tuh😜😜😜
2023-12-21
5