Setelah berbincang-bincang dengan Reva, Dava pun pamit untuk pergi ke kantor. Reva merasa sangat bimbang dengan tawaran Dava, di satu sisi dia sangat membutuhkan uang itu tapi di sisi lain, Reva juga tidak bisa meninggalkan adiknya yang saat ini sedang dirawat di rumah sakit.
"Aku harus bagaimana?" batin Reva.
Hari ini Reva tidak bisa fokus mengajar, hingga waktu pulang pun tiba. Reva cepat-cepat memesan ojeg online dan pergi menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, ternyata Rian sedang tidur. Reva duduk di samping Rian dan memperhatikan wajah pucat adiknya itu.
"Kakak harus bagaimana, Dek? saat ini kakak sangat membutuhkan uang banyak untuk biaya pengobatan mu, tapi kakak juga tidak bisa meninggalkanmu sendirian di sini," batin Reva.
Reva sungguh sangat bingung, segala macam rasa sudah berkecamuk di dalam hatinya hingga setelah beberapa saat berpikir, Reva pun melihat kartu nama yang tadi pagi diberikan oleh Dava.
"Sepertinya aku harus bertemu dengan Pak Dava lagi," batin Reva.
Reva dengan cepat pergi dari rumah sakit dan kembali menitipkan Rian kepada suster. Reva pergi menuju kantor milik Dava, lokasi kantor Dava lumayan jauh sehingga beberapa menit kemudian Reva baru bisa sampai di depan kantor Dava.
Gedung perusahaan milik Dava sangatlah besar bahkan Reva sampai tidak tahu ada berapa lantai perusahaan Dava itu. Reva segera menuju meja resepsionis.
"Ada yang bisa kami bantu, Mbak?" tanya resepsionis dengan ramah.
"Maaf Mbak, saya mau bertemu dengan Pak Dava," sahut Reva.
"Apa Mbak, sudah membuat janji?"
"Belum."
"Maaf Mbak, kalau mau bertemu dengan Pak Dava harus membuat janji dulu soalnya Pak Dava sangat sibuk."
"Ah iya, Terima kasih ya, Mbak."
Reva tidak bisa bertemu dengan Dava, Reva tidak menyangka kalau untuk bertemu dengan Dava saja harus membuat janji terlebih dahulu. Reva melangkahkan kakinya dengan langkah gontai, hingga Reva pun tidak sengaja menabrak seseorang.
"Maaf Pak, saya tidak sengaja," seru Reva dengan menundukkan kepala.
"Bukanya kamu gurunya Chika dan Cello, ngapain kamu ada di sini?" tanya Dava dengan suara basnya.
Seketika Reva mengangkat kepalanya dan menatap pria tampan yang ada di hadapannya.
"Ma-maaf Pak, saya ke sini ingin bertemu dengan Pak Dava," sahut Reva gugup.
"Ada perlu apa?"
"Bisakah kita bicara sebentar?" seru Reva.
Dava terdiam sejenak. "Baiklah, ikut denganku."
Dava melangkahkan kakinya dan Reva mengikuti Dava dari belakang. Dava mengajak Reva untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Silakan duduk."
"Terima kasih, Pak."
"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan saya? cepatlah, karena saya sangat sibuk," seru Dava dingin.
"Begini Pak, saya mempunyai adik yang saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Saya sangat membutuhkan uang banyak untuk biaya pengobatannya, saya bersedia menjadi pengasuh Chika dan Cello tapi saya mempunyai satu permintaan."
"Permintaan apa?"
"Saya tidak bisa menginap di rumah Bapak karena saya harus menjaga adik saya di rumah sakit," sahut Reva.
"Apa kamu yakin bersedia menjadi pengasuh Chika dan Cello? kamu tahu kan, bagaimana sifat mereka? apa kamu akan kuat menghadapi sifat mereka yang seperti itu?" tanya Dava.
"Insya Allah saya siap Pak, saya sudah mengurus adik saya dari bayi jadi saya tahu bagaimana caranya mengasuh anak-anak. Lagipula, di mata saya Chika dan Cello anak-anak yang baik," sahut Reva.
"Baiklah kalau kamu sudah siap, masalah adik kamu jangan khawatir karena saya yang akan membiayai semua pengobatan adik kamu dan satu lagi, selama adik kamu di rumah sakit, saya akan mempekerjakan seseorang untuk menjaganya jadi kamu tidak usah khawatir lagi," seru Dava.
"Baiklah, Terima kasih, Pak."
"Kamu sudah bisa mulai bekerja besok, dan ini alamat rumah saya," seru Dava dengan memberikan alamat rumahnya.
"Terima kasih Pak, kalau begitu saya pamit."
Reva pun pamit dan kembali ke rumah sakit, hatinya begitu sangat bahagia dengan ucapan Dava yang akan membiayai pengobatan adiknya itu.
***
Keesokan harinya...
Pagi-pagi sekali Reva sudah membersihkan tubuh Rian. Tiba-tiba pintu ruangan rawat Rian terbuka. "Maaf, permisi apa benar ini dengan pasien yang bernama Rian adiknya Mbak Reva?" seru seorang pria.
"Iya benar, Mas siapa?" tanya Reva.
"Perkenalkan saya Hendra, saya diperintahkan Pak Dava untuk menjaga pasien yang bernama Rian," sahut Hendra.
"Ah, iya. Mohon Mas Hendra jaga adik saya dengan baik kalau ada apa-apa langsung hubungi saya saja dan ini nomor ponsel saya," seru Reva dengan memberikan nomor ponselnya.
"Baik, Mbak."
"Dek, kakak pergi dulu ya, pokoknya nanti makannya harus habis jangan ada sisa. Kakak akan sering jenguk kamu ke sini, dan kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi kakak, ya," seru Reva.
"Iya, Kak."
Reva pun mengambil tas yang berisi baju ganti dan dengan berat hati meninggalkan adiknya di rumah sakit. Reva memesan taksi online dan pergi menuju rumah Dava.
Sementara itu di rumah Dava, Amelia dan ART sudah sangat pusing membujuk Chika dan Cello untuk makan.
"Chika, Cello, ayo makan nanti kalian sakit kalau tidak sarapan dulu," seru Dava.
"Kita tidak mau makan, itu sayur dan kita tidak suka sayur," sahut Chika dengan wajah yang cemberut.
Dava dan Amelia sudah tidak bisa berbuat apa-apa, bujukan mereka sama sekali tidak mempan.
"Maaf Pak, Bu, diluar ada seorang wanita cantik," seru ART.
"Suruh dia masuk saja," sahut Dava.
ART pun menyuruh Reva untuk masuk, Reva tercengang melihat rumah Dava yang sangat besar dan megah itu.
"Selamat pagi Bu Amelia dan Pak Dava," sapa Reva.
Chika dan Cello menoleh bersamaan, mereka sangat bahagia dengan kedatangan guru kesayangan mereka itu. Keduanya langsung berlari dan memeluk Reva.
"Bu Reva!"
"Hallo Chika dan Cello."
"Akhirnya kamu bersedia juga menjadi pengasuh Chika dan Cello," seru Mama Amelia lega.
"Iya, Bu."
"Mari ke sini, ibu ikut sarapan bersama kami," seru Mama Amelia.
Reva melangkahkan kakinya menghampiri Amelia dan Dava, sementara itu Chika dan Cello terus saja menempel.
"Kalian mau berangkat sekolah?" tanya Reva.
"Iya, Bu," sahut Cello.
"Bu Reva lihatlah, mereka sangat sulit untuk makan apalagi makan sayur," adu Mama Amelia.
Reva melihat ke arah Chika dan Cello. "Kenapa kalian tidak mau makan sayur, sayang?" tanya Reva lembut.
"Habisnya sayur itu gak enak, Bu," sahut Chika.
"Siapa bilang gak enak? memangnya kalian sudah pernah makan sayur?"
Chika dan Cello menggelengkan kepala bersamaan.
"Sekarang, kalian duduk dan dengarkan ibu. Sayur itu enak lho, dan juga sehat untuk tubuh kalian. Nanti kalau kalian banyak makan sayur, kalian akan sehat dan virus-virus jahat tidak akan berani mendekati kalian," seru Reva dengan senyumannya.
"Virus jahat itu apa, Bu?" tanya Chika polos.
"Virus jahat itu hantu yang akan menyakiti kalian, jadi kalau kalian tidak makan sayur, virus itu diam-diam akan mendekati kalian dan membuat kalian sakit perut," seru Reva dengan nada yang dibuat ketakutan.
"Ih, Cello takut."
"Makanya sekarang kalian harus coba makan sayur ya, ibu yang suapin kalian rasanya enak lho."
Ajaibnya Chika dan Cello langsung menganggukkan kepala. Reva mengambil sayur dan menyuapi Chika dan Cello dengan sangat telaten.
"Wow, ternyata sayur itu enak ya," seru Chika.
"Iya, apalagi Bu Reva yang suapin jadi semakin enak rasanya," sambung Cello.
Reva tersenyum dan menyuapi keduanya secara bergantian, Amelia menyunggingkan senyumannya sungguh Reva benar-benar hebat bisa membujuk Chika dan Cello. Begitu pun dengan Dava, seulas senyum terukir di wajah tampannya walaupun terlihat samar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Erna Fadhilah
pasti sangat bahagia banget si kembar udah nurut sama Reva
2024-02-01
2
Goesmalla Thee_wii 🐈💕
horang kaya bebas yaaa, bisa bayarin rumah sakit secara mereka bebas finansial 😂😂😂
2024-01-21
2
🌸so0bin🌸
calon mantu dan ibu sambung idaman 🥰🥰🥰
2023-11-29
2