Chun tian merindukan kehidupan di desa.

Selama dikereta Lian hua diomelin oleh ibunya, dan itu pertama kali Chun tian merasa mamanya bisa marah. Karena selama menjadi Lian hua Chun tian tidak pernah dimarahi mamanya. Dan dia menanggapi ibu Lian hua marah dengan senyum. Sedangkan adik dan ayahnya hanya bisa terdiam mendengarnya saja.

"Kamu mengapa tersenyum apa kamu tidak menganggap ibumu ini" Ucap Ibu Lian hua.

"Tidak bu, aku bukan mengejek ibu. Cuma aku senang sekali ibu memarahi aku seperti saat ibu memarahi Cheng zi yang nakal" Ucap Lian hua.

"Kadang-kadang aku iri dengan Cheng zi ibu selalu memarahinya, sampai aku berharap agar ibu bisa memarahiku seperti adik" Ucap Lian hua dengan sedih.

"Bagaimana berani ibu memarahi putri ibu suri? " Suara hati ibu Lian hua.

"Kenapa ibu terdiam? " Tanya Lian hua.

"Tapi tadi kamu sudah keterlaluan, bagaimana jika pedang jendral Wang tadi benar-benar melukaimu" Ucap ibu Lian hua dengan khawatir.

"Tenang saja bu, pesona putri mu, tidak ada duanya. Haha" Ucap Lian hua dengan tertawa.

"Bruk" Suara bahu Lian hua yang terkena pukul oleh ibunya.

"Dasar kamu itu, wanita tidak boleh tinggi hati kita harus rendah hati" Ucap Ibu Lian hua.

"Baik ibu diri yang Agung! " Seru mereka berdua.

"Cheng zi kamu juga ikut nakal sama kakakmu" Ucap ibu Lian hua. Sambil menyelidiki perut Cheng zi.

Didalam kereta penuh dengan gelak tawa ibu dan anak, sedangkan sang ayah sangat bahagia mendengar keluarganya bahagia.

Tak beberapa lama mereka sampai dikediaman mereka, didepan gerbang pintu bertuliskan kediaman mentri administrasi prajurit keluarga Yang.

Mereka akhirnya masuk kedalam kerumah baru mereka, dan didalam mereka disambut oleh para pelayan disana.

"Selamat datang tuan dan nyonya Yang! " Seru mereka.

Mereka semua terlihat bahagia kecuali Lian hua. Malam pun telah tiba dikediaman mereka, Lian hua menatap bulan dan bintang di jendela kamarnya.

"Apa bedanya kehidupan ku disini dan kehidupan ku disana? " Suara hati Chun tian, sambil menghembuskan nafas panjang.

"Aku rindu sawah, rindu kerbau dan rindu pria desa bahkan aku juga bisa rindu dengan Hua sheng. Aku sudah muak dengan hidup sebagai nona kaya" Ucap Lian hua.

Tanpa disadari Lian hua ayahnya masuk ke kamarnya.

"Muak itu apa, ayah tidak pernah mendengarnya" Ucap ayah Lian hua.

Lian hua yang kaget dengan kedatangan ayahnya langsung menoleh kearah ayahnya.

"Ayah!, kenapa aku tidak dengar ayah datang? " Tanya Lian hua.

"Karena ayah lihat pintu kamar mu tadi kebuka jadi sekalian ayah mau lihat keadaan mu, ternyata kamu bengong di jendela dan bicara sendiri" Jawab ayah Lian hua.

"Oh ya, tadi ayah dengar kamu bicara muak itu apa?, sepertinya ayah baru dengar" Ucap ayah Lian hua.

"Itu kata yang aku ciptakan sendiri seperti singkatan seperti itu yah! " Ucap Lian hua dengan berbohong.

"Terus artinya? " Tanya ayah Lian hua.

Chun tian pun terdiam sejenak memikirkan alasan untuk menjawab pertanyaan ayahnya.

"Itu.., maksudnya rindu tempat asal. Haha, aku pintar kan yah! Ucap Lian hua sambil tertawa. " Maafkan aku yah, telah membohongi ayah"Suara hati Lian hua yang merasa menyesal.

"Kamu ini ada-ada saja, jika kamu rindu desa Kua ile saat ayah ada libur kita kesana menginap beberapa hari" Ucap ayah Lian hua.

"Betulkah yah! " Seru Lian hua sambil berlari memeluk ayahnya.

"Iya, sekarang putri ayah cepat tidur ini sudah malam" Ucap ayah Lian hua.

"Baik" Jawab Lian hua dengan senyum.

Keesokan harinya, Kediaman Lian hua sangat sibuk. Chun tian sudah terbiasa bangun pagi dia mengurus dirinya sendiri, dengan menggunakan pakaian yang sederhana. Dia keluar dari kamarnya, saat keluar kamar dia melihat banyak pelayan berbenah-benah rumah.

Semua pelayan disana mengucapkan salam dan memberi hormat saat Lian hua lewat.

"Selamat pagi nona! " Seru para pelayan di rumahnya.

"Pagi" Jawab Lian hua dengan senyum. "Mulut ku ini akan berbusa tiap pagi menjawab pelayan yang aku temui, di rumah ku dulu pelayannya tak sebanyak ini" Pikir Chun tian.

Lalu dia menghentikan salah satu pelayan yang sedang lewat.

"Kamu tau dimana ibuku? Tanya Lian hua.

" nyonya pagi-pagi sudah ada didapur"Jawab pelayan itu.

"Oh ya, terimakasih! " Seru Lian hua.

Dia pun berlari kearah dapur rumahnya. Saat melihat ibunya sedang memasak, dia berniat mengagetkan ibunya.

"Ibu! " Seru Lian hua.

"ya ampun, ibu kira siapa?, sini masuk" Ucap ibu Lian hua.

Lian hua akhirnya masuk kedalam dapur. "Ibu sedang buat apa? " Tanya Lian hua.

"Ibu sedang buat sarapan untuk kalian" Jawab ibu Lian hua.

"Bukannya ada koki masak, sekarang ibu kan nyonya besar nanti capek gimana? " Ucap Lian hua.

"Walaupun ibu ini sudah jadi ratu pun jadi tugas ibu menjaga kalian, karena ibu memasak untuk orang-orang yang ibu cintai" Ucap ibu Lian hua sambil memasak.

Lian hua lalu memeluk ibunya dari belakang. "Terima kasih ibu!, biar aku bantu agar cepat selesai" Ucap Lian hua.

"Boleh, kamu potong sayuran disana" Ucap ibu Lian hua.

Lian hua pun menuruti perintah dari ibunya, tak beberapa lama masakan mereka selesai, dan para pelayan membantu membawakan kemeja makan.

Saat akan pergi ibu Lian hua memberi perintah pada para tukang masak di dapur.

"Kalian mulai hari ini, memasak untuk semua para pelayan di rumah ini dan berikan makanan yang sesuai untuk mereka sebelum mereka berkerja" Ucap ibu Lian hua dengan tegas.

"Baik nyonya! " Seru pelayan dapur.

"Beri mereka makan tiga kali sehari, jika kalian ada masalah pergi cari aku atau ibuku kami pasti akan membantu kalian sesuai kemampuan kami" Ucap Lian hua.

"Terima kasih nona, terimakasih nyonya! " Seru semua pelayan disana.

Ibu Lian hua yang mendengar ucapan putrinya sangat bangga, ternyata dia tumbuh menjadi gadis yang bijaksana.

"Ayo bu! kita bangun kan para pria dirumah ini" Ucap Lian hua.

Mereka berdua pergi untuk membangunkan ayah dan Cheng zi yang masih tidur dikamar.

Semua pelayan membicarakan kebaikan nona dan nyonya Yang, mereka sangat beruntung bisa berkerja di rumah mereka.

Mereka pun makan sarapan bersama dengan bahagia seperti saat di desa. Setelah itu mereka keluar untuk mengantarkan ayah sampai gerbang rumah mereka,yang akan pergi untuk melapor ke kaisar.

Saat akan masuk rumah ibu mereka dipanggil seseorang dari belakang.

"Kakak Zhao! " Panggil dayang Wu.

Mereka semua menoleh kebelakang.

"Adik Wu! " Seru ibu Lian hua. langsung berlari memeluk dayang Wu.

"Kakak siapa? " Tanya Cheng zi.

"Aku tidak tau, mungkin saudara jauh ibu" Jawab Lian hua.

Setelah berpelukan ibu Lian hua menyuruh dayang Wu masuk ke rumah mereka.

Terpopuler

Comments

Kartika Lina

Kartika Lina

oohhh,,, ternyata lian hua putri dari ibu suri,,, trus kenapa bisa ada dengan dayang zhao ya

2023-12-26

2

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!